<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676</id><updated>2011-12-30T19:00:44.363-08:00</updated><category term='wahai anakku'/><category term='halal bihalal'/><category term='zikir'/><category term='firman'/><category term='ukhuwah'/><category term='Allah'/><category term='tauhid'/><category term='simpati'/><category term='tersenyum'/><category term='rizki'/><category term='hati'/><category term='Rasulullah'/><category term='alloh'/><category term='iman'/><category term='rumah tangga'/><category term='puasa'/><category term='qona&apos;ah'/><category term='rahasia'/><category term='rasul'/><category term='laki-laki'/><category term='tazkiyyat an'/><category term='ridha'/><category term='keshalihan'/><category term='Muhammad saw'/><category term='hidup menjadi bermakna'/><category term='memandang wanita'/><category term='pandangan hidup'/><category term='akhlakul karimah'/><category term='empati'/><category term='mitsaqon gholidza'/><category term='ilmu'/><category term='hidup'/><category term='islam'/><category term='sederhana'/><category term='kebajikan'/><category term='membaca'/><category term='bodoh'/><category term='syukur'/><category term='qalbu'/><category term='Rasulullah SAW'/><category term='Allah swt'/><category term='ramadhan'/><category term='maksiat'/><category term='zakat'/><category term='keluarga'/><category term='bersedih'/><category term='jabatan'/><category term='kebodohan'/><category term='taubatan nashuha'/><category term='nafs'/><category term='hijrah'/><category term='doa'/><category term='ujian hidup'/><category term='Muhammad'/><category term='dosa'/><category term='silaturrahmi'/><category term='al-qur&apos;an'/><category term='akhlak'/><category term='lailat-al qadar'/><category term='bermakna'/><category term='Nabi'/><category term='Qur&apos;an'/><title type='text'>Menjalin Silaturrahmi</title><subtitle type='html'>Bersilaturrahmi dengan berbagi informasi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>112</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-2723606490408870869</id><published>2011-12-11T01:20:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T01:38:02.854-08:00</updated><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (4)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terapi Psikologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga teori untuk menerangkan mengapa “sesuatu” berlangsung dengan baik dan di tempat lain atau pada orang lain “sesuatu” itu justru tidak dapat berlangsung dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;• Teori Transaksional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, hubungan antar manusia (interpersonal) itu berlangsung mengikuti kaidah transaksional, yaitu apakah masing-masing merasa memperoleh keuntungan dalam transaksinya atau malah merugi. Jika merasa memperoleh keuntungan maka hubungan itu pasti mulus, tetapi jika merasa rugi maka hubungan itu akan terganggu , putus, atau bahkan berubah menjadi permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Demikian juga suami, isteri, mantu, mertua, mereka berfikir; kontribusi mereka sebanding dengan keuntungan yang diperoleh atau malah rugi. Oleh karena itu seyogyanya, suami, isteri, mantu dan mertua selalu bertanya; apa yang dapat saya berikan, jangan bertanya apa yang dapat saya peroleh. Isteri pasti penuh perhatian kepada suami jika ia merasa banyak menerima dari suami, mertua juga pasti sayang mantu jika merasa banyak menerima dari menantu. Suami pun akan semakin sayang kepada isteri jika ia merasa banyak menerima dari isteri, sang mantu juga akan sangat hormat kepada mertua jika ia merasa banyak dibantu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;• Teori Peran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, sebenarnya dalam pergaulan sosial itu sudah ada skenario yang disusun oleh masyarakat, yang mengatur apa dan bagaimana semestinya peran setiap orang dalam pergaulannya . Dalam skenario itu sudah ‘tertulis” seorang Presiden harus bagaimana, seorang gubernur harus bagaimana, seorang guru harus bagaimana, murid harus bagaimana. Demikian juga sudah tertulis peran apa yang harus dilakukan oleh suami, isteri, ayah, ibu, anak, mantu , mertua dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, jika seseorang mematuhi skenario, maka hidupnya akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka ia akan dicemooh oleh penonton dan ditegur sutradara. Wanita sudah bersuami tetapi genit di depan umum, pasti digunjing orang banyak, karena menurut skenario, seorang isteri hanya boleh genit kepada suaminya. Seorang suami tidak bekerja, isterinya bekerja membanting tulang, tetapi suami tenang-tenang saja hidup numpang isteri. Nah lelaki seperti ini pasti tidak dihormati orang karena menurut skenario, suami adalah tulang punggung keluarga.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;• Teori Permainan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, klasifikasi manusia itu hanya terbagi tiga, yaitu anak-anak, orang dewasa dan orang tua. Anak-anak itu manja, tidak mengerti tanggung jawab, dan jika permintaanya tidak segera dipenuhi ia akan nangis terguling-guling atau ngambek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang dewasa, ia lugas dan sadar akan tanggung jawab, sadar akibat dan sadar resiko. Adapun orang tua, ia selalu memaklumi kesalahan orang lain dan menyayangi mereka. Tidak ada orang yang merasa aneh melihat anak kecil menangis terguling-guling ketika minta eskrim tidak dipenuhi, tetapi orang akan heran jika ada orang tua yang masih kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana rumah tangga juga ditentukan oleh bagaimana kesesuaian orang dewasa dan orang tua dengan sikap dan perilaku yang semestinya ditunjukkan. Sudah semestinya suami dan isteri bersikap dewasa, tetapi kepada anak-anaknya mereka harus bersikap sebagai orang tua. Mereka juga tidak kaget jika melihat sikap anak-anaknya yang kekanak-kanakan. Jika mereka tidak bisa bersikap sesuai dengan tingkatannya maka suasana pasti runyam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya_20.html"&gt; Mubarok Institute&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-2723606490408870869?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/2723606490408870869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=2723606490408870869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2723606490408870869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2723606490408870869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/12/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (4)'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-1187115252862867415</id><published>2011-11-25T20:02:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T20:10:33.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Qur&apos;an'/><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terapi Al Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur’an memberikan panduan umum kepada pasangan keluarga agar berpegang teguh kepada taqwa ketika sedang mencari pemecahan masalah. Taqwa menjamin output berupa way out dan rizki, waman yattaqillaha jaj`al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib (Q/….) Taqwa artinya berpegang teguh kepada kebenaran ilahiyah dan konsisten menghindari larangan Allah, imtitsalu awamirihi wa ijtinabu nawahihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Secara psikologis takwa adalah aksi moral yang integral, yakni perilaku yang lahir dari komitmen nilai moralitas yang dianut orang beragama. Jadi, sesulit apapun problem, jika dalam pemecahanya berpijak pada komitmen taqwa maka jalan keluar maupun jalan masuknya baik, seperti semangat doa; rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin wa ij`al li min ladunka sulthanan nashira.&lt;br /&gt;Al Qur`an secara khusus juga memberi terapi dengan menggunakan pendekatan ishlah dan mu`asyarah bi al ma`ruf, mau`idzah dan ihsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bagaimanapun keadaannya, meski sedang kesal, hendaknya masing-masing bertindak secara ma`ruf, bergaul secara ma`ruf (wa`asyiruhunna bi al ma`ruf/Q/4:19 imsakun bi ma`ruf/Q/2:229). Ma`ruf adalah sesuatu yang secara sosial dipandang baik dan patut. Ini artinya orang harus juga memperhatikan kebiasaan dan tata krama yang dianut masyarakat dimana seseorang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Semangat yang dicari haruslah ishlah. Jika yang dicari itu ishlah pasti Allah akan menolong; in yurida ishlahan yuwaffiqillahu bainahuma (Q/4:35). Ishlah mengandung muatan makna shulh (perdamaian) shalih (baik , patut dan layak) dan mashlahat (konstruktip). Baik suami maupun isteri harus mengedepankan niat berdamai, berpikir konstruktip dan tetap menunjukan perilaku yang patut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ada tahapan-tahapan dalam mencari pemecahan masalah. Artinya masing-masing suami dan isteri harus sabar, tidak keburu nafsu dan tidak putus asa. Dalam kasus suami membimbing isteri misalnya, menurut al Qur’an, pertama harus mengedepankan nasehat, mau`idzah. Jika belum efektip, meningkat ke kesungguhan sikap-seperti berpisah tempat tidur. Jika belum efektip, baru langkah yang lebih tegas (Q/4:34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Seandainya harus mengambil keputusan yang pahit, perpisahan misalnya, itupun harus dengan ihsan (imsakun bima`rufin au tasrihun bi ihsan (Q/2:229). Ihsan adalah kebaikan yang murni, ihsan mahdlah, terlepas dari berbagai kepentingan, gengsi misalnya. Orang yang berbuat ihsan disebut muhsin- muhsinin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya_19.html"&gt;Mubarok Institute&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-1187115252862867415?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/1187115252862867415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=1187115252862867415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1187115252862867415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1187115252862867415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/11/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya_25.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (3)'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-3597230017861061541</id><published>2011-11-09T19:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-09T19:37:45.028-08:00</updated><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pernik-Pernik Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarungi kehidupan tak ubahnya mengarungi samudera, terkadang lautan tenang dan angin sumilir, tetapi terkadang tanpa diduga datang ombak besar. Bagi orang yang faham sunnatullah laut, maka ia bisa berhitung kapan musim ombak dan kapan musim tenang. Tetapi kehidupan juga sering diungkapkan sebagai “tersandung di jalan rata”, terpeleset oleh “kerikil” kehidupan, dan sebagainya. Pembaca buku ini mungkin sudah banyak makan asam dan garam kehidupan. Meski begitu tetap saja anda masih dihadang oleh banyak problem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernik adalah benda kecil tetapi menarik perhatian. Pernik-pernik hidup adalah sesuatu yang sebenarnya tidak prinsipil, tetapi karena menarik perhatian, maka ia bisa menyita perhatian suami dan isteri sehingga mendistorsi proporsionalitas masalah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Manusia sebagai individu adalah unik. Rumah tangga adalah mempersatukan dua keunikan, keunikan suami dan keunikan isteri. Jika keunikan suami dan keunikan isteri menjadi sinergi maka rumah tangga itu mampu mempersepsi stimulus secara proporsional. Tetapi jika dua keunikan itu bertolak belakang, maka segala yang pernik-pernik dipersepsi menjadi prinsipil, dan meresponya juga dengan sikap prinsipil berpijak pada keunikan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keadaan sudah demikian maka sakinah akan menjauh dari rumah tangga, dan sebagai gantinya adalah kesalahfahaman yang berkesinambungan. Rumah tangga tidak lagi menjadi “surga” (baiti jannati, my house is my castil), tetapi menjadi “neraka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernik-Pernik Sandungan&lt;br /&gt;Tiap rumah tangga memiliki problem spesifik, tetapi problem yang sering berkembang menjadi batu sandungan hampir sama karakteristiknya; (a) persepsi terhadap rizki, (b) egoisme, (c) perkembangan psikologi pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Persepsi Terhadap Rizki Keluarga&lt;br /&gt;Sebenarnya Tuhan telah menjamin rizki hambaNya, bahkan jika seseorang ingin menikah tetapi ekonominya masih berat, kata al Qur’an nikah saja, Allah yang menjamin rizkinya (in yakunu fuqara yughnihimullah Q/an Nur:32). Banyak pasangan ketika baru nikah belum memiliki harta apa-apa, tetapi kemudian mereka hidup berkecukupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya ada yang ketika menikah sengaja mencari pasangan atau mertua orang kaya, ternyata tak terlalu lama sudah jatuh menjadi orang miskin. Ada yang semula suami lancar sebagai pencari nafkah, tetapi kemudian jatuh sakit berkepanjangan sehingga tak lagi produktip, kemudian sumber rizki berpindah melalui isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan saluran rizki bisa menjadi problem ketika orang memandang bahwa rizki itu hanya rizkinya, bukan rizki keluarga. Suami yang sukses kemudian menjadi GR(gede rumongso-bahasa Jawa, maksudnya merasa dirinya sangat penting) memandang rendah isterinya yang cuma nyadong. Ketika saluran rizki pindah lewat isteri, sang isteri juga kemudian menjadi GR, memandang sebelah mata suami. Inilah yang sering menjadi kerikil tajam, meski rizki melimpah, padahal sebenarnya rizki itu adalah rizki bersama sekeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sifat Egois dan Tinggi Harga diri&lt;br /&gt;Sifat egois dan tinggi harga diri sering mendistorsi persepsi. Ada ungkapan dalam psikologi komunikasi yang berbunyi “world don’t mean, people mean”, bahwa kata-kata itu tidak punya arti apa-apa, oranglah yang memberi arti. Ada orang tanpa beban apa-apa membeli mobil baru karena memang membutuhkan, tetapi tetangganya ada yang memberi arti sombong, sok, mentang-mentang, tak menenggang perasaan dan sebagainya. Dalam rumah tangga , sifat egois dan tinggi harga diri sering mengubah keadaan yang normal menjadi tidak normal, apa yang sebenarnya biasa-biasa saja, proporsional, dipersepsi sebagai tidak menghargai, menyakiti dan sebagainya, sehingga apa yang semestinya seiring sejalan berubah menjadi ada yang ngerjain dan ada yang merasa menjadi korban. Ada isteri atau suami yang merasa selalu disakiti, padahal tidak ada yang menyakitinya, merasa tidak dihargai, padahal harga seseorang itu sudah nempel pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Perkembangan Psikologi Pasangan&lt;br /&gt;Jiwa manusia itu tak bisa menghindar dari hukum SR, Stimulus &amp; Respond. Setiap hari ia melihat, mendengar dan merasakan sesuatu, kemudian mempersepsinya dan meresponnya. Proses SR yang dinamis , bisa mendewasakan seseorang, bisa juga membuatnya menjadi terganggu kejiwaannya. Hubungan interpersonal suami dan isteri berlangsung sangat intens, lama dan peka. Hubungan itu kemudian bisa menumbuhkan kejiwaan mereka secara seimbang, menjadi sinergi, bisa juga jomplang. Hubungan interpersonal suami isteri itu mengandung muatan; partner seksual, partner sosial, dan persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada laki-laki muatan partner seksualnya itu pada umumnya stabil, partner sosialnya pasang surut dan partner persahabatanya berjalan lambat. Sedangkan bagi wanita, muatan partner seksualnya mulai menurun setelah monopouse, yang meningkat justeru partner sosial dan persahabatan. Pada pasangan paruh umur (yang normal) gairah seksual suami tetap stabil, sementara isteri lebih merasa bersahabat dengan suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dokter ahli seksologi, pada wanita, gairah seks (libido) meningkat sejak haid sampai mencapai puncaknya di usia 35 (tigapuluh lima) tahun dan terus menetap sampai usia 45 (empat puluh lima) tahun dan dapat bertahan terus sampai setelah menopause, terutama pada wanita yang rajin memelihara kesehatan secara tradisionil, minum jamu misalnya . Pada pria, puncak gairah seks dicapai pada umur 20-30 tahun dan bertahan sampai umur 50 tahun, kemudian berkurang dan menetap sampai umur lanjut. Pusat libido letaknya di dalam otak, oleh karena itu keadaan jiwa yang positip dapat menahan libido, sebaliknya keadaan jiwa yang tidak tenang dapat merusak libido.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus tertentu, jika suami merasa tidak lagi stabil gairahnya apa lagi jika merasa gagal menunjukkan kejantanannya (impoten atau ejakulasi dini), muatan persahabatan bisa berubah menjadi permusuhan (untuk menutupi kelemahannya). Setiap hari suami uring-uringan dan memandang keliru apa saja yang dilakukan isterinya sehingga isteri yang ingin tetap bersahabat menjadi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia paruh baya, ada suami yang padanya muncul apa yang disebut sebagai puber kedua dan puber ketiga. Pada masa puber kedua (usia sekitar 40 tahun) ada kecenderungan lelaki senang berdekatan dengan gadis belasan tahun, sedang pada puber ketiga (antara usia 50-60 th) lelaki tidak lagi tertarik dengan gadis belia, tetapi lebih suka berakrab-akrab dengan wanita paruh baya, yakni wanita yang sudah menunjukkan keberhasilannya sebagai wanita dewasa yang anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala ini sebenarnya normal dan akan reda dengan sendirinya jika direspond secara proporsional. Tetapi jika oleh isterinya disalahfahami atau dicaci maki, gejala “pubertas” ini justeru menuntut aktualisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atikel dari : &lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya_18.html"&gt;Mubarok Institute&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-3597230017861061541?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/3597230017861061541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=3597230017861061541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3597230017861061541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3597230017861061541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/11/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (2)'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-1035251337611263436</id><published>2011-10-24T20:53:00.000-07:00</published><updated>2011-10-24T21:06:47.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mitsaqon gholidza'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah tangga'/><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akad nikah itu bersifat suci dan mengandung dimensi vertikal disamping horizontal, oleh karena itu meski akad nikah juga merupakan kotrak antara dua pihak, tetapi ia bersifat suci, ilahiyah, dan spiritual. Oleh karena itu tidak dibolehkan adanya nikah muaqqot yang dibatasi oleh waktu sesuai dengan perjanjian. Akad nikah harus berdimensi selama hayat dikandung badan , meski di tengah jalan, agama membolehkan adanya perceraian jika keadaan tidak lagi kondusip untuk meneruskan akad itu. Dari beratnya bobot akad nikah itu maka sebagian ulama menyebutnya sebagai mitsaqon gholidzo, sebagai perjanjian yang dimensinya sangat berbobot. Dari sisi itu maka jika nikah dipandang sebagai ibadah dan mengikuti sunah Rasul maka orang yang menikah dengan niat negatip dihukumi sebagai perbuatan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Problem Mengemudi Bahtera Rumah Tangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hidup berumah tangga bagaikan mengemudi bahtera di tengah samudera luas. Lautan kehidupan seperti tak bertepi, dan medan hamparan kehidupan sering tiba-tiba berubah. Memasuki lembaran baru hidup berkeluarga biasanya dipandang sebagai pintu kebahagiaan. Segala macam harapan kebahagiaan ditumpahkan pada lembaga keluarga. Akan tetapi setelah periode “impian indah” terlampaui orang harus menghadapi realita kehidupan. Sunnah kehidupan ternyata adalah “problem”. Kehidupan manusia, tak terkecuali dalam lingkup keluarga adalah problem, problem sepanjang masa. Tidak ada seorangpun yang hidupnya terbebas dari problem, tetapi ukuran keberhasilan hidup justeru terletak pada kemampuan seseorang mengatasi problem. Sebaik-baik mukmin adalah orang yang selalu diuji tetapi lulus terus, khiyar al mu’min mufattanun tawwabun.(hadis). Problem itu sendiri juga merupakan ujian dari Tuhan, siapa diantara ,mereka yang berfikir positip, sehingga dari problem itu justeru lahir nilai kebaikan, liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala (Q/67:2) liyabluwakum fi ma a ta kum (Q/6:165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Awal Akhir Problem Hidup Berumah Tangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut hadis Nabi, menemukan pasangan yang cocok (saleh/salihah) dalam hidup berumah tangga berarti sudah meraih separoh urusan agama, separoh yang lain tersebar di berbagai bidang kehidupan. Hadits ini mengambarkan bahwa “rumah tangga” itu serius dan strategis. Kekeliruan orientasi, keliru jalan masuk, keliru persepsi, keliru problem solving dalam hidup rumah tangga akan membawa implikasi yang sangat luas. Oleh karena itu problem hidup berumah tanga adalah problem sepanjang zaman, dari sejak problem penyesuaian diri, problem aktualisasi diri, nanti meluas ke problem anak, problem mantu, cucu dan bahkan tak jarang suami isteri yang sudah berusia di atas 60 masih juga disibukkan oleh problem komunikasi suami isteri, hingga kakek dan nenek itu pisah ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dari : &lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya.html"&gt;Mubarok Institute&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-1035251337611263436?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/1035251337611263436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=1035251337611263436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1035251337611263436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1035251337611263436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/10/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (1)'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6436062915394209334</id><published>2011-10-09T20:03:00.000-07:00</published><updated>2011-10-09T20:26:06.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dosa'/><title type='text'>Melebur Dosa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Ustadz Samson Rahman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat seorang ulama garda depan Bashrah mendapatkan seorang pemuda meminta resep mujarab pelebur dosa pada seorang dokter. Dan, dokter memerintahkannya untuk melakukan hal-hal berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah akar pohon kefakiran pada Allah berikut akar tawadhu yang tulus dan ikhlas kepada Allah. Jadikan taubat sebagai campurannya, celupkan dalam wadah rida atas semua takdir Allah. Aduklah dengan adukan qanaah terhadap apa yang Allah berikan kepada kita. Masukkan dalam kuali takwa. Tuangkan ke dalamnya air rasa malu lalu didihkanlah dengan api cinta dan masukkan dalam adonan syukur serta keringkan dengan kipasan harap lalu minumlah dengan sendok pujian (hamdalah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Banyak orang berlaku dosa dan durjana kepada Allah karena merasa cukup pada kemampuan dirinya seakan tak lagi butuh pada siapa pun, termasuk pada Sang Mahakaya. Dia beranggapan bahwa semua yang dia dapatkan adalah berkat hasil dari kekuatan pikirannya, kemumpunian ilmunya, dan kejernihan kalkulasinya. Inilah yang menimpa Qarun yang angkuh dengan harta yang dimilikinya yang kemudian Allah turunkan azab padanya dengan ditelannya dia oleh bumi yang tidak lagi suka pada kecongkakan yang dia pamerkan sehingga membuat bumi gerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber dosa lainnya adalah ketidakridaan dengan apa yang Allah tetapkan pada dirinya. Bibirnya belepotan keluhan, bahkan gugatan kepada Allah mengapa Dia tidak memberikan yang "terbaik" menurut pandangan dan persepsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyangka bahwa apa yang dia alami saat ini tidaklah tepat bagi dirinya. Lambat kembali kepada Allah adalah dosa kronis lainnya. Dosa mengendap karena kita suka menunda taubat yang seharusnya dipercepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Allah berfirman, "Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?" (QS at-Taubah : 104).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa tidak puas dengan apa yang Allah karuniakan pada kita adalah penyakit jiwa kronis lain yang melahirkan buruk sangka kepada Allah. Volume syukur mengecil yang kemudian membuahkan ketamakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakwaan akan semakin sarat makna saat pendorongnya adalah mahabbah cinta pada Allah dengan sepenuh jiwa yang tidak lagi berpikir untung rugi dalam menjalankan perintah-Nya. Semangat cinta yang membakar hatinya akan senantiasa menggerakkannya untuk senantiasa dekat merapat dan bergiat untuk merengkuh rida kasih-Nya, mereguk cawan rahmat-Nya. Rasa cintanya yang menggelegak pada Allah akan senantiasa membuat hidup lebih terasa dengan langkah pasti menuju Sang Kekasih. Cawan cintanya senantiasa tumpah ruah dengan air mata takwa, rida, qanaah, taubat, syukur, tawakal, dan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramuan mujarab ini selain menghapuskan dosa juga akan melonjakkan vitalitas keimanan dan akan meledakkan energi keislaman yang akhirnya mengokohkan akar ihsan kita. Selamat mencicipi ramuan mujarab pelebur dosa. Anda akan merasakan khasiatnya yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dari : &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/10/10/lstqkp-melebur-dosa#"&gt;Republika.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6436062915394209334?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6436062915394209334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6436062915394209334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6436062915394209334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6436062915394209334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/10/melebur-dosa.html' title='Melebur Dosa'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-2463745608312338492</id><published>2011-09-06T19:13:00.000-07:00</published><updated>2011-09-06T19:23:47.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='halal bihalal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;HALAL BIHALAL &lt;/span&gt;                                           (2/2)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a. Taubat (Tobat)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terdahulu  telah  dikemukakan  bahwa  Al-Quran  mengisyaratkan&lt;br /&gt;adanya dua pelaku tobat, yakni  Allah  dan  manusia.  Di  sini&lt;br /&gt;dapat  ditambahkan  bahwa  ada  dua  macam  tobat (kembalinya)&lt;br /&gt;Allah. Pertama, lahir sebelum lahirnya  tobat  manusia  secara&lt;br /&gt;aktual.   Ketika  itu  ia  baru  dalam  bentuk  keinginan  dan&lt;br /&gt;kesadaran tentang dosa-dosanya. Tobat pertama Tuhan ini antara&lt;br /&gt;lain tercermin dari firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah&lt;br /&gt;ayat 186,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,&lt;br /&gt;     maka sesungguhnya Aku dekat...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata 'ibadi (hamba-hamba-Ku) baik yang ditulis dengan  memakai&lt;br /&gt;huruf  Ya'  (sebanyak 17 kali) maupun tidak (4 kali), semuanya&lt;br /&gt;digunakan untuk menunjukkan hamba Allah yang  taat  atau  yang&lt;br /&gt;bergelimang   di   dalam   dosa  tetapi  berkeinginan  kembali&lt;br /&gt;kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Perhatikan firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah&lt;br /&gt;     ke dalam surga-Ku (QS Al-Fajr [89]: 29-30).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Wahai hamba-hamba-Ku yang bergelimang dalam dosa (dan&lt;br /&gt;     telah menyadari dosanya sehingga ingin kembali),&lt;br /&gt;     janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah (QS&lt;br /&gt;     Al-Zumar [39]: 53)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Surat Al-Baqarah ayat 186  di  atas  menjelaskan  bahwa  Allah&lt;br /&gt;dekat    dengan   hamba-hamba-Nya,   walaupun   mereka   masih&lt;br /&gt;bergelimang dalam  dosa  dan  maksiat  tetapi  telah  memiliki&lt;br /&gt;kesadaran untuk bertobat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tobat  Allah  (kembalinya  Allah)  terhadap  yang berkeinginan&lt;br /&gt;dekat kepada-Nya, lebih jelas terlihat pada ayat berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maka Adam menerima dan Tuhan-Nya (petunjuk) berupa&lt;br /&gt;     kalimat-kalimat, dan Dia bertobat (mengampuninya) (QS&lt;br /&gt;     Al-Baqarah [2]: 37).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemberian kalimat-kalimat  itu  memberi  isyarat  bahwa  Allah&lt;br /&gt;membuka pintu tobat-Nya, dan memberi taufik kepada mereka yang&lt;br /&gt;berdosa, yang  terketuk  hatinya  untuk  kembali.  "Penerimaan&lt;br /&gt;kalimat-kalimat  dari  Tuhan"  itulah  yang  mengantarkan Adam&lt;br /&gt;mengajukan permohonan ampun kepada Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Langkah pertama dari tobat Allah  ini,  antara  lain  dipahami&lt;br /&gt;pula  dari  redaksi-redaksi  fashilat (penutup) ayat-ayat yang&lt;br /&gt;berbicara tentang tobat-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhatikanlah kedua ayat berikut ini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah hendak menerangkan kepada kamu dan mengantarmu ke&lt;br /&gt;     jalan orang-orang sebelum kamu (para Nabi dan&lt;br /&gt;     orang-orang saleh) dan hendak menerima tobatmu. Allah&lt;br /&gt;     Maha Mengetahui lagi Bijaksana (QS Al-Nisa' [4]: 261.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maka barangsiapa bertobat (di antara pencuri-pencuri&lt;br /&gt;     itu) sesudah melakukan kejahatannya, dan memperbaiki&lt;br /&gt;     diri, sesungguhnya Allah bertobat kepadanya (menerima&lt;br /&gt;     tobatnya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha&lt;br /&gt;     Penyayang (QS Al-Ma-idah [5]: 39).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penutup surat An-Nisa ayat 26 mengisyaratkan  langkah  pertama&lt;br /&gt;tobat  Allah,  yang dilakukan-Nya kepada mereka yang diketahui&lt;br /&gt;terketuk hatinya atau  memiliki  kesadaran  terhadap  dosanya.&lt;br /&gt;Langkah   tersebut   dilakukan  oleh  Allah  karena  Dia  Maha&lt;br /&gt;Mengetahui  segala  sesuatu,  termasuk  bisikan-bisikan   hati&lt;br /&gt;manusia,  dan  karena  Dia Maha Bijaksana. Dalam posisi inilah&lt;br /&gt;Allah memberi petunjuk kepada Adam dengan kalimat-kalimat yang&lt;br /&gt;wajar diucapkan untuk memohon ampun, karena betapapun, manusia&lt;br /&gt;selalu membutuhkan petunjuk-Nya, lebih-lebih pada saat ia jauh&lt;br /&gt;dari Allah Swt.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penutup  surat  Al-Ma-idah juga berbicara tentang tobat A1lah,&lt;br /&gt;tetapi kali ini dia benar-benar  telah  "tobat"  (kembali)  ke&lt;br /&gt;posisi semula. Namun harus disadari bahwa hal ini baru terjadi&lt;br /&gt;jika sang hamba yang berdosa bertobat  dan  memperbaiki  diri.&lt;br /&gt;Allah   mendekatkan   diri   dan  kembali  ke  posisi  semula,&lt;br /&gt;disebabkan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Al-'Afw (Maaf)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata al-'afw terulang dalam Al-Quran sebanyak  34  kali.  Kata&lt;br /&gt;ini pada mulanya berarti berlebihan, seperti firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka  bertanya  kepadamu  tentang  hal yang mereka nafkahkan&lt;br /&gt;(kepada orang).  Katakanlah,  "al-'afw"  (yang  berlebih  dari&lt;br /&gt;keperluan) (QS Al-Baqarah [2]: 219).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang  berlebih  seharusnya  diberikan  agar  keluar.  Keduanya&lt;br /&gt;menjadikan sesuatu yang tadinya  berada  di  dalam  (dimiliki)&lt;br /&gt;menjadi  tidak di dalam dan tidak dimiliki lagi. Akhirnya kata&lt;br /&gt;al-'afw berkembang maknanya menjadi  keterhapusan.  Memaafkan,&lt;br /&gt;berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam&lt;br /&gt;hati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membandingkan ayat-ayat yang berbicara tentang tobat dan maaf,&lt;br /&gt;ditemukan  bahwa kebanyakan ayat tersebut didahului oleh usaha&lt;br /&gt;manusia  untuk   bertobat.   Sebaliknya,   tujuh   ayat   yang&lt;br /&gt;menggunakan kata 'afa, dan berbicara tentang pemaafan semuanya&lt;br /&gt;dikemukakan tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari orang yang&lt;br /&gt;bersalah. Perhatikan ayat-ayat berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah mengetahui bahwa kamu tadinya mengkhianati dirimu&lt;br /&gt;     sendiri (tidak dapat menahan nafsumu sehingga&lt;br /&gt;     bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan&lt;br /&gt;     bahwa itu haram) maka Allah memaafkan kamu (QS&lt;br /&gt;     Al-Baqarah [2]: 187).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah memaafkan kamu, mengapa engkau memberi izin&lt;br /&gt;     kepada mereka, sebelum engkau mengetahui orang-orang&lt;br /&gt;     yang benar (dalam alasannya) dan sebelum engkau&lt;br /&gt;     mengetahui pula para pembohong? (QS Al-Tawbah [9]: 43).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang&lt;br /&gt;     setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat&lt;br /&gt;     baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syura&lt;br /&gt;     [42]: 40).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhatikan juga firman-Nya dalam surat Ali-'Imran ayat 152 dan&lt;br /&gt;155,  juga Al-Maidah ayat 95 dan lOl. Ternyata tidak ditemukan&lt;br /&gt;satu ayat pun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang&lt;br /&gt;ada adalah perintah untuk memberi maaf.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada&lt;br /&gt;     Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur&lt;br /&gt;     [24): 22).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk&lt;br /&gt;tidak  menanti  permohonan  maaf  dari  orang  yang  bersalah,&lt;br /&gt;melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka  yang&lt;br /&gt;enggan   memberi   maaf   pada  hakikatnya  enggan  memperoleh&lt;br /&gt;pengampunan dan Allah Swt. Tidak  ada  alasan  untuk  berkata,&lt;br /&gt;"Tiada  maaf  bagimu",  karena  segalanya  telah  dijamin  dan&lt;br /&gt;ditanggung oleh Allah Swt.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perlu dicatat pula, bahwa pemaafan yang dimaksud  bukan  hanya&lt;br /&gt;menyangkut  dosa  atau kesalahan kecil, tetapi juga untuk dosa&lt;br /&gt;dan kesalahan-kesalahan besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran  surat  Al-Baqarah  ayat  51-52,  berbicara   tentang&lt;br /&gt;pemaafan  Allah  bagi  umat Nabi Musa a.s. yang mempertuhankan&lt;br /&gt;lembu:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan (ingatlah) ketika Kami berjanji kepada Musa&lt;br /&gt;     (memberikan Taurat) sesudah empat puluh hari, lalu kamu&lt;br /&gt;     menjadikan anak lembu (yang dibuat dari emas) untuk&lt;br /&gt;     disembah sepeninggalnya, dan kamu adalah orang-orang&lt;br /&gt;     yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan&lt;br /&gt;     kesalahanmu, agar kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2]:&lt;br /&gt;     51-52).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c. Al-Shafh (Lapang Dada)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata al-shafh dalam berbagai bentuk terulang sebanyak  delapan&lt;br /&gt;kali  dalam  Al-Quran.  Kata  ini pada mulanya berarti lapang.&lt;br /&gt;Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan&lt;br /&gt;keluasannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari  sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat&lt;br /&gt;tangan  dinamai   mushafahat   karena   melakukannya   menjadi&lt;br /&gt;perlambang kelapangan dada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari  delapan  kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di&lt;br /&gt;antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhatikan ayat-ayat berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta&lt;br /&gt;     melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha&lt;br /&gt;     penyayang (QS Al-Thaghabun [64]: 14).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah&lt;br /&gt;     kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24]:&lt;br /&gt;     22) .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya&lt;br /&gt;     Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan&lt;br /&gt;     (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (QS&lt;br /&gt;     Al-Ma-idah [5]: l3. Juga baca surat Al-Baqarah [2]:&lt;br /&gt;     lO9).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani  menyatakan&lt;br /&gt;bahwa  al-shafa lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf).&lt;br /&gt;Pernyataan yang dikemukakan itu dapat dipahami melalui  alasan&lt;br /&gt;kebahasaan sebagai berikut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti  dikemukakan  terdahulu  dari  kata  al-shafh lahirlah&lt;br /&gt;shafhat yang berarti  halaman.  Jika  Anda  memiliki  selembar&lt;br /&gt;kertas  yang  ditulisi  suatu  kesalahan, lantas kesalahan itu&lt;br /&gt;ditulis dengan pensil, Anda tentu  dapat  mengambil  penghapus&lt;br /&gt;karet  untuk  menghapusnya.  Seperti  demikianlah  ketika Anda&lt;br /&gt;melakukan  'afw  (memberi  maaf).  Seandainya  kesalahan  pada&lt;br /&gt;kertas  itu ditulis dengan tinta, tentu Anda akan menghapusnya&lt;br /&gt;dengan Tipp Ex agar tidak terlihat  lagi,  dan  di  sini  Anda&lt;br /&gt;melakukan   takfir  seperti  yang  akan  dijelaskan  kemudian.&lt;br /&gt;Betapapun Anda menghapus bekas kesalahan, namun pasti  sedikit&lt;br /&gt;banyak,  lembaran  tersebut  tidak lagi sama sepenuhnya dengan&lt;br /&gt;lembaran baru. Malah barangkali kertas itu menjadi kusut. Nah,&lt;br /&gt;di  sinilah  letak  perbedaan  antara al-shafh yang mengandung&lt;br /&gt;arti lapang dan lembaran baru dengan takfir. Al-Shafh menuntut&lt;br /&gt;seseorang  untuk  membuka  lembaran  baru  hingga  sedikit pun&lt;br /&gt;hubungan  tidak  ternodai,  tidak  kusut,  dan  tidak  seperti&lt;br /&gt;halaman yang telah dihapus kesalahannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mushafahat  (jabat  tangan) adalah lambang kesediaan seseorang&lt;br /&gt;untuk  membuka  lembaran  baru,  dan  tidak   mengingat   atau&lt;br /&gt;menggunakan  lagi  lembaran  lama.  Sebab,  walaupun kesalahan&lt;br /&gt;telah dihapus, kadang-kadang masih saja ada kekusutan masalah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tadi telah dikemukakan bahwa memberi maaf  dilanjutkan  dengan&lt;br /&gt;perintah al-shafh. Perintah memaafkan tetap diperlukan, karena&lt;br /&gt;tidak mungkin membuka lembaran baru dengan  membiarkan  lembar&lt;br /&gt;yang  telah  ada  kesalahannya  tanpa  terhapus.  Itu sebabnya&lt;br /&gt;ayat-ayat yang memerintahkan al-shafh tetapi  tidak  didahului&lt;br /&gt;oleh  perintah  memberi  maaf,  dirangkaikan dengan jamil yang&lt;br /&gt;berarti indah. Selain itu, al-shafh juga  dirangkaikan  dengan&lt;br /&gt;perintah menyatakan kedamaian dan keselamatan bagi semua pihak&lt;br /&gt;(perhatikan firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Hijr [15]:  85,&lt;br /&gt;serta Al-Zukhruf [43]: 89):&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Berlapang dadalah terhadap mereka dengan cara yang baik&lt;br /&gt;     (Al-Hijri [5]: 85).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Berlapang dadalah terhadap mereka dengan mengatakan&lt;br /&gt;     salam/kedamaian (QS Al-Zukhruf [43]: 84).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;d. Al-Ghufran&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-ghufran terambil dari kata kerja ghafara yang pada  mulanya&lt;br /&gt;berarti  menutup.  Rambut  putih  yang disemir hingga tertutup&lt;br /&gt;putihnya disebutkan dengan ghafara asy-sya'ra. Dari akar  kata&lt;br /&gt;yang  sama,  lahir  kata  ghifarah, yang berarti sepotong kain&lt;br /&gt;yang menghalangi kerudung sehingga tidak ternodai oleh  minyak&lt;br /&gt;rambut.  Maghfirah  Ilahi  adalah "perlindungan-Nya dari siksa&lt;br /&gt;neraka."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Al-Quran surat Ali Imran (3): 31 dinyatakannya bahwa,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Katakanlah, "Jika kamu benar-benar mencintai Allah,&lt;br /&gt;     ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan menutupi&lt;br /&gt;     dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi&lt;br /&gt;     Maha Penyayang."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian dalam Al-Quran surat Al-Anfal (8): 29, dinyatakan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertakwa&lt;br /&gt;     kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu&lt;br /&gt;     furqan (petunjuk membedakan yang hak dan yang batil),&lt;br /&gt;     dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu, serta&lt;br /&gt;     yaghfir lakum (melindungi kamu dari siksa). Dan Allah&lt;br /&gt;     mempunyai karunia yang besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari kedua ayat di atas  terlihat,  bahwa  kata  yaghfir  bila&lt;br /&gt;dirangkaikan  dengan  menyebutkan  dosa,  berarti menutup dosa&lt;br /&gt;dengan  sesuatu.  Sedangkan  bila  tidak  dirangkaikan  dengan&lt;br /&gt;menyebutkan   dosa   --sebagaimana   ditunjukkan  dalam  surat&lt;br /&gt;Al-Anfal ayat 29-- berarti melindungi manusia dari siksa  atau&lt;br /&gt;bencana.  Baik  dalam  konteks  pertama  maupun konteks kedua,&lt;br /&gt;ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa  ghufran  (pengampunan&lt;br /&gt;atau  perlindungan)  tidak  dapat  diperoleh  kecuali  setelah&lt;br /&gt;memenuhi syarat-syarat tertentu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari kedua ayat tersebut juga terbaca bahwa  syarat  penutupan&lt;br /&gt;dosa  dan perlindungan dari siksa adalah berbuat kebajikan. Di&lt;br /&gt;sini terlihat  salah  satu  perbedaan  antara  al-'afw  (maaf)&lt;br /&gt;dengan  ghufran. Karena itu, ditemukan ayat yang menggabungkan&lt;br /&gt;keduanya, yakni:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Hapuskanlah dosa kami, lindungilah kami, dan rahmatilah&lt;br /&gt;     kami (QS Al-Baqarah [2]: 286).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TAKFIR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menutup dosa dengan pekerjaan  tertentu,  Al-Quran  juga&lt;br /&gt;menggunakan  istilah  takfir.  Kata  ini,  terambil  dari kata&lt;br /&gt;kaffara yang berarti menutup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran mempergunakan kata kaffara dengan berbagai  bentuknya&lt;br /&gt;sebanyak  14  kali  (kecuali kaffarat), pelakunya ada1ah A11ah&lt;br /&gt;Swt.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang  empat  kali  itu  selalu  digandengkan   dengan   syarat&lt;br /&gt;melakukan  amal-amal  saleh, atau upaya meninggalkan dosa-dosa&lt;br /&gt;besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhatikan misalnya firman Allah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Apabila kamu menghindari dosa-dosa besar yang dilarang&lt;br /&gt;     untuk melakukannya, akan Kami tutupi&lt;br /&gt;     kesalahan-kesalahanmu (QS Al-Nisa' [4]: 3l).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Orang-orang yang beriman dengan beramal saleh pasti&lt;br /&gt;     Kami tutupi kesalahan-kesalahan mereka ... (QS&lt;br /&gt;     Al-'Ankabut [29]: 7)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal&lt;br /&gt;     saleh, ditutupi kesalahan-kesalahannya (QS Al-Taghabun&lt;br /&gt;     [64]: 9).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari keempat belas kali yang disebut itu, teramati  pula  tiga&lt;br /&gt;belas  di  antaranya  dirangkaikan dengan kata as-sayyiat yang&lt;br /&gt;diterjemahkan  sebagai  kesalahan-kesalahan   atau   dosa-dosa&lt;br /&gt;kecil.  Hanya  satu  ayat  yang  tidak  menyebutkan  kata  as-&lt;br /&gt;sayyiat, melainkan menggunakan istilah  aswa'  alladzi  'amilu&lt;br /&gt;(perbuatan terjelek yang mereka lakukan), yang pada hakikatnya&lt;br /&gt;dapat juga diartikan sebagai dosa-dosa kecil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, dari sini dapat dipahami bahwa dosa-dosa kecil  seseorang&lt;br /&gt;dapat  ditoleransi  oleh  Allah  Swt.  akibat adanya amal-amal&lt;br /&gt;saleh yang menutupinya .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks ini Nabi Saw. berpesan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan&lt;br /&gt;     susulkanlah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan&lt;br /&gt;     itu menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak&lt;br /&gt;     yang baik. (HR At-Tirmidzi melalui sahabat Nabi Abu&lt;br /&gt;     Dzar).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian sedikit dan banyak kesan yang  dapat  diperoleh  dari&lt;br /&gt;ayat-ayat   Al-Quran   berkaitan   dengan   halal-bihalal/maaf&lt;br /&gt;memaafkan. []&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124&lt;br /&gt;Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038&lt;br /&gt;mailto:mizan@ibm.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dari : &lt;a href="http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/HalalBihalal2.html"&gt;Media&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-2463745608312338492?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/2463745608312338492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=2463745608312338492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2463745608312338492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2463745608312338492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/09/wawasan-al-quran.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-2476200756516892157</id><published>2011-08-31T00:08:00.000-07:00</published><updated>2011-08-31T00:19:22.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='halal bihalal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>Oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAL BIHALAL&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;                                            (1/2)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran adalah kitab rujukan untuk  memperoleh  petunjuk  dan&lt;br /&gt;bimbingan  agama. Ada tiga cara yang diperkenalkan ulama untuk&lt;br /&gt;memperoleh  pesan-pesan  kitab  suci  itu.  Pertama,   melalui&lt;br /&gt;penjelasan  Nabi  Saw.,  para  sahabat beliau, dan murid-murid&lt;br /&gt;mereka. Hal ini dinamai  tafsir  bir-riwayah.  Kedua,  melalui&lt;br /&gt;analisis  kebahasaan  dengan  menggunakan  nalar yang didukung&lt;br /&gt;oleh  kaidah-kaidah   ilmu   tafsir.   Ini,   dinamai   tafsir&lt;br /&gt;bid-dinyah.   Ketiga,   melalui   kesan  yang  diperoleh  dari&lt;br /&gt;penggunaan kosa  kata  ayat  atau  bilangannya,  yang  dinamai&lt;br /&gt;tafsir bir-riwayah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kajian  ini  akan  mencoba  mencari  substansi  halal  bihalal&lt;br /&gt;melalui Al-Quran dengan menitikberatkan  pandangan  pada  cara&lt;br /&gt;yang ketiga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk  maksud tersebut, tulisan ini akan berpangkal tolak pada&lt;br /&gt;beberapa istilah yang lumrah  digunakan  dalam  konteks  halal&lt;br /&gt;bihalal,  yaitu  Idul  Fitri,  halal bihalal, dan Minal 'Aidin&lt;br /&gt;wal-Faizin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;IDUL FITRI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata 'Id terambil dari akar kata yang berarti  kembali,  yakni&lt;br /&gt;kembali  ke  tempat  atau ke keadaan semula. Ini berarti bahwa&lt;br /&gt;sesuatu yang "kembali" pada mulanya berada pada suatu  keadaan&lt;br /&gt;atau  tempat,  kemudian  meninggalkan tempat atau keadaan itu,&lt;br /&gt;lalu kembali dalam arti ke tempat dan keadaan semula.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, apakah keadaan atau tempat semula itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal ini dijelaskan oleh kata fithr, yang antara  lain  berarti&lt;br /&gt;asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam  pandangan  Al-Quran,  asal  kejadian manusia bebas dari&lt;br /&gt;dosa dan  suci,  sehingga  'idul  fithr  antara  lain  berarti&lt;br /&gt;kembalinya    manusia    kepada    keadaan    sucinya,    atau&lt;br /&gt;keterbebasannya dari segala dosa  dan  noda,  sehingga  dengan&lt;br /&gt;demikian ia berada dalam kesucian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dosa  memang  mengakibatkan  manusia  menjauh  dari  posisinya&lt;br /&gt;semula. Baik kedekatan posisinya terhadap Allah maupun  sesama&lt;br /&gt;manusia.  Demikianlah  salah  satu  kesan  yang diperoleh dari&lt;br /&gt;sekian banyak ayat Al-Quran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika Adam dan Hawa berada di surga, Allah menyampaikan pesan&lt;br /&gt;yaitu,  Janganlah mendekati pohon ini (QS Al-Baqarah [2]: 35).&lt;br /&gt;Namun,  begitu  keduanya  melanggar  perintah  Allah   (karena&lt;br /&gt;berdosa  dengan  memakan buah pohon itu), Al-Quran menyatakan,&lt;br /&gt;maka  Tuhan  mereka  menyeru  keduanya,  "Bukankah  Aku  telah&lt;br /&gt;melarang  kamu  berdua  mendekati pohon itu?" (QS Al-A'raf [7]&lt;br /&gt;22).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesan yang ditimbulkan oleh redaksi ayat-ayat di  atas  antara&lt;br /&gt;lain:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama,  bahwa  sebelum terjadinya pelanggaran, Allah bersama&lt;br /&gt;Adam dan Hawa  berada  pada  suatu  posisi  berdekatan,  yakni&lt;br /&gt;masing-masing  tidak  jauh  dari  pohon terlarang. Karena itu,&lt;br /&gt;isyarat kata yang dipergunakan  untuk  menunjuk  pohon  adalah&lt;br /&gt;isyarat  dekat,  yakni  "ini".  Tetapi,  ketika  Adam dan Hawa&lt;br /&gt;melanggar, mereka berdua menjauh dari posisi semula, dan Allah&lt;br /&gt;pun  demikian,  sehingga  Allah  harus "menyeru mereka" (yakni&lt;br /&gt;berbicara  dari  tempat  yang  jauh),  dan   ini   pula   yang&lt;br /&gt;menyebabkan  Tuhan menunjuk pohon terlarang itu dengan isyarat&lt;br /&gt;jauh, yakni  "itu"  (perhatikan  kembali  bunyi  ayat-ayat  di&lt;br /&gt;atas).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di  sini  terlihat  bahwa baik Adam maupun Allah masing-masing&lt;br /&gt;menjauh,  tetapi  jika  mereka  kembali,  masing-masing   akan&lt;br /&gt;mendekat  sehingga  pada  akhirnya  akan  berada  pada  posisi&lt;br /&gt;semula. Memang, tegas Al-Quran,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Jika hamba-hamba-Ku (yang taat dan menyadari&lt;br /&gt;     kesalahannya) bertanya kepadamu tentang Aku,&lt;br /&gt;     sesunguhnya Aku dekat, dan memperkenankan permohonan&lt;br /&gt;     jika mereka bermohon kepada-Ku (QS Al-Baqarah [2]:&lt;br /&gt;     186).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesadaran manusia  terhadap  kesalahannya  mengantarkan  Allah&lt;br /&gt;mendekat  kepadanya. Pada gilirannya, hal itu akan menyebabkan&lt;br /&gt;manusia bertobat. Perlu diingat, bahwa  tobat  secara  harfiah&lt;br /&gt;berarti  kembali.  Sehingga  dengan  demikian  Allah  pun akan&lt;br /&gt;kembali pada posisi semula. Al-Quran memperkenalkan dua pelaku&lt;br /&gt;tobat, yaitu manusia dan Allah Swt.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Adam menerima kalimat-kalimat dari Tuhannya, maka Dia&lt;br /&gt;     (Allah) menerima tobatnya. Sesungguhnya Dia Maha&lt;br /&gt;     Penerima tobat lagi Maha Pengasih (QS Al-Baqarah [2]:&lt;br /&gt;     37).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walau bukan kembali dalam konteks memohon ampun,  namun  dapat&lt;br /&gt;diperoleh  kesan dari firman-Nya yang menyatakan "Jikalau kamu&lt;br /&gt;kembali Kami pun akan kembali" (QS Al-Isra'  [l7]:  8),  bahwa&lt;br /&gt;Allah selalu rindu akan kembalinya manusia kepada-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hadis  Nabi  Saw. pun menjelaskan bahwa Allah berfirman antara&lt;br /&gt;lain,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku (Allah) sejengkal,&lt;br /&gt;     Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat&lt;br /&gt;     kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila&lt;br /&gt;     ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang&lt;br /&gt;     menemuinya dengan berlari (HR Bukhari dari Anas bin&lt;br /&gt;     Malik).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegembiraan Allah itu tercermin  dari  hadis  Rasulullah  Saw.&lt;br /&gt;yang  diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik, bahwa&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah lebih gembira karena tobatnya seseorang, pada&lt;br /&gt;     saat ia bertobat dan salah seorang di antara kamu yang&lt;br /&gt;     mengendarai binatang kendaraannya di padang pasir,&lt;br /&gt;     kemudian binatang itu pergi menjauh padahal di pundak&lt;br /&gt;     binatang itu terdapat makanan dan minumannya. Dia&lt;br /&gt;     berputus asa untuk menemukannya kembali, hingga ia&lt;br /&gt;     berbaring di bawah naungan pohon, dan tiba-tiba saja&lt;br /&gt;     binatang tadi muncul di hadapannya. Lantas dia pun&lt;br /&gt;     memegang tali kendalinya sambil berkata saking&lt;br /&gt;     gembiranya, "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan Aku&lt;br /&gt;     Tuhanmu."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks hubungan manusia dengan sesamanya, dapat ditarik&lt;br /&gt;kesan  dari  penamaan  manusia  dengan kata al-Insan. Kata ini&lt;br /&gt;--menurut sebagian ulama-- terambil dari kata uns yang berarti&lt;br /&gt;senang atau harmonis. Sehingga dari sini dapat dipahami, bahwa&lt;br /&gt;pada  dasarnya  manusia  selalu  merasa  senang  dan  memiliki&lt;br /&gt;potensi  untuk  menjalin  hubungan  harmonis  antar sesamanya.&lt;br /&gt;Dengan  melakukan  dosa  terhadap  sesama  manusia,   hubungan&lt;br /&gt;tersebut  menjadi  terganggu  dan  tidak  harmonis lagi. Namun&lt;br /&gt;manusia akan kembali ke posisi semula (harmonis) pada saat  ia&lt;br /&gt;menyadari  kesalahannya,  dan  berusaha  mendekat kepada siapa&lt;br /&gt;yang pernah ia lukai hatinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari  uraian  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  idul  fltri&lt;br /&gt;mengandung  pesan  agar yang merayakannya mewujudkan kedekatan&lt;br /&gt;kepada Allah dan sesama manusia. Kedekatan tersebut  diperoleh&lt;br /&gt;antara  lain  dengan  kesadaran  terhadap kesalahan yang telah&lt;br /&gt;diperbuat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;HALAL BIHALAL&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata halal dari segi  hukum  diartikan  sebagai  sesuatu  yang&lt;br /&gt;bukan   haram;   sedangkan   haram  merupakan  perbuatan  yang&lt;br /&gt;mengakibatkan dosa dan ancaman siksa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hukum Islam memperkenalkan panca hukum  yaitu  wajib,  sunnah,&lt;br /&gt;mubah,  makruh dan haram. Empat yang pertama termasuk kelompok&lt;br /&gt;halal (termasuk yang makruh, dalam arti, yang dianjurkan untuk&lt;br /&gt;ditinggalkan).  Nabi  Saw.  bersabda,  "Abghadu  al-halal  ila&lt;br /&gt;Allah, ath-thalaq" (Halal yang  paling  dibenci  Allah  adalah&lt;br /&gt;pemutusan hubungan suami-istri).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jikalau  halal  bihalal diartikan dalam konteks hukum, hal itu&lt;br /&gt;tidak  akan  menyebahkan  lahirnya  hubungan  harmonis   antar&lt;br /&gt;sesama,  bahkan  mungkin  dalam beberapa hal dapat menimbulkan&lt;br /&gt;kebencian Allah kepada pelakunya. Karena itu,  sebaiknya  kata&lt;br /&gt;halal  pada konteks halal bihalal tidak dipahami dalam bihalal&lt;br /&gt;pengertian hukum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Al-Quran, kata halal terulang sebanyak enam kali. Dua di&lt;br /&gt;antaranya pada konteks kecaman, yaitu:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang&lt;br /&gt;     diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan&lt;br /&gt;     sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Apakah Allah&lt;br /&gt;     telah memberikan izin kepadamu ataukah kamu&lt;br /&gt;     mengada-adakan saja terhadap Allah?" (QS Yunus [10]:&lt;br /&gt;     59).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang&lt;br /&gt;     disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, "Ini halal dan&lt;br /&gt;     ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap&lt;br /&gt;     Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan&lt;br /&gt;     kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. (Itu&lt;br /&gt;     adalah) kesenangan sementara yang sedikit, dan bagi&lt;br /&gt;     mereka siksa yang pedih (QS Al-Nahl [16]: 116-117).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesan apakah yang dapat diperoleh dari ayat ini? Paling tidak,&lt;br /&gt;terdapat  kecaman terhadap mereka yang mencampurbaurkan antara&lt;br /&gt;yang halal dan yang haram.  Jika  yang  mencampurbaurkan  saja&lt;br /&gt;telah dikecam dan diancam dengan siksa yang pedih, lebih-lebih&lt;br /&gt;lagi orang yang seluruh aktivitasnya adalah haram.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Empat halal lainnya yang tersebut dalam Al-Quran mempunyai dua&lt;br /&gt;ciri yang sama, yaitu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  a. Dikemukakan dalam konteks perintah makan (kulu),&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  b. Kata halal digandengkan dengan kata thayyibah&lt;br /&gt;     (baik).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhatikan keempat ayat berikut&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Kulu mimma fil ardhi halalan thayyiban (Makanlah yang&lt;br /&gt;     halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi) (QS&lt;br /&gt;     Al-Baqarah [2]: 168)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Wakulu mimma razaqakamullah halalan thayyiban... (Dan&lt;br /&gt;     makanlah makanan yang halal lagi baik, dari apa yang&lt;br /&gt;     Allah telah rezekikan kepadamu) (QS Al-Ma-idah [5]: 88)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Faku1u mimma ghanimtum halalan thayyiban (Maka makanlah&lt;br /&gt;     dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil&lt;br /&gt;     itu) (QS Al-Anfal [8]: 69).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Fakulu mimma razaqakumullahu halalan thayyiban (Maka&lt;br /&gt;     makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah&lt;br /&gt;     diberikan Allah kepadamu) (QS An-Nahl [16]: 114)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata  makan  dalam  Al-Quran   sering   diartikan   "melakukan&lt;br /&gt;aktivitas  apa  pun."  Ini  agaknya  disebabkan  karena  makan&lt;br /&gt;merupakan   sumber   utama   perolehan   kalori   yang   dapat&lt;br /&gt;menghasilkan  aktivitas. Dengan demikian, perintah makan dalam&lt;br /&gt;ayat-ayat  di  atas  bermakna  perintah  melakukan  aktivitas,&lt;br /&gt;sedangkan  aktivitasnya tidak sekadar halal, tetapi juga harus&lt;br /&gt;thayyib (baik). Nah jika dikembalikan pada empat  jenis  halal&lt;br /&gt;yang  diperkenalkan  oleh  hukum Islam, maka yang makruh tidak&lt;br /&gt;termasuk dalam kategori halalan thayyiban.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran menyatakan secara tegas cinta Allah (Innallaha yuhib)&lt;br /&gt;sebanyak  delapan  belas  kali,  yang  dapat  dirinci  sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masing-masing sekali untuk at-tawabin (orang  yang  bertobat),&lt;br /&gt;ash-shabirin  (orang-orang  sabar)  dan  shaffan wahida (orang&lt;br /&gt;yang berada dalam satu barisan/kesatuan).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masing-masing dua kali terhadap  al-mutawakkilin  (orang  yang&lt;br /&gt;berserah  diri  kepada Allah) dan al-mutathahirin (orang-orang&lt;br /&gt;yang menyucikan diri).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masing-masing  tiga  kali  terhadap  al-muttaqin  (orang  yang&lt;br /&gt;bertakwa) dan al-muqsithin (orang yang berlaku adil), dan lima&lt;br /&gt;kali terhadap al-muhsinin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesan yang  ditimbulkan  oleh  angka-angka  itu  paling  tidak&lt;br /&gt;mengisyaratkan  bahwa  sikap  yang paling disenangi oleh Allah&lt;br /&gt;adalah al-muhsinin (orang-orang  yang  berbuat  baik  terhadap&lt;br /&gt;mereka yang pernah melakukan kesalahan). Hal ini sesuai sekali&lt;br /&gt;dengan perintah Al-Quran untuk melakukan perbuatan halal  yang&lt;br /&gt;baik,  tidak  sekadar  perbuatan  halal  (boleh), tetapi tidak&lt;br /&gt;menghasilkan kebaikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam  Al-Quran  surat  Ali-'Imran   ayat   134   diisyaratkan&lt;br /&gt;tingkat-tingkat terjalinnya keserasian hubungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Mereka yang menafkahkan hartanya, baik pada saat&lt;br /&gt;     keadaan mereka senang (lapang) maupun sulit, dan&lt;br /&gt;     orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan&lt;br /&gt;     orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap&lt;br /&gt;     mereka). Sesunguhnya Allah menyukai mereka yang berbuat&lt;br /&gt;     baik (terhadap orang yang bersalah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sini terbaca, bahwa tahap pertama  adalah  menahan  amarah,&lt;br /&gt;tahap  kedua memberi maaf, dan tahap berikutnya adalah berbuat&lt;br /&gt;baik terhadap orang yang bersalah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu ucapan populer dalam konteks Idul Fitri  ada  Minal&lt;br /&gt;'Aidin wal Faizin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata 'Aidin, adalah bentuk pelaku 'Id.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata  al-faizin  adalah  bentuk  jamak dari faiz, yang berarti&lt;br /&gt;orang yang beruntung. Kata ini terambil dari  kata  fauz  yang&lt;br /&gt;berarti keberuntungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Al-Quran ditemukan sebanyak 29 kali kata tersebut dengan&lt;br /&gt;berbagai bentuknya.  Masing-masing  delapan  belas  kali  pada&lt;br /&gt;bentuk  kata  jadian  fauz/al-fauz  (keberuntungan), tiga kali&lt;br /&gt;dalam bentuk mafaz  (tempat  keberuntungan),  dua  kali  dalam&lt;br /&gt;bentuk  kata  kerja faza (beruntung), empat kali dengan bentuk&lt;br /&gt;al-faizin, dan hanya sekali dalam bentuk  kata  kerja  tunggal&lt;br /&gt;yang menunjuk kepada orang pertama afuz (saya beruntung). Yang&lt;br /&gt;terakhir itu diucapkan oleh orang munafik yang menyesal karena&lt;br /&gt;tidak  ikut  berperang  bersama-sama  orang Islam, sehingga ia&lt;br /&gt;tidak memperoleh pembagian harta rampasan perang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat&lt;br /&gt;     berlambat-lambat ke medan perang. Maka jika kamu&lt;br /&gt;     ditimpa musibah, mereka berkata, "Sesungguhnya Tuhan&lt;br /&gt;     telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena tidak&lt;br /&gt;     ikut menyaksikan (peperangan) bersama mereka." Sungguh,&lt;br /&gt;     jika kamu memperoleh karunia (kemenangan dan harta&lt;br /&gt;     rampasan perang) pasti dia berkata seolah-olah belum&lt;br /&gt;     pernah ada hubungan kasih sayang di antara kamu dengan&lt;br /&gt;     dia, "Aduhai" kiranya saya bersama mereka, tentu saya&lt;br /&gt;     memperoleh keberuntungan yang besar (kemenangan dan&lt;br /&gt;     harta rampasan perang)" (QS Al-Nisa' [4]: 72-73).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesan yang ditimbulkan ayat ini, antara lain adalah bahwa bagi&lt;br /&gt;orang  munafik,  keberuntungan adalah keuntungan material, dan&lt;br /&gt;popularitas, dan keberuntungan itu  hanya  ingin  dinikmatinya&lt;br /&gt;sendiri.    Keberuntungan    orang    lain   bukan   merupakan&lt;br /&gt;keberuntungan pula baginya. Itu antara lain yang menyebab  dia&lt;br /&gt;dikecam  oleh  ayat  di atas. Berbeda dengan petunjuk A1-Quran&lt;br /&gt;yang tidak mengaitkan keberuntungan dengan orang tertentu, dan&lt;br /&gt;kalaupun dikaitkan dengan orang-orang tertentu tidak ditujukan&lt;br /&gt;kepada individu perorangan, melainkan kepada  bentuk  kolektif&lt;br /&gt;(al-faizin atau al-faizun).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang  tidak kurang pentingnya adalah makna keberuntungan. Dari&lt;br /&gt;ayat-ayat  yang  berbicara  tentang  al-fauz  dalam   berbagai&lt;br /&gt;bentuknya   itu   (kecuali  surat  Al-Nisa  [73]),  seluruhnya&lt;br /&gt;bermakna pengampunan Ilahi maupun kenikmatan surgawi, seba gai&lt;br /&gt;ganjaran ketaatan kepada Allah Swt. Perhatikan misalnya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Penghuni surga adalah orang-orang yang beruntung&lt;br /&gt;     Al-Hasyr [59]: 20).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Barangsiapa yang dijauhkan --walaupun sedikit-- dari&lt;br /&gt;     neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia&lt;br /&gt;     telah beruntung (QS Ali 'Imran [3]: 185).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENGAMPUNAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terdapat  beberapa  istilah  yang  digunakan  Al-Quran   untuk&lt;br /&gt;menyebutkan  pengampunan (pembebasan dosa), dan upaya menjalin&lt;br /&gt;hubungan serasi antara manusia dengan  Tuhannya,  antara  lain&lt;br /&gt;taba  (tobat), 'afa (memaafkan), ghafara (mengampuni), kaffara&lt;br /&gt;(menutupi), dan shafah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masing-masing istilah  digunakan  untuk  tujuan  tertentu  dan&lt;br /&gt;memberikan maksud yang berbeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------                              (bersambung 2/2)&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124&lt;br /&gt;Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038&lt;br /&gt;mailto:mizan@ibm.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dari:&lt;a href="http://http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/HalalBihalal1.html"&gt; Media&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-2476200756516892157?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/2476200756516892157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=2476200756516892157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2476200756516892157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2476200756516892157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/08/wawasan-al-quran_31.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-3295215765653187960</id><published>2011-08-26T00:59:00.000-07:00</published><updated>2011-08-26T01:16:07.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zakat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah SAW'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><title type='text'>Zakat : Definisi dan Tujuannya</title><content type='html'>خذ من امولهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم ان صلأ تك سكن لهم والله سميع عليم&lt;br /&gt;dakwatuna.com – “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu menumbuhkan ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 03)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Definisi Zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat adalah bagian tertentu dari kekayaah yang Allah perintahkan untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak (mustahiq). Disebut pula shadaqah seperti dalam firman Allah di surat At-Taubah ayat 60. Yang dimaksudkan shadaqah dalam ayat itu adalah zakat wajib, bukan shadaqah sunnah. Al-Mawardi berkata, “Shadaqah adalah zakat, dan zakat adalah shadaqah. Beda nama tapi satu makna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat menjadi kewajiban secara utuh di Madinah dengan ditentukan nishab, ukuran, jenis kekayaan, dan distribusinya. Negara Madinah juga telah mengatur dan menata sistem zakat dengan mengirim para petugas untuk memungut dan mendistribusiannya. Sebenarnya, prinsip zakat sudah diwajibkan sejak fase Makkah dengan banyaknya ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat orang beriman dan menyertakan “membayar zakat” sebagai salah satunya. Misalnya seperti ayat yang menjadi dalil kewajiban zakat tanaman, “Makanlah dari buahnya ketika berbuah, dan berikan haknya pada hari panennya; Dan jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (Al-An’am: 141). Ayat ini adalah ayat Makkiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Antara Zakat dan Riba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban zakat sudah ditetapkan sejak fase Makkiyah, kemudian dikukuhkan dengan aturan praktisnya di Madinah. Demikian juga hukum riba telah ditetapkan sejak di Makkah dan secara praktis ditetapkan di Madinah. “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (Ar Rum: 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat di atas jelaslah bahwa riba yang secara zahir adalah penambahan harta, namun sesungguhnya pengurangan. Sedangkan zakat yang secara zahir pengurangan harta, tapi pada hakikatnya adalah penambahan harta di sisi Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hukum Zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat adalah kewajiban dan satu dari rukun Islam yang lima rukun seperti dalam hadits Rasulullah saw., “Islam didirikan di atas lima hal, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah jika mampu.” (muttafaq alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Ibnu Abbas diterangkan bahwa Rasulullah saw. ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman berpesan kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan menemui kaum Ahli Kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan sesungguhnya aku utusan Allah. Jika mereka sudah menerima hal ini, maka ajarkan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menerimanya, maka ajarkan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka zakat hartanya, diambil dari yang lebih kaya dan dibagikan kepada yang fakir di antara mereka. Jika mereka menerima hal ini, maka hati-hati dengan harta mereka yang bagus. Dan waspadailah doanya orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada sekat antara dia dengan Allah.” (riwayat al-jamaah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Motivasi Zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. mendorong kaum muslimin untuk membayar zakat dengan menjelaskan manfaat zakat bagi kebersihan jiwanya. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka….” (At-Taubah: 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayar zakat adalah salah satu sifat orang bertakwa. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hal yang aku bersumpah, maka hafalkanlah: 1. Tidak akan berkurang harta karena bersedekah; 2. tidak ada seorang hamba pun yang dizalimi kemudian ia bersabar, pasti Allah akan menambahkan kemuliaan; 3. tidak ada seorang hamba pun yang membuka pintu meminta-minta, kecuali Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran.” (At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ancaman Bagi Yang Menolak Zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. memperingatkan orang yang menolak membayar zakat dengan berfirman, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (At-Taubah: 34-35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorangpun yang memiliki simpanan, kemudian ia tidak mengeluarkan zakatnya, pasti akan dipanaskan simpanannya itu di atas jahanam, dijadikan cairan panas yang diguyurkan di lambung dan dahinya, sehingga Allah berikan keputusan di antara para hamba-Nya di hari yang lama seharinya sekitar lima puluh ribu tahun, sampai diketahui ke mana perjalanannya, ke surga atau neraka.” (Asy-Syaikhani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menolak Zakat Hukumnya Kafir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para ulama bersepakat bahwa orang yang menolak/mengingkari kewajiban zakat adalah kafir, dan keluar dari Islam. Imam An-Nawawi berkata tentang seorang muslim yang mengetahui kewajiban zakat kemudian mengingkarinya, maka dengan pengingkarannya itu ia menjadi kafir, berlaku atasnya hukum orang murtad, berupa disuruh taubat dan diperangi. Karena kewajiban zakat adalah sesuatu yang secara aksiomatik diketahui kewajibannya dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengingkari zakat dipandang sangat hina. Bahkan dikatakan: sudah tidak zamannya lagi ada orang yang menolak zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hukuman Orang yang Menolak zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menolak membayar zakat diganjar dengan tiga jenis hukuman, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hukuman akhirat, seperti hadits yang telah disebutkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hukuman duniawi yang telah Allah tetapkan, seperti dalam hadits Nabi, “Tidak ada suatu kaum yang menolak zakat, pasti Allah akan uji mereka dengan paceklik (kelaparan dan kekeringan). (Al-Hakim, Baihaqi, dan Thabrani). Dalam hadits yang lain, “… dan mereka menolak zakat hartanya kecuali para malaikat akan mencegah hujan dari langit, dan jika tidak karena hewan ternak mereka tidak akan diberi hujan.” (Al-Hakim, Ibnu Majah, Al-Bazzar, dan Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Hukuman duniawi yang diberikan oleh pemerintahan muslim. Rasulullah saw. bersabda tentang zakat, “Barangsiapa yang memberikannya untuk memperoleh pahala dari Allah, maka ia akan memperoleh pahala. Dan barangsiapa yang menolaknya, maka kami akan mengambil separuh hartanya, dengan kesungguhan sebagaimana kesungguhan Rabb kami. Tidak halal bagi keluarga Muhammad sedikitpun darinya.” (Ahmad, An-Nasa’i, Abu Daud, dan Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jika penolakan dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin, maka negara wajib memeranginya dan mengambil zakat mereka dengan paksa. Inilah yang dilakukan Abu Bakar r.a. ketika ada kabilah-kabilah yang menolak membayar zakat. Kata Abu Bakar, “Demi Allah, aku akan memerangi orang yang membedakan antara shalat adan zakat. Karena sesungguhnya zakat itu adalah hak harta kekayaan. Demi Allah jika mereka menolak memberikan seekor hewan kepadaku, yang pernah mereka berikan kepada Rasulullah saw., pasti akan aku perangi karena penolakannya itu.” (Al-jama’ah, kecuali Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dan Pengaruh Zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat adalah salah satu ibadah terpenting dalam Islam. Al-Qur’an menyebutkannya dalam dua puluh delapan ayat. Zakat dalam Islam sangat berbeda dengan sistem zakat di manapun. Pada saat pajak hanya bertujuan pada pengumpulan dana untuk menggerakkan proyek dan policy Negara, kita dapati zakat dilakukan dengan sasaran yang bermacam-macam, di sudut kehidupan yang membentang dari pribadi sampai masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali zakat merupakan ibadah seorang muslim yang dilakukan untuk menggapai ridha Allah, dengan niat yang ikhlas agar diterima. Dengan itu, maka terealisasi tujuan utama keberadaan manusia di muka bumi ini, yaitu beribadah kepada Allah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyat: 56). Dengan menunaikan zakat akan terelisasi juga tujuan-tujuan berikutnya, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a. Berkaitan dengan Muzakki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat membersihkan muzakki dari penyakit pelit, dan membebaskannya dari penyembahan harta. Keduanya adalah penyakit jiwa yang sangat berbahaya, yang membuat manusia jatuh dan celaka. “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Hasyr: 9). Rasulullah saw. bersabda, “Celaka hamba dirham, celaka hamba pakaian dagangan.” (Bukhari)&lt;br /&gt;Zakat adalah latihan berinfaq fii sabilillah. Dan Allah swt. menyebutkan infaq fii sabilillah sebagai sifat wajib orang muttaqin dalam lapang maupun sempit dan menyertakannya sebagai sifat terpenting. Menyertakannya dengan iman kepada yang ghaib, istighfar di waktu fajar, sabar, benar, taat. Seseorang tidak akan pernah berinfak secara luas di jalan Allah kecuali setelah terbiasa membayar zakat, yang merupakan batas wajib minimal yang harus diinfakkan.&lt;br /&gt;Zakat adalah aktualisasi syukuri nikmat yang Allah berikan, terapi hati dan membersihkannya dari cinta dunia. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (At-Taubah: 103). Dan sesungguhnya zakat adalah mekanisme membersihkan dan memperbanyak harta itu sendiri. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;b. Berkaitan dengan Penerima&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat akan membebaskan penerimanya dari tekanan kebutuhan, baik materi (seperti makan, pakaian, dan papan), kebutuhan psikis (seperti pernikahan), atau kebutuhan maknawiyah fikriyah (seperti buku-buku ilmiah). Karena zakat didistribusikan dalam semua kebutuhan di atas. Dengan itu, seorang fakir akan dapat mengikuti kewajiban sosialnya. Ia akan merasa sebagai anggota masyarakat yang utuh karena tidak menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk berusaha memperoleh sesuap makanan guna penyambung hidup.&lt;br /&gt;Zakat membersihkan jiwa penerimanya dari penyakit hasad (iri) dan benci. Karena orang miskin yang sangat membutuhkan itu ketika melihat orang di sekitarnya hidup dengan mewah dan berlebih, tetapi tidak mengulurkan bantuannya, akan sakit hati (iri, dendam, dan benci) kepada orang kaya dan bahkan kepada masyarakat secara umum. Hal ini akan memutuskan tali persaudaraan, menghilangkan rasa cinta, dan mencabik-cabik kesatuan sosial. Sesungguhnya iri dan benci adalah penyakit yang melukai jiwa dan fisik, serta menyebabkan banyak penyakit seperti infeksi usus besar dan tekanan darah. Yang namanya penyakit, tentu akan menggerogoti eksistensi masyarakat secara keseluruhan. Karena itu Rasulullah saw. memperingatkan, “Telah menjalar di tengah-tengah kalian penyakit umat sebelum kalian, yaitu iri dan benci. Kebencian adalah pisau penyukur. Aku tidak mengatakan penyukur rambut, tetapi pencukur agama.” (Al-Bazzar dan Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengaruh Zakat Bagi Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kelebihan zakat dalam Islam adalah ibadah fardiyah (individual) sekaligus sosial. Sebagai sebuah sistem, pengelolaan zakat membutuhkan karyawan yang mengambilnya dari para orang kaya dan membagikannya kepada yang berhak. Mereka ini akan bekerja dan memperoleh imbalan dari pekerjaannya. Zakat sebagai sebuah tatanan sosial dalam Islam yang memiliki manfaat banyak sekali, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat adalah hukum pertama yang menjamin hak sosial secara utuh dan menyeluruh. Imam Az-Zuhriy menulis tentang zakat kepada Umar bin Abdul Aziz: Bahwa di sana terdapat bagian bagi orang-orang yang terkena bencana, sakit, orang-orang miskin yang tidak mampu berusaha di muka bumi, orang-orang miskin yang meminta-minta, bagi muslim yang dipenjara sedang mereka tidak punya keluarga, bagian bagi orang miskin yang datang ke masjid tidak memiliki gaji dan pendapatan, tidak meminta-minta, ada bagian bagi orang yang mengalami kefakiran dan berhutang, bagian untuk para musafir yang tidak memiliki tempat menginap dan keluarga yang menampungnya.&lt;br /&gt;Zakat berperan penting dalam menggerakkan ekonomi. Karena seorang muslim yang menyimpan harta, berkewajiban mengeluarkan zakatnya minimal 2,5% setiap tahun. Hal ini akan mendorongnya untuk bersemangat mengusahakannya agar zakat itu bisa dikeluarkan dari labanya. Inilah yang membuat uang itu keluar dari simpanan dan berputar dalam sektor riil. Ekonomi bergerak dan masyarakat akan memperoleh keuntangan dari putaran itu.&lt;br /&gt;Zakat memperkecil kesenjangan. Islam mengakui adanya perbedaan rezeki sebagai akibat dari perbedaan kemampuan, keahlian, dan potensi. Pada saat bersamaan Islam menolak kelas sosial timpang, satu sisi hidup penuh kenikmatan dan sisi lain dalam kemelaratan. Islam menghendaki orang-orang miskin juga berkesempatan menikmati kesenangannya orang kaya, memberinya apa yang dapat menutup hajatnya. Dan zakat adalah satu dari banyak sarana yang dipergunakan Islam untuk menggapai tujuan di atas.&lt;br /&gt;Zakat berperan besar dalam menghapus peminta-minta, dan mendoroang perbaikan antara sesama. Maka ketika untuk membangun hubungan baik itu memerlukan dana, zakat dapat menjadi salah satu sumbernya.&lt;br /&gt;Zakat dapat menjadi alternatif asuransi. Asuransi adalah mengambil sedikit dari orang kaya kemudian memberikan lebih banyak lagi kepada orang kaya. Sedang zakat mengambil dari orang kaya untuk diberikan kepada fuqara yang terkena musibah.&lt;br /&gt;Zakat memberanikan para pemuda untuk menikah, lewat bantuan biaya pernikahannya. Para ulama menetapkan bahwa orang yang tidak mampu menikah karena kemiskinannya diberikan dari zakat yang membuatnya berani menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://http://www.dakwatuna.com/2008/09/923/zakat-definisi-dan-tujuannya/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-3295215765653187960?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/3295215765653187960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=3295215765653187960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3295215765653187960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3295215765653187960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/08/zakat-definisi-dan-tujuannya.html' title='Zakat : Definisi dan Tujuannya'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-3705053300815397091</id><published>2011-08-19T21:51:00.000-07:00</published><updated>2011-08-19T22:15:17.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lailat-al qadar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah SAW'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :Dr.M.Quraish Shihab,M.A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LAILAT AL-QADAR&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita  berbicara&lt;br /&gt;tentang surat Al-Qadar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Surat  Al-Qadar  adalah  surat  ke-97  menurut urutannya dalam&lt;br /&gt;Mushaf.  Ia  ditempatkan  sesudah  surat  Iqra'.  Para   ulama&lt;br /&gt;Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat&lt;br /&gt;Iqra'. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat&lt;br /&gt;Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas&lt;br /&gt;perintah  Allah  Swt.,   dan   dari   perurutannya   ditemukan&lt;br /&gt;keserasian-keserasian yang mengagumkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau  dalam surat Iqra' Nabi Saw. (demikian pula kaum Muslim)&lt;br /&gt;diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu  antara  lain&lt;br /&gt;adalah  Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat&lt;br /&gt;Al-Qadar  ini  berbicara  tentang   turunnya   Al-Quran,   dan&lt;br /&gt;kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bulan  Ramadhan  memiliki  sekian  banyak  keistimewaan, salah&lt;br /&gt;satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran&lt;br /&gt;"lebih baik dari seribu bulan."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi  apa  dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali&lt;br /&gt;saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang&lt;br /&gt;lalu,  atau  terjadi  setiap  bulan  Ramadhan  sepanjang masa?&lt;br /&gt;Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang  yang  menantinya&lt;br /&gt;pasti  akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik&lt;br /&gt;material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya  air,&lt;br /&gt;heningnya  malam,  dan  menunduknya pepohonan dan sebagainya)?&lt;br /&gt;Bahkan masih banyak lagi  pertanyaan  yang  dapat  dan  sering&lt;br /&gt;muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang  pasti  dan  harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan&lt;br /&gt;pernyataan Al-Quran  bahwa,  "Ada  suatu  malam  yang  bernama&lt;br /&gt;Lailat  Al-Qadar,  dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh&lt;br /&gt;berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar&lt;br /&gt;dengan penuh kebijaksanaan."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu&lt;br /&gt;     malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi&lt;br /&gt;     peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang&lt;br /&gt;     penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami (QS&lt;br /&gt;     Al-Dukhan [44]: 3-5).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab  suci&lt;br /&gt;menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan&lt;br /&gt;(QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr&lt;br /&gt;[97]: l).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam  tersebut  adalah  malam  mulia.  Tidak  mudah diketahui&lt;br /&gt;betapa besar kemuliannnya. Hal  ini  disyaratkan  oleh  adanya&lt;br /&gt;"pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS&lt;br /&gt;     Al-Qadr [97]: 2)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tiga belas kali kalimat ma  adraka  terulang  dalam  Al-Quran,&lt;br /&gt;sepuluh  di  antaranya  mempertanyakan  tentang kehebatan yang&lt;br /&gt;berkait dengan hari  kemudian,  seperti:  Ma  adraka  ma  yaum&lt;br /&gt;al-fashl,  dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak&lt;br /&gt;mudah  dijangkau  oleh  akal  pikiran  manusia,  kalau  enggan&lt;br /&gt;berkata  mustahil  dijangkaunya. Tiga kali ma adraka sisa dari&lt;br /&gt;angka tiga belas itu adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?&lt;br /&gt;     (QS Al-Thariq [86]: 2)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?&lt;br /&gt;     (QS Al-Balad [90]: 12)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS&lt;br /&gt;     Al-Qadr [97]: 2)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan  dengan&lt;br /&gt;objek  pertanyaan  yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat,&lt;br /&gt;dan sulit  dijangkau  hakikatnya  secara  sempurna  oleh  akal&lt;br /&gt;pikiran manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walaupun   demikian,   sementara   ulama   membedakan   antara&lt;br /&gt;pertanyaan ma  adraka  dan  ma  yudrika  yang  juga  digunakan&lt;br /&gt;Al-Quran dalam tiga ayat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah&lt;br /&gt;     dekat waktunya? (QS Al-Ahzab [33]: 63)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah)&lt;br /&gt;     dekat? (QS Al-Syura [42]: 17~.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan&lt;br /&gt;     dosa)? (QS 'Abasa [80]: 3).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua ayat pertama di  atas  mempertanyakan  dengan  ma  yudrika&lt;br /&gt;menyangkut   waktu   kedatangan  kiamat,  sedang  ayat  ketiga&lt;br /&gt;berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.  Ketiga  hal  tersebut&lt;br /&gt;tidak mungkin diketahui manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara   gamblang   Al-Quran   --demikian   pula   As-Sunnah--&lt;br /&gt;menyatakan bahwa Nabi Saw. tak mengetahui kapan datangnya hari&lt;br /&gt;kiamat,  tidak  pula mengetahui tentang~perkara yang gaib. Ini&lt;br /&gt;berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal&lt;br /&gt;yang  tidak  mungkin  diketahui  walau oleh Nabi Saw. sendiri,&lt;br /&gt;sedang wa  ma  adraka,  walau  berupa  pertanyaan  namun  pada&lt;br /&gt;akhirnya  Allah Swt. menyampaikannya kepada Nabi Saw. sehingga&lt;br /&gt;informasi  lanjutan  dapat  diperoleh  dari  beliau.  Demikian&lt;br /&gt;perhedaan kedua kalimat tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini  berarti  bahwa  persoalan  Lailat Al-Qadar, harus dirujuk&lt;br /&gt;kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., karena di  sanalah&lt;br /&gt;kita dapat memperoleh informasinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa&lt;br /&gt;arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai  demikian?  Di&lt;br /&gt;sini ditemukan berbagai jawaban.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1.  Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami&lt;br /&gt;sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan  hidup  manusia.&lt;br /&gt;Pendapat  ini  dikuatkan  oleh penganutnya dengan firman Allah&lt;br /&gt;dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada  ulama&lt;br /&gt;yang  memahami  penetapan  itu  dalam batas setahun). Al-Quran&lt;br /&gt;yang turun pada malam Lailat Al-Qadar,  diartikan  bahwa  pada&lt;br /&gt;malam  itu  Allah  Swt.  mengatur dan menetapkan khiththah dan&lt;br /&gt;strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw.,  guna  mengajak  manusia&lt;br /&gt;kepada  agama  yang  benar, yang pada akhirnya akan menetapkan&lt;br /&gt;perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai  individu  maupun&lt;br /&gt;kelompok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.   Kemuliaan.   Malam  tersebut  adalah  malam  mulia  tiada&lt;br /&gt;bandingnya. Ia mulia karena terpilih  sebagai  malam  turunnya&lt;br /&gt;Al-Quran,  serta  karena  ia  menjadi  titik tolak dari segala&lt;br /&gt;kemuliaan yang dapat diraih. Kata  qadar  yang  berarti  mulia&lt;br /&gt;ditemukan  dalam surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang&lt;br /&gt;kaum musyrik:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang&lt;br /&gt;     semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak&lt;br /&gt;     menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Sempit. Malam tersebut adalah  malam  yang  sempit,  karena&lt;br /&gt;banyakuya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan&lt;br /&gt;dalam surat Al-Qadr:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh&lt;br /&gt;     ((Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala&lt;br /&gt;     urusan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara  1ain&lt;br /&gt;dalam surat A1-Ra'd (13): 26:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan&lt;br /&gt;     mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga arti tersebut  pada  hakikatnya  dapat  menjadi  benar,&lt;br /&gt;karena  bukankah  malam tersebut adalah malam mulia, yang bila&lt;br /&gt;diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan  bahwa  pada&lt;br /&gt;malam  itu  malaikat-malaikat  turun ke bumi membawa kedamaian&lt;br /&gt;dan  ketenangan.  Namun  demikian,  sebelum  kita  melanjutkan&lt;br /&gt;bahasan  tentang  Laitat  Al-Qadar,  maka terlebih dahulu akan&lt;br /&gt;dijawab pertanyaan tentang kehadirannya  adakah  setiap  tahun&lt;br /&gt;atau  hanya  sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas&lt;br /&gt;abad yang lalu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari Al-Quran  kita  menemukan  penjelasan  bahwa  wahyu-wahyu&lt;br /&gt;Allah  itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karena&lt;br /&gt;umat sepakat mempercayai bahwa  Al-Quran  telah  sempurna  dan&lt;br /&gt;tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., maka&lt;br /&gt;atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam  mulia&lt;br /&gt;itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh&lt;br /&gt;malam  tersebut  adalah  karena  ia  terpilih  menjadi   waktu&lt;br /&gt;turunnya Al-Quran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pakar  hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut&lt;br /&gt;paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah  bersabda&lt;br /&gt;bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pendapat  tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka&lt;br /&gt;berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak  teks&lt;br /&gt;hadis  yang  menunjukkan  bahwa  Lailat  Al-Qadar terjadi pada&lt;br /&gt;setiap bulan Ramadhan. Bahkan  Rasululllah  Saw.  menganjurkan&lt;br /&gt;umatnya  untuk  mempersiapkan  jiwa menyambut malam mulia itu,&lt;br /&gt;secara khusus pada  malam-malam  ganjil  setelah  berlalu  dua&lt;br /&gt;puluh Ramadhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[tulisan Arab]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian sabda Nabi Saw.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang  turunnya  Al-Quran  lima  belas abad yang lalu terjadi&lt;br /&gt;pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi  itu  bukan  berarti  bahwa&lt;br /&gt;ketika  itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa&lt;br /&gt;kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu&lt;br /&gt;turun,  tetapi  karena  adanya  faktor  intern  pada malam itu&lt;br /&gt;sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk  kata&lt;br /&gt;kerja  mudhari' (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang&lt;br /&gt;mengandung arti kesinambungan, atau  terjadinya  sesuatu  pada&lt;br /&gt;masa kini dan masa datang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap&lt;br /&gt;orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya  itu?&lt;br /&gt;Tidak  sedikit  umat  Islam  yang  menduganya  demikian. Namun&lt;br /&gt;dugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu  dapat&lt;br /&gt;berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga&lt;br /&gt;baik untuk menyambutnya maupun tidak.  Di  sisi  1ain  berarti&lt;br /&gt;bahwa   kehadirannya   ditandai  oleh  hal-hal  yang  bersifat&lt;br /&gt;fisik-material,  sedangkan  riwayat-riwayat  demikian,   tidak&lt;br /&gt;dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seandainya,  sekali  lagi  seandainya,  ada  tanda-tanda fisik&lt;br /&gt;material, maka itu pun takkan ditemui  oleh  orang-orang  yang&lt;br /&gt;tidak    mempersiapkan   diri   dan   menyucikan   jiwa   guna&lt;br /&gt;menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin  akan  menyatu  dan&lt;br /&gt;bertemu.  Kebaikan  dan  kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat&lt;br /&gt;Al-Qadar tidak mungkin akan diraih  kecuali  oleh  orang-orang&lt;br /&gt;tertentu  saja.  Tamu  agung  yang  berkunjung ke satu tempat,&lt;br /&gt;tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun&lt;br /&gt;setiap  orang  di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang&lt;br /&gt;sangat rindu atas  kedatangan  kekasih,  namun  ternyata  sang&lt;br /&gt;kekasih tidak sudi mampir menemuinya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian  juga  dengan  Lailat  Al-Qadar.  Itu  sebabnya bulan&lt;br /&gt;Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan  ini  adalah&lt;br /&gt;bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga&lt;br /&gt;oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan  Ramadhan.&lt;br /&gt;Karena,  ketika  itu,  diharapkan  jiwa  manusia yang berpuasa&lt;br /&gt;selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai  satu  tingkat&lt;br /&gt;kesadaran  dan  kesucian  yang  memungkinkan  malam  mulia itu&lt;br /&gt;berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya  Rasul  Saw.&lt;br /&gt;menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri dan&lt;br /&gt;merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah  mulai  bersemi,  dan&lt;br /&gt;Lailat  Al-Qadar  datang  menemui seseorang, ketika itu, malam&lt;br /&gt;kehadirannya menjadi saat qadar dalam  arti,  saat  menentukan&lt;br /&gt;bagi  perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat&lt;br /&gt;itu, bagi yang  bersangkutan  adalah  saat  titik  tolak  guna&lt;br /&gt;meraih  kemuliaan  dan  kejayaan hidup di dunia dan di akhirat&lt;br /&gt;kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna  menyertai&lt;br /&gt;dan  membimbingnya  menuju  kebaikan  sampai  terbitnya  fajar&lt;br /&gt;kehidupannya yang baru kelak  di  hari  kemudian.  (Perhatikan&lt;br /&gt;kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syaikh  Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali&lt;br /&gt;tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. 'Abduh  memberi&lt;br /&gt;ilustrasi berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada&lt;br /&gt;     dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering&lt;br /&gt;     merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang&lt;br /&gt;     terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan&lt;br /&gt;     ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang&lt;br /&gt;     itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu&lt;br /&gt;     mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang  membisikkan  kebaikan  adalah  malaikat,   sedang   yang&lt;br /&gt;membisikkan  keburukan  adalah  setan  atau paling tidak, kata&lt;br /&gt;'Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat  atau&lt;br /&gt;setan.  Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui&lt;br /&gt;orang yang mempersiapkan diri  menyambutnya,  menjadikan  yang&lt;br /&gt;bersangkutan  akan  selalu  disertai  oleh  malaikat. Sehingga&lt;br /&gt;jiwanya selalu terdorong  untuk  melakukan  kebaikan-kebaikan,&lt;br /&gt;dan  dia  sendiri  akan  selalu merasakan salam (rasa aman dan&lt;br /&gt;damai) yang tak terbatas sampai fajar malam  Lailat  Al-Qadar,&lt;br /&gt;tapi  sampai  akhir  hayat menuju fajar kehidupan baru di hari&lt;br /&gt;kemudian kelak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil&lt;br /&gt;mengamalkan  i'tikaf  di  masjid  dalam  rangka perenungan dan&lt;br /&gt;penyucian jiwa. Masjid adalah tempat  suci.  Segala  aktivitas&lt;br /&gt;kebajikan   bermula   di  masjid.  Di  masjid  pula  seseorang&lt;br /&gt;diharapkan merenung  tentang  diri  dan  masyarakatnya,  serta&lt;br /&gt;dapat  menghindar  dari  hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan&lt;br /&gt;pikiran guna memperoleh tambahan  pengetahuan  dan  pengkayaan&lt;br /&gt;iman.  Itu  sebabnya  ketika  melaksanakan i'tikaf, dianjurkan&lt;br /&gt;untuk  memperbanyak  doa  dan  bacaan  Al-Quran,  atau  bahkan&lt;br /&gt;bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam  Qadar  yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali&lt;br /&gt;adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung  tentang&lt;br /&gt;diri  beliau  dan  masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai&lt;br /&gt;kesuciannya,  turunlah  Ar-Ruh  (Jibril)  membawa  ajaran  dan&lt;br /&gt;membimbing  beliau  sehingga  terjadilah perubahan total dalam&lt;br /&gt;perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat  manusia.&lt;br /&gt;Karena  itu  pula  beliau  mengajarkan  kepada  umatnya, dalam&lt;br /&gt;rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar  itu,  antara  1ain&lt;br /&gt;adalah melakukan i'tikaf.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walaupun  i'tikaf  dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu&lt;br /&gt;berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i,  walau&lt;br /&gt;sesaat  selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw.&lt;br /&gt;selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan&lt;br /&gt;puasa.  Di  sanalah  beliau  bertadarus  dan  merenung  sambil&lt;br /&gt;berdoa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu doa yang  paling  sering  beliau  baca  dan  hayati&lt;br /&gt;maknanya adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan&lt;br /&gt;     di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami&lt;br /&gt;     dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Doa ini bukan  sekadar  berarti  permohonan  untuk  memperoleh&lt;br /&gt;kebajikan  dunia  dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih&lt;br /&gt;lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih&lt;br /&gt;kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang&lt;br /&gt;disertai  usaha.  Permohonan  itu  juga  berarti  upaya  untuk&lt;br /&gt;menjadikan  kebajikan  dan  kebahagiaan  yang  diperoleh dalam&lt;br /&gt;kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di  dunia,&lt;br /&gt;tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adapun   menyangkut   tanda   alamiah,   maka  Al-Quran  tidak&lt;br /&gt;menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal  tersebut,&lt;br /&gt;tetapi  hadis  tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar&lt;br /&gt;hadis yang dikenal  melakukan  penyaringan  yang  cukup  ketat&lt;br /&gt;terhadap hadis Nabi Saw.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Muslim,  Abu  Daud,  dan  Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan&lt;br /&gt;melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada&lt;br /&gt;     pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan&lt;br /&gt;     sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula&lt;br /&gt;     panas ...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan  karena  itu&lt;br /&gt;kita  dapat  berkata  bahwa  tanda  yang  paling jelas tentang&lt;br /&gt;kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian  dan&lt;br /&gt;ketenangan.  Semoga  malam  mulia  itu berkenan mampir menemui&lt;br /&gt;kita.[]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124&lt;br /&gt;Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038&lt;br /&gt;mailto:mizan@ibm.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dari : &lt;a href="http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/LailatulQadar.html"&gt;Media&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-3705053300815397091?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/3705053300815397091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=3705053300815397091' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3705053300815397091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3705053300815397091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/08/wawasan-al-quran.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-7493991602930086123</id><published>2011-08-13T20:33:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T20:48:16.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keshalihan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Ramadhan dan Keshalihan Sosial</title><content type='html'>Oleh : Dr.M.Hidayat Nur Wahid,M.A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Apakah yang kita dapatkan dari puasa dan serangkaian ibadah di bulan Ramadhan? Tentu saja jawaban dari pertanyaan tersebut sangat relatif, berbeda antara seorang dan orang lainnya, tergantung bagaimana kita memanfaatkan setiap momentum yang disediakan Allah dalam bulan Ramadhan. Namun, apabila kita kembalikan kepada tujuan diwajibkannya puasa Ramadhan, sesungguhnya yang akan didapatkan adalah meningkatnya ketakwaan, baik dalam skala pribadi maupun kolektif.&lt;br /&gt;Takwa sungguh amat luas maknanya dan amat dalam pengertiannya. Salah satu makna takwa menurut para ulama adalah kehati-hatian. Makna ini penting kita hadirkan dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia saat ini yang tengah menghadapi serangkaian persoalan sistemik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Belakangan ini, kerap kita menyaksikan tindakan anarkis dan kekerasan yang dilakukan oleh sebagian warga masyarakat terhadap sebagian yang lainnya. Beberapa waktu lalu kita mendengar berita tawuran pelajar, tawuran antarwarga masyarakat yang bertetanggaan wilayah, kekerasan terhadap penganut Ahmadiyah, juga perusakan tempat ibadah. Media massa tidak bosan memberitakan berbagai gejala kerawanan sosial yang menandakan ketahanan sosial bangsa Indonesia tengah melemah dan mengalami penurunan.&lt;br /&gt;Puasa melatih kita untuk bisa menahan dan mengendalikan diri berbagai kecenderungan destruktif. Ada saat di mana kita boleh makan dan minum dan ada saat di mana kita sudah tidak diperbolehkan lagi untuk makan dan minum. Ada batas waktu yang jelas yang membedakan keduanya. Ini adalah sebuah latihan kehati-hatian yang kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;Dalam tradisi masyarakat Indonesia, dikenal peringatan menjelang datangnya Subuh, yakni imsak. Imsak adalah sebuah upaya memberi peringatan agar masyarakat berhati-hati bahwa beberapa saat lagi akan masuk waktu Subuh yang menandakan dimulainya puasa. Dengan tibanya peringatan imsak, masyarakat mulai menghentikan aktivitas sahur dan segera bersiap menjalankan shalat Subuh berjamaah ke masjid.&lt;br /&gt;Apabila tradisi imsak ini kita bawa dalam kehidupan yang lebih luas, akan membuat masyarakat terbiasa menjaga diri dan berhati-hati dari berbagai tindakan yang bisa menimbulkan kerusakan dan kerugian, serta menzalimi orang lain. Puasa Ramadhan sungguh telah memberikan pelatihan dan pembiasaan yang sangat positif dan konstruktif bagi setiap pribadi dan bagi masyarakat secara keseluruhan agar senantiasa memiliki sikap kehati-hatian dalam kehidupan. Tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi oleh berbagai ajakan yang mengarah kepada ketidakbaikan.&lt;br /&gt;Nabi SAW memberikan pengarahan yang sangat jelas dalam hal ini. “Apabila salah seorang dari kamu berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan kasar. Jika seseorang mencaci atau menyerangnya, hendaklah ia mengatakan: Aku sedang berpuasa.”&lt;br /&gt;Arahan tersebut menandakan pentingnya kehati-hatian agar kita tidak mudah dipancing dan diprovokasi untuk melakukan tindak kekerasan ataupun anarkis. Kata-kata kotor dan kasar saja dilarang saat berpuasa, apalagi melakukan tindakan yang menyakiti dan merugikan orang lain. Bahkan, ketika ada orang yang mencaci dan menyerang, kita diarahkan untuk tidak meladeni dan justru menjaga diri dengan penuh kesabaran. “Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan jahat, Allah tidak butuh kepada ia meninggalkan makan dan minum.”&lt;br /&gt;Inilah yang didapatkan umat Islam dengan menjalankan puasa Ramadhan. Mereka akan mendapatkan sifat dan sikap kehati-hatian dalam kehidupan sehingga terbentuklah masyarakat yang dipenuhi oleh kebaikan. Bukan saja kesalehan individu, melainkan juga kesalehan sosial menjadi hasil penting yang didapatkan oleh masyarakat. Terbentuknya masyarakat yang saleh dan jauh dari sikap sembrono akan mengantarkan pada terciptanya lingkungan yang aman, damai, tenteram, dan sejahtera.&lt;br /&gt;Cobalah kita perhatikan kesalehan masyarakat pada zaman terdahulu saat dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar. Waktu itu, Umar bin Khattab diangkat menjadi qadi untuk menyelesaikan persoalan di antara masyarakat. Suatu saat, Umar beraudiensi dengan Khalifah Abu Bakar seraya mengajukan usulan, “Sudah lama aku memegang jabatan qadi dalam pemerintahanmu ini, tetapi tidak banyak orang yang mengadukan permasalahannya kepadaku. Karena itu, sekarang aku mengajukan permohonan agar dibebaskan dari jabatan ini.”&lt;br /&gt;Abu Bakar terkejut atas usulan Umar ini. “Mengapa engkau mengajukan permohonan ini? Apakah karena beratnya tugas tersebut, ya Umar?” tanya Khalifah. “Tidak, ya Khalifah. Akan tetapi, aku sudah tidak diperlukan lagi menjadi qadinya kaum Mukminin. Mereka semua sudah tahu haknya masing-masing sehingga tidak ada yang menuntut lebih dari haknya. Mereka juga sudah tahu kewajibannya sehingga tidak seorang pun yang merasa perlu menguranginya. Mereka satu sama lain mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya. Kalau salah seorang tidak hadir, mereka mencarinya,” jawab Umar.&lt;br /&gt;“Kalau ada yang sakit, mereka menjenguknya; kalau ada yang tidak mampu, mereka membantunya; kalau ada yang membutuhkan pertolongan, pasti mereka segera menolong; dan kalau ada yang terkena musibah, mereka menyampaikan duka cita. Agama mereka adalah nasihat. Akhlak mereka adalah amar makruf dan nahi munkar. Karena itulah, tidak ada alasan bagi mereka untuk bertengkar,” tambah Umar.&lt;br /&gt;Ungkapan Umar di atas menggambarkan bagaimana kesalehan masyarakat dalam kehidupan sosialnya. Sedemikian bagus mereka dalam berinteraksi, seakan-akan tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan. Jabatan qadi yang diemban Umar tidak lagi memiliki peran karena masyarakat sudah memiliki kesalehan individu dan kesalehan sosial. Mereka saling menjaga satu dengan yang lainnya sehingga tercipta kehidupan yang harmonis.&lt;br /&gt;Sesungguhnya puasa Ramadhan akan mampu melahirkan kesalehan sosial yang membuat masyarakat hidup dalam kedamaian, hidup dalam ketenangan, dan terjauhkan dari berbagai kerusakan. Sangat indah apabila seluruh masyarakat Muslim yang menjalankan ibadah Ramadhan mampu menangkap hikmah besar dari setiap aktivitas ibadahnya karena mereka ini yang menjadi jumlah terbesar bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Apabila ibadah puasa, Tarawih, tadarus Alquran, iktikaf dan berbagai aktivitas ibadah Ramadhan dilakukan dengan sepenuh penghayatan, pasti akan meningkatkan ketakwaan. Apabila takwa meningkat, kehidupan akan diwarnai oleh kehati-hatian. Satu sama lain akan saling menjaga dan menguatkan dalam kebaikan, tidak akan mencurangi atau menzalimi.&lt;br /&gt;Betapa kita semua merindukan suasana masyarakat yang dipenuhi oleh harmoni. Di semua tempat, lahirlah masyarakat yang saling mengasihi, saling menghormati, saling menasihati, saling menjaga dalam kebaikan.&lt;br /&gt;Di semua tempat, lahirlah masyarakat yang mengerti hak dan kewajiban, yang menghindarkan diri dari perbuatan zalim dan menghindarkan diri dari kerusakan. Sebuah masyarakat yang diwarnai oleh kesalehan sosial. Tentu suasana ideal tersebut menjadi impian kita semua dan menjadi kewajiban bagi kita untuk merealisasikan. Insya Allah, puasa dan serangkaian ibadah Ramadhan akan mengantarkan kita menuju kesalehan sosial. Semoga. (RoL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/08/14027/ramadhan-dan-keshalihan-sosial/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-7493991602930086123?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/7493991602930086123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=7493991602930086123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/7493991602930086123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/7493991602930086123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/08/ramadhan-dan-keshalihan-sosial.html' title='Ramadhan dan Keshalihan Sosial'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-693832229949644621</id><published>2011-08-05T18:48:00.003-07:00</published><updated>2011-08-05T19:11:52.159-07:00</updated><title type='text'>Mari Berpuasa Lahir dan Batin</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Dr A Ilyas Ismail&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dimaklumi, puasa merupakan ibadah yang sangat istimewa sebagai proses penyegaran kembali (rejuvenation), baik fisik, mental, maupun spiritual. Ibadah ini bila dilaksanakan dengan benar dan dengan sikap batin yang kuat serta tulus karena Allah (imanan wa ihtisaban), maka ia dapat mengantar pelakunya meraih derajat takwa. (QS Al-Baqarah [2]: 183).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk mencapai kualitas ini, seorang muslim mesti menjalankan puasa, tidak saja puasa lahir, tetapi juga puasa batin. Puasa lahir, seperti diajarkan oleh para ahli fikih, ialah menahan diri (al-imsak) dari makan dan minum, serta melakukan hubungan suami-isteri dari terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan puasa batin, seperti diajarkan oleh para sufi, ialah menahan diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah, bahkan menahan diri dari apa pun yang akan memalingkan manusia dari mengingat Allah. Horizon tertinggi dari puasa batin (internal fasting), menurut Imam Ghazali, juga menurut Kess Waaijman, dalam Spirituality: form, foundation, method (2002), adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Yang Terkasih (God is the Beloved One). Puasa batin mengantar manusia mencapai esensi Islam, yaitu berserah diri secara total kepada Allah SWT (total surrender to god).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Asrar al-Shaum, al-Ghazali menetapkan enam rukun yang bersifat moral dan spiritual, agar puasa batin dapat mencapai sasarannya, yaitu sah (al-shihhah) dan diterima Allah (al-maqbul).  Pertama, mensucikan pandangan (shaum al-bashar) dari segala hal yang dilarang oleh Allah. Pandangan itu berbahaya karena ia seringkali menjadi titik awal keburukan. Kata Nabi, pandangan itu merupakan salah satu anak panah Iblis (sahmun min sihami Iblis). (HR Hakim dari Hudzaifah ibn al-Yaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menyucikan lisan atau perkataan (shaum al-lisan) dari dusta, gosip, dan adu domba. "Jangan berkata kotor dan jangan berbuat jahil." (HR Bukahari dan Muslim). Orang yang berpuasa, demikian al-Ghazali, lebih baik diam (al-sukut), lalu banyak zikir, dan baca Alquran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menyucikan pendengaran alias tutup telinga (shaum al-sam`) dari perkatan dusta dan kebohongan. Orang yang mendengar kebohongan sama buruknya dengan orang yang mengatakannya. Dalam Alquran, pendengar kebohongan disamakan dengan pemakan riba atau suap (QS al-Maidah [5]: 42 dan 63).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menyucikan anggota tubuh yang lain (shaum baqiyat al-jawarih), seperti tangan, kaki, dan organ tubuh yang lain, serta mensucikan diri dari makan dan minum barang haram. Kelima, mengurangi makan yang terlalu kenyang. Sebab, hal demikian bertentangan dengan salah satu tujuan puasa, yaitu melepaskan diri dari kendali syahwat perut. Keenam, cemas, tetapi tetap penuh harap (optimistis) bahwa ibadah puasa yang dilakukan diterima oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita tak hanya puasa lahir, tetapi juga puasa batin. Dengan begitu, puasa betul-betul menjadi penyembuh yang cespleng (infallible remedy) untuk kebugaran kita, baik fisik, psikis, maupun mental dan spiritual. Wallahu a`lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/08/04/lpdvww-mari-berpuasa-lahir-dan-batin#"&gt; Republika.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-693832229949644621?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/693832229949644621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=693832229949644621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/693832229949644621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/693832229949644621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/08/mari-berpuasa-lahir-dan-batin_114.html' title='Mari Berpuasa Lahir dan Batin'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6599377105122214052</id><published>2011-07-29T22:03:00.000-07:00</published><updated>2011-07-29T22:14:02.309-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Fiqih Ringkas Tentang Puasa</title><content type='html'>Oleh: Mochamad Bugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaum atau puasa secara bahasa bermakna al-imsak atau menahan diri dari sesuatu seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna shaum seperti ini dipakai dalam ayat ke-26 surat Maryam. “Maka makan dan minumlah kamu, wahai Maryam, dan tenangkanlah hatimu; dan jika kamu bertemu seseorang, maka katakanlah saya sedang berpuasa dan tidak mau berbicara dengan siapapun.”&lt;br /&gt;Sedangkan secara istilah, shaum adalah menahan dari dari dua jalan syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.&lt;br /&gt;Keutamaan Bulan Ramadhan&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda, “Penghulunya bulan adalah bulan Ramadhan dan penghulunya hari adalah hari Jum’at.” (Thabrani)&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, ” Kalau saja manusia tahu apa yang terdapat pada bulan Ramadhan, pastilah mereka berharap Ramadhan itu selama satu tahun.” (Thabrani, Ibnu Khuzaimah, dan Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Apabila datang bulan puasa, dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka.” (Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Rasulullah saw. juga bersabda, “Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, para setan dan jin kafir akan dibelenggu. Semua pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satu pintu pun yang terbuka; dan dibuka pintu-pintu surga sehingga tidak ada satu pun yang tertutup. Lalu terdengara suara seruan, “Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari kejahatan, kurangkanlah. Pada malam itu ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Dan yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (Tirmidzi dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;Keutamaan Puasa Ramadhan&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan penuh harap, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat malam pada bulan puasa, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Waktu Berpuasa&lt;br /&gt;Ibadah puasa dimulai sejak masuknya fajar shadiq (waktu shalat Subuh) hingga terbenamnya matahari (masuk waktu shalat Maghrib). Allah menerangkan di dalam al-Qur’an dengan istilah benang putih dari benang hitam.&lt;br /&gt;Doa Berbuka Puasa&lt;br /&gt;Jika berbuka puasa, Rasullullah saw. membaca, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.” Artinya, ya Allah, untukmu aku berpuasa dan dengan rezeki yang engkau berikan kami berbuka. Dan Rasulullah saw. berbuka puasa dengan kurma. Jika tidak ada, cukup dengan air putih.&lt;br /&gt;Sunnah-sunnah Dalam Berpuasa&lt;br /&gt;Sebelum berpuasa, disunnahkan mandi besar dari junub, haidh, dan nifas. Bagi orang yang berpuasa, disunnahkan melambatkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Berdo’a sebelum berbuka.&lt;br /&gt;Agar amalan puasa tidak rusak dan pahalanya tidak gugur, orang yang berpuasa disunnahkan menjaga anggota badan dari maksiat, meninggalkan obrolan yang tidak berguna, meninggalkan perkara syubhat dan membangkitkan syahwat.&lt;br /&gt;Disunnahkan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memberi makan orang puasa untuk berbuka, dan memperbanyak sedekah. Di sepuluh hari terakhir, sangat dianjurkan beri’tikaf.&lt;br /&gt;Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa&lt;br /&gt;1. Orang yang safar (dalam perjalanan). Tapi, ada ulama yang memberi syarat. Seseorang boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan menggantinya di bulan lain, jika safarnya menempuh lebih dari 89 km dan safarnya bukan untuk maksiat serta perjalanannya dimulai sebelum fajar. Namun Imam Hanbali membolehkan berbuka, walaupun safarnya dimulai pada siang hari. Alasan dibolehkannya berbuka adalah karena safar mengandung masyaqqah (kesusahan). Jika seseorang yang safar mengambil rukshah ini, ia wajib mengganti puasanya itu di hari lain sejumlah hari ia tidak berpuasa.&lt;br /&gt;2. Orang yang sedang sakit. Sakit yang masuk dalam kategori ini adalah sakit yang dapat menghambat kelangsungan ibadah puasa dan berdampak pada keselamatan fisik jika dia tetap berpuasa. Untuk memutuskan dan menilainya, diperlukan pendapat dokter. Jika seseorang tidak berpuasa karena sakit, ia wajib mengganti puasa yang ditinggalkannya di bulan lain ketika ia sudah sehat.&lt;br /&gt;3. Wanita hamil dan ibu yang menyusui. Wanita hamil atau ibu menyusui boleh tidak berpuasa, tapi harus menggantinya di hari lain. Jika dia tidak berpuasa karena takut dengan kondisi dirinya sendiri, maka hanya wajib bayar qadha’ saja. Tapi jika dia takut akan keselamatan janin atau bayinya, maka wajib bayar qadha’ dan fidyah berupa memberi makan sekali untuk satu orang miskin. Hal ini diqiyaskan dengan orang sakit dan dengan orang tua yang uzur.&lt;br /&gt;4. Orang yang lanjut usia. Orang yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup puasa lagi tidak wajib puasa, tapi wajib bayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;5. Orang yang mengalami keletihan dan kehausan yang berlebihan. Jika kondisi itu dikhawatirkan mengganggu keselamatan jiwa dan akal, maka boleh berbuka dan wajib qadha’.&lt;br /&gt;6. Orang yang dipaksa (ikrah) tidak berpuasa. Orang seperti ini boleh berbuka, tapi wajib mengqadha’.&lt;br /&gt;Permasalahan Sekitar Puasa&lt;br /&gt;1. Untuk puasa Ramadhan, wajib memasang niat berpuasa sebelum habis waktu sahur.&lt;br /&gt;2. Saat berpuasa seorang suami boleh mencium isterinya, dengan syarat dapat menahan nafsu dan tidak merangsang syahwat.&lt;br /&gt;3. Orang yang menunda mandi besar (janabah) setelah sahur atau setelah masuk waktu subuh, puasanya tetap sah. Begitu juga dengan orang yang berpuasa dan mendapat mimpi basah di siang hari, puasanya tetap sah.&lt;br /&gt;4. Dilarang suami-istri berhubungan badan di siang hari ketika berpuasa. Hukuman bagi orang yang bersenggama di siang hari pada bulan Ramadhan adalah memerdekakan budak. Jika tidak mampu memerdekakan budak, suami-istri itu dihukum berpuasa dua bulan penuh secaara berturut-turut. Jika tidak mampu juga, mereka dihukum memberi makan 60 orang miskin sekali makan. Kalau perbuatannya berulang pada hari lain, maka hukumannya berlipat. Kecuali, pengulangannya dilakukan di hari yang sama.&lt;br /&gt;5. Orang yang terlupa bahwa ia berpuasa kemudian makan dan minum, maka puasanya tetap sah. Setelah ingat, ia harus melanjutkan puasanya hingga waktu berbuka di hari itu juga.&lt;br /&gt;6. Hanya muntah yang disengaja yang membatalkan puasa. Ada tiga perkara yang tidak membatalkan puasa: bekam, muntah (yang tidak disengaja), dan bermimpi (ihtilam). Sikat gigi atau membersihkan gigi dengan syiwak diperbolehkan. Hal ini biasa dilakukan oleh Rasulullah saw. Tapi, ada ulama yang memakruhkan menyikat gigi dengan pasta gigi setelah matahari condong ke Barat.&lt;br /&gt;7. Orang yang mempunyai hutang puasa tahun sebelumnya, harus dibayar sebelum masuk Ramadhan yang akan berjalan. Jika belum juga ditunaikan, harus dibayar setelah Ramadhan yang tahun ini. Tapi, ada ulama berpendapat, selain harus diqadha’ juga diwajibkan memberi makan orang miskin.&lt;br /&gt;8. Para ulama sepakat bahwa orang yang wafat dan punya utang puasa yang belum ditunaikan bukan karenakan kelalaian tapi disebabkan ada uzur syar’i seperti sakit atau musafir, tidak ada qadha yang harus ditanggung ahli warisnya. Tapi jika ada kelalaian, ada sebagian ulama mewajibkan qadha terhadap ahli warisnya dan sebagian lain mengatakan tidak.&lt;br /&gt;9. Bagi mereka yang bekerja dengan fisik dan terkategori berat –seperti pekerja peleburan besi, buruh tambang, tukang sidang, atau yang lainnya– jika berpuasa menimbulkan kemudharatan terhadap jiwa mereka, boleh tidak berpuasa. Tapi, wajib mengqadha’. Jumhur ulama mensyaratkan orang-orang yang seperti ini wajib baginya untuk sahur dan berniat puasa, lalu berpuasa di hari itu. Kalau tidak sanggup, baru boleh berbuka. Berbuka menjadi wajib, kalau yakin kondisi ketidak sanggupan itu akan menimbulkan kemudharatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2007/08/231/fiqih-ringkas-tentang-puasa/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6599377105122214052?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6599377105122214052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6599377105122214052' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6599377105122214052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6599377105122214052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/07/fiqih-ringkas-tentang-puasa.html' title='Fiqih Ringkas Tentang Puasa'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-5433647530168690222</id><published>2011-07-22T22:22:00.000-07:00</published><updated>2011-07-22T22:35:52.068-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laki-laki'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memandang wanita'/><title type='text'>Hukum Laki-Laki Memandang Wanita</title><content type='html'>dakwatuna.com - Allah menciptakan seluruh makhluk hidup berpasang-pasangan, bahkan menciptakan alam semesta ini pun berpasang-pasangan. Sebagaimana firman-Nya: “Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasang-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin: 36)&lt;br /&gt;“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS Adz-Dzaariyat: 49)&lt;br /&gt;Berdasarkan sunnah kauniyah (ketetapan Allah) yang umum ini, manusia diciptakan berpasang-pasangan, terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan, sehingga kehidupan manusia dapat berlangsung dan berkembang. Begitu pula dijadikan daya tarik antara satu jenis dengan jenis lain, sebagai fitrah Allah untuk manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;   Setelah menciptakan Adam, Allah menciptakan (dari dan untuk Adam) seorang istri supaya ia merasa tenang hidup dengannya, begitu pula si istri merasa tenang hidup bersamanya. Sebab secara hukum fitrah, tidak mungkin ia (Adam) dapat merasa bahagia jika hanya seorang  diri, walaupun dalam surga ia dapat makan minum secara leluasa.&lt;br /&gt;Seperti telah saya singgung di muka bahwa taklif ilahi (tugas dari Allah) yang pertama adalah ditujukan kepada kedua orang ini sekaligus secara bersama-sama, yakni Adam dan istrinya: “… Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah: 35)&lt;br /&gt;Karena itu, tidaklah dapat dibayangkan seorang laki-laki akan hidup sendirian, jauh dari perempuan, tidak melihat perempuan dan perempuan tidak melihatnya, kecuali jika sudah keluar dari keseimbangan fitrah dan menjauhi kehidupan—sebagaimana cara hidup kependetaan yang dibikin-bikin kaum Nasrani.&lt;br /&gt;Tidak dapat dibayangkan bagaimana wanita akan hidup sendirian dengan menjauhi laki-laki. Bukankah kehidupan itu dapat tegak dengan adanya tolong-menolong dan bantu-membantu antara kedua jenis manusia ini dalam urusan-urusan dunia dan akhirat?&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain…” (QS At-Taubah: 71)&lt;br /&gt;Hakikat lain yang wajib diingat di sini—berkenaan dengan kebutuhan timbal balik antara laki-laki dengan perempuan—bahwa Allah SWT telah menanamkan dalam fitrah masing-masing dari kedua jenis manusia ini rasa ketertarikan terhadap lawan jenisnya dan kecenderungan syahwati yang instinktif. Dengan adanya fitrah ketertarikan ini, terjadilah pertemuan (perkawinan) dan reproduksi, sehingga terpeliharalah kelangsungan hidup manusia dan planet bumi ini.&lt;br /&gt;Dalam kaitan ini, baiklah kita bahas antara hukum memandang laki-laki terhadap  perempuan. Kami menguatkan pendapat  jumhur  ulama yang menafsirkan firman Allah: “…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak daripadanya…” (QS An-Nur: 31 )&lt;br /&gt;Menurut jumhur ulama, perhiasan yang biasa tampak itu ialah “wajah dan telapak tangan.” Dengan demikian, wanita boleh menampakkan wajahnya dan kedua telapak  tangannya, bahkan (menurut pendapat Abu Hanifah dan Al-Muzni) kedua kakinya.&lt;br /&gt;Apabila wanita boleh menampakkan bagian tubuhnya ini (muka dan tangan/kakinya), maka bolehkah laki-laki  melihat kepadanya ataukah tidak?&lt;br /&gt;Pandangan pertama (secara tiba-tiba) adalah tidak dapat dihindari sehingga dapat dihukumi sebagai darurat. Adapun pandangan berikutnya (kedua) diperselisihkan hukumnya oleh para ulama.&lt;br /&gt;Yang dilarang dengan tidak ada keraguan lagi ialah melihat dengan menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat, karena ini merupakan pintu bahaya dan penyulut api. Oleh sebab itu, ada ungkapan, “memandang merupakan pengantar perzinaan”.&lt;br /&gt;Dan bagus sekali apa yang dikatakan oleh Syauki ihwal memandang yang dilarang ini, “Memandang (berpandangan) lalu tersenyum, lantas mengucapkan salam, lalu bercakap-cakap, kemudian berjanji, akhirnya bertemu.”&lt;br /&gt;Adapun melihat perhiasan (bagian  tubuh) yang tidak biasa tampak, seperti rambut, leher, punggung, betis, lengan (bahu), dan sebagainya, tidak diperbolehkan bagi selain mahram, menurut ijma. Ada dua kaidah yang menjadi acuan masalah ini beserta masalah-masalah yang berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;Pertama, bahwa sesuatu yang dilarang itu diperbolehkan ketika darurat atau ketika dalam kondisi membutuhkan, seperti kebutuhan berobat, melahirkan, dan   sebagainya. Demikian pula pembuktian tindak pidana, dan lain-lainnya yang diperlukan dan menjadi keharusan, baik untuk perseorangan maupun masyarakat.&lt;br /&gt;Kedua, bahwa apa yang diperbolehkan itu menjadi terlarang apabila dikhawatirkan terjadinya fitnah, baik kekhawatiran itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Dan hal ini apabila terdapat petunjuk petunjuk yang jelas, tidak sekadar perasaan dan  khayalan  sebagian orang-orang yang takut dan ragu-ragu terhadap setiap orang dan setiap persoalan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Nabi SAW pernah memalingkan muka anak pamannya yang bernama Fadhl bin Abbas, agar tidak melihat wanita Khats’amiyah pada waktu haji, ketika beliau melihat Fadhl berlama-lama memandang wanita itu. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Fadhl bertanya kepada  Rasulullah SAW, “Mengapa engkau palingkan muka anak pamanmu?”&lt;br /&gt;Beliau menjawab, “Aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka aku  tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka.”&lt;br /&gt;Kekhawatiran akan terjadinya fitnah itu kembali kepada hati nurani si Muslim, yang wajib mendengar dan menerima fatwa, baik dari hati nuraninya sendiri maupun orang lain. Artinya, fitnah itu tidak dikhawatirkan terjadi jika hati dalam kondisi sehat, tidak dikotori syahwat, tidak dirusak syubhat (kesamaran), dan tidak menjadi sarang pikiran-pikiran yang menyimpang.&lt;br /&gt;Jadi, memandang itu hukumnya boleh dengan syarat jika tidak dibarengi dengan  upaya “menikmati” dan bersyahwat. Jika dengan menikmati dan bersyahwat, maka hukumnya haram. Karena itu, Allah menyuruh kaum mukminah menundukkan sebagian pandangannya sebagaimana Dia menyuruh laki-laki menundukkan sebagian pandangannya.&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pendangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS An-Nur: 30-31)&lt;br /&gt;(RoL)&lt;br /&gt;Sumber: Fatwa-Fatwa Kontemporer, Yusuf  Qaradhawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dari : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/07/13530/hukum-laki-laki-memandang-wanita/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-5433647530168690222?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/5433647530168690222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=5433647530168690222' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5433647530168690222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5433647530168690222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/07/hukum-laki-laki-memandang-wanita.html' title='Hukum Laki-Laki Memandang Wanita'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-7605256067548760048</id><published>2011-07-09T20:45:00.000-07:00</published><updated>2011-07-09T21:03:55.484-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad saw'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UKHUWAH &lt;/span&gt;                                                 (2/2)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menjamin terciptanya persaudaraan dimaksud,  Allah  Swt.&lt;br /&gt;memberikan  beberapa petunjuk sesuai dengan jenis persaudaraan&lt;br /&gt;yang diperintahkan.  Pada  kesempatan  ini,  akan  dikemukakan&lt;br /&gt;petunjuk-petunjuk  yang  berkaitan  dengan persaudaraan secara&lt;br /&gt;umum dan persaudaraan seagama Islam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Untuk memantapkan persaudaraan pada arti yang  umum,  Islam&lt;br /&gt;memperkenalkan  konsep  khalifah.  Manusia diangkat oleh Allah&lt;br /&gt;sebagai  khalifah.   Kekhalifahan   menuntut   manusia   untuk&lt;br /&gt;memelihara,  membimbing,  dan  mengarahkan segala sesuatu agar&lt;br /&gt;mencapai maksud dan tujuan  penciptaannya.  Karena  itu,  Nabi&lt;br /&gt;Muhammad   Saw.  melarang  memetik  buah  sebelum  siap  untuk&lt;br /&gt;dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau  menyembelih&lt;br /&gt;binatang   yang   terlalu   kecil.  Nabi  Muhammad  Saw.  juga&lt;br /&gt;mengajarkan agar  selalu  bersikap  bersahabat  dengan  segala&lt;br /&gt;sesuatu  sekalipun terhadap benda tak bernyawa. Al-Quran tidak&lt;br /&gt;mengenal  istilah  "penaklukan  alam",  karena  secara   tegas&lt;br /&gt;Al-Quran  menyatakan bahwa yang menaklukkan alam untuk manusia&lt;br /&gt;adalah Allah (QS 45: 13). Secara  tegas  pula  seorang  Muslim&lt;br /&gt;diajarkan  untuk  mengakui  bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan&lt;br /&gt;untuk menundukkan sesuatu kecuali atas penundukan Ilahi.  Pada&lt;br /&gt;saat berkendaraan seorang Muslim dianjurkan membaca,&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt; Mahasuci Allah yang menundukkan ini buat kami, sedang&lt;br /&gt;     kami sendiri tidak mempunyai kesanggupan&lt;br /&gt;     menundukkannya (QS Al-Zukhruf [43]: 13).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Untuk mewujudkan persaudaraan antar  pemeluk  agama,  Islam&lt;br /&gt;memperkenalkan ajaran,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bagimu agamamu dan bagiku agamaku (QS 109: 6), dan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.&lt;br /&gt;     Tidak (perlu ada) pertengkaran di antara kami dan&lt;br /&gt;     kamu. Allah mengumpulkan kita dan kepada-Nyalah&lt;br /&gt;     kembali (putusan segala sesuatu) (QS Al-Syura [42):&lt;br /&gt;     15).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran juga menganjurkan agar  mencari  titik  singgung  dan&lt;br /&gt;titik  temu  antar  pemeluk  agama. Al-Quran menganjurkan agar&lt;br /&gt;dalam  interaksi  sosial,  bila  tidak   ditemukan   persamaan&lt;br /&gt;hendaknya  masing-masing  mengakui  keberadaan pihak lain, dan&lt;br /&gt;tidak perlu saling menyalahkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Katakanlah, "Wahai Ahl Al-Kitab, marilah kepada satu&lt;br /&gt;     kalimat kesepakatan yang tidak ada perselisihan di&lt;br /&gt;     antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali&lt;br /&gt;     Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu&lt;br /&gt;     pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan&lt;br /&gt;     sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah." Jika&lt;br /&gt;     mereka berpaling (tidak setuju), katakanlah kepada&lt;br /&gt;     mereka, "Saksikanlah (akuilah eksistensi kami) bahwa&lt;br /&gt;     kami adalah orang-orang Muslim" (QS Ali 'Imran [3]:&lt;br /&gt;     64).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahkan Al-Quran mengajarkan  kepada  Nabi  Muhammad  Saw.  dan&lt;br /&gt;umatnya untuk menyampaikan kepada penganut agama lain, setelah&lt;br /&gt;kalimat sawa' (titik temu) tidak dicapai:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Kami atau kamu pasti berada dalam kebenaran atau&lt;br /&gt;     kesesatan yang nyata. Katakanlah, "Kamu tidak akan&lt;br /&gt;     ditanyai (bertanggungjawab) tentang dosa yang kami&lt;br /&gt;     perbuat, dan kami tidak akan ditanyai (pula) tentang&lt;br /&gt;     hal yang kamu perbuat." Katakanlah, "Tuhan kita akan&lt;br /&gt;     menghimpun kita semua, kemudian menetapkan dengan&lt;br /&gt;     benar (siapa yang benar dan salah) dan Dialah Maha&lt;br /&gt;     Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui (QS 34: 24-26).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jalinan persaudaraan antara seorang Muslim dan non-Muslim sama&lt;br /&gt;sekali   tidak   dilarang   oleh   Islam,  selama  pihak  lain&lt;br /&gt;menghormati hak-hak kaum Muslim,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berbuat&lt;br /&gt;     adil (memberikan sebagian hartamu) kepada orang-orang&lt;br /&gt;     yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak&lt;br /&gt;     (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah&lt;br /&gt;     menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS&lt;br /&gt;     Al-Mumtahanah [60]: 8).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika    sebagian    sahabat    Nabi    memutuskan    bantuan&lt;br /&gt;keuangan/material  kepada  sebagian penganut agama lain dengan&lt;br /&gt;alasan bahwa mereka  bukan  Muslim,  Al-Quran  menegur  mereka&lt;br /&gt;dengan firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bukan kewajibanmu menjadikan mereka memperoleh hidayah&lt;br /&gt;     (memeluk Islam), akan tetapi Allah yang memberi&lt;br /&gt;     petunjuk orang yang dikehendaki-Nya. Apa pun harta&lt;br /&gt;     yang baik yang kamu nafkahkan (walaupun kepada&lt;br /&gt;     non-Muslim), maka pahalanya itu untuk kami sendiri ...&lt;br /&gt;     (QS Al-Baqarah [2]: 272).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.  Untuk  memantapkan  persaudaraan  antar   sesama   Muslim,&lt;br /&gt;Al-Quran  pertama  kali  menggarisbawahi  perlunya menghindari&lt;br /&gt;segala macam sikap lahir  dan  batin  yang  dapat  mengeruhkan&lt;br /&gt;hubungan di antara mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah menyatakan bahwa orang-orang  Mukmin  bersaudara,  dan&lt;br /&gt;memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika&lt;br /&gt;seandainya  terjadi  kesalahpahaman  di   antara   dua   orang&lt;br /&gt;(kelompok)  kaum  Muslim,  Al-Quran  memberikan  contoh-contoh&lt;br /&gt;penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang  setiap  Muslim&lt;br /&gt;melakukannya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kaum (pria)&lt;br /&gt;     mengolok-olokkan kaum yang lain, karena boleh jadi&lt;br /&gt;     mereka (yang diolok-olokkan) itu lebih baik daripada&lt;br /&gt;     mereka (yang mengolok-oLokkan); dan jangan pula&lt;br /&gt;     wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita yang&lt;br /&gt;     lain, karena boleh jadi wanita-wanita yang&lt;br /&gt;     diperolok-olokkan lebih baik dan mereka (yang&lt;br /&gt;     memperolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela dirimu&lt;br /&gt;     sendiri, dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan&lt;br /&gt;     gelar-gelar yang buruk. Sejelek-jeleknya panggilan&lt;br /&gt;     adalah (sebutan) yang buruk sesudah iman. Barangsiapa&lt;br /&gt;     tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang&lt;br /&gt;     zalim (QS Al-Hujurat [49]: 11).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selanjutnya ayat di  atas  memerintahkan  orang  Mukmin  untuk&lt;br /&gt;menghindari  prasangka  buruk,  tidak  mencari-cari  kesalahan&lt;br /&gt;orang lain, serta menggunjing, yang diibaratkan oleh  Al-Quran&lt;br /&gt;seperti  memakan  daging-saudara  sendiri yang telah meninggal&lt;br /&gt;dunia (QS Al-Hujurat [49]: 12).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menarik untuk diketengahkan, bahwa  Al-Quran  dan  hadis-hadis&lt;br /&gt;Nabi  Saw.  tidak merumuskan definisi persaudaraan (ukhuwwah),&lt;br /&gt;tetapi  yang  ditempuhnya  adalah   memberikan   contoh-contoh&lt;br /&gt;praktis.  Pada umumnya contoh-contoh tersebut berkaitan dengan&lt;br /&gt;sikap kejiwaan (seperti terbaca di dalam surat Al-Hujurat ayat&lt;br /&gt;11-12  di  atas), atau tecermin misalnya dalam hadis Nabi Saw.&lt;br /&gt;antara lain,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Hindarilah prasangka buruk, karena itu adalah&lt;br /&gt;     sebohong-bohongnya ucapan. Jangan pula saling&lt;br /&gt;     mencari-cari kesalahan. Jangan saling iri, jangan&lt;br /&gt;     saling membenci, dan jangan saling membelakangi&lt;br /&gt;     (Diriwayatkan oleh keenam ulama hadis, ke An-Nasa'i,&lt;br /&gt;     melalui Abu Hurairah).&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Semua itu wajar,  karena  sikap  batiniahlah  yang  melahirkan&lt;br /&gt;sikap  lahiriah.  Demikian  pula,  bahwa sebagian dari redaksi&lt;br /&gt;ayat dan hadis yang  berbicara  tentang  hal  ini  dikemukakan&lt;br /&gt;dengan  bentuk  larangan. Ini pun dimengerti bukan saja karena&lt;br /&gt;at-takhliyah  (menyingkirkan  yang  jelek)  harus  didahulukan&lt;br /&gt;daripada   at-tahliyah   (menghiasi   diri  dengan  kebaikan),&lt;br /&gt;melainkan  juga  karena  "melarang  sesuatu  mengandung   arti&lt;br /&gt;memerintahkan lawannya, demikian pula sebaliknya."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semua  petunjuk  Al-Quran  dan  hadis Nabi Saw. yang berbicara&lt;br /&gt;tentang interaksi antarmanusia pada akhirnya  bertujuan  untuk&lt;br /&gt;memantapkan  ukhuwah.  Perhatikan  misalnya larangan melakukan&lt;br /&gt;transaksi yang bersifat batil (QS 2: 188), larangan  riba  (QS&lt;br /&gt;2:  278),  anjuran menulis utang-piutang (QS 2: 275), larangan&lt;br /&gt;mengurangi  atau  melebihkan  timbangan  (QS  83:  1-3),   dan&lt;br /&gt;lain-lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam  konteks  pendapat dan pengamalan agama, Al-Quran secara&lt;br /&gt;tegas memerintahkan orang-orang  Mukmin  untuk  merujuk  Allah&lt;br /&gt;(Al-Quran)  dan  Rasul  (Sunnah).  Tetapi  seandainya  terjadi&lt;br /&gt;perbedaan   pemahaman   Al-Quran   dan   Sunnah   itu,    baik&lt;br /&gt;mengakibatkan perbedaan pengamalan maupun tidak, maka petunjuk&lt;br /&gt;Al-Quran dalam hal ini adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Apabila kamu berbeda pendapat tentang sesuatu (karena&lt;br /&gt;     tidak menemukan petunjuknya dalam teks Al-Quran dan&lt;br /&gt;     Sunnah), maka kembalikanlah kepada Allah (jiwa&lt;br /&gt;     ajaran-ajaran Al-Quran), dan (jiwa ajaran-ajaran)&lt;br /&gt;     Rasul, jika memang kamu benar-benar beriman kepada&lt;br /&gt;     Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama&lt;br /&gt;     bagimu dan lebih baik akibatnya (QS Al-Nisa' [4]: 59).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KONSEP-KONSEP DASAR PEMANTAPAN UKHUWAH&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah   mempelajari   teks-teks   keagamaan,   para    ulama&lt;br /&gt;mengenalkan  tiga  konsep untuk memantapkan ukhuwah menyangkut&lt;br /&gt;perbedaan pemahaman dan pengamalan ajaran agama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a. Konsep tanawwu'al-'ibadah (keragaman cara beribadah)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konsep ini mengakui adanya keragaman  yang  dipraktekkan  Nabi&lt;br /&gt;Saw.  dalam  bidang pengamalan agama, yang mengantarkan kepada&lt;br /&gt;pengakuan  akan  kebenaran  semua  praktek  keagamaan,  selama&lt;br /&gt;semuanya  itu  merujuk kepada Rasulullah Saw. Anda tidak perlu&lt;br /&gt;meragukan   pernyataan   ini,   karena   dalam   konsep   yang&lt;br /&gt;diperkenalkan ini, agama tidak menggunakan pertanyaan, "Berapa&lt;br /&gt;hasil 5 +  5?",  melainkan  yang  ditanyakan  adalah,  "Jumlah&lt;br /&gt;sepuluh itu merupakan hasil penambahan berapa tambah berapa?"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Konsep al-mukhti'u fi al-ijtihad lahu ajr (Yang salah dalam&lt;br /&gt;berijtihad pun [menetapkan hukum) mendapat ganjaran).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini berarti bahwa selama seseorang mengikuti pendapat  seorang&lt;br /&gt;ulama,  ia  tidak  akan  berdosa, bahkan tetap diberi ganjaran&lt;br /&gt;oleh Allah Swt.,  walaupun  hasil  ijtthad  yang  diamalkannya&lt;br /&gt;keliru.  Hanya saja di sini perlu dicatat bahwa penentuan yang&lt;br /&gt;benar dan salah bukan wewenang makhluk, tetapi wewenang  Allah&lt;br /&gt;Swt.  sendiri,  yang  baru  akan diketahui pada hari kemudian.&lt;br /&gt;Sebagaimana perlu pula digarisbawahi, bahwa yang  mengemukakan&lt;br /&gt;ijtihad   maupun  orang  yang  pendapatnya  diikuti,  haruslah&lt;br /&gt;memiliki  otoritas  keilmuan,  yang   disampaikannya   setelah&lt;br /&gt;melakukan  ijtihad  (upaya bersungguh-sungguh untuk menetapkan&lt;br /&gt;hukum) setelah mempelajari dengan saksama dalil-dalil keagaman&lt;br /&gt;(Al-Quran dan Sunnah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c.  Konsep  la  hukma  lillah qabla ijtihad al-mujtahid (Allah&lt;br /&gt;belum menetapkan suatu hukum sebelum upaya  ijtihad  dilakukan&lt;br /&gt;oleh seorang mujtahid).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini  berarti  bahwa  hasil ijtihad itulah yang merupakan hukum&lt;br /&gt;Allah bagi masing-masing mujtahid, walaupun  hasil  ijtihadnya&lt;br /&gt;berbeda-beda.  Sama  halnya  dengan  gelas-gelas  kosong, yang&lt;br /&gt;disodorkan oleh tuan rumah dengan berbagai ragam minuman  yang&lt;br /&gt;tersedia.   Tuan  rumah  mempersilakan  masing-masing  tamunya&lt;br /&gt;memilih  minuman  yang  tersedia  di  atas  meja  dan  mengisi&lt;br /&gt;gelasnya  --penuh  atau  setengah--  sesuai  dengan selera dan&lt;br /&gt;kehendak masing-masing (selama yang dipilih itu  berasal  dari&lt;br /&gt;minuman  yang  tersedia  di  atas  meja). Apa dan seberapa pun&lt;br /&gt;isinya, menjadi pilihan yang benar bagi masing-masing pengisi.&lt;br /&gt;Jangan  mempersalahkan  seseorang yang mengisi gelasnya dengan&lt;br /&gt;kopi, dan Anda pun  tidak  wajar  dipersalahkan  jika  memilih&lt;br /&gt;setengah air jeruk yang disediakan oleh tuan rumah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang   Al-Quran  dan  hadis-hadis  Nabi  Saw.  tidak  selalu&lt;br /&gt;memberikan interpretasi yang pasti  dan  mutlak.  Yang  mutlak&lt;br /&gt;adalah  Tuhan  dan  firman-firman-Nya,  sedangkan interpretasi&lt;br /&gt;firman-firman itu, sedikit sekali yang bersifat pasti  ataupun&lt;br /&gt;mutlak.  Cara kita memahami Al-Quran dan Sunnah Nabi berkaitan&lt;br /&gt;erat   dengan   banyak   faktor,   antara   lain   lingkungan,&lt;br /&gt;kecenderungan  pribadi, perkembangan masyarakat, kemajuan ilmu&lt;br /&gt;pengetahuan dan teknologi, dan tentu saja  tingkat  kecerdasan&lt;br /&gt;dan pemahaman masing-masing mujtahid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari  sini  terlihat  bahwa  para ulama sering bersikap rendah&lt;br /&gt;hati dengan menyebutkan, "Pendapat kami  benar,  tetapi  boleh&lt;br /&gt;jadi  keliru,  dan  pendapat  Anda  menurut hemat kami keliru,&lt;br /&gt;tetapi mungkin saja benar." Berhadapan dengan teks-teks wahyu,&lt;br /&gt;mereka  selalu menyadari bahwa sebagai manusia mereka memiliki&lt;br /&gt;keterbatasan, dan dengan  demikian,  tidak  mungkin  seseorang&lt;br /&gt;akan  mampu menguasai atau memastikan bahwa interpretasinyalah&lt;br /&gt;yang paling benar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;UKHUWAH DALAM praktek&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika kita mengangkat salah satu  ayat  dalam  bidang  ukhuwah,&lt;br /&gt;agaknya  salah  satu  ayat  surat  Al-Hujurat  dapat dijadikan&lt;br /&gt;landasan  pengamalan  konsep  ukhuwah  Islamiah.   Ayat   yang&lt;br /&gt;dimaksud  adalah,  Sesungguhnya orang-orang Mukmin bersaudara,&lt;br /&gt;karena itu lakukanlah ishlah di antara kedua saudaramu (QS 49:&lt;br /&gt;10). Kata ishlah atau shalah yang banyak sekali berulang dalam&lt;br /&gt;Al-Quran, pada umumnya tidak dikaitkan dengan sikap  kejiwaan,&lt;br /&gt;melainkan  justru  digunakan  dalam kaitannya dengan perbuatan&lt;br /&gt;nyata. Kata ishlah hendaknya tidak hanya dipahami  dalam  arti&lt;br /&gt;mendamaikan  antara  dua  orang  (atau lebih) yang berselisih,&lt;br /&gt;melainkan  harus  dipahami  sesuai  makna  semantiknya  dengan&lt;br /&gt;memperhatikan penggunaan Al-Quran terhadapnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Puluhan  ayat berbicara tentang kewajiban melakukan shalah dan&lt;br /&gt;ishlah. Dalam kamus-kamus bahasa Arab, kata  shalah  diartikan&lt;br /&gt;sebagai  antonim  dari kata fasad (kerusakan), yang juga dapat&lt;br /&gt;diartikan  sebagai  yang  bermanfaat.  Sedangkan  kata   islah&lt;br /&gt;digunakan  oleh Al-Quran dalam dua bentuk: Pertama ishlah yang&lt;br /&gt;selalu  membutuhkan  objek;  dan  kedua  adalah  shalah   yang&lt;br /&gt;digunakan  sebagai  bentuk  kata sifat. Sehingga, shalah dapat&lt;br /&gt;diartikan terhimpunnya sejumlah nilai  tertentu  pada  sesuatu&lt;br /&gt;agar bermanfaat dan berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan&lt;br /&gt;kehadirannya. Apabila pada sesuatu ada satu nilai  yang  tidak&lt;br /&gt;menyertainya  hingga  tujuan  yang dimaksudkan tidak tercapai,&lt;br /&gt;maka manusia dituntut untuk menghadirkan nilai  tersebut,  dan&lt;br /&gt;hal yang dilakukannya itu dinamai ishlah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika  kita  menunjuk  hadis,  salah satu hadis yang populer di&lt;br /&gt;dalam bidang ukhuwah adalah sabda Nabi Saw. yang  diriwayatkan&lt;br /&gt;oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Seorang Muslim bersaudara dengan Muslim lainnya. Dia&lt;br /&gt;     tidak menganiaya, tidak pula menyerahkannya (kepada&lt;br /&gt;     musuh). Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan&lt;br /&gt;     saudaranya, Allah akan memenuhi pula kebutuhannya.&lt;br /&gt;     Barangsiapa yang melapangkan dan seorang Muslim suatu&lt;br /&gt;     kesulitan, Allah akan melapangkan baginya satu&lt;br /&gt;     kesulitan pula dan kesulitan-kesulitan yang&lt;br /&gt;     dihadapinya di hari kemudian. Barangsiapa yang menutup&lt;br /&gt;     aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari&lt;br /&gt;     kemudian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, larangan  di  atas&lt;br /&gt;dilengkapi dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dia tidak mengkhianatinya, tidak membohonginya, dan&lt;br /&gt;     tidak pula meninggalkannya tanpa pertolongan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian  terlihat,  betapa  ukhuwah   Islamiah   mengantarkan&lt;br /&gt;manusia mencapai hasil-hasil konkret dalam kehidupannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk  memantapkan  ukhuwah  Islamiah,  yang  dibutuhkan bukan&lt;br /&gt;sekadar penjelasan segi-segi persamaan pandangan  agama,  atau&lt;br /&gt;sekadar toleransi mengenai perbedaan pandangan, melainkan yang&lt;br /&gt;lebih  penting  lagi  adalah  langkah-langkah   bersama   yang&lt;br /&gt;dilaksanakan   oleh  umat,  sehingga  seluruh  umat  merasakan&lt;br /&gt;nikmatnya.[]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124&lt;br /&gt;Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dari :&lt;a href="http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/Ukhuwah2.htm"&gt; Media&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-7605256067548760048?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/7605256067548760048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=7605256067548760048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/7605256067548760048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/7605256067548760048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/07/wawasan-al-quran.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-1238132140454463862</id><published>2011-06-25T18:02:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T18:19:56.413-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ukhuwah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>oleh Dr M.Quraish Shihab,M.A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; UKHUWAH&lt;/span&gt;                                                  (1/2)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ukhuwah    (ukhuwwah)    yang    biasa    diartikan    sebagai&lt;br /&gt;"persaudaraan",  terambil  dari  akar  kata  yang pada mulanya&lt;br /&gt;berarti "memperhatikan". Makna asal ini  memberi  kesan  bahwa&lt;br /&gt;persaudaraan  mengharuskan  adanya  perhatian semua pihak yang&lt;br /&gt;merasa bersaudara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Boleh jadi, perhatian itu pada  mulanya  lahir  karena  adanya&lt;br /&gt;persamaan  di  antara  pihak-pihak  yang  bersaudara, sehingga&lt;br /&gt;makna tersebut kemudian berkembang, dan pada akhirnya  ukhuwah&lt;br /&gt;diartikan  sebagai  "setiap  persamaan  dan  keserasian dengan&lt;br /&gt;pihak lain, baik persamaan keturunan, dari  segi  ibu,  bapak,&lt;br /&gt;atau keduanya, maupun dari segi persusuan". Secara majazi kata&lt;br /&gt;ukhuwah (persaudaraan) mencakup  persamaan  salah  satu  unsur&lt;br /&gt;seperti  suku, agama, profesi, dan perasaan. Dalam kamus-kamus&lt;br /&gt;bahasa Arab ditemukan  bahwa  kata  akh  yang  membentuk  kata&lt;br /&gt;ukhuwah digunakan juga dengan arti teman akrab atau sahabat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Masyarakat   Muslim   mengenal  istilah  ukhuwmah  Islamiyyah.&lt;br /&gt;Istilah ini  perlu  didudukkan  maknanya,  agar  bahasan  kita&lt;br /&gt;tentang  ukhuwah tidak mengalami kerancuan. Untuk itu terlebih&lt;br /&gt;dahulu perlu dilakukan tinjauan  kebahasaan  untuk  menetapkan&lt;br /&gt;kedudukan  kata Islamiah dalam istilah di atas. Selama ini ada&lt;br /&gt;kesan  bahwa  istilah  tersebut  bermakna  "persaudaraan  yang&lt;br /&gt;dijalin   oleh   sesama   Muslim",   atau  dengan  kata  lain,&lt;br /&gt;"persaudaraan antar sesama Muslim", sehingga dengan  demikian,&lt;br /&gt;kata "Islamiah" dijadikan pelaku ukhuwah itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemahaman  ini  kurang  tepat. Kata Islamiah yang dirangkaikan&lt;br /&gt;dengan kata ukhuwah lebih tepat  dipahami  sebagai  adjektifa,&lt;br /&gt;sehingga  ukhuwah Islamiah berarti "persaudaraan yang bersifat&lt;br /&gt;Islami atau yang diajarkan oleh Islam." Paling tidak, ada  dua&lt;br /&gt;alasan untuk mendukung pendapat ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama,  Al-Quran  dan  hadis  memperkenalkan  bermacam-macam&lt;br /&gt;persaudaraan, seperti yang akan diuraikan selanjutnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam  bahasa  Arab,  kata&lt;br /&gt;sifat  selalu  harus disesuaikan dengan yang disifatinya. Jika&lt;br /&gt;yang  disifati  berbentuk  indefinitif  maupun  feminin,  kata&lt;br /&gt;sifatnya  pun  harus  demikian. Ini terlihat secara jelas pada&lt;br /&gt;saat  kita  berkata  ukhuwwah   Islamiyyah   dan   Al-Ukhuwwah&lt;br /&gt;Al-Islamiyyah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;UKHUWAH DALAM AL-QURAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam  Al-Quran,  kata  akh  (saudara)  dalam  bentuk  tunggal&lt;br /&gt;ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat&lt;br /&gt;yang  berbicara  tentang  kewarisan,  atau keharaman mengawini&lt;br /&gt;orang-orang tertentu, misalnya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Diharamkan kepada kamu (mengawini) ibu-ibumu,&lt;br /&gt;     anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu,&lt;br /&gt;     saudara-saudara perempuan bapakmu, saudara-saudara&lt;br /&gt;     perempuan ibumu, (dan) anak-anak perempuan dari&lt;br /&gt;     saudara-saudaramu yang laki-laki ... (QS Al-Nisa [4]:&lt;br /&gt;     23)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Saudara yang dijalin oleh ikatan  keluarga,  seperti  bunyi&lt;br /&gt;doa Nabi Musa a.s. yang diabadikan Al-Quran,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari&lt;br /&gt;     keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku (QS Thaha [20]:&lt;br /&gt;     29-30).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama seperti&lt;br /&gt;dalam firman-Nya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan kepada suku 'Ad, (kami utus) saudara mereka Hud&lt;br /&gt;     (QS Al-A'raf [7]: 65).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti telah diketahui kaum 'Ad membangkang  terhadap  ajaran&lt;br /&gt;yang  dibawa  oleh Nabi Hud, sehingga Allah memusnahkan mereka&lt;br /&gt;(baca antara lain QS Al-Haqqah [69]: 6-7).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing&lt;br /&gt;     betina, dan aku mempunyai seekor saja, maka dia&lt;br /&gt;     berkata kepadaku, "Serahkan kambingmu itu kepadaku";&lt;br /&gt;     dan dia mengalahkan aku di dalam perdebatan (QS Shad&lt;br /&gt;     [38]: 23).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis, Nabi Saw. bersabda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Belalah saudaramu, baik ia berlaku aniaya, maupun&lt;br /&gt;     teraniaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika beliau ditanya seseorang, bagaimana cara membantu orang&lt;br /&gt;yang menganiaya, beliau menjawab,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Engkau halangi dia agar tidak berbuat aniaya. Yang&lt;br /&gt;     demikian itulah pembelaan baginya. (HR Bukhari melalui&lt;br /&gt;     Anas bin Malik)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Persaudaraan seagama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini ditunjukkan oleh firman Allah dalam surat Al-Hujurat  ayat&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di atas telah dikemukakan bahwa dari segi bahasa, kata ukhuwah&lt;br /&gt;dapat  mencakup  berbagai  persamaan. Dari sini 1ahir lagi dua&lt;br /&gt;macam persaudaraan, yang walaupun secara tegas  tidak  disebut&lt;br /&gt;oleh   Al-Quran  sebagai  "persaudaraan",  namun  substansinya&lt;br /&gt;adalah persaudaraan. Kedua hal tersebut adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran menyatakan bahwa semua manusia diciptakan oleh  Allah&lt;br /&gt;dari  seorang lelaki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa) (QS&lt;br /&gt;Al-Hujurat [49]: 13). Ini berarti bahwa semua  manusia  adalah&lt;br /&gt;seketurunan dan dengan demikian bersaudara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Saudara semakhluk dan seketundukan kepada Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di  atas  telah  dijelaskan  bahwa  dari  segi bahasa kata akh&lt;br /&gt;(saudara) digunakan pada berbagai bentuk persamaan. Dari  sini&lt;br /&gt;1ahir   persaudaraan   kesemakhlukan.  Al-Quran  secara  tegas&lt;br /&gt;menyatakan bahwa:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan tidaklah (jenis binatang yang ada di bumi dan&lt;br /&gt;     burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya)&lt;br /&gt;     kecuali umat-umat juga seperti kamu (QS Al-An'am [6):&lt;br /&gt;     38).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MACAM-MACAM UKHUWAH ISLAMIAH&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di atas telah dikemukakan arti ukhuwah Islamiah, yakni ukhuwah&lt;br /&gt;yang  bersifat  Islami  atau  yang diajarkan oleh Islam. Telah&lt;br /&gt;dikemukakan pula beberapa ayat yang mengisyaratkan bentuk atau&lt;br /&gt;jenis  "persaudaraan"  yang disinggung oleh Al-Quran. Semuanya&lt;br /&gt;dapat disimpulkan bahwa kitab suci ini  memperkenalkan  paling&lt;br /&gt;tidak empat macam persaudaraan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1.  Ukhuwwah  'ubudiyyah  atau   saudara   kesemakhlukan   dan&lt;br /&gt;kesetundukan kepada Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.  Ukhuwwah  insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat&lt;br /&gt;manusia adalah bersaudara, karena mereka  semua  berasal  dari&lt;br /&gt;seorang  ayah  dan  ibu. Rasulullah Saw. juga menekankan lewat&lt;br /&gt;sabda beliau,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     Hamba-hamba Allah semuanya bersaudara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan  dalam&lt;br /&gt;keturunan dan kebangsaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Ukhuwwah fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama Muslim.&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita&lt;br /&gt;     adalah yang datang sesudah (wafat)-ku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makna dan macam-macam persaudaraan  tersebut  di  atas  adalah&lt;br /&gt;berdasarkan   pemahaman   terhadap  teks  ayat-ayat  Al-Quran.&lt;br /&gt;Ukhuwah yang secara  jelas  dinyatakan  oleh  Al-Quran  adalah&lt;br /&gt;persaudaraan  seagama  Islam, dan persaudaraan yang jalinannya&lt;br /&gt;bukan karena agama. Ini tecermin dengan jelas dari  pengamatan&lt;br /&gt;terhadap penggunaan bentuk jamak kata tersebut dalam Al-Quran,&lt;br /&gt;yang menunjukkan dua arti kata akh' yaitu:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, ikhwan, yang biasanya  digunakan  untuk  persaudaraan&lt;br /&gt;tidak  sekandung. Kata ini ditemukan sebanyak 22 kali sebagian&lt;br /&gt;disertakan dengan kata  ad-din  (agama)  seperti  dalan  surat&lt;br /&gt;At-Taubah ayat 11.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Apabila mereka bertobat, melaksanakan shalat, dan&lt;br /&gt;     menunaikan zakat, mereka adalah saudara-saudara kamu&lt;br /&gt;     seagama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedangkan sebagian lain tidak dirangkaikan dengan kata  ad-din&lt;br /&gt;(agama) seperti:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Jika kamu menggauli mereka (anak-anak yatim), mereka&lt;br /&gt;     adalah saudara-saudaramu (QS Al-Baqarah [2]: 220).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teks ayat-ayat tersebut secara  tegas  dan  nyata  menunjukkan&lt;br /&gt;bahwa Al-Quran memperkenalkan persaudaraan seagama dan persaud&lt;br /&gt;araan tidak seagama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bentuk jamak kedua yang digunakan oleh Al-Quran adalah ikhwat,&lt;br /&gt;terdapat   sebanyak  tujuh  kali  dan  digunakan  untuk  makna&lt;br /&gt;persaudaraan seketurunan, kecuali satu ayat, yaitu,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara (QS&lt;br /&gt;     A1-Hujurat [49]: 10).&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Menarik untuk dipertanyakan, mengapa Al-Quran menggunakan kata&lt;br /&gt;ikhwah  dalam  arti  persaudaraan seketurunan ketika berbicara&lt;br /&gt;tentang persaudaraan sesama Muslim,  atau  dengan  kata  lain,&lt;br /&gt;mengapa  Al-Quran  tidak menggunakan kata ikhwan, padahal kata&lt;br /&gt;ini digunakan  untuk  makna  persaudaraan  tidak  seketurunan?&lt;br /&gt;Bukankah  lebih  tepat menggunakan kata terakhir, jika melihat&lt;br /&gt;kenyataan bahwa saudara-saudara  seiman  terdiri  dari  banyak&lt;br /&gt;bangsa dan suku, yang tentunya tidak seketurunan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut  penulis,  hal  ini  bertujuan  untuk  mempertegas dan&lt;br /&gt;mempererat jalinan hubungan antar  sesama-Muslim,  seakan-akan&lt;br /&gt;hubungan  tersebut  bukan  saja dijalin oleh keimanan (yang di&lt;br /&gt;dalam ayat itu ditunjukkan oleh kata  al-mu'minun),  melainkan&lt;br /&gt;juga "seakan-akan" dijalin oleh persaudaraan seketurunan (yang&lt;br /&gt;ditunjukkan oleh kata ikhwah).  Sehingga  merupakan  kewajiban&lt;br /&gt;ganda   bagi   umat  beriman  agar  selalu  menjalin  hubungan&lt;br /&gt;persaudaraan yang harmonis di antara mereka, dan tidak satupun&lt;br /&gt;yang   dapat   dijadikan   dalih  untuk  melahirkan  keretakan&lt;br /&gt;hubungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;FAKTOR PENUNJANG PERSAUDARAAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Faktor penunjang lahirnya persaudaraan dalam arti luas ataupun&lt;br /&gt;sempit adalah persamaan. Semakin banyak persamaan akan semakin&lt;br /&gt;kokoh pula persaudaraan. Persamaan  rasa  dan  cita  merupakan&lt;br /&gt;faktor  dominan  yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki,&lt;br /&gt;dan  pada  akhirnya  menjadikan  seseorang  merasakan   derita&lt;br /&gt;saudaranya,   mengulurkan   tangan   sebelum   diminta,  serta&lt;br /&gt;memperlakukan saudaranya bukan atas  dasar  "take  and  give,"&lt;br /&gt;tetapi justru&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Mengutamakan orang lain atas diri mereka, walau diri&lt;br /&gt;     mereka sendiri kekurangan (QS Al-Hasyr [59]: 9).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan&lt;br /&gt;nyaman  pada  saat  berada  di  antara sesamanya, dan dorongan&lt;br /&gt;kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang  akan&lt;br /&gt;melahirkan rasa persaudaraan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Islam  datang  menekankan  hal-hal  tersebut, dan menganjurkan&lt;br /&gt;mencari titik singgung dan titik temu persaudaraan.  Jangankan&lt;br /&gt;terhadap  sesama  Muslim, terhadap non-Muslim pun demikian (QS&lt;br /&gt;Ali 'Imran [3]: 64) dan Saba [34): 24-25).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PETUNJUK AL-QURAN UNTUK MEMANTAPKAN UKHUWAH&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Guna  memantapkan  ukhuwah  tersebut,  pertama  kali  Al-Quran&lt;br /&gt;menggarisbawahi  bahwa  perbedaan  adalah  hukum  yang berlaku&lt;br /&gt;dalam  kehidupan  ini.  Selain  perbedaan  tersebut  merupakan&lt;br /&gt;kehendak  Ilahi,  juga  demi kelestarian hidup, sekaligus demi&lt;br /&gt;mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan&lt;br /&gt;     aturan dan jalan. Seandainya Allah menghendaki,&lt;br /&gt;     niscaya Dia menjadikan kamu satu umat, tetapi Allah&lt;br /&gt;     hendak menguji kamu mengenai pemberian-Nya kepadamu,&lt;br /&gt;     maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (QS&lt;br /&gt;     Al-Ma-idah [5]: 48).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seandainya  Tuhan  menghendaki  kesatuan   pendapat,   niscaya&lt;br /&gt;diciptakan-Nya  manusia  tanpa akal budi seperti binatang atau&lt;br /&gt;benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah&lt;br /&gt;dan  memilih,  karena  hanya  dengan  demikian seluruhnya akan&lt;br /&gt;menjadi satu pendapat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau&lt;br /&gt;bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena&lt;br /&gt;semua  itu  tidak  mungkin  berada  di  luar  kehendak  Ilahi.&lt;br /&gt;Kalaupun  nalarnya  tidak  dapat memahami kenapa Tuhan berbuat&lt;br /&gt;demikian,  kenyataan  yang  diakui  Tuhan   itu   tidak   akan&lt;br /&gt;menggelisahkan atau mengantarkannya "mati", atau memaksa orang&lt;br /&gt;lain  secara  halus  maupun  kasar  agar  menganut   pandangan&lt;br /&gt;agamanya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sungguh kasihan jika kamu akan membunuh dirimu karena&lt;br /&gt;     sedih akibat mereka tidak beriman kepada keterangan&lt;br /&gt;     ini (Islam) (QS Al-Kahf [18]: 6).&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman&lt;br /&gt;     semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka&lt;br /&gt;     apakah kamu akan memaksa semua manusia agar menjadi&lt;br /&gt;     orang-orang yang beriman? (QS Yunus [10]: 99).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------                              (bersambung 2/2)&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124&lt;br /&gt;Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/Ukhuwah1.html"&gt;Media&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-1238132140454463862?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/1238132140454463862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=1238132140454463862' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1238132140454463862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1238132140454463862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/06/wawasan-al-quran.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-4815791901718131177</id><published>2011-06-18T20:54:00.000-07:00</published><updated>2011-06-18T21:53:53.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nabi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlak'/><title type='text'>Akhlak Manusia Terhadap Manusia (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhlak terhadap Nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sebagai obyek atau partner bermu`amalah yang mengharuskan adanya pertimbangan nilai-nilai akhlak dapat dikelompokkan menjadi enam kelompok. Pertama, karena adanya hubungan nasab seperti ayah ibu berikut kerabat yang menyertainya. Kedua, karena kedekatan tempat tinggal,yakni tetangga. Ketiga, karena adanya hubungan keilmuan seperti hubungan guru-murid, Ke empat, karena adanya hubungan strukrural atasan-bawahan. Kelima, karena adanya keyakinan yang bersifat sakral,seperti para Nabi dan wali,dan keenam, semata-mata karena hubungan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia dalam empat tingkatan. Yaitu (1) instink, (2) panca indera, (3) akal, dan (4) wahyu. Petunjuk pertama dan ke dua disamping kepada manusia juga diberikan kepada hewan. Petunjuk ke tiga, yakni akal adalah hal yang menyebabkan manusia berbeda dengan hewan. Dengan akalnya manusia bisa memecahkan masalah yang dihadapi (problem solving) sehingga manusia mampu merencana, mengevaluasi dan merekayasa apa apa yang diperlukan. Meskipun manusia memiliki keterbatasan fisik, misalnya tidak dapat terbang seperti burung atau tidak dapat menyelam seperti ikan tetapi dengan akalnya, manusia mampu mengatasi kekurangan itu. Dengan akalnya manusia mampu mengerjakan semua hal yang dikerjakan binatang. Dengan teknologi yang dibuatnya manusia mampu menguasai bumi dan atsmosfirnya bagi keperluan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping hal-hal yang bersifat teknis, manusia dengan akalnya dapat pula membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang secara etis harus dikerjakan dan mana yang tidak boleh dikerjakan. Oleh karena itu dengan akalnya manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatanya, baik kepada masyarakatnya sebagai sistem sosial maupun kepada Tuhan kelak di akhirat. Meski demikian, akal tidak bisa menentukan kebenaran universal, karena setiap orang berbeda pula akalnya. Kebenaran menurut akal sangat relatip, karena manusia masih dipengaruhi oleh hal-hal yang subyektip sehingga manusia tidak bisa mencapai kebahagiaan hakiki jika hanya menggunakan akal. Akal hanya bisa menemukan kebenaran, bukan menentukan.Untuk melengkapi rahmat Nya, Tuhan memberikan hidayah ke empat, yaitu wahyu. Wahyu adalah kebenaran universal yang diturunkan Tuhan untuk membimbing manusia mencapai kebahagiaan hakiki. Sesuai dengan tingkat kemampuan manusia menyerap informasi, maka Tuhan mengirimkan Nabi atau Rasul sebagai pembawa wahyu sekaligus sebagai contoh teladan hidup yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam agama Kristen Yesus dikatakan sebagai firman yang hidup, maka dalam Islam, nabi Muhammad dianggap sebagai perwujudan dari nilai-nilai kebenaran wahyu Al- Qur'an (kana khuluquhu al Qur'an) dan teladan utama manusia (uswah hasanah). Nabi adalah utusan Tuhan kepada masyarakat manusia. Ada Nabi yang diperuntukan bagi sekelompok masyarakat pada suatu zaman, ada yang diperuntukkan bagi ummat manusia secara keseluruhan dan sepanjang masa. Menurut pandangan Islam, Nabi Muhammad adalah nabi penutup atau Nabi terakhir yang ajarannya berlaku bagi seluruh ummat manusia hingga akhir zaman. Secara mendasar tidak ada pertentangan antara wahyu yang dibawa oleh Nabi terdahulu dengan yang dibawa oleh Nabi terkemudian, karena kesemuanya berasal dari sumber yang sama (min manba'in wahid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujud Akhlak manusia kepada Nabi. Ketika seorang Nabi masih hidup, maka secara etis dan rasionil, perilaku manusia yang hidup pada masanya dalam menyongsong kehadiran seorang utusan Tuhan adalah menerima dan menghormati serta percaya kepadanya. Dalam Al Qur'an disebutkan bahwa seorang mukmin harus percaya kepada Nabi (Q/ 7:157) tidak boleh mendustakan Nabi (Q/3:184), tidak boleh berbicara terlalu keras di hadapannya atau sopan (Q/49:2),tidak boleh menyakiti hatinya, (Q/33:53) apalagi membunuhnya (Q/3:21). Selanjutnya manusia diperintahkan untuk mencintai dan membelanya dan mengikuti sunnahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Nabi wafat, perilaku seorang mukmin terhadap Nabinya adalah:&lt;br /&gt;(a) Mengikuti sunnahnya. Sunnah mengandung pengertian lebih luas dibanding hadist. Sunnah Nabi adalah perilaku keseharian yang dicontohkan oleh Nabi, baik ketika beliau sedang menjalankan ibadah, sedang menjadi kepala keluarga, sedang menjadi kepala negara, sedang menjadi sahabat, menjadi warga masyarakat, menjadi panglima perang dan seterusnya. Yang sering diperdebatkan adalah apakah sunnah Nabi yang harus diikuti itu terbatas kepada perbuatan Nabi sebagai Rasul, atau juga perbuatan nabi sebagai basyar, sebagai manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumhur ulama berpendapat bahwa seluruh perilaku Nabi, baik ketika menjalankan tugas kerasulan maupun sebagai manusia biasa adalah sunnah yang harus diikuti, karena perbuatan Nabi sebagai manusia biasapun disinari oleh wahyu sehingga tidak ada satupun perbuatan Nabi yang tercela. Kritikan orientalist kepada perilaku Nabi Muhammad —tentang poligami misalnya— pada umumnya tidak cermat karena analisisnya tidak konprehensip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) Mencintai Nabi. Wujud cinta kepada Nabi antara lain dalam bentuk mengikuti sunnahnya, membaca salawat kepada nya, memberi nama anak-cucu dengan nama-nama yang berhubungan dengan Nabi, dan mengutamakan mengikuti sunnah nabi dari mengikuti hal-hal lain. Salawat adalah doa ma'tsurah, doa yang diajarkan Nabi bahkan diperintahkan dalam al Qur'an. Bagi Nabi sendiri sebagai Rasul yang ma'sum sebenarnya doa ummatnya tidak berpengaruh apa-apa, tetapi salawat lebih merupakan kebutuhan orang yang membaca karena mengharap syafaat Nabi kelak di akhirat. Adapun memperingati maulid Nabi lebih merupakan kebudayaan dan kebutuhan sosial masyarakat Islam, bukan anjuran Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia-1.html"&gt;Mubarok institute&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-4815791901718131177?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/4815791901718131177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=4815791901718131177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/4815791901718131177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/4815791901718131177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/06/akhlak-manusia-terhadap-manusia-1.html' title='Akhlak Manusia Terhadap Manusia (1)'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-4366352743110930626</id><published>2011-06-03T01:34:00.000-07:00</published><updated>2011-06-03T02:15:59.779-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad saw'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlakul karimah'/><title type='text'>Akhlakul Karimah...Oh Indahnya</title><content type='html'>Oleh Dr Abdul Mannan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlakul karimah merupakan manivestasi keimanan dan keislaman paripurna seorang Muslim. Akhlakul karimah dalam pengertian luasnya ialah perilaku, perangai, ataupun adab yang didasarkan pada nilai-nilai wahyu sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. Akhlakul karimah terbukti efektif dalam menuntaskan suatu permasalahan serumit apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bukti, ketika Muhammad masih belum menerima wahyu, beliau mampu memberikan solusi atas sengketa para pemuka Quraisy yang berebut ingin mengangkat hajar aswad saat pemugaran Ka'bah telah usai. Masing-masing pemuka suku bersikeras dan merasa dirinya paling berhak untuk mengangkat hajar aswad. Pertentangan itu nyaris meletuskan peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi situasi tersebut, beliau meminta sorban, kemudian hajar aswad diletakkan di atas sorban tersebut. Lalu, masing-masing pemuka Qurasisy memegang ujung sorban dan bersama-sama mengangkatnya. Kekisruhan pun mulai reda dan akhirnya sirna karena semua pihak merasa tidak dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Bahkan, jauh ketika masa menjelang remaja, Muhammad SAW dicintai masyarakatnya karena kejujurannya. Ternyata masyarakat yang tidak mengenal adab pun ketika itu masih memiliki nurani dengan memberikan gelar al-amin (tepercaya) kepada putra Abdullah itu. Ini bukti bahwa sampai kapan pun akhlakul karimah akan selalu dicintai umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah kehidupan manusia, masalah, konflik, beda pendapat, senantiasa akan hadir. Oleh karena itu, Islam membawa ajaran yang mewajibkan seluruh umatnya memiliki akhlakul karimah. Mengutamakan toleransi dari pada konfrontasi, kasih sayang dari padasifat garang, simpati daripada benci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sederhana, orang berakhlak ialah orang yang sportif dalam bahasa olahraga. Apabila salah, ia katakan salah dan apabila benar maka ia pun siap mengungkapkan sesuai fakta yang terjadi. Menang tidak menjadikannya sombong, kalah pun tak membuatnya menjadi pendengki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, yang lebih menarik ialah, ia akan berani mengakui kesalahannya. Bukan malah memutarbalikkan fakta hanya karena gengsi kalau dirinya mengakui suatu kesalahan yang telah diperbuatnya. Maka, tidaklah heran jika Nabi SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak akan dimiliki oleh siapa saja yang secara sungguh-sungguh memahami, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam. Dan, siapa saja yang berhasil menjadikan akhlakul karimah sebagai karakter dalam dirinya tentu ia akan menjadi orang yang paling beruntung, baik di dunia maupun di akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang berakhlak tidak memerlukan pencitraan apalagi memaksakan kehendak. Baginya, kepentingan bersama jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi dan golongannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya jika semua elemen bangsa memiliki karakter akhlakul karimah. Saling memahami, mengutamakan toleransi dalam berbeda pendapat, saling menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan dan bergerak demi keutuhan bangsa dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa kecanggihan teknologi, sistem, dan regulasi apa pun, tidak akan memberi manfaat maksimal jika pribadi-pribadi bangsa ini tidak memiliki akhlakul karimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________________________________________________&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/31/lm2iw7-akhlakul-karimahoh-indahnya"&gt;republika.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-4366352743110930626?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/4366352743110930626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=4366352743110930626' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/4366352743110930626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/4366352743110930626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/06/akhlakul-karimahoh-indahnya.html' title='Akhlakul Karimah...Oh Indahnya'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-7486096963727905215</id><published>2011-05-20T18:41:00.000-07:00</published><updated>2011-05-20T19:22:23.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ujian hidup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah SAW'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><title type='text'>Jangan Lari dari Ujian Hidup</title><content type='html'>Oleh : Mochamad Bugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ&lt;br /&gt;dakwatuna.com – “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”.&lt;br /&gt;Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;  Perlu Kacamata Positif&lt;br /&gt;Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.&lt;br /&gt;Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”&lt;br /&gt;Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu. Sebab, ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup. Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran. Bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)&lt;br /&gt;Hadits di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Mardhotillah. Keridhaan Allah swt. sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.&lt;br /&gt;Yang Manis Terasa Lebih Manis&lt;br /&gt;Kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran. Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih. Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.&lt;br /&gt;Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit. Menyakitkan. Tidak menyenangkan. Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis. Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis. Yang manis terasa lebih manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.&lt;br /&gt;Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita. Sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan. Adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.&lt;br /&gt;“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali ‘Imran: 140)&lt;br /&gt;Begitulah kita diajarkan oleh Allah swt. untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.&lt;br /&gt;Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus. Sensitif. Kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.&lt;br /&gt;Bersama Kesukaran Selalu Ada Kemudahan&lt;br /&gt;Hadits di atas juga berbicara tentang orang-orang yang salah dalam menyikapi Kesulitan hidup yang membelenggunya. Tidak dikit orang yang menutup nalar sehatnya. Setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya. Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi. Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.&lt;br /&gt;Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan. Bentuk bisa kemarahan dan berburuk sangka. Di hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi di atas, bukan hal yang mustahil seseorang akan berburuk sangka terhadap cobaan yang diberikan Allah swt. dan marah kepada Allah swt. “Allah tidak adil!” begitu gugatnya. Na’udzubillah! Orang yang seperti ini, ia bukan hanya tidak akan pernah beranjak dari kesulitan hidup, ia justru tengah membuka pintu kekafiran bagi dirinya dan kemurkaan Allah swt.&lt;br /&gt;Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan mereka tidak sampai membuat mereka kafir. Mungkin seperti itu kita bisa memaknai hadits singkat Rasulullah saw. ini, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Athabrani)&lt;br /&gt;Tentu seorang mukmin sejati tidak akan tergoyahkan imannya meski cobaan datang bagai hujan badai yang menerpa batu karang. Sebab, seorang mukmin sejati berkeyakinan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Setelah hujan akan muncul pelangi. Itu janji Allah swt. yang diulang-ulang di dalam surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”&lt;br /&gt;Jadi, jangan lari dari ujian hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/06/6408/jangan-lari-dari-ujian-hidup/"&gt; dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-7486096963727905215?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/7486096963727905215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=7486096963727905215' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/7486096963727905215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/7486096963727905215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/05/jangan-lari-dari-ujian-hidup.html' title='Jangan Lari dari Ujian Hidup'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-332959403607424043</id><published>2011-04-28T00:28:00.000-07:00</published><updated>2011-04-28T00:47:52.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='syukur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SYUKUR&lt;/span&gt;                                                   (3/3)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di  atas  dikemukakan  secara  global  nikmat-nikmat-Nya  yang&lt;br /&gt;mengharuskan   adanya  syukur.  Dalam  beberapa  ayat  lainnya&lt;br /&gt;disebut sekian banyak nikmat secara eksplisit, antara lain:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Kehidupan dan kematian&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bagaimana kamu mengkufuri (tidak mensyukuri nikmat)&lt;br /&gt;     Allah, padahal tadinya kamu tiada, lalu kamu dihidupkan,&lt;br /&gt;     kemudian kamu dimatikan, lalu dihidupkan kembali. (QS&lt;br /&gt;     A1Baqarah [2]: 28).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Hidayat Allah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang&lt;br /&gt;     diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS Al-Baqarah&lt;br /&gt;     [2]: 185).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Pengampunan-Nya, antara lain dalam firman-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Kemudian setelah itu Kami maafkan kesalahanmu agar kamu&lt;br /&gt;     bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 52)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Pancaindera dan akal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam&lt;br /&gt;     keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu&lt;br /&gt;     pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu&lt;br /&gt;     bersyukur (QS An-Nahl [16]: 78).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;5. Rezeki&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan diberinya kamu rezeki yang baik-baik agar kamu&lt;br /&gt;     bersyukur (QS Al-Anfal [8]: 26).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Sarana dan prasarana antara lain&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu)&lt;br /&gt;     agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar&lt;br /&gt;     darinya, dan kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan&lt;br /&gt;     yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar&lt;br /&gt;     padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan&lt;br /&gt;     karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]:&lt;br /&gt;     14) .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Kemerdekaan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai&lt;br /&gt;     kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia&lt;br /&gt;     mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu&lt;br /&gt;     orang-orang yang merdeka (bebas dari penindasan Fir'aun)&lt;br /&gt;     (QS Al-Maidah [5]: 20)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih banyak lagi nikmat-nikmat  lain  yang  secara  eksplisit&lt;br /&gt;disebut oleh Al-Quran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam  surat  Ar-Rahman  (surat  ke-55), Al-Quran membicarakan&lt;br /&gt;aneka nikmat Allah dalam kehidupan  dunia  ini  dan  kehidupan&lt;br /&gt;akhirat  kelak. Hampir pada setiap dua nikmat yang disebutkan.&lt;br /&gt;Quran mengulangi satu  pertanyaan  dengan  redaksi  yang  sama&lt;br /&gt;yaitu,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertanyaan tersebut terulang sebanyak tiga  puluh  satu  kali.&lt;br /&gt;Sementara  ulama menganalisis jumlah itu dan mengelompokkannya&lt;br /&gt;untuk sampai pada suatu kesimpulan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan  dalam&lt;br /&gt;kehidupan   di   dunia  ini,  antara  lain  nikmat  pengajaran&lt;br /&gt;Al-Quran,  pengajaran  berekspresi,  langit,  bumi,  matahari,&lt;br /&gt;lautan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tujuh  pertanyaan  berkaitan  dengan  ancaman  siksa neraka di&lt;br /&gt;akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian  dari&lt;br /&gt;pemeliharaan dan pendidikan, serta merupakan salah satu nikmat&lt;br /&gt;Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat  Tuhan  yang&lt;br /&gt;diperoleh dalam surga pertama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Delapan  pertanyaan  berkaitan  dengan  nikmat-nikmat-Nya pada&lt;br /&gt;surga kedua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari hasil pengelompokan demikian, para ulama menyusun semacam&lt;br /&gt;"rumus", yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah&lt;br /&gt;yang disebutkan dalam  rangkaian  delapan  pertanyaan  pertama&lt;br /&gt;--syukur seperti makna yang dikemukakan di atas-- maka ia akan&lt;br /&gt;selamat dari ketujuh pintu neraka yang disebut  dalam  ancaman&lt;br /&gt;dalam tujuh pertanyaan berikutnya. Sekaligus dia dapat memilih&lt;br /&gt;pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga,  baik  surga&lt;br /&gt;pertama  maupun  surga  kedua, baik Surga (kenikmatan duniawi)&lt;br /&gt;maupun kenikmatan ukhrawi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;WAKTU DAN TEMPAT BERSYUKUR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di&lt;br /&gt;     langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya (pula)&lt;br /&gt;     segala puji di akhirat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi&lt;br /&gt;     Maha Mengetahui (QS Saba' [34]: l).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt.  harus  disyukuri,  baik&lt;br /&gt;dalam  kehidupan dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Salah&lt;br /&gt;satu ucapan syukur di akhirat adalah dari  mereka  yang  masuk&lt;br /&gt;surga yang berkata,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Al-hamdulillah --segala puji bagi Allah-- yang memberi&lt;br /&gt;     petunjuk bagi kami (masuk ke surga ini). Kami tidak&lt;br /&gt;     memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak&lt;br /&gt;     memberikan kami petunjuk (QS Al-A'raf [7]: 43).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian terlihat bahwa syukur dilakukan  kapan  dan  di  mana&lt;br /&gt;saja di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam  konteks  syukur  dalam  kehidupan  dunia  ini, A1-Quran&lt;br /&gt;menegaskan bahwa Allah Swt. menjadikan  malam  silih  berganti&lt;br /&gt;dengan  siang,  agar  manusia dapat menggunakan waktu tersebut&lt;br /&gt;untuk merenung dan bersyukur, "Dia yang menjadikan  malam  dan&lt;br /&gt;siang   silih   berganti,  bagi  orang  yang  ingin  mengambil&lt;br /&gt;pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (QS A1-Furqan  [25]:&lt;br /&gt;62).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam surat Ar-Rum (30): 17-18 Allah memerintahkan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di&lt;br /&gt;     petang hari, dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan&lt;br /&gt;     bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di&lt;br /&gt;     waktu kamu berada pada petang hari dan ketika kamu&lt;br /&gt;     berada di waktu zuhur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Segala  aktivitas  manusia  --siang  dan   malam--   hendaknya&lt;br /&gt;merupakan  manifestasi  dari  syukurnya.  Syukur  dengan 1idah&lt;br /&gt;dituntut saat seseorang merasakan  adanya  nikmat  Ilahi.  Itu&lt;br /&gt;sebabnya    Nabi    Saw.   tidak   jemu-jemunya   mengucapkan,&lt;br /&gt;"Alhamdulillah" pada setiap situasi dan kondisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat bangun tidur beliau mengucapkan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan&lt;br /&gt;     (membangunkan) kami, setelah mematikan (menidurkan) kami&lt;br /&gt;     dan kepada-Nya-lah (kelak) kebangkitan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau membaca,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang mengembalikan kepadaku&lt;br /&gt;     ruhku, memberi afiat kepada badanku, dan mengizinkan aku&lt;br /&gt;     mengingat-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika bangun untuk ber-tahajjud beliau membaca,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Wahai Allah, bagimu segala pujian. Engkau adalah&lt;br /&gt;     pengatur langit dan bumi dan segala isinya. Bagimu&lt;br /&gt;     segala puji, Engkau adalah pemilik kerajaan langit dan&lt;br /&gt;     bumi dan segala isinya ...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika berpakaian beliau membaca,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang menyandangiku dengan&lt;br /&gt;     (pakaian) ini, menganugerahkannya kepadaku tanpa&lt;br /&gt;     kemampuan dan kekuatan (dari diriku).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesudah makan beliau mengucapkan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan&lt;br /&gt;     memberi kami minum dan menjadikan kami (kaum) Muslim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika akan tidur, beliau berdoa,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dengan namamu Ya Allah aku hidup dan mati. Wahai Allah,&lt;br /&gt;     bafli-Mu segala puji, Engkau Pemelihara langit dan bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian seterusnya pada setiap saat, dalam  berbagai  situasi&lt;br /&gt;dan kondisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari&lt;br /&gt;saat ke saat ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat&lt;br /&gt;dan kasih sayang Tuhan. Dia  akan  merasa  bahwa  Tuhan  tidak&lt;br /&gt;membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam&lt;br /&gt;jiwanya, maka seandainya pada suatu, saat ia  mendapat  cobaan&lt;br /&gt;atau merasakan kepahitan, dia pun akan mengucapkan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji&lt;br /&gt;     walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalimat semacam ini terlontar, karena  ketika  itu  dia  sadar&lt;br /&gt;bahwa  seandainya  apa yang dirasakan itu benar-benar mempakan&lt;br /&gt;malapetaka,  namun  limpahan  karunia-Nya   sudah   sedemikian&lt;br /&gt;banyak,  sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti&lt;br /&gt;dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di samping itu akan terlintas  pula  dalam  pikirannya,  bahwa&lt;br /&gt;pasti   ada  hikmah  di  belakang  cobaan  itu,  karena  Semua&lt;br /&gt;perbuatan Tuhan senantiasa mulia lagi terpuji.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SIAPA YANG DISYUKURI ALLAH?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran juga berbicara menyangkut siapa dan  bagaimana  upaya&lt;br /&gt;yang  harus  dilakukan sehingga wajar disyukuri. Dua kali kata&lt;br /&gt;masykur dalam arti yang  disyukuri  terulang  dalam  Al-Quran.&lt;br /&gt;Pertama adalah,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi),&lt;br /&gt;     maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami&lt;br /&gt;     kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami&lt;br /&gt;     tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya&lt;br /&gt;     dalam keadaaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang&lt;br /&gt;     menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu&lt;br /&gt;     dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka&lt;br /&gt;     mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri&lt;br /&gt;     (dibalas dengan baik). Kepada masing-masing golongan&lt;br /&gt;     baik yang ini (menghendaki dunia saja) maupun yanp itu&lt;br /&gt;     (yang menghendaki akhirat melalui usaha duniawi), Kami&lt;br /&gt;     berikan bantuan dari kemewahan Kami. Dari kemurahan&lt;br /&gt;     Tuhanmu tidak dapat dihalangi (QS Al-Isra' [17]: 18-20).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu&lt;br /&gt;     adalah disyukuri (QS Al-Insan [76]: 22).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isyarat "ini" dalam ayat di atas  adalah  berbagai  kenikmatan&lt;br /&gt;surgawi  yang  dijelaskan oleh ayat-ayat sebelumnya, dari ayat&lt;br /&gt;12 sampai dengan ayat 22 surat 76 (Al-Insan).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Surat Al-Isra' ayat 17-20 berbicara tentang  dua  macam  usaha&lt;br /&gt;yang  lahir  dari  dua  macam  visi  manusia. Ada yang visinya&lt;br /&gt;terbatas pada "kehidupan  sekarang",  yakni  selama  hidup  di&lt;br /&gt;dunia ini, tidak memandang jauh ke depan. "Kehidupan sekarang"&lt;br /&gt;diartikan detik dan jam atau hari dekat hidupnya,  boleh  jadi&lt;br /&gt;juga   "sekarang"   berarti   masa   hidupnya  di  dunia  yang&lt;br /&gt;mengantarkannya bervisi hanya  puluhan  tahun.  Ayat  di  atas&lt;br /&gt;menjanjikan  bahwa jika mereka berusaha akan memperoleh sukses&lt;br /&gt;sesuai dengan usahanya; itu pun bila dikehendaki Allah. Tetapi&lt;br /&gt;setelah  itu  mereka  akan  merasa  jenuh  dan  mandek, karena&lt;br /&gt;keterbatasan visi tidak  lagi  mendorongnya  untuk  berkreasi.&lt;br /&gt;Nah,   ketika   itulah  lahir  rutinitas  yang  pada  akhirnya&lt;br /&gt;melahirkan kehancuran. Hakikat ini bisa terjadi  pada  tingkat&lt;br /&gt;perorangan  atau  masyarakat.  Kejenuhan  dengan segala dampak&lt;br /&gt;negatif yang dialami oleh anggota masyarakat bahkan masyarakat&lt;br /&gt;secara umum di dunia yang menganut paham sekularisme --setelah&lt;br /&gt;mereka mencapai sukses duniawi-- merupakan  bukti  nyata  dari&lt;br /&gt;kebenaran  hakikat  yang  diungkapkan A1-Quran di atas. Tetapi&lt;br /&gt;jika  pandangan  kita  jauh  ke  depan,  visi  seseorang  atau&lt;br /&gt;masyarakat  melampaui kehidupan dunianya, maka ia tidak pernah&lt;br /&gt;akan berhenti-bagai seseorang yang menggantungkan cita-citanya&lt;br /&gt;melampaui  ketinggian  bintang.  Ketika  itu  dia  akan  terus&lt;br /&gt;berusaha  dan  berkreasi,  sehingga  tidak  pernah   merasakan&lt;br /&gt;kejenuhan,  karena  di  balik  satu  sukses masih dapat diraih&lt;br /&gt;sukses berikutnya. Memang Allah menjajikan untuk terus-menerus&lt;br /&gt;dan  sementara  menambah  petunjuk-Nya  bagi mereka yang telah&lt;br /&gt;mendapat petunjuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan Allah sementara menambah petunjuk-Nya bagi&lt;br /&gt;     orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Maryam [19]: 76).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang yang  demikian  itulah  yang  semua  usahanya  disyukuri&lt;br /&gt;Allah.   Mereka  yang  disyukuri  itu  akan  memperoleh  surga&lt;br /&gt;sebagaimana dilukiskan oleh kata masykur pada ayat kedua  yang&lt;br /&gt;menggunakan kata ini, yakni surat Al-Insan ayat 22.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian sekelumit uraian Al-Quran  tentang  syukur.  Kalaulah&lt;br /&gt;kita   tidak   mampu  untuk  masuk  dalam  kelompok  minoritas&lt;br /&gt;--orang-orang  yang  pandai  bersyukur  (atau  dalam   istilah&lt;br /&gt;Al-Quran  asy-syakirun,  yakni orang-orang yang telah mendarah&lt;br /&gt;daging dalam dirinya  hakikat  syukur  dalam  ketiga  sisinya:&lt;br /&gt;hati,  lidah,  dan  perbuatan)--  maka paling tidak kita tetap&lt;br /&gt;harus berusaha  sekuat  kemampuan  untuk  menjadi  orang  yang&lt;br /&gt;melakukan  syukur  --atau  dalam  istilah Al-Quran yasykurun--&lt;br /&gt;betapapun kecilnya syukur itu.  Karena  seperti  bunyi  sebuah&lt;br /&gt;kaidah keagamaan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesuatu yang tidak dapat diraih seluruhnya, jangan&lt;br /&gt;     ditinggalkan sama sekali. []&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/Syukur3.html"&gt; Media&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-332959403607424043?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/332959403607424043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=332959403607424043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/332959403607424043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/332959403607424043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/04/wawasan-al-quran_28.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-736145266574718853</id><published>2011-04-14T19:39:00.002-07:00</published><updated>2011-04-14T19:54:03.493-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='syukur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>oleh M.Quraish Shihab,M.A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SYUKUR&lt;/span&gt;                                                   (2/3)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran,  seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar&lt;br /&gt;pujian    kepada    Allah    disampaikan    dengan     redaksi&lt;br /&gt;"al-hamdulillah."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hamd  (pujian)  disampaikan  secara  lisan kepada yang dipuji,&lt;br /&gt;walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun&lt;br /&gt;kepada yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata   "al"  pada  "al-hamdulillah"  oleh  pakar-pakar  bahasa&lt;br /&gt;disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti "keseluruhan".&lt;br /&gt;Sehingga   kata   "al-hamdu"   yang   ditujukan  kepada  Allah&lt;br /&gt;mengandung arti  bahwa  yang  paling  berhak  menerima  segala&lt;br /&gt;pujian  adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju&lt;br /&gt;dan bermuara kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Jika kita mengembalikan segala puji  kepada  Allah,  maka  itu&lt;br /&gt;berarti  pada  saat Anda memuji seseorang karena kebaikan atau&lt;br /&gt;kecantikannya,  maka  pujian  tersebut  pada  akhirnya   harus&lt;br /&gt;dikembalikan  kepada Allah Swt., sebab kecantikan dan kebaikan&lt;br /&gt;itu bersumber dari Allah. Di sisi lain kalau pada 1ahirnya ada&lt;br /&gt;perbuatan  atau  ketetapan  Tuhan  yang  mungkin oleh kacamata&lt;br /&gt;manusia dinilai  "kurang  baik",  maka  harus  disadari  bahwa&lt;br /&gt;penilaian  tersebut  adalah  akibat keterbatasan manusia dalam&lt;br /&gt;menetapkan tolok ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti  ada&lt;br /&gt;sesuatu   yang  luput  dari  jangkauan  pandangannya  sehingga&lt;br /&gt;penilaiannya menjadi demikian. Walhasil, syukur  dengan  lidah&lt;br /&gt;adalah "al- hamdulillah" (segala puji bagi Allah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c. Syukur dengan perbuatan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi  Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh&lt;br /&gt;aneka nikmat yang  tiada  taranya.  Kepada  mereka  sekeluarga&lt;br /&gt;Allah berpesan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! (QS&lt;br /&gt;     Saba [34]: 13).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan bekerja adalah  menggunakan  nikmat  yang&lt;br /&gt;diperoleh   itu   sesuai   dengan   tujuan   penciptaan   atau&lt;br /&gt;penganugerahannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya&lt;br /&gt;agar  merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh&lt;br /&gt;Allah. Ambillah sebagai contoh  lautan  yang  diciptakan  oleh&lt;br /&gt;Allah  Swt. Ditemukan dalam Al-Quran penjelasan tentang tujuan&lt;br /&gt;penciptaannya melalui firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dialah (Allah) yang menundukkan 1autan (untuk kamu) agar&lt;br /&gt;     kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan&lt;br /&gt;     (agar) kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang&lt;br /&gt;     kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya,&lt;br /&gt;     dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah&lt;br /&gt;     disebut) semoga kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 14).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat  ini  menjelaskan  tujuan   penciptaan   laut,   sehingga&lt;br /&gt;mensyukuri  nikmat  laut,  menuntut  dari yang bersyukur untuk&lt;br /&gt;mencari ikan-ikannya, mutiara  dan  hiasan  yang  lain,  serta&lt;br /&gt;menuntut   pula   untuk  menciptakan  kapal-kapal  yang  dapat&lt;br /&gt;mengarunginya, bahkan  aneka  pemanfaatan  yang  dicakup  oleh&lt;br /&gt;kalimat "mencari karunia-~Nya".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah&lt;br /&gt;     (nikmat-Ku) (QS Ibrahim [14]: 7)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Betapa anugerah  Tuhan  tidak  akan  bertambah,  kalau  setiap&lt;br /&gt;jengkal  tanah  yang  terhampar di bumi, setiap hembusan angin&lt;br /&gt;yang bertiup di udara, setiap tetes hujan  yang  tercurah  dan&lt;br /&gt;langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di  sisi  lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa "Kalau&lt;br /&gt;kamu kufur (tidak mensyukuri  nikmat  atau  menutupinya  tidak&lt;br /&gt;menampakkan  nikmatnya  yang masih terpendam di perut bumi, di&lt;br /&gt;dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya  siksa-Ku  amat&lt;br /&gt;pedih."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suatu  hal  yang  menarik  untuk disimak dari redaksi ayat ini&lt;br /&gt;adalah kesyukuran dihadapkan  dengan  janji  yang  pasti  lagi&lt;br /&gt;tegas  dan  bersumber  dari-Nya  langsung  (QS Ibrahim [14):7)&lt;br /&gt;Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa;  itu  pun&lt;br /&gt;tidak  ditegaskan  bahwa  ia  pasti  akan  menimpa  yang tidak&lt;br /&gt;bersyukur(QS Ibrahim [14]:7).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siksa dimaksud antara  lain  adalah  rasa  lapar,  cemas,  dan&lt;br /&gt;takut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah&lt;br /&gt;     negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya&lt;br /&gt;     datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru,&lt;br /&gt;     tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak&lt;br /&gt;     bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang&lt;br /&gt;     terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka&lt;br /&gt;     mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan&lt;br /&gt;     oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan (QS&lt;br /&gt;     An-Nahl [16]: 112).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengalaman pahit yang  dilukiskan  Allah  ini,  telah  terjadi&lt;br /&gt;terhadap  sekian  banyak  masyarakat bangsa, antara lain, kaum&lt;br /&gt;Saba --satu suku bangsa yang hidup di Yaman  dan  yang  pernah&lt;br /&gt;dipimpin  oleh  seorang  Ratu  yang amat bijaksana, yaitu Ratu&lt;br /&gt;Balqis Surat Saba (34): 15-19 menguraikan kisah mereka,  yakni&lt;br /&gt;satu  masyarakat  yang  terjalin  persatuan  dan  kesatuannya,&lt;br /&gt;melimpah  ruah  rezekinya  dan  subur  tanah  airnya.   Negeri&lt;br /&gt;merekalah   yang  dilukiskan  oleh  Al-Quran  dengan  baldatun&lt;br /&gt;thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Mereka pulalah  yang  diperintah&lt;br /&gt;dalam   ayat-ayat  tersebut  untuk  bersyukur,  tetapi  mereka&lt;br /&gt;berpaling    dan    enggan    sehingga     akhirnya     mereka&lt;br /&gt;berserak-serakkan,    tanahnya    berubah   menjadi   gersang,&lt;br /&gt;komunikasi dan transportasi antar  kota-kotanya  yang  tadinya&lt;br /&gt;lancar  menjadi terputus, yang tinggal hanya kenangan dan buah&lt;br /&gt;bibir orang saja.  Demikian  uraian  Al-Quran.  Dalam  konteks&lt;br /&gt;keadaan mereka, Allah berfirman,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka&lt;br /&gt;     disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami&lt;br /&gt;     tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada&lt;br /&gt;     orang-orang yang kufur(QS Saba [34]: 17).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)&lt;br /&gt;     untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku&lt;br /&gt;     amat pedih (QS Ibrahim [14]: 7).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KEMAMPUAN MANUSIA BERSYUKUR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada hakikatnya manusia tidak  mampu  untuk  mensyukuri  Allah&lt;br /&gt;secara  sempurna,  baik  dalam  bentuk  kalimat-kalimat pujian&lt;br /&gt;apalagi dalam bentuk perbuatan. Karena itu ditemukan dua  ayat&lt;br /&gt;dalam  Al-Quran yang menunjukkan betapa orang-orang yang dekat&lt;br /&gt;kepada-Nya sekalipun, tetap bermohon agar dibimbing,  diilhami&lt;br /&gt;dan diberi kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dia berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk&lt;br /&gt;     mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan&lt;br /&gt;     kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk&lt;br /&gt;     mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai..." (QS&lt;br /&gt;     An-Nam1 [27]: 19).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk&lt;br /&gt;     mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku&lt;br /&gt;     dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat&lt;br /&gt;     amal saleh yang engkau ridhai" (QS Al-Ahqaf [46]: 15).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi  Saw.  juga  berdoa  dan  mengajarkan   doa   itu   untuk&lt;br /&gt;dipanjatkan oleh umatnya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur&lt;br /&gt;     untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Permohonan tersebut sangat diperlukan, paling tidak disebabkan&lt;br /&gt;oleh dua hal:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama,  manusia  tidak  mampu mengetahui bagaimana cara yang&lt;br /&gt;sebaik-baiknya untuk memuji Allah, dan karena itu  pula  Allah&lt;br /&gt;mewahyukan  kepada manusia pilihan-Nya kalimat yang sewajarnya&lt;br /&gt;mereka ucapkan. Tidak kurang dari lima  kali  ditemukan  dalam&lt;br /&gt;Al-Quran perintah Allah yang berbunyi. Wa qul' "Alhamdulillah"&lt;br /&gt;(Katakanlah, "Alhamdulillah").&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa manusia tidak mampu untuk memuji-Nya?  Ini  disebabkan&lt;br /&gt;karena  pujian yang benar menuntut pengetahuan yang benar pula&lt;br /&gt;tentang siapa yang dipuji. Tetapi karena  pengetahuan  manusia&lt;br /&gt;tidak  mungkin  menjangkau  hakikat  Allah  Swt.,  maka  tidak&lt;br /&gt;mungkin pula ia akan mampu memuja dan me~nuji-Nya dengan benar&lt;br /&gt;sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Mahasuci Engkau, Kami tidak mampu melukiskan pujian&lt;br /&gt;     untuk-Mu, karena itu (pujian) kami sebagaimana pujian-Mu&lt;br /&gt;     terhadap diri-Mu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atas dasar ini, maka  seringkali  pujian  yang  dipersembahkan&lt;br /&gt;kepada  Allah,  didahului oleh kata "Subhana" atau yang seakar&lt;br /&gt;dengan  kata  itu.  Perhatikanlah   firman-Nya   dalam   surat&lt;br /&gt;Asy-Syura ayat 5:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Para malaikat bertasbih sambil memuji Tuhan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau dalam surat Ar-Ra'd (13): 13:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Guntur bertasbih sambil memuji-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahkan manusia  pun  di  dalam  shalat  mendahulukan  "tasbih"&lt;br /&gt;(pensucian Tuhan dari segala kekurangan) atas "hamd" (pujian),&lt;br /&gt;karena khawatir jangan sampai pujian yang  diucapkan  itu  tak&lt;br /&gt;sesuai  dengan  keagungan-Nya.  "Subhana Rabbiyal 'Azhim wa bi&lt;br /&gt;hamdihi" ketika  rukuk,  dan  "Subhana  Rabbiyal  'Ala  wa  bi&lt;br /&gt;hamdihi" ketika sujud.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alasan kedua mengapa kita memohon petunjuk-Nya untuk bersyukur&lt;br /&gt;adalah karena setan selalu  menggoda  manusia  yang  targetnya&lt;br /&gt;antara  lain  adalah  mengalihkan mereka dari bersyukur kepada&lt;br /&gt;Allah. Surat Al-A'raf ayat  17  menguraikan  sumpah  setan  di&lt;br /&gt;hadapan  Allah  untuk  menggoda  dan  merayu manusia dari arah&lt;br /&gt;depan, belakang, kiri,  dan  kanan  mereka  sehingga  akhirnya&lt;br /&gt;seperti  ucap  setan  yang diabadikan Al-Quran "Engkau -(Wahai&lt;br /&gt;Allah)- tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedikitnya makhluk  Allah  yang  pandai  bersyukur  ditegaskan&lt;br /&gt;berkali-kali oleh Al-Quran, secara langsung oleh Allah sendiri&lt;br /&gt;seperti firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia,&lt;br /&gt;     tetapi kebanyakan manusia tida1k bersyukur (QS&lt;br /&gt;     Al-Baqarah [2]: 243).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam ayat lain disebutkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada&lt;br /&gt;     Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang&lt;br /&gt;     bersyukur (QS Saba' [34]: 13) .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hakikat yang sama diakui  pula  oleh  hamba-hamba  pilihan-Nya&lt;br /&gt;seperti yang diabadikan Al-Quran dari ucapan Nabi Yusuf a.s.,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Yusuf [12]: 38).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hakikat di atas tercermin juga  dari  penggunaan  kata  syukur&lt;br /&gt;sebagai  sifat  dari  hamba Allah. Hanya dua orang dari mereka&lt;br /&gt;yang disebut oleh Al-Quran  sebagai  hamba  Allah  yang  telah&lt;br /&gt;membudaya dalam dirinya sifat syukur, yaitu Nabi Nuh a.s. yang&lt;br /&gt;dinyatakan-Nya   sebagai   "Innahu   kanna   'abdan   syakura"&lt;br /&gt;(Sesungguhnya  dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur)&lt;br /&gt;(QS  Al-Isra'  [17]:  3),  dan  Nabi   Ibrahim   a.s.   dengan&lt;br /&gt;firman-Nya,    "Syakiran   li   an'umihi"   (yang   mensyukuri&lt;br /&gt;nikmat-nikmat Allah) (QS An-Nahl [16): 12l).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran menggarisbawahi  bahwa  biasanya  kebanyakan  manusia&lt;br /&gt;hanya   berjanji   untuk   bersyukur  saat  mereka  menghadapi&lt;br /&gt;kesulitan. Al-Quran menjelaskan  sikap  sementara  orang  yang&lt;br /&gt;menghadapi gelombang yang dahsyat di laut:.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengihlaskan&lt;br /&gt;     ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata),&lt;br /&gt;     "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari&lt;br /&gt;     bencana ini, maka pastilah kami akan termasuk&lt;br /&gt;     orang-orang yang bersyukur" (QS Yunus 110]: 22).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian juga dalam surat Al-An'am (6): 63.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Katakanlah, "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari&lt;br /&gt;     bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa&lt;br /&gt;     kepada-Nya dengan berendah dri dengan suara yang lembut&lt;br /&gt;     (dengan mengatakan): Sesungguhnya, jika Dia&lt;br /&gt;     menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami&lt;br /&gt;     menjadi bagian orang-orang yang bersyukur" (QS Al-An'am&lt;br /&gt;     [6]: 63).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;APA YANG HARUS DISYUKURI?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada dasarnya  segala  nikmat  yang  diperoleh  manusia  harus&lt;br /&gt;disyukurinya.  Nikmat  diartikan  oleh sementara ulama sebagai&lt;br /&gt;"segala sesuatu yang berlebih dari modal Anda". Adakah manusia&lt;br /&gt;memiliki  sesuatu sebagai modal? Jawabannya, "Tidak". Bukankah&lt;br /&gt;hidupnya sendiri adalah anugerah dari Allah?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa,&lt;br /&gt;     sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat&lt;br /&gt;     disebut? (QS Al-Insan [76]: 1).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nikmat  Allah  demikian  berlimpah  ruah,  sehingga   Al-Quran&lt;br /&gt;menyatakan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya&lt;br /&gt;     kamu tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim [14]:&lt;br /&gt;     34).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Biqa'i   dalam   tafsirnya   terhadap   surat    Al-Fatihah&lt;br /&gt;mengemukakan  bahwa  "al-hamdulillah"  dalam  surat Al-Fatihah&lt;br /&gt;menggambarkan segala anugerah Tuhan yang dapat dinikmati  oleh&lt;br /&gt;makhluk,  khususnya  manusia. Itulah sebabnya --tulisnya lebih&lt;br /&gt;jauh--   empat   surat   lain   yang   juga   dimulai   dengan&lt;br /&gt;al-hamdulillah  masing-masing  menggambarkan  kelompok  nikmat&lt;br /&gt;Tuhan, sekaligus merupakan  perincian  dari  kandungan  nikmat&lt;br /&gt;yang   dicakup   oleh   kalimat   al-hamdulillah  dalam  surat&lt;br /&gt;Al-Fatihah itu. Karena Al-Fatihah adalah  induk  Al-Quran  dan&lt;br /&gt;kandungan ayat-ayatnya dirinci oleh ayat-ayat lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat surat yang dimaksud adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Al-An'am (surat ke-6) yang dimulai dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah Yang te1ah menciptakan langit dan&lt;br /&gt;     bumi, dan mengadakan gelap dan terang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat  ini  mengisyaratkan  nikmat  wujud  di  dunia ini dengan&lt;br /&gt;segala potensi yang dianugerahkan Allah baik di  darat,  laut,&lt;br /&gt;maupun udara, serta gelap dan terang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Al-Kahf (surat ke-18), yang dimulai dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang te1ah menurunkan kepada&lt;br /&gt;     hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran), dan tidak membuat&lt;br /&gt;     kebengkokan (kekurangan) di dalamnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di  sini  diisyaratkan  nikmat-nikmat  pemeliharaan Tuhan yang&lt;br /&gt;dianugerahkannya secara aktual  di  dunia  ini.  Disebut  pula&lt;br /&gt;nikmat-Nya   yang   terbesar   yaitu   kehadiran  Al-Quran  di&lt;br /&gt;tengah-tengah umat  manusia,  untuk  "mewakili"  nikmat-nikmat&lt;br /&gt;pemeliharaan lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Saba' (surat ke-34), yang dimulai dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di&lt;br /&gt;     langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya pula&lt;br /&gt;     segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana&lt;br /&gt;     lagi Maha Mengetabui.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat  ini  mengisyaratkan nikmat Tuhan di akhirat kelak, yakni&lt;br /&gt;kehidupan baru setelah mengalami kematian di  dunia,  di  mana&lt;br /&gt;dengan   kehadirannya   di   sana   manusia  dapat  memperoleh&lt;br /&gt;kenikmatan abadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Fathir (surat ke-35), yang dimulai dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang&lt;br /&gt;     menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus&lt;br /&gt;     berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat), yang&lt;br /&gt;     mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan&lt;br /&gt;     empat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat ini adalah isyarat tentang nikmat-nikmat abadi yang  akan&lt;br /&gt;dianugerahkan  Allah  kelak  setelah  mengalami  hidup baru di&lt;br /&gt;akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap rincian yang terdapat  dalam  keempat  kelompok  nikmat&lt;br /&gt;yang  dicakup  oleh  keempat  surat  di  atas, menuntut syukur&lt;br /&gt;hamba-Nya baik  dalam  bentuk  ucapan  al-hamdulillah,  maupun&lt;br /&gt;pengakuan  secara  tulus  dari  lubuk  hati, serta mengamalkan&lt;br /&gt;perbuatan yang diridhai-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------                              (bersambung 3/3)&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124&lt;br /&gt;Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038&lt;br /&gt;mailto:mizan@ibm.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/Syukur2.html"&gt; Media&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-736145266574718853?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/736145266574718853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=736145266574718853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/736145266574718853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/736145266574718853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/04/wawasan-al-quran.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-2781617789206054994</id><published>2011-03-24T17:33:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T18:41:19.572-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='syukur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;SYUKUR&lt;/span&gt;                                                   (1/3)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab.  Kata&lt;br /&gt;ini  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1)&lt;br /&gt;rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah  (menyatakan&lt;br /&gt;lega, senang, dan sebagainya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengertian   kebahasaan   ini  tidak  sepenuhnya  sama  dengan&lt;br /&gt;pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut&lt;br /&gt;penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam   Al-Quran   kata  "syukur"  dengan  berbagai  bentuknya&lt;br /&gt;ditemukan sebanyak enam puluh empat  kali.  Ahmad  Ibnu  Faris&lt;br /&gt;dalam  bukunya  Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar&lt;br /&gt;dari kata tersebut yaitu,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt; a. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh.&lt;br /&gt;     Hakikatnya adalah merasa ridha atau puas dengan sedikit&lt;br /&gt;     sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini&lt;br /&gt;     (syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan&lt;br /&gt;     sedikit rumput. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan&lt;br /&gt;     Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan&lt;br /&gt;     barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh&lt;br /&gt;     subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  b. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur&lt;br /&gt;     dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  c. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  d. Pernikahan, atau alat kelamin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agaknya kedua makna  terakhir  ini  dapat  dikembalikan  dasar&lt;br /&gt;pengertiannya  kepada  kedua  makna  terdahulu.  Makna  ketiga&lt;br /&gt;sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan&lt;br /&gt;yang  sedikit  sekalipun,  sedang  makna  keempat dengan makna&lt;br /&gt;kedua,  karena  dengan   pernikahan   (alat   kelamin)   dapat&lt;br /&gt;melahirkan banyak anak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makna-makna   dasar  tersebut  dapat  juga  diartikan  sebagai&lt;br /&gt;penyebab dan dampaknya, sehingga kata "syukur"  mengisyaratkan&lt;br /&gt;"Siapa  yang  merasa  puas  dengan  yang sedikit, maka ia akan&lt;br /&gt;memperoleh banyak, lebat, dan subur."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar&lt;br /&gt;bahasa  Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran,&lt;br /&gt;bahwa kata "syukur"  mengandung  arti  "gambaran  dalam  benak&lt;br /&gt;tentang  nikmat  dan  menampakkannya  ke  permukaan." Kata ini&lt;br /&gt;--tulis Ar-Raghib-- menurut sementara ulama berasal dari  kata&lt;br /&gt;"syakara"  yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan&lt;br /&gt;dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah  satu&lt;br /&gt;artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makna  yang  dikemukakan  pakar di atas dapat diperkuat dengan&lt;br /&gt;beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur  dengan&lt;br /&gt;kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)&lt;br /&gt;     untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku&lt;br /&gt;     amat pedih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian juga dengan  redaksi  pengakuan  Nabi  Sulaiman  yang&lt;br /&gt;diabadikan Al-Quran:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku&lt;br /&gt;     apakah aku bersyukur atau kufur (QS An-Naml [27]: 40).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hakikat  syukur  adalah  "menampakkan  nikmat,"  dan   hakikat&lt;br /&gt;kekufuran  adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara&lt;br /&gt;lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang&lt;br /&gt;dikehendaki  oleh  pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan&lt;br /&gt;pemberinya dengan lidah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau&lt;br /&gt;     menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: ll).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw. pun bersabda,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam&lt;br /&gt;     penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah, "Bersyukurlah&lt;br /&gt;kepada-Ku  dan  janganlah  kamu  mengingkari  (nikmat)-Ku" (QS&lt;br /&gt;Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa  ayat  ini  mengandung&lt;br /&gt;perintah  untuk  mengingat  Tuhan  tanpa  melupakannya,  patuh&lt;br /&gt;kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan.  Syukur  orang&lt;br /&gt;demikian  lahir  dari  keikhlasan  kepada-Nya, dan karena itu,&lt;br /&gt;ketika setan menyatakan bahwa, "Demi  kemuliaan-Mu,  Aku  akan&lt;br /&gt;menyesatkan  mereka  manusia)  semuanya"  (QS  Shad [38]: 82),&lt;br /&gt;dilanjutkan dengan pernyataan  pengecualian,  yaitu,  "kecuali&lt;br /&gt;hamba-hamba-Mu  yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]:&lt;br /&gt;83). Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis menyatakan,  "Dan  Engkau&lt;br /&gt;tidak   akan   menemukan   kebanyakan  dari  mereka  {manusia)&lt;br /&gt;bersyukur." Kalimat "tidak  akan  menemukan"  di  sini  serupa&lt;br /&gt;maknanya  dengan  pengecualian  di  atas, sehingga itu berarti&lt;br /&gt;bahwa  orang-orang  yang  bersyukur  adalah  orang-orang  yang&lt;br /&gt;mukhlish (tulus hatinya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  a. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas&lt;br /&gt;     anugerah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  b. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan&lt;br /&gt;     memuji pemberinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  c. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah&lt;br /&gt;     yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Uraian Al-Quran tentang syukur mencakup sekian  banyak  aspek.&lt;br /&gt;Berikut akan dikemukakan sebagian di antaranya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SIAPA YANG HARUS DISYUKURI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada  prinsipnya  segala  bentuk  kesyukuran  harus  ditujukan&lt;br /&gt;kepada  Allah  Swt.  Al-Quran  memerintahkan  umat Islam untuk&lt;br /&gt;bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula&lt;br /&gt;     kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu&lt;br /&gt;     mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada&lt;br /&gt;     Luqman hikmah, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan&lt;br /&gt;     barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka&lt;br /&gt;     sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya&lt;br /&gt;     sendiri."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun demikian, walaupun  kesyukuran  harus  ditujukan  kepada&lt;br /&gt;Allah, dan ucapan syukur yang diajarkan adalah "alhamdulillah"&lt;br /&gt;dalam arti "segala puji (hanya) tertuju kepada  Allah,"  namun&lt;br /&gt;ini  bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka&lt;br /&gt;yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Al-Quran secara&lt;br /&gt;tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua&lt;br /&gt;orang tua (yang menjadi perantara  kehadiran  kita  di  pentas&lt;br /&gt;dunia  ini.)  Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu&lt;br /&gt;dengan firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu&lt;br /&gt;     bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walaupun  Al-Quran  hanya  menyebut  kedua  orangtua  --selain&lt;br /&gt;Allah--  yang  harus  disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa&lt;br /&gt;selain mereka tidak boleh disyukuri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak&lt;br /&gt;     mensyukuri Allah (Begitu bunyi suatu rtwayat yang&lt;br /&gt;     disandarkan kepada Rasul Saw).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MANFAAT SYUKUR BUKAN UNTUK TUHAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur  kembali&lt;br /&gt;kepada  orang  yang  bersyukur,  sedang Allah Swt. sama sekali&lt;br /&gt;tidak memperoleh bahkan tidak  membutuhkan  sedikit  pun  dari&lt;br /&gt;syukur makhluk-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia&lt;br /&gt;     bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan&lt;br /&gt;     barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka&lt;br /&gt;     sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan&lt;br /&gt;     sesuatu) lagi Mahamulia (QS An-Naml [27]: 40)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena  itu  pula,  manusia  yang   meneladani   Tuhan   dalam&lt;br /&gt;sifat-sifat-Nya,  dan  mencapai peringkat terpuji, adalah yang&lt;br /&gt;memberi tanpa menanti syukur (balasan dari yang  diberi)  atau&lt;br /&gt;ucapan terima kasih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran  melukiskan  bagaimana satu keluarga (menurut riwayat&lt;br /&gt;adalah  Ali  bin  Abi  Thalib  dan  istrinya  Fathimah   putri&lt;br /&gt;Rasulullah  Saw.)  memberikan  makanan  yang mereka rencanakan&lt;br /&gt;menjadi makanan berbuka puasa mereka, kepada tiga  orang  yang&lt;br /&gt;membutuhkan dan ketika itu mereka menyatakan bahwa,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah&lt;br /&gt;     mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki&lt;br /&gt;     balasan darimu, dan tidak pula pujian (ucapan terima&lt;br /&gt;     kasih) (QS Al-Insan [76]: 9).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walaupun manfaat  syukur  tidak  sedikit  pun  tertuju  kepada&lt;br /&gt;Allah,  namun  karena  kemurahan-Nya,  Dia menyatakan diri-Nya&lt;br /&gt;sebagai Syakirun 'Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158), dan  Syakiran&lt;br /&gt;Alima  (QS  An-Nisa'  [4]:  147),  yang keduanya berarti, Maha&lt;br /&gt;Bersyukur  lagi  Maha  Mengetahui,  dalam  arti   Allah   akan&lt;br /&gt;menganugerahkan  tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk&lt;br /&gt;yang bersyukur. Syukur Allah ini antara lain  dijelaskan  oleh&lt;br /&gt;firman-Nya dalam surat Ibrahim (14): 7 yang dikutip di atas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAGAIMANA CARA BERSYUKUR?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di atas telah dijelaskan bahwa  ada  tiga  sisi  dari  syukur,&lt;br /&gt;yaitu  dengan  hati, lidah, dan anggota tubuh lainnya. Berikut&lt;br /&gt;akan dirinci penjelasan tentang masing-masing sisi tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a. Syukur dengan hati&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa&lt;br /&gt;nikmat  yang  diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan&lt;br /&gt;kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati  mengantar  manusia  untuk&lt;br /&gt;menerima  anugerah  dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan&lt;br /&gt;keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini  juga&lt;br /&gt;mengharuskan  yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan,&lt;br /&gt;dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahuya pujian&lt;br /&gt;kepada-Nya.   Qarun   yang  mengingkari  keberhasilannya  atas&lt;br /&gt;bantuan  Ilahi,  dan   menegaskan   bahwa   itu   diperolehnya&lt;br /&gt;semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai&lt;br /&gt;kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya  (Baca  kisahnya  dalam&lt;br /&gt;surat Al-Qashash (28): 76-82).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka&lt;br /&gt;pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu,&lt;br /&gt;tetapi  karena  terbayang  olehnya bahwa yang dialaminya pasti&lt;br /&gt;lebih kecil dari kemungkinan lain  yang  dapat  terjadi.  Dari&lt;br /&gt;sini syukur --seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia yang dikutip di atas-- diartikan  oleh  orang&lt;br /&gt;yang  bersyukur  dengan  "untung"  (merasa  lega,  karena yang&lt;br /&gt;dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari kesadaran tentang makna-makna  di  atas,  seseorang  akan&lt;br /&gt;tersungkur  sujud  untuk  menyatakan perasaan syukurnya kepada&lt;br /&gt;Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sujud syukur adalah perwujudan dari  kesyukuran  dengan  hati,&lt;br /&gt;yang  dilakukan  saat  hati dan pikiran menyadari betapa besar&lt;br /&gt;nikmat yang dianugerahkan Allah.  Bahkan  sujud  syukur  dapat&lt;br /&gt;dilakukan   saat   melihat   penderitaan   orang  lain  dengan&lt;br /&gt;membandingkan keadaannya  dengan  keadaan  orang  yang  sujud.&lt;br /&gt;(Tentu  saja  sujud  tersebut  tidak  dilakukan  dihadapan  si&lt;br /&gt;penderita itu).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua  anggota  sujud&lt;br /&gt;di  lantai  yakni  dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan&lt;br /&gt;kedua ujung jari kaki)--seperti melakukan sujud dalam  shalat.&lt;br /&gt;Hanya  saja  sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua&lt;br /&gt;kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu  bukan  bagian&lt;br /&gt;dan  shalat,  maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah&lt;br /&gt;walaupun dilakukan tanpa berwudu, karena sujud dapat dilakukan&lt;br /&gt;sewaktu-waktu  dan  secara  spontanitas.  Namun  tentunya akan&lt;br /&gt;sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Syukur dengan lidah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber&lt;br /&gt;nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------                              (bersambung 2/3)&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/Syukur1.html"&gt; Media&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-2781617789206054994?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/2781617789206054994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=2781617789206054994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2781617789206054994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2781617789206054994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/03/wawasan-al-quran.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-5262974762977885587</id><published>2011-02-16T01:34:00.000-08:00</published><updated>2011-02-16T02:02:38.776-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Manusia Mulia</title><content type='html'>Oleh: Ulis Tofa,L.c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Allah swt. menciptakan manusia dan memuliakannya atas makhluk ciptaan-Nya yang lain. Manusia diciptakan dari unsur bumi berupa tanah sebagai lambang materi,  dengan ditiupkan unsur langit berupa ruh sebagai lambang immateri. Manusia dibekali akal, pendengeran, penglihatan dan hati. Pemuliaan manusia itu ditegaskan Allah swt. dalam berfirman-Nya:&lt;br /&gt;وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا&lt;br /&gt;“Dan sungguh Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. Al-Isra:70&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Bahkan pemuliaan itu dikuatkan dengan dua kata penguat “Huruf Lam dan Kata Qad”, yang berarti menunjukkan makna yang sangat kuat. Secara fisik, manusia diciptakan sebaik-baik bentuk. Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” At-Tin:4.&lt;br /&gt;Manusia berdiri tegak, manusia berjalan dengan kedua kaki, tidak merangkak seperti binatang melata. Manusia makan dengan tangan, bukan menjilat dengan lidah atau dengan mulutnya langsung (Tafsir Ibnu Katsir). Dan manusia dibekali akal fikiran, untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang halal dan yang haram.&lt;br /&gt;أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (22) قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (23)&lt;br /&gt;“Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?. Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur.” Al-Mulk:22-23&lt;br /&gt;Kelemahan Manusia&lt;br /&gt;Di samping penegasan kemuliaan manusia, Allah juga menjelaskan bahwa manusia mempunyai sifat dasar kelemahan. Penjelasan ini agar manusia menyadarinya dan berusaha untuk bisa mengendalikannya. Di antara kelemahan dasar manusia itu adalah:&lt;br /&gt;Sifat lupa, manusia dikatakan insan karena memiliki sifat dasar pelupa, dalam bahasa Arab disebutkan:&lt;br /&gt;سمي الإنسان إنسانا لنسيته&lt;br /&gt;Manusia memiliki sifat tergesa-gesa, Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا&lt;br /&gt;“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” Al-Isra’:11&lt;br /&gt;وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا&lt;br /&gt;“Dan adalah manusia itu sangat kikir.” Al-Isra’:100&lt;br /&gt;إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” Al-Ma’arij:19-21&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36)&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” An-Nisa’:36&lt;br /&gt;إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ (9)&lt;br /&gt;“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah Dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” QS. Hud:9&lt;br /&gt;إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan amat bodoh.” Al-Ahzab: 70&lt;br /&gt;“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” Al-‘Aadiyat:6-8&lt;br /&gt;Di atas adalah sebagian kelemahan manusia yang Allah informasikan dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Bekalan Manusia&lt;br /&gt;Sifat dasar kelemahan manusia; lupa, tergesa-gesa, kikir, keluh kesah, putus asa,  kufur, zalim, ingkar dan bodoh itu ada dalam setiap diri manusia, karena manusia memiliki nafsu syahwat dan selagi setan terus menggoda manusia setiap saat.&lt;br /&gt;قال أبو هريرة: يا رسول الله، إذا رأيناك رقَّت قلوبُنا، وكنا من أهل الآخرة، وإذا فارقناك أعجبتنا الدنيا وشَمِمْنا النساء والأولاد، فقال لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ عَلَى كُلِّ حَالٍ ، عَلَى الْحَالِ الَّتِي أَنْتُمْ عَلَيْهَا عِنْدِي، لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلائِكَةُ بِأَكُفِّهِمْ ، وَلَزَارَتْكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ، وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ كَيْ يُغْفَرَ لَهُمْ”&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah berkata, “Ya Rasulallah, jika kami melihat Engkau, hati kami luluh, kami menjadi –seakan- penduduk akhirat, tapi jika kami berpisah dari Engkau, dunia menakjubkan kami dan kami disibukkan dengan istri-istri  dan anak-anak (kami). Maka Rasulullah saw. menjawab: “Jika kalian ada dalam satu kondisi saja, yaitu kondisi di mana kalian bersama saya, maka Malaikat pasti akan menjabat tangan kalian, dan pasti mereka akan singgah di rumah-rumah kalian. Jika kalian tidak melakukan dosa, pasti Allah mendatangkan suatu kaum, mereka melakukan dosa, agar Allah mengampuni mereka.” HR. Imam Ahmad&lt;br /&gt;Namun demikian, Allah swt.telah  menyiapkan terminal ruhani, stasiun penghapusan dosa, dan upaya terus menerus agar manusia mampu mengendalikan sifat dasar kelemahan tersebut.&lt;br /&gt;فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)&lt;br /&gt;“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” Asy-Syam:8-10&lt;br /&gt;Terminal ruhani dan stasiun penghapusan dosa itu ada yang sifatnya harian, pekanan, bulanan dan tahunan.&lt;br /&gt;Untuk yang tahunan di antaranya adalah Ramadhan. Ramadhan adalah akademi dan universitas yang mampu melahirkan manusia yang bisa mengendalikan kelemahan dasar dirinya, sekaligus sebagai terminal ruhani dan stasiun penghapusan dosa.&lt;br /&gt;مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه&lt;br /&gt;“Barangsiapa berpuasa karena iman dan berhadap ganjaran dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun alaih)&lt;br /&gt;وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ&lt;br /&gt;“Dan puasa adalah benteng.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Bagi yang diberi keluasan rizki, terminal ruhani tahunan itupun datang dua bulan setelah bulan Ramadhan, yaitu bulan Dzul Hijjah, pelaksanaan ibadah haji. Ibadah haji adalah puncak ibadah dalam kehidupan manusia, karena ia adalah rukun Islam yang kelima.&lt;br /&gt;الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ وَالْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ يُكَفَّرُ مَا بَيْنَهُمَا&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Haji yang mabrur tiada lain pahalanya kecuali surga. Dan umrah satu ke umrah yang lain menghapus dosa antara waktu keduanya.” HR. Imam Ahmad&lt;br /&gt;Terminal ruhani yang sifatnya bulanan di antaranya; shaum sunnah Ayyamul Baidh –shaum putih atau shaum purnama 13,14,15 bulan Qamariyah-. Shaum pada bulan-bulan tertentu, seperti shaum Arafah, shaum muharram, dll.&lt;br /&gt;Yang sifatnya Pekanan berupa shalat Jum’at. Hari Jum’at adalah Sayyidul Ayyam –penghulu hari-hari-. Pelaksanaan Jum’atan sungguh sangat istimewa dan sakral. Pada hari ini disunnahkan melakukan thaharah –bersuci-;  potong kuku, potong kumis, potong bulu-bulu halus.&lt;br /&gt;« مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا ، وَأَنْصَتَ ، وَاسْتَمَعَ غُفِرَ لَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabd; “Barangsiapa berwudhu dengan membaguskan wudhunya, kemudian berangkat shalat, kemudian ia mendekat, dan menyimak, dan mendengarkan khutbah, ia akan diampuni dosanya dari Jum’at ini ke shalat Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari.” Imam Muslim&lt;br /&gt;Terminal ruhani yang bersifat Harian yaitu berupa shalat lima waktu.&lt;br /&gt;« أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ ». قَالُوا لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ. قَالَ « فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا ». رواه مسلم&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda: “Apa pendapat kalian, jika ada sungai di depan pintu rumah kalian, kalian mandi di sana setiap hari lima kali, apakah masih tersisa kotoran? Sahabat menjawab: “Tidak tersisa sedikit pun kotoran sama sekali”. Rasul bersabda:” Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan shalat lima waktu.” HR. Imam Muslim&lt;br /&gt;اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)&lt;br /&gt;“Bacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab, dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mampu mencegah –pelakunya- dari berbuat keji dan munkar, dan dzikir kepada Allah itu perintah yang besar. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”&lt;br /&gt;Bahkan ada terminal ruhani yang sifatnya setiap waktu dan setiap tempat seperti dengan selalu beristighfar minta pengampunan Allah swt.&lt;br /&gt;Seluruh rangkaian ibadah dalam Islam adalah dalam rangka mengendalikan kekurangan diri, menghapus segala dosa dan kesalahan, memenuhi kepuasan spiritual dan keimanan dan meningkatkan derajat manusia. Meningkatkan derajat itu bahkan bisa melebihi kemuliaan Malaikat sekali pun, sebagaimana Ath-Thabari menafsirkan surat Al-Isra ayat 70 di atas;&lt;br /&gt;وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا&lt;br /&gt;“Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. Al-Isra:70&lt;br /&gt;قالت الملائكة: يا ربنا إنك أعطيت بني آدم الدنيا يأكلون منها، ويتنعَّمون، ولم تعطنا ذلك، فأعطناه في الآخرة، فقال: وعزّتي لا أجعل ذرّية من خلقت بيدي، كمن قلت له كن فكان&lt;br /&gt;“Malaikat mengadu, Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengkaruniai anak keturunan Adam dunia, mereka memakan di dalamnya, mereka bersenang-senang di dalamnya, sedangkan kami tidak Engkau beri itu semua, maka karuniakan kami itu di akhirat. Maka Allah swt. berfirman: “Demi kemuliann-Ku, saya tidak akan menjadikan keturunan orang yang Aku ciptakan ia dengan kedua Tanganku sendiri, sebagaimana seperti orang yang Aku berkata kepadanya “Ada, maka ia ada” –itu seperti kalian wahai Malaikat-” (Tafsir At-Thabari, hal 501, juz 30 bab 70)&lt;br /&gt;Akan tetapi sebaliknya, jika manusia terkalahkan dengan sifat dasar kelemahan yang ada pada dirinya, ia akan lebih hina dibanding binatang ternak tak berakal sekalipun. Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)&lt;br /&gt;“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” Al-A’raf:179&lt;br /&gt;Dengan mampu mengendalikan kelemahan dan terus berupaya menjadi manusia yang mulia, maka manusia mampu memainkan peran yang mulia di mata Allah swt., peran sebagai Khalifatullah Fil Ard. Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً&lt;br /&gt;“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Al-Baqarah:30&lt;br /&gt;Menjadi manusia mulia adalah dengan menyeimbangkan unsur materi dan unsur ruhani yang ada pada diri kita, serta dengan usaha mujahadah dalam setiap waktu, momentum dan tempat untuk mampu mengendalikan dan mengalahkan kelemahan diri. Allahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/menjadi-manusia-mulia/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;                                         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-5262974762977885587?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/5262974762977885587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=5262974762977885587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5262974762977885587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5262974762977885587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2011/02/menjadi-manusia-mulia.html' title='Menjadi Manusia Mulia'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6191148752681423349</id><published>2010-10-25T22:07:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T22:16:21.923-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Bahagiakan Hidup Dengan Iman</title><content type='html'>Makna Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Iman secara bahasa adalah kebalikan dari Kufur; yaitu pengakuan yang terpatri dalam hati sementara kufur adalah ketiadaan pengakuan.&lt;br /&gt;Adapun iman secara syara’ adalah Membenarkan dalam hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan.&lt;br /&gt;Dari definisi dapat dipahami bahwa iman adalah  tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan dalam berbagai perbuatan. Karena itu Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan yang sama dalam satu keyakinan, maka orang-orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, di setiap ucapannya dan segala tindakannya sama.  Sebagaimana orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. atau juga orang yang pandangan hidup yang jelas dan sikap hidup yang teguh tanpa terombang-ambing oleh silaunya kehidupan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Pembagian Iman; Iman ada dua macam&lt;br /&gt;1. Iman yang Hak; yaitu iman yang ditujukan kepada Allah, Rasul, kitab-kitab, malaikat, yaumil Akhir dan takdir, senantiasa mengarahkan hidupnya karena Allah dan sesuai dengan keyakinannya.&lt;br /&gt;2. Iman yang Batil; yaitu iman yang ditujukan kepada selain Allah, tidak sesuai dengan syariat Allah, beriman kepada dukun, sihir, ahli nujum (peramal) dan lain sebagainya, sebagaimana mereka juga yang senantiasa berpegang teguh pada keyakinan yang salah dan tidak mau menerima kebenaran yang diterima.&lt;br /&gt;Iman adalah cara Allah memelihara jati diri manusia dan memberikan kebahagiaan hakiki.&lt;br /&gt;Jika dipahami dengan seksama ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits nabi saw, maka akan ditemukan pentingnya iman pada diri setiap insan dalam menjalani hidupnya di muka bumi ini. Dengan iman maka hidup seseorang akan memiliki nilai, makna dan jati diri yang mulia di sisi Allah, bahkan dengan itulah manusia mendapatkan kebahagiaannya yang hakiki.&lt;br /&gt;Seseorang boleh berbangga dan merasa bahagia pada saat memiliki kekayaan, harta berlimpah, rumah mewah, tanah yang luas, jabatan yang tinggi atau umur yang panjang namun harus disadari itu semua merupakan kebahagiaan nisbi yang terbatas pada kehidupan duniawi belaka, apalagi jika tidak dilandasi dengan iman maka segala kenikmatan tersebut akan berbuah malapetaka. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan”. (Ali Imran:178)&lt;br /&gt;Allah juga berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan (kesenangan berupa kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan mereka) orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Akan tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (Ali Imran:196-198)&lt;br /&gt;Tanpa iman hidup manusia akan hampa, tidak memiliki nilai dan jati diri di sisi Allah dan bahkan tidak berbeda dengan makhluk lain seperti binatang, bahkan lebih rendah dari binatang.&lt;br /&gt;Marilah kita lihat beberapa ayat Allah tentang hakikat iman yang dapat memberikan setiap insan menggapai kemuliaan dan jati diri yang terbaik di sisi Allah.&lt;br /&gt;1. Manusia selalu dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman yang tidak akan mengalaminya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al-Asr:1-3)&lt;br /&gt;2. Manusia adalah makhluk sempurna, namun kesempurnaannya akan dapat jatuh dan hina jika tidak dipertahankan dengan keimanan. Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (At-Tiin:4-6)&lt;br /&gt;3. Manusia yang beriman senantiasa mendapat kehidupan yang baik dan sejahtera serta ganjaran berlimpah di sisi Allah. Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (An-Nahl:97)&lt;br /&gt;4. Manusia yang beriman, umurnya senantiasa dilimpahi keberkahan dan mendapat rahmat sepanjang hidupnya. Nabi saw bersabda:&lt;br /&gt;“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya”. (Tirmidzi)&lt;br /&gt;Sementara itu, manusia tanpa iman akan mengalami kerugian besar, baik di dunia maupun di akhirat, bahkan Allah SWT mentamtsilkan orang-orang kafir dengan berbagai tamtsil yang sangat buruk.&lt;br /&gt;1. Manusia tanpa iman, ibarat binatang hina bahkan lebih hina dari itu. Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, Atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (Al-Furqan:43-44)&lt;br /&gt;2. Manusia tanpa iman, segala perbuatannya bak fatamorgana yang akan hampa dan tanpa nilai yang berharga di sisi Allah. Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita Malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezhaliman”. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa. Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (Al-Furqan:21-23)&lt;br /&gt;Dan Allah juga berfirman:&lt;br /&gt;“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisi-Nya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”. (An-Nuur:39)&lt;br /&gt;3. Manusia tanpa iman, kehidupannya bak laba-laba yang membuat sarang (jaring) sebagai tempat tinggal yang mudah dihancurkan. Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”. (Al-Ankabut:41)&lt;br /&gt;4. Manusia tanpa iman, kehidupannya bak anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (Al-A’raf:176)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/bahagiakan-hidup-dengan-iman/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6191148752681423349?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6191148752681423349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6191148752681423349' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6191148752681423349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6191148752681423349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/10/bahagiakan-hidup-dengan-iman.html' title='Bahagiakan Hidup Dengan Iman'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-4222484580766459065</id><published>2010-10-12T03:28:00.000-07:00</published><updated>2010-10-12T03:39:53.576-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hidup menjadi bermakna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pandangan hidup'/><title type='text'>Hidup Menjadi Bermakna</title><content type='html'>Hidup menjadi bermakna sangat erat hubungannya dengan pandangan hidup yang dianut. Jika seseorang memiliki pandangan hidup (way of life) yang benar, maka peluang untuk membuat makna dalam hidupnya sangat terbuka. Sebaliknya pandangan hidup yang keliru akan membuat keliru juga dalam mengambil keputusan yang akan berakhir bukan saja hidupnya menjadi kurang atau bahkan tidak bermakna, tetapi ada kemungkinan justeru merusak, merusak dirinya dan merusak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Manusia adalah makhluk psikologis yang menganut suatu makna. Dalam psikologi komunikasi ada ungkapan world don’t mean, people mean; kata-kata itu tak memiliki makna, manusialah yang memberi makna. Manusia adalah makhluk yang mampu memberi makna terhadap obyek. Obyek yang sama mungkin diberi makna berbeda-beda oleh orang yang berbeda. Senyum biasanya dimaknai sebagai keramahan, orang yang sedang sakit hati kepada seseorang, maka senyuman orang itu bisa dimaknai sebagai penghinaan atau ngeledek. Senyuman ibu tiri sering dimaknai buruk oleh anak tiri, berbeda dengan persepsi anak kandungnya. Senyuman yang sama berdampak menyejukkan bagi seseorang, dan mungkin berdampak menyakitkan bagi seseorang yang lain. Apa makna sesuatu bergantung kepada persepsi tentang fungsi dari sesuatu itu. Mata dipandang bermakna jika berfungsi untuk melihat, telinga dipandang bermakna jika berfungsi untuk mendengar, mobil dipandang bermakna jika berfungsi sebagai kendaraan, suami dipandang bermakna oleh isterinya jika ‘berfungsi’ sebagai suami, presiden dipandang bermakna oleh rakyat jika berfungsi sebagai pemimpin. Begitulah seterusnya segala sesuatu, tingkat bermaknanya bergantung kepada tingkat fungsionilnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia hidup di muka bumi memiliki berbagai fungsi, bagi dirinya, bagi keluarganya, bagi masyarakatnya, bagi bangsanya, bagi dunia dan bagi alam sekitarnya. Ada orang yang merasa dirinya bermakna tetapi tidak dipandang bermakna oleh orang lain, sebaliknya ada orang yang merasa dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, tetapi orang lain sangat menghormatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang tinggal berada dalam suatu lingkungan dalam waktu yang lama, tetapi kehadirannya tidak berpengaruh apa-apa bagi lingkungan masyarakatrnya maka ia tidak dipandang bermakna, hadirnya tidak membuat genap, dan absennya tidak membuat ganjil. Sebaliknya ada orang yang hanya melintas sebentar dalam kehidupan masyarakat, tetapi karena kehadirannya membawa perobahan besar kepada tatanan masyarakat maka sepeninggal orang tersebut namanya masih selalu disebut, gagasannya masih selalu didiskusikan, pendapatnya masih selalu dirujuk orang. Waktu yang sebentar tetapi fungsional dalam membawa perubahan, maka kehadiran sebentar itu dipandang sangat bermakna, sehingga mungkin nama orang itu diabadikan dalam nama jalan atau gedung, atau bahkan banyak bayi lahir yang kemudian diberi nama dengan nama orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup menjadi bermakna sangat erat hubungannya dengan pandangan hidup yang dianut. Jika seseorang memiliki pandangan hidup (way of life) yang benar, maka peluang untuk membuat makna dalam hidupnya sangat terbuka. Sebaliknya pandangan hidup yang keliru akan membuat keliru juga dalam mengambil keputusan yang akan berakhir bukan saja hidupnya menjadi kurang atau bahkan tidak bermakna, tetapi ada kemungkinan justeru merusak, merusak dirinya dan merusak orang lain. Pandangan hidup dipandu oleh konsep budaya dan oleh keyakinan agama. Budaya yang tinggi akan melahirkan makna penting dan besar, budaya yang rendah akan melahirkan makna yang rendah pula. Keyakinan agama yang lurus akan melahirkan kehidupan yang benar-benar bermakna, sementara akidah agama yang keliru atau sesat akan menyesatkan penganutnya pula dan berujung pada kehadiran yang tak bermakna atau bahkan merusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2009/08/hidup-menjadi-bermakna.html"&gt; Mubarok Institute&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-4222484580766459065?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/4222484580766459065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=4222484580766459065' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/4222484580766459065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/4222484580766459065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/10/hidup-menjadi-bermakna.html' title='Hidup Menjadi Bermakna'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-112167236912639995</id><published>2010-09-05T00:44:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T00:54:44.489-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taubatan nashuha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><title type='text'>Mempertahankan Pencapaian Taubatan Nashuha</title><content type='html'>Selama bulan puasa, sekian banyak aktivitas positif yang kita lakukan. Sekian banyak pula kebiasaan lama yang kita tinggalkan. Kesadaran akan kesalahan dan dosa pun telah kita ‘bisikan’ kepada Allah, diserta dengan tekad untuk tidak mengulanginya. Itu semua dalam rangka menyucikan dan mengembangkan daya-daya positif kita sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.&lt;br /&gt;Banyak pelajaran yang kita raih dari Ramadhan. Ia telah mengajar kita dan kita pun telah buktikan, bahwa apa yang pada mulanya terasa berat, dari hari ke hari semakin ringan dan ringan, hingga tak lagi terasa berat.&lt;br /&gt;Melalui puasa juga kita buktikan nafsu bagaikan bayi. Memang pada mulanya ia meronta ketika akan disapih, tetapi jika ibu berkeras, pada akhirnya sang bayi menerima lalu melupakan tuntunannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Puasa juga membuktikan bahwa jiwa kita setelah berhasil menahan tuntutan nafsu-jiwa kita itu-memperoleh kenikmatan ruhani yang amat menyenangkan melebihi kesenangan dan kenikmatan jasmani. Memang demikian itulah jiwa manusia sehingga anak-anak dibawah umur pun merasakannya, sampai-sampai tidak jarang mereka tetap berkeras untuk berpuasa kendati ibu bapaknya melarang.&lt;br /&gt;Selama Ramadhan kita merasa telah menemukan kembali fitrah kita yang merupakan potensi spiritualitas yang dapat mengantar manusia menyadari kesalahannya dan mengakuinya serta mendorongnya berhubungan dengan Zat Yang Maha Tinggi itu.&lt;br /&gt;Kegiatan positif yang selama ini kita lakukan, bahkan fitrah yang kita temukan kembali itu harus diasah dan diasuh serta dikembangkan agar tidak mereduksi kemanusiaanya dan tidak menyia-nyiakan potensinya.&lt;br /&gt;Janga mengeluhkan buruknya lingkungan atau menjadikannya dalih. Tetapi ciptakan lingkungan baru yang sehat. Baca dan tontonlah yang bermanfaat. Pilihlah teman sejawat yang mau menegur, dan membimbing. Tinggalkan keburukan dan tingkatkan amal serta pengabdian. Tidak harus yang besar, yang kecilpun jadilah. Berpagi-pagi Rasul Saw mengajarkan bahwa sedikit tetapi bersinambung lebih disukai Allah, dari pada banyak hanya sesekali. Tidak usah amalan sunah yang sulit. Menyingkirkan secuil sampah, bersedekah sebiji buah, bahkan senyum pun jadilah. Sebarkan salam/kedamaian kepada yang dikenal dan tidak dikenal. Ucapkan Subhanallah saat anda menemukan keindahan, Alhamdulillah saat merasakan nikmat, Allahu Akbar ketika bertemu dengan kebesaran Allah, demikian seterusnya. Islam tidak menuntut banyak, bahkan tidak membebani yang berat. Karena memang Allah swt tidak menghendaki sedikit kesulitan pun bagi hamba-hambanya bahkan sebaliknya menghendaki kemudahan [QS 2:185 dan QS 5:6]. Rasul Saw pun berkali-kali mengingatkan perlunya berkualitas ketimbang yang berat.&lt;br /&gt;Itu sedikit dari banyak kiat yang dapat kita lakukan mempertahan dan meningkatkan kualitas pribadi kita dan menjadikan taubat kita di bulan Ramadhan itu merupakan Taubatan Nashuha. Pernahkan anda tahu ada susu yang telah kembali ke tempatnya sebelum diperah? Tidak bukan? Demikian itulah dosa yang telah dikerjakan, tidak akan terulang kembali, layaknya susu yang telah diperah itu. Demikian makna Taubatan Nashuha. Wa Allah A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Bersama M.Quraish Shihab&lt;br /&gt;        &lt;a href="http://quraishshihab.blogdetik.com/"&gt;http://quraishshihab.blogdetik.com&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-112167236912639995?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/112167236912639995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=112167236912639995' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/112167236912639995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/112167236912639995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/09/mempertahankan-pencapaian-taubatan.html' title='Mempertahankan Pencapaian Taubatan Nashuha'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-5633241272122513094</id><published>2010-09-01T02:18:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T02:29:01.715-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebajikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramadhan'/><title type='text'>Berlomba dalam Kebajikan</title><content type='html'>Bulan Ramadhan diibaratkan sebagai tanah yang subur. Apapun yang Anda tabur akan tumbuh subur, kendati Anda tak menaburi lahan dengan pupuk, atau benih yang Anda tanam kurang berkualitas. Karena suburnya, sehingga kendati Anda tidak menabur, lahan itu pun akan dipenuhi alang-alang.&lt;br /&gt;Ada juga yang mengibaratkan bulan suci itu sebagai bulan sale [obral] yang supermarket-nya terdapat di mana-mana, serta terbuka sepanjang saat menawarkan aneka komuditi dengan harga yang sangat sangat murah. Yang dibutuhkan untuk meraihnya hanya melangkah satu dua langkah. bahkan menampakkan keinginan pun – walau tak melangkah – dapat mengundang pemilik supermarket mengirimkan sekian banyak hadiah untuk merangsang Anda melangkah ke sana. Dalam bahasa agama, keinginan tersebut dinamai niat yang tulus untuk berbuat kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Banyak alternatif kebajikan yang dapat dilakukan di bulan suci ini. Anda tak perlu terlalu sedih, jika salah satu yang inginkan tak dapat Anda lakukan oleh satu dan lain hal. Saudara perempuanku! Anda tidak perlu kecewa tidak berpuasa atau mengaji karena tamu bulanan mengunjungi Anda!&lt;br /&gt;Namun demikian kendati banyak lapangan kebajikan mengamalkan apa yang disukai Allah dan memilih prioritas amalan, adalah sesuatu yang sangat dianjurkan walau ini bukan berarti hanya berkonsenterasi penuh dalam amalan tersebut. Dalam berinteraksi dengan Allah, meski semua menguntungkan, tidak ada istilah high atau low risk – selama memenuhi kreteria yang ditetapkan-Nya - namun bisa jadi ada situasi yang menjadikan jenis amalan tertentu lebih menguntungkan saat ini ketimbang saat lain. Di sinilah diperlukan kearifan dan perlombaan untuk saling mendahului.&lt;br /&gt;Perlombaan/persaingan dalam kebajikan berbeda dengan persaingan dalam dunia bisnis. Karena apa yang terhampar di alam raya ini sangat terbatas dibanding dengan apa yang terdapat di sisi Allah. Bahkan bisa jadi dalam dunia bisnis yang diperebutkan hanya satu tanpa ganti, apalagi jika pandangan hanya tertuju kepada sekarang dan di sini. Ini berbeda dengan berinteraksi dengan Allah yang bukan saja lapangan pengabdian kepada-Nya tidak terbatas. Karena pandangan mestinya tidak hanya di sini dan sekarang tetapi juga nanti dan masa datang di akhirat sana. “Apa yang di sisi kamu akan habis/lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [QS 16: 96].&lt;br /&gt;Allah memerintahkan berlomba dan bersaing dalam kebajikan [QS 2: 14]. Setelah memerhatikan sekian banyak tuntunan agama, para ulama merumuskan bahwa La Itsâra fi al-qurbah / Tidak perlu mengalah dalam hal upaya mendekatkan diri kepada Allah. Ini karena lapangan pengabdian kepada-Nya amat luas tidak terbatas. Sehingga jika Anda mempertahankan upaya pengabdian yang Anda pilih, maka pihak lain, seandainya tidak memperoleh kesempatan yang sama, masih dapat menemukan lapangan lain yang tidak kurang nilainya dengan apa yang Anda lakukan. Memang jika lapangan pengabdian tersebut oleh satu dan lain hal menjadi terbatas, sedang ia amat dibutuhkan pihak lain, maka di sini akhlak Islam menganjukan untuk memberi kesempatan atau mengalah kepadanya. Ketika itu yang mengalah akan dianugerahi - tidak kurang dari apa yang mestinya dapat ia peroleh, atau apa yang diperoleh oleh siapa yang diberinya kesempatan itu. Dan dalam saat yang sama, yang memberi dapat melakukan pengabdian lain yang tidak kurang nilainya dari apa yang direncanakannya semula. Demikian, Wa Allah A’lam. « []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Bersama M.Quraish Shihab&lt;br /&gt;         &lt;a href="http://quraishshihab.blogdetik.com/2010/08/13/berlomba-dalam-kebajikan/"&gt;http://quraishshihab.blogdetik.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-5633241272122513094?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/5633241272122513094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=5633241272122513094' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5633241272122513094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5633241272122513094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/09/berlomba-dalam-kebajikan.html' title='Berlomba dalam Kebajikan'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-5182685619954251061</id><published>2010-08-21T03:03:00.001-07:00</published><updated>2010-08-21T03:41:16.807-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Puasa Dan Al-Quran</title><content type='html'>Oleh :Dr.Attabiq Luthfi,MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al-Baqarah: 185)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ayat ini adalah ayat ketiga dari rangkaian ayat puasa yang berjumlah 4 ayat dan tersusun secara runtut dalam satu surah, yaitu surah Al-Baqarah ayat 183-187 (dikurangi ayat 186). Ayat ini menjelaskan waktu kewajiban berpuasa yaitu bulan Ramadhan yang belum disebutkan pada dua ayat sebelumnya. Sekaligus ayat ini menghapus keringanan tidak berpuasa bagi orang yang muqim dan sehat yang disebutkan pada ayat sebelumnya. Sehingga siapapun yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, kecuali bagi yang sakit atau dalam perjalanan ia diberi keringanan untuk tidak berpuasa, tetapi harus menggantinya pada hari-hari yang lain sebanyak hari yang ditinggalkannya itu. Namun tetap kaidah dasar syariat Islam adalah Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.&lt;br /&gt;Makna yang patut digali dari ayat ini adalah keterkaitan yang erat antara puasa dan Al-Qur’an. Tercatat hanya ayat ini yang menggandingkan puasa dengan turunnya Al-Qur’an; Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Ibnu Katsir menyebutkan korelasi ini dalam tafsirnya: ”Allah memuji Ramadhan sebagai bulan yang dipilih untuk diturunkan kitab suciNya yang agung. Bahkan seluruh kitab-kitab samawi yang lain juga diturunkan di bulan Ramadhan seperti yang terungkap dalam riwayat imam Ahmad bahwa Rasulullah saw bersabda: “Shahifah Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada hari (malam) keenam bulan Ramadhan, Injil diturunkan pada hari (malam) ketiga belas bulan Ramadhan, Zabur diturunkan pada malam kedelapan belas Ramadhan, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada malam kedua puluh empat bulan Ramadhan”. (Musnad Ahmad, 4/107)&lt;br /&gt;Namun menurut Asy-Syaukani, dalam konteks penurunan Al-Qur’an, ayat ini masih bersifat umum karena tidak menjelaskan waktu yang pasti tentang turunnya Al-Qur’an. Surah Al-Qadar ayat 1 dan surah Ad-Dukhan ayat 3 itulah yang menjadi penjelas bagi ayat ini: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam yang penuh dengan keberkahan, yaitu malam Lailatul Qadar”.&lt;br /&gt;Penjelasan inipun sebenarnya masih memerlukan penjelasan lebih rinci, karena kepastian tanggal turunnya Al-Qur’an masih belum disebutkan. Spesifikasi yang disebutkan Al-Qur’an hanya terbatas pada bulan diturunkannya Al-Qur’an yaitu bulan Ramadhan yang dispesifikasi kembali dengan malam Lailatul Qadar. Tapi kapan itu terjadi masih menjadi perdebatan hangat diantara para ulama. Namun mereka sepakat bahwa maksud turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan adalah turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. Sehingga penurunan Al-Qur’an menurut Imam Suyuthi terjadi dalam dua tahap, yaitu pertama, turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfudz ke langit dunia secara sekaligus dan kedua, turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah secara berperiodik. Untuk memahami kedua bentuk turunnya Al-Qur’an tersebut, Al-Qur’an menggunakan redaksi yang berbeda. Redaksi Anzala (Inzal) untuk menunjukkan turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfudz ke Langit dunia dan redaksi Nazzala (Tanzil) untuk menunjukkan penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur.&lt;br /&gt;Dalam pembahasan tanggal turunnya Al-Qur’an, terdapat beberapa riwayat yang bisa dijadikan acuan. Riwayat Ibnu Abbas seperti yang dinukil oleh Ibnu katsir menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam pertengahan bulan Ramadhan ke Baitul Izzah di Langit dunia kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada nabi Muhammad dalam kurun waktu 20 tahun. Secara lebih lengkap imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Shahifah Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada hari (malam) keenam bulan Ramadhan, Injil diturunkan pada hari (malam) ketiga belas bulan Ramadhan, Zabur diturunkan pada malam kedelapan belas Ramadhan, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada malam kedua puluh empat bulan Ramadhan”. Dalam riwayat Jabir bin Abdullah dibedakan bahwa Zabur diturunkan pada malam kedua belas. (Musnad Ahmad, 4/107)&lt;br /&gt;Jika riwayat Imam Ahmad dijadikan acuan, maka akan lebih menepati dengan kemungkinan besar terjadinya malam Lailatul Qadar yang banyak disebutkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya. Misalnya: ”Carilah malam Lailatul Qadar itu di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”. Atau ”Carilah malam Lailatul Qadar itu di tanggal ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”. (H.R. Bukhari).&lt;br /&gt;Korelasi kedua yang bisa ditemukan antara Al-Qur’an dan puasa adalah bahwa keduanya merupakan sarana (wasilah) mendapatkan syafaat kubro di hari kiamat nanti. Tersebut dalam hadits Abdullah bin Umar yg diriwayatkan oleh Imam Ahmad (13/375) bahwa Rasulullah saw bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an keduanya akan memberi syafaat kepada hamba Allah pada hari kiamat. Puasa berkata: ya Allah, aku menghalanginya dari makan, minum dan syahwat di siang hari, maka berilah syafaat untuknya karena aku. Al-Qur’an pun berkata: ya Rabbi, aku telah telah menahannya dari tidur di malam hari (karena membaca aku), maka berilah ia syafaat karena aku”. Maka akhirnya keduanya menjadi wasilah untuk medapatkan syafaat Allah swt.&lt;br /&gt;Jika korelasi ini difahami dengan baik, maka pemaknaan yang luhur dari bulan Ramadhan adalah Syahrul Qur’an; bulan berinteraksi dan bergaul dengan Al-Qur’an sebaik dan seintens mungkin selain dari makna syahrus shobr (bulan melatih bersabar), syahrul infaq (bulan berinfak), syahrul maghfiroh (bulan ampunan), syahrut tarbiyah (bulan pembinaan), syahrul ibadah (bulan peningkatan ibadah), syahrul jihad (bulan perjuangan) dan lain sebagainya. Namun kenyataannya, makna Ramadhan sebagai syahrul Qur’an masih belum teraplikasikan dengan baik. Padahal pilihan Allah tentang Ramadhan sebagai bulan kewajiban puasa dan bulan penurunan Al-Qur’an tentu tidak lepas dari makna ini. Justru keberkahan Al-Qur’an yang dijanjikan oleh Allah akan lebih terasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini (syahrun mubarak). “Inilah kitab penuh berkah yang Kami turunkan kepada engkau (Muhammad) agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan menjadikannya sebagai bahan peringatan bagi orang-orang yang berakal”. (Shad:29)&lt;br /&gt;Saatnya momentum Ramadhan dijadikan momentum untuk memperbaiki dan meningkatkan keberAl-Qur’anan kita. Bukankah ukuran kebaikan seseorang tergantung dengan tingkat interaksinya dengan Al-Qur’an seperti yang dinyatakan dalam hadits Ibnu Mas’ud, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. Mempelajari dan mengajarkan disini tidak terbatas dalam konteks bacaan, tetapi lebih dari itu: mempelajari dan mengajarkan nilai dan ajaran Al-Qur’an secara utuh dan menyeluruh. Bahkan posisi dan kedudukan seseorang di dalam syurga juga terkait erat dengan tingkat keberAl-Qur’anannya. Karena pada hari kiamat nanti setiap orang akan diminta untuk membacakan Al-Qur’an: “Bacalah dan terus tingkatkan seperti kamu membaca di dunia, karena tingkat dan kedudukanmu di syurga ditentukan oleh kualitas dan kuantitas interaksi kamu dengan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Tidak berlebihan untuk kita mulai membangun pribadi qur’ani yang akan berlanjut kepada membangun keluarga qur’ani yang mudah-mudahan dari sini akan lahir masyarakat qur’ani dan jayl qur’an (generasi qur’an) yang mutamayyiz dan farid “unik dan berbeda” karena mereka adalah kekasih Allah dan orang pilihannya. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya bagi Allah kekasihnya dari manusia. Mereka adalah para pembawa Al-Qur’an. Merekalah kekasih Allah dan orang pilihannNya”. (H.R. Al-Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2007/puasa-dan-al-quran/"&gt;dakawatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-5182685619954251061?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/5182685619954251061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=5182685619954251061' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5182685619954251061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5182685619954251061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-al-quran.html' title='Puasa Dan Al-Quran'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-741142933926863007</id><published>2010-08-14T02:13:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T02:22:38.191-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah SAW'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><title type='text'>Piala Ramadhan,Siapa Merebutkan ?</title><content type='html'>dakwatuna.com – Apa yang dirasakan oleh juara Euro 2008, Tim Spanyol, ketika ia dipastikan menjadi juara dalam event besar itu? Tentu luapan kegembiraan dan suka cita menyatu dalam diri mereka. Tidak hanya pemain, pelatih, dan tim saja, bahkan semua warga negara Spanyol menyatu dalam kegembiraan itu. Dunia memujinya, publik menyanjungnya. Spanyol jadi buah bibir.&lt;br /&gt;Keberhasilan itu hasil jerih perjuangan panjang dan melelahkan. Penantian selama empat puluh tiga tahun untuk merebut kembali predikat sang juara. Penuh kesungguhan dan kedisiplinan.&lt;br /&gt;Bagaimana jika piala itu datangnya dari Tuhannya manusia?. Bagaimana jika predikat juara itu disematkan oleh Pemilik alam raya ini?. Bagaimana jika yang menyanjung itu adalah Penentu kehidupan semua makhluk?.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Secara fitriyah dan imaniyah, pasti orang akan berebut piala dan predikat juara dari Tuhannya. Tentu jauh lebih mulia, istimewa dibandingkan dengan sanjungan manusia.&lt;br /&gt;Ya, itulah peraih sukses Ramadhan. Orang yang mampu melewati event besar ini sampai finish dengan kesungguhan. Ia meraih predikat taqwa, sebagai identitas tertinggi manusia. Ia meraih piala Ar Royyan, surga spesial bagi shaaimin dan shaaimat.&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).&lt;br /&gt;“Sesungguhnya didalam surga ada pintu bernama Royyan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka yang shaum Ramadhan.” (Muttafaq alaih)&lt;br /&gt;Bahkan tidak hanya itu, orang yang sukses Ramadhan, mengisinya dengan kesungguhan, akan meraih berbagai keistimewaan dan kemuliaan.&lt;br /&gt;Karena Ramadhan menjanjikan: Kelipatan pahala, pengkabulan do’a, pemudahan amal shaleh, penghapusan dosa, surga dibuka lebar-lebar, neraka ditutup rapat-rapat, setan-setan dibelenggu. Dan di dalamnya ada malam lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan senilai usia rata-rata manusia, bagi yang meraihnya. Subhanallah!&lt;br /&gt;Nabi saw. bersabda: “Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara setan-setan diikat.” (HR. Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;“Setiap amal anak Adam -selama Ramadhan- dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah swt. berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberikan pahala untuknya.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;“Orang yang berpuasa doanya tidak ditolak, terutama menjelang berbuka.” (HR. Ibn Majah, sanad hadits ini sahih).&lt;br /&gt;Yang lebih penting untuk diperhatikan di sini adalah, persiapan dan pengkondisian sebelum Ramadhan datang.&lt;br /&gt;Seperti Tim Spanyol, yang harus berjibaku sepanjang waktu mempersiapkan diri menghadapi musim pertandingan.&lt;br /&gt;Begitu juga dengan persiapan Ramadhan. Apa yang perlu dipersiapkan?&lt;br /&gt;Persiapan fikriyah atau pemahaman tentang Ramadhan. Persiapan ruhiyah atau ibadah ritual. Persiapan maddiyah atau fisik dan material.&lt;br /&gt;Bulan Sya’ban telah menjelang. Bulan di mana Rasulullah saw. meningkatkan aktivitas ibadah. Bahkan diriwayatkan beliau hampir-hampir shaum sunnah sebulan penuh.&lt;br /&gt;Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud meriwayatkan, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi saw.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Engkau melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang. Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.”&lt;br /&gt;Dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban.” Imam Bukhari.&lt;br /&gt;Subhanallah, kondisi ruhiyah, fikriyah dan maddiyah sudah dipersiapkan sebulan, bahkan dua bulan sebelum Ramadhan menjelang. Sehingga ketika Ramadhan datang, kita sudah terbiasa, terkondisikan dengan kesungguhan dan ketaatan. Dan karena itu kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan Ramadhan akan dapat diraih. Keluar Ramadhan meraih predikat muttaqin dan piala Jannatur Rayyan, insya Allah. Allahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2008/piala-ramadhan-siapa-merebutkan/"&gt; dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-741142933926863007?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/741142933926863007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=741142933926863007' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/741142933926863007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/741142933926863007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/08/piala-ramadhansiapa-merebutkan.html' title='Piala Ramadhan,Siapa Merebutkan ?'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-5424407869435291325</id><published>2010-07-27T00:43:00.000-07:00</published><updated>2010-07-27T00:59:41.099-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ujian hidup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah SAW'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><title type='text'>Jangan Lari dari Ujian Hidup</title><content type='html'>إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ&lt;br /&gt;dakwatuna.com – “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.&lt;br /&gt;Perlu Kacamata Positif&lt;br /&gt;Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.&lt;br /&gt;Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”&lt;br /&gt;Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu. Sebab, ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup. Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran. Bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)&lt;br /&gt;Hadits di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Mardhotillah. Keridhaan Allah swt. sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.&lt;br /&gt;Yang Manis Terasa Lebih Manis&lt;br /&gt;Kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran. Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih. Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.&lt;br /&gt;Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit. Menyakitkan. Tidak menyenangkan. Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis. Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis. Yang manis terasa lebih manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.&lt;br /&gt;Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita. Sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan. Adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.&lt;br /&gt;“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali ‘Imran: 140)&lt;br /&gt;Begitulah kita diajarkan oleh Allah swt. untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.&lt;br /&gt;Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus. Sensitif. Kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.&lt;br /&gt;Bersama Kesukaran Selalu Ada Kemudahan&lt;br /&gt;Hadits di atas juga berbicara tentang orang-orang yang salah dalam menyikapi Kesulitan hidup yang membelenggunya. Tidak dikit orang yang menutup nalar sehatnya. Setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya. Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi. Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.&lt;br /&gt;Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan. Bentuk bisa kemarahan dan berburuk sangka. Di hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi di atas, bukan hal yang mustahil seseorang akan berburuk sangka terhadap cobaan yang diberikan Allah swt. dan marah kepada Allah swt. “Allah tidak adil!” begitu gugatnya. Na’udzubillah! Orang yang seperti ini, ia bukan hanya tidak akan pernah beranjak dari kesulitan hidup, ia justru tengah membuka pintu kekafiran bagi dirinya dan kemurkaan Allah swt.&lt;br /&gt;Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan mereka tidak sampai membuat mereka kafir. Mungkin seperti itu kita bisa memaknai hadits singkat Rasulullah saw. ini, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Athabrani)&lt;br /&gt;Tentu seorang mukmin sejati tidak akan tergoyahkan imannya meski cobaan datang bagai hujan badai yang menerpa batu karang. Sebab, seorang mukmin sejati berkeyakinan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Setelah hujan akan muncul pelangi. Itu janji Allah swt. yang diulang-ulang di dalam surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”&lt;br /&gt;Jadi, jangan lari dari ujian hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/jangan-lari-dari-ujian-hidup/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-5424407869435291325?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/5424407869435291325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=5424407869435291325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5424407869435291325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5424407869435291325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/07/jangan-lari-dari-ujian-hidup.html' title='Jangan Lari dari Ujian Hidup'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-23130793350367018</id><published>2010-07-16T03:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T03:39:33.146-07:00</updated><title type='text'>Silaturahmi dalam Pandangan Islam</title><content type='html'>Kalimat silaturahmi berasal dari bahasa Arab, tersusun dari dua kata silah yaitu, alaqah (hubungan) dan kata al-rahmi yaitu, Al-Qarabah (kerabat) atau mustauda Al-Janin artinya “rahim atau peranakan”. (Al-Munawwir, 1638, 1668) kata Al-Rahim seakar dengan kata Al-Rahmah dari kata rahima “menyayangi-mengasihi”. Jadi secara harfiyah Silaturahmi artinya “Menghubungkan tali kekerabatan, menghubungkan kasih sayang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Al-Raghib (ayat 191) mengkaitkan kata rahim dengan rahim Al-marah (rahim seorang perempuan) yaitu tempat bayi di perut ibu. Yang bayi itu punya sifat disayangi pada saat dalam perut dan menyayangi orang lain setelah keluar dari perut ibunya. Dan kata rahim diartikan “kerabat” karena kerabat itu keluar dari satu rahim yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Raghib juga mengutip sabda Nabi, yang isinya menyebutkan, ketika Allah SWT  menciptakan rahim, Ia berfirman, “Aku al-Rahman dan engkau Al-Rahim, aku ambil namamu dari namaku, siapa yang menghubungkan padamu Aku menghubungkannya dan siapa yang memutuskan denganmu Aku memutuskannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memberi isyarat bahwa rahmah-rahim mengandung makna Al-Riqqatu (belas-kasihan) dan al-Ihsân (kedermawanan, kemurahan hati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sejalan dengan pendapat Abdurrahman Faudah (13) yang menyebutkan, “Rahmah adalah belas kasihan dalam hati yang menghendaki keutamaan dan kebaikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan makna di atas, secara harfiyah arti silaturahmi dapat dikatakan pula, menyambungkan kasih-sayang atau kekerabatan yang menghendaki kebaikan. Dan secara istilah makna silaturahmi, antara lain dapat dipahami dari apa yang dikemukakan Al-maraghi (1971, V:93) yang menyebutkan, “Yaitu menyambungkan kebaikan dan menolak sesuatu yang merugikan dengan sekemampuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kalimat silaturahmi merupakan uslub Qur’ani, bahasa Al-Qur’ân, bahasa yang digunakan oleh Rasul Saw. Tentu tidak ada bahasa Arab yang lebih baik kecuali bahasanya Al Quran, bahasanya yang digunakan oleh Nabi, bukan bahasa Arab Ashriyah (modern) bukan pula bahasa Arab Amiyah (bahasa Arab pasar) Alquran telah mengisyaratkan tentang hal itu, antara lain firman Allah SWT, dalam Al-Ra’du 21.&lt;br /&gt;Terhadap lafadz Yashiluna para mufashir, seperti Al-Maraghi (V:93) Mahmud Hijazi (II:228) dan Shawi (II:336) Jalaludin al-Syuyuthi (IV:637) tidak berbeda pendapat, bahwa yang dimaksud adalah yashiluuna arrahmi menyambungkan kekerabatan, kasih sayang yang merupakan haq semua hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kata Arrahmi ditunjukan pula oleh al-Kahfi dalam ayat 81 dengan kalimat Aqrabu rahman lebih dalam kasih sayangnya) Jadi silaturahmi itu bahasa Al Quran. Sementara kalimat silaturahmi yang disabdakan oleh Nabi dan sebagai bahasanya Nabi, banyak kita jumpai dalam hadits-hadits, antara lain: “Asra’ul khaira tsawaaban albirra wa shilatur rahmi.” kebaikan yang paling cepat balasannya, yaitu berbuat kebaikan dan silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan di atas, kata al-rahmi erat kaitannya dengan wanita, yaitu, rahimnya seorang ibu, tempat janin dalam perut seorang wanita. Wanita pada masa Arab Jahili dipandang rendah tidak bernilai, karena itu bayi wanita yang baru lahir dari perut seorang ibu, mereka bunuh. Dan seorang ibu yang ditinggal mati oleh suaminya, dipandang harta pusaka yang dapat diwariskan kepada ahli warisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi yang diperintahkan Allah Swt, tidak dapat dilepaskan dari tugas Rasul untuk melakukan (tazkiyah) pembersihan, yaitu dalam hal ini tazkiyah al-akhlak (Pembersihan prilaku) yang kotor yang dilakukan Arab Jahili, yang memandang wanita tidak benilai Maka untuk itu, Allah dan Rasulnya melarang membunuh anak wanita atau laki-laki, dalam firmannya Al-Anam: 151, dan melarang menjadikan wanita sebagai harta pusaka, dalam firmannya An-Nisa: 19.&lt;br /&gt;Dalam hal berbakti, berbuat kebaikan, menghubungkan tali kekerabatan/silaturahmi, Islam memperhatikan terlebih dahulu kepada wanita. Dengan kata lain silaturahmi mengandung makna “Mengangkat derajat wanita” yang dulu direndahkan oleh orang Arab Jahili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana terungkap dalam beberapa hadits Nabi, antara lain, Khalid bin Ma’dan berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, sesungguhnya Allah mewasiatkanmu (berbuat baik) kepada ibumu (3X) Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya mewasiatkanmu (berbuat baik) kepada bapakmu (2X) kemudian bersabda, Ia wasiatkan kepadamu (berbuat baik) kepada yang lebih dekat lalu pada yang lebih dekat. (Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam keterangan lain dari Abi Ramtsah ia berkata: Aku sampai pada Rasulullah, lalu aku mendengar ia bersabda: Berbuat baiklah kepada ibumu, dan bapakmu dan saudara perempuanmu dan saudara laki-lakimu kemudian kepada yang lebih dekat padamu lalu kepada yang lebih dekat padamu (Shahihain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, diajarkan pula silaturahmi kepada orang yang telah meninggal, yaitu dengan cara menghubungkan kasih sayang kepada saudara orang yang telah mati yang masih hidup. Dalam sebuah hadits Ibnu Hibban dari Abi Burdah dijelaskan, Ash-Shiddiqi (1977, Al-Islam, II:374) membagi silaturahmi kepada dua bagian, silaturahmi umum dan silaturahmi khusus Silaturahmi umum yaitu, silaturahmi kepada siapa saja; seagama datidak seagama, kerabat dan bukan kerabat. Di sini kewajiban yang harus dilakukan diantaranya menghubungi, mengasihi, berlaku tulus, adil, jujur dan berbuat baik dan lain sebagainya yang bersifat kemanusiaan. Silaturahmi ini disebut silaturahmi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi khusus yaitu, silaturahmi kepada kerabat, kepada yang seagama, yaitu dengan cara membantunya dengan harta, dengan tenaga, menolong, menyelesaikan hajatnya, berusaha menolak kemadharatan yang menimpanya, dan berdo’a, dan membimbing agamanya karena takut adzab Allah. Al-Maraghi (V:93) menyebutkan silaturahmi kepada kerabat mu’min, yaitu menghubungkan karena imannya, ihsan, memberi pertolongan, mengasihi, menyampaikan salam, menengok yang sakit, membantu dan memperhatikan haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan:dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. (QS. 17:26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk”. (QS. 13:21)&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan dan membandingkan dua hal di atas (Silaturahmi dan Halal bi halal) Silaturahmi lebih bermakna dari pada halal bi halal. Suatu kegiatan yang mengandung nilai baik, alangkah baiknya jika diberi nama yang baik pula. Tradisi berkumpul, bersalaman, saling memaafkan yang dilakukan sebagian orang di Indonesia setelah Idul Fitri yang suka disebut halal bi halal.(net/jpnn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://www.hariansumutpos.com/2010/05/silaturahmi-dalam-pandangan-islam.html"&gt; Sumut Pos&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-23130793350367018?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/23130793350367018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=23130793350367018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/23130793350367018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/23130793350367018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/07/silaturahmi-dalam-pandangan-islam.html' title='Silaturahmi dalam Pandangan Islam'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-8692288365876561836</id><published>2010-06-23T01:57:00.000-07:00</published><updated>2010-06-23T02:06:30.452-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tersenyum'/><title type='text'>Keutamaan Tersenyum di Hadapan Seorang Muslim</title><content type='html'>Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“[1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan tersenyum dan menampakkan muka manis di hadapan seorang muslim, yang hadits ini semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria“[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menampakkan wajah ceria dan berseri-seri ketika bertemu dengan seorang muslim akan mendapatkan ganjaran pahala seperti pahala bersedekah[3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh sahabat yang mulia, Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di hadapanku“[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menampakkan wajah manis di hadapan seorang muslim akan meyebabkan hatinya merasa senang dan bahagia, dan melakukan perbuatan yang menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu kebaikan dan keutamaan[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Imam adz-Dzahabi menyebutkan faidah penting sehubungan dengan masalah ini, ketika beliau mengomentari ucapan Muhammad bin Nu’man bin Abdussalam, yang mengatakan, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih tekun beribadah melebihi Yahya bin Hammad[6], dan aku mengira dia tidak pernah tertawa”. Imam adz-Dzahabi berkata, “Tertawa yang ringan dan tersenyum lebih utama, dan para ulama yang tidak pernah melakukannya ada dua macam (hukumnya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: (bisa jadi) merupakan kebaikan bagi orang yang meninggalkannya karena adab dan takut kepada Allah, serta sedih atas (kekurangan dan dosa-dosa yang ada pada) dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: (bisa jadi) merupakan celaan (keburukan) bagi orang yang melakukannya (tidak mau tersenyum) karena kedunguan, kesombongan, atau sengaja dibuat-buat. Sebagaimana orang yang banyak tertawa akan direndahkan (diremehkan orang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak diragukan lagi, tertawa pada diri pemuda lebih ringan (dilakukan) dan lebih dimaklumi dibandingkan dengan orang yang sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tersenyum dan menampakkan wajah ceria, maka ini lebih utama dari semua perbuatan tersebut (di atas). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“. Dan Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah akhlak (mulia) dalam Islam, dan kedudukan yang paling tinggi (dalam hal ini) adalah orang yang selalu menangis (karena takut kepada Allah) di malam hari dan selalu tersenyum di siang hari. (Dalam hadits lain) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu“[7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal lain (yang perlu diingatkan) di sini, (yaitu) sepatutnya bagi orang banyak tertawa dan tersenyum untuk menguranginya (agar tidak berlebihan), dan mencela dirinya (dalam hal ini), agar dia tidak dijauhi/dibenci orang lain. Demikian pula sepatutnya bagi orang yang (suka) bermuka masam dan cemberut untuk tersenyum dan memperbaiki tingkah lakunya, serta mencela dirinya karena buruknya tingkah lakunya, maka segala sesuatu yang menyimpang dari (sikap) moderat (tidak berlebihan dan tidak kurang) adalah tercela, dan jiwa manusia mesti sungguh-sungguh dipaksa dan dilatih (untuk melakukan kebaikan)”[8].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-tersenyum-di-hadapan-seorang-muslim.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-8692288365876561836?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/8692288365876561836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=8692288365876561836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/8692288365876561836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/8692288365876561836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/06/keutamaan-tersenyum-di-hadapan-seorang.html' title='Keutamaan Tersenyum di Hadapan Seorang Muslim'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-5277490535948818962</id><published>2010-06-05T17:34:00.000-07:00</published><updated>2010-06-05T18:10:58.352-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='silaturrahmi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><title type='text'>Akhlak Kepada Orang Tua Dan Kerabat</title><content type='html'>rAl Qur'an secara tegas mewajibkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya (Q/17:23). Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan alkhoir, yakni nilai kebaikan yang secara universal diwajibkan oleh Allah SWT. Artinya nilai kebaikan berbakti kepada orang tua itu berlaku sepanjang zaman dan pada seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi bagaimana caranya berbakti sudah termasuk kategori al ma'ruf, yakni nilai kebaikan yang secara sosial diakui oleh masyarakat pada suatu zaman dan suatu lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Dalam hal ini al Qur 'anpun memberi batasan, misalnya seperti yang disebutkan dalam surat al Isra, bahwa seorang anak tidak boleh berkata kasar apalagi menghardik kepada kedua orang tuanya(Q/17:23). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak juga harus menunjukkan sikap berterima kasihnya kepada kedua orang tua yang menjadi sebab kehadirannya di muka bumi. Di mata Allah SWT sikap terima kasih anak kepada orang tuanya dipandang sangat penting, sampai perintah itu disampaikan senafas dengan perintah bersyukur kepadaNya (anisykur li wa liwa lidaika (Q/31:14)). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, kepatuhan seorang anak kepada orang tua dibatasi dengan kepatuhannya kepada Allah SWT. Jika orang tua menyuruh anaknya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Allah SWT, maka sang anak dilarang mematuhi perintah orang tua tersebut, seraya tetap harus menghormatinya secara patut (ma'ruf) sebagai orang tua (Q/ 31:15). Seorang anak, oleh Nabi juga dilarang berperkara secara terbuka dengan orang tuanya di forum pengadilan, karena hubungan anak —orang tua bukan semata-mata hubungan hukum yang mengandung dimensi kontrak sosial melainkan hubungan darah yang bernilai sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu orang tua harus adil dalam memberikan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Diantara kewajiban orang tua kepada anak-anaknya adalah; memberi nama yang baik, menafkahi, mendidik mereka dengan agama (akhlak kehidupan) dan menikahkan jika sudah tiba waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika orang tua sudah meninggal, maka kewajiban anak kepada orang tua adalah (a) melaksanakan wasiatnya, (b) menjaga nama baiknya, (c) meneruskan cita-citanya, (d) meneruskan silaturahmi dengan handai tolannya, (e) memohonkan ampun kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan dengan kerabat, secara umum semangat hubungan baiknya sejalan dengan semangat keharusan berbakti kepada orang tua. Paman, bibi, mertua dan seterusnya harus dideretkan dalam deretan orang tua, saudara misan yang muda dan seterusnya dideret¬kan pada saudara muda atau adik, yang tua dideretkan kepada kakak. Secara spesifik kerabat harus didahulukan dibanding yang lain, misal¬nya jika seseorang mengeluarkan zakat, kemudian diantara kerabatnya ada orang miskin yang layak menerima zakat itu, maka ia harus didahulukan dibanding orang miskin yang bukan kerabat. Semangat etik hubungan kekerabatan diungkapkan oleh Rasulullah dengan kalimat menghormati kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda. (laisa minna man lam yuwagir kabirana wa lam yarham soghirana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2010/01/akhlak-kepada-orang-tua-dan-kerabat.html"&gt;Mubarok Institute &lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-5277490535948818962?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/5277490535948818962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=5277490535948818962' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5277490535948818962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/5277490535948818962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/06/akhlak-kepada-orang-tua-dan-kerabat.html' title='Akhlak Kepada Orang Tua Dan Kerabat'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6431911566272451293</id><published>2010-04-27T19:10:00.000-07:00</published><updated>2010-04-27T19:21:24.835-07:00</updated><title type='text'>Menggapai Kemuliaan Akhlaq</title><content type='html'>dakwatanua.com - Akhlaq menurut ahli  ilmu yang benar-benar ahli dibidangnya yaitu ilmu syar’i yang mulia dan menjadikan kita tidak salah kaprah dalam memahaminya karena pada umumnya banyak orang yang memandang akhlaq hanya sebagai sesuatu yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama manusia saja, padahal akhlaq juga mencakup hubungan manusia dengan Yang Mahatinggi, Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   I. Definisi Akhlaq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa definisi akhlaq antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menurut Ibnu Abbas Ra ketika menafsirkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’alaa dalam surat Al Qolam ayat 4 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung”, akhlaq yang agung tersebut adalah dien yang agung (Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pendapat Mujahid, Abu Malik, As Suddi, Rabi bin Anas, Ad Dhahak, dan Ibnu Zaid. Didalam Shohih Muslim, Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlaq Nabi Saw, lalu beliau menjawab bahwa akhlaq Beliau Saw adalah Al Quran, karena segala perintah yang terdapat didalam Al Quran beliau laksanakan dan segala larangan yang terdapat didalamnya beliau tinggalkan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata “Dengan ini menjadi jelas bahwa akhlaq yang agung dimana Nabi disifati dengannya adalah dien yang mencakup semua perintah-perintah Alloh Ta’alaa dan larangan-Nya, sehingga bersegera untuk melaksanakan segala yang dicintai Alloh dan di ridloi-Nya dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya dengan sukarela dan lapang dada” (Makarimul Akhlaq/23) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ibnul Atsir menyebutkan dalam An Nihayah (2/70) tentang “al khuluqu” dan “al khulqu” yang berarti dien, tabiat dan sifat. Syaikh ‘Utsaimin menerangkan tentang hakikatnya adalah potret batin manusia yaitu jiwa dan kepribadiannya (Makarimul Akhlaq, hal 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah   menyebutkan beberapa pendapat tentang definisi akhlaq didalam bukunya Madarijus Saalikin antara lain akhlaq yang baik adalah berderma, tidak menyakiti orang lain dan tangguh menghadapi penderitaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa akhlaq yang baik adalah berbuat kebaikan dan menahan diri dari keburukan. Ada lagi yang mengatakan, “membuang sifat-sifat yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat mulia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Keutamaan akhlaq yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali menyebutkan keutamaan-keutamaan akhlaq yang mulia yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab masuknya orang yang memiliki akhlaq yang mulia tersebut kedalam Jannah (surga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Saw bersabda yang artinya “Saya adalah penjamin bagi orang yang meninggalkan mira (debat kusir) meskipun ia ada dipihak yang benar dengan mendapatkan rumah di jannah terendah dan bagi orang yang baik akhlaqnya akan mendapatkan rumah di jannah yang tertinggi” (hadits riwayat Abu Daud/4800, Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, dengan sanad yang hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits lainnya yaitu dari Abu Huroiroh Rodliyallohu ‘anhu bahwasannya Rosululloh Saw pernah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan banyak manusia yang masuk Jannah, maka beliau menjawab yang artinya “Takwa kepada Alloh dan akhlaq yang baik”, beliau ditanya pula tentang penyebab yang menjadikan banyak manusia masuk neraka, maka beliau menjawab “mulut dan kemaluan” (diriwayatkan Tirmidzi (2003), Ibnu Majah (4246), Ahmad (2/291, 392, 442), Ibnu Hibban (Mawarid, 1923), Al Baghowi (Ma’alim At Tanziil, 4/377 dan Syarhu As Sunnah 13/79-80, Al Khoroithi (Makarimul Akhlaq hal. 10), dan Bukhori (Al Adab Al Mufrod, 442). Sanad hadits ini hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Hamba-hamba Alloh yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaqnya diantara mereka” (hadits riwayat Thabrani (471) dan Hakim (4/399-401)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw. Beliau Saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat dengan majelisnya dariku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya diantara kalian” (hadits riwayat Tirmidzi (2018) dengan sanad yang hasan, dan memiliki penguat yang diriwayatkan Imam Ahmad (2/189) dengan sanad yang shohih, sehingga kesimpulannya hadits ini shohih lighoirihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Akhlaq yang mulia mendapatkan timbangan yang paling berat di hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Sesuatu yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlaq yang baik” (hadits riwayat Abu Daud (4799), Ahmad (6/446-448), Ibnu Hibban (481) dan selain mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Akhlaq yang mulia meninggikan derajat seseorang disisi Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya seseorang itu dengan sebab akhlaqnya yang baik, sungguh akan mencapai derajat orang yang sholat malam dan shaum di siang hari” (hadits shohih riwayat Abu Daud (4798), Hakim (1/60) dan selainnya). Beliau Saw juga bersabda yang artinya “Sesungguhnya seorang muslim yang dibimbing lurus (oleh Alloh) benar-benar akan mencapai derajat ahli shaum dan ahli ibadah (sholat) yang selalu melantunkan ayat-ayat Alloh disebabkan karakternya yang mulia dan akhlaqnya yang baik” (hadits shohih riwayat Ahmad (2/17 dan 220)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Akhlaq yang mulia merupakan sebaik-baik amalan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya ” Wahai Abu Dzar, maukah aku tunjukkan kepadamu dua hal ; keduanya itu sangat ringan dipikul dan sangat berat dalam timbangan dibandingkan selain keduanya?” Abu Dzar menjawab, “Tentu wahai Rosululloh.”, beliau bersabda, “Engkau harus berakhlaq yang baik dan harus banyak diam, demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidak ada amalan manusia yang menyamai keduanya.” (diriwatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam As Shamt (112 dan 554), Al Bazzar (Kasyful Atsar, 4/220) dan lain-lain. Hadits ini derajatnya hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Akhlaq yang mulia menambah umur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Akhlaq yang mulia menjadikan rumah makmur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Akhlaq yang baik dan bertetangga yang baik, keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur” (hadits shohih riwayat Ahmad, 6/159)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tentang definisi dan keutamaan akhlaq diatas, semoga menjadikan kita dapat mengerti tentang akhlaq menurut ahli ‘ilmu yang benar-benar ahli dibidangnya yaitu ‘ilmu syar’i yang mulia dan menjadikan kita tidak salah kaprah dalam memahaminya karena pada umumnya banyak orang yang memandang akhlaq hanya sebagai sesuatu yang berkaitan tentang hubungan manusia dengan sesama manusia saja, padahal akhlaq juga mencakup hubungan manusia dengan Yang Mahatingg, Yang ada di atas Arsy sana, Yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’alaa, Dialah Pencipta manusia, sehingga hanya Dialah yang Mahatahu tentang apa yang terbaik buat para hamba-Nya sehingga Dia memerintahkannya melalui KalamNya yang mulia yaitu Al Quran dan melalui lisan utusannya yang mulia yaitu Nabi Muhammad Saw.  Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/menggapai-kemuliaan-akhlaq/"&gt;www.dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6431911566272451293?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6431911566272451293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6431911566272451293' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6431911566272451293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6431911566272451293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/04/menggapai-kemuliaan-akhlaq.html' title='Menggapai Kemuliaan Akhlaq'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6364718336560840210</id><published>2010-03-24T17:43:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T18:25:17.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad saw'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah swt'/><title type='text'>Menggapai Kemuliaan Akhlaq</title><content type='html'>dakwatanua.com - Akhlaq menurut ahli  ilmu yang benar-benar ahli dibidangnya yaitu ilmu syar’i yang mulia dan menjadikan kita tidak salah kaprah dalam memahaminya karena pada umumnya banyak orang yang memandang akhlaq hanya sebagai sesuatu yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama manusia saja, padahal akhlaq juga mencakup hubungan manusia dengan Yang Mahatinggi, Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Definisi Akhlaq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa definisi akhlaq antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menurut Ibnu Abbas Ra ketika menafsirkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’alaa dalam surat Al Qolam ayat 4 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung”, akhlaq yang agung tersebut adalah dien yang agung (Islam).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pendapat Mujahid, Abu Malik, As Suddi, Rabi bin Anas, Ad Dhahak, dan Ibnu Zaid. Didalam Shohih Muslim, Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlaq Nabi Saw, lalu beliau menjawab bahwa akhlaq Beliau Saw adalah Al Quran, karena segala perintah yang terdapat didalam Al Quran beliau laksanakan dan segala larangan yang terdapat didalamnya beliau tinggalkan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata “Dengan ini menjadi jelas bahwa akhlaq yang agung dimana Nabi disifati dengannya adalah dien yang mencakup semua perintah-perintah Alloh Ta’alaa dan larangan-Nya, sehingga bersegera untuk melaksanakan segala yang dicintai Alloh dan di ridloi-Nya dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya dengan sukarela dan lapang dada” (Makarimul Akhlaq/23) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ibnul Atsir menyebutkan dalam An Nihayah (2/70) tentang “al khuluqu” dan “al khulqu” yang berarti dien, tabiat dan sifat. Syaikh ‘Utsaimin menerangkan tentang hakikatnya adalah potret batin manusia yaitu jiwa dan kepribadiannya (Makarimul Akhlaq, hal 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah   menyebutkan beberapa pendapat tentang definisi akhlaq didalam bukunya Madarijus Saalikin antara lain akhlaq yang baik adalah berderma, tidak menyakiti orang lain dan tangguh menghadapi penderitaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa akhlaq yang baik adalah berbuat kebaikan dan menahan diri dari keburukan. Ada lagi yang mengatakan, “membuang sifat-sifat yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat mulia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Keutamaan akhlaq yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali menyebutkan keutamaan-keutamaan akhlaq yang mulia yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab masuknya orang yang memiliki akhlaq yang mulia tersebut kedalam Jannah (surga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Saw bersabda yang artinya “Saya adalah penjamin bagi orang yang meninggalkan mira (debat kusir) meskipun ia ada dipihak yang benar dengan mendapatkan rumah di jannah terendah dan bagi orang yang baik akhlaqnya akan mendapatkan rumah di jannah yang tertinggi” (hadits riwayat Abu Daud/4800, Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, dengan sanad yang hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits lainnya yaitu dari Abu Huroiroh Rodliyallohu ‘anhu bahwasannya Rosululloh Saw pernah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan banyak manusia yang masuk Jannah, maka beliau menjawab yang artinya “Takwa kepada Alloh dan akhlaq yang baik”, beliau ditanya pula tentang penyebab yang menjadikan banyak manusia masuk neraka, maka beliau menjawab “mulut dan kemaluan” (diriwayatkan Tirmidzi (2003), Ibnu Majah (4246), Ahmad (2/291, 392, 442), Ibnu Hibban (Mawarid, 1923), Al Baghowi (Ma’alim At Tanziil, 4/377 dan Syarhu As Sunnah 13/79-80, Al Khoroithi (Makarimul Akhlaq hal. 10), dan Bukhori (Al Adab Al Mufrod, 442). Sanad hadits ini hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Hamba-hamba Alloh yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaqnya diantara mereka” (hadits riwayat Thabrani (471) dan Hakim (4/399-401)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw. Beliau Saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat dengan majelisnya dariku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya diantara kalian” (hadits riwayat Tirmidzi (2018) dengan sanad yang hasan, dan memiliki penguat yang diriwayatkan Imam Ahmad (2/189) dengan sanad yang shohih, sehingga kesimpulannya hadits ini shohih lighoirihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Akhlaq yang mulia mendapatkan timbangan yang paling berat di hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Sesuatu yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlaq yang baik” (hadits riwayat Abu Daud (4799), Ahmad (6/446-448), Ibnu Hibban (481) dan selain mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Akhlaq yang mulia meninggikan derajat seseorang disisi Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya seseorang itu dengan sebab akhlaqnya yang baik, sungguh akan mencapai derajat orang yang sholat malam dan shaum di siang hari” (hadits shohih riwayat Abu Daud (4798), Hakim (1/60) dan selainnya). Beliau Saw juga bersabda yang artinya “Sesungguhnya seorang muslim yang dibimbing lurus (oleh Alloh) benar-benar akan mencapai derajat ahli shaum dan ahli ibadah (sholat) yang selalu melantunkan ayat-ayat Alloh disebabkan karakternya yang mulia dan akhlaqnya yang baik” (hadits shohih riwayat Ahmad (2/17 dan 220)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Akhlaq yang mulia merupakan sebaik-baik amalan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya ” Wahai Abu Dzar, maukah aku tunjukkan kepadamu dua hal ; keduanya itu sangat ringan dipikul dan sangat berat dalam timbangan dibandingkan selain keduanya?” Abu Dzar menjawab, “Tentu wahai Rosululloh.”, beliau bersabda, “Engkau harus berakhlaq yang baik dan harus banyak diam, demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidak ada amalan manusia yang menyamai keduanya.” (diriwatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam As Shamt (112 dan 554), Al Bazzar (Kasyful Atsar, 4/220) dan lain-lain. Hadits ini derajatnya hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Akhlaq yang mulia menambah umur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Akhlaq yang mulia menjadikan rumah makmur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Akhlaq yang baik dan bertetangga yang baik, keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur” (hadits shohih riwayat Ahmad, 6/159)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tentang definisi dan keutamaan akhlaq diatas, semoga menjadikan kita dapat mengerti tentang akhlaq menurut ahli ‘ilmu yang benar-benar ahli dibidangnya yaitu ‘ilmu syar’i yang mulia dan menjadikan kita tidak salah kaprah dalam memahaminya karena pada umumnya banyak orang yang memandang akhlaq hanya sebagai sesuatu yang berkaitan tentang hubungan manusia dengan sesama manusia saja, padahal akhlaq juga mencakup hubungan manusia dengan Yang Mahatingg, Yang ada di atas Arsy sana, Yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’alaa, Dialah Pencipta manusia, sehingga hanya Dialah yang Mahatahu tentang apa yang terbaik buat para hamba-Nya sehingga Dia memerintahkannya melalui KalamNya yang mulia yaitu Al Quran dan melalui lisan utusannya yang mulia yaitu Nabi Muhammad Saw.  Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/menggapai-kemuliaan-akhlaq/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6364718336560840210?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6364718336560840210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6364718336560840210' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6364718336560840210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6364718336560840210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/03/menggapai-kemuliaan-akhlaq.html' title='Menggapai Kemuliaan Akhlaq'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-1795460737831572692</id><published>2010-02-12T00:21:00.000-08:00</published><updated>2010-02-12T01:01:26.963-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='syukur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al-qur&apos;an'/><title type='text'>Wawasan Al-Quran</title><content type='html'>oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYUKUR                                                   (2/3)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran,  seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar&lt;br /&gt;pujian    kepada    Allah    disampaikan    dengan     redaksi&lt;br /&gt;"al-hamdulillah."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hamd  (pujian)  disampaikan  secara  lisan kepada yang dipuji,&lt;br /&gt;walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun&lt;br /&gt;kepada yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata   "al"  pada  "al-hamdulillah"  oleh  pakar-pakar  bahasa&lt;br /&gt;disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti "keseluruhan".&lt;br /&gt;Sehingga   kata   "al-hamdu"   yang   ditujukan  kepada  Allah&lt;br /&gt;mengandung arti  bahwa  yang  paling  berhak  menerima  segala&lt;br /&gt;pujian  adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju&lt;br /&gt;dan bermuara kepada-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika kita mengembalikan segala puji  kepada  Allah,  maka  itu&lt;br /&gt;berarti  pada  saat Anda memuji seseorang karena kebaikan atau&lt;br /&gt;kecantikannya,  maka  pujian  tersebut  pada  akhirnya   harus&lt;br /&gt;dikembalikan  kepada Allah Swt., sebab kecantikan dan kebaikan&lt;br /&gt;itu bersumber dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain kalau pada 1ahirnya ada&lt;br /&gt;perbuatan  atau  ketetapan  Tuhan  yang  mungkin oleh kacamata&lt;br /&gt;manusia dinilai  "kurang  baik",  maka  harus  disadari  bahwa&lt;br /&gt;penilaian  tersebut  adalah  akibat keterbatasan manusia dalam&lt;br /&gt;menetapkan tolok ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti  ada&lt;br /&gt;sesuatu   yang  luput  dari  jangkauan  pandangannya  sehingga&lt;br /&gt;penilaiannya menjadi demikian. Walhasil, syukur  dengan  lidah&lt;br /&gt;adalah "al- hamdulillah" (segala puji bagi Allah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c. Syukur dengan perbuatan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi  Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh&lt;br /&gt;aneka nikmat yang  tiada  taranya.  Kepada  mereka  sekeluarga&lt;br /&gt;Allah berpesan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! (QS&lt;br /&gt;     Saba [34]: 13).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan bekerja adalah  menggunakan  nikmat  yang&lt;br /&gt;diperoleh   itu   sesuai   dengan   tujuan   penciptaan   atau&lt;br /&gt;penganugerahannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya&lt;br /&gt;agar  merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh&lt;br /&gt;Allah. Ambillah sebagai contoh  lautan  yang  diciptakan  oleh&lt;br /&gt;Allah  Swt. Ditemukan dalam Al-Quran penjelasan tentang tujuan&lt;br /&gt;penciptaannya melalui firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dialah (Allah) yang menundukkan 1autan (untuk kamu) agar&lt;br /&gt;     kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan&lt;br /&gt;     (agar) kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang&lt;br /&gt;     kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya,&lt;br /&gt;     dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah&lt;br /&gt;     disebut) semoga kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 14).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat  ini  menjelaskan  tujuan   penciptaan   laut,   sehingga&lt;br /&gt;mensyukuri  nikmat  laut,  menuntut  dari yang bersyukur untuk&lt;br /&gt;mencari ikan-ikannya, mutiara  dan  hiasan  yang  lain,  serta&lt;br /&gt;menuntut   pula   untuk  menciptakan  kapal-kapal  yang  dapat&lt;br /&gt;mengarunginya, bahkan  aneka  pemanfaatan  yang  dicakup  oleh&lt;br /&gt;kalimat "mencari karunia-~Nya".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah&lt;br /&gt;     (nikmat-Ku) (QS Ibrahim [14]: 7)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Betapa anugerah  Tuhan  tidak  akan  bertambah,  kalau  setiap&lt;br /&gt;jengkal  tanah  yang  terhampar di bumi, setiap hembusan angin&lt;br /&gt;yang bertiup di udara, setiap tetes hujan  yang  tercurah  dan&lt;br /&gt;langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di  sisi  lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa "Kalau&lt;br /&gt;kamu kufur (tidak mensyukuri  nikmat  atau  menutupinya  tidak&lt;br /&gt;menampakkan  nikmatnya  yang masih terpendam di perut bumi, di&lt;br /&gt;dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya  siksa-Ku  amat&lt;br /&gt;pedih."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suatu  hal  yang  menarik  untuk disimak dari redaksi ayat ini&lt;br /&gt;adalah kesyukuran dihadapkan  dengan  janji  yang  pasti  lagi&lt;br /&gt;tegas  dan  bersumber  dari-Nya  langsung  (QS Ibrahim [14):7)&lt;br /&gt;Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa;  itu  pun&lt;br /&gt;tidak  ditegaskan  bahwa  ia  pasti  akan  menimpa  yang tidak&lt;br /&gt;bersyukur(QS Ibrahim [14]:7).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siksa dimaksud antara  lain  adalah  rasa  lapar,  cemas,  dan&lt;br /&gt;takut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah&lt;br /&gt;     negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya&lt;br /&gt;     datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru,&lt;br /&gt;     tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak&lt;br /&gt;     bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang&lt;br /&gt;     terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka&lt;br /&gt;     mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan&lt;br /&gt;     oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan (QS&lt;br /&gt;     An-Nahl [16]: 112).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengalaman pahit yang  dilukiskan  Allah  ini,  telah  terjadi&lt;br /&gt;terhadap  sekian  banyak  masyarakat bangsa, antara lain, kaum&lt;br /&gt;Saba --satu suku bangsa yang hidup di Yaman  dan  yang  pernah&lt;br /&gt;dipimpin  oleh  seorang  Ratu  yang amat bijaksana, yaitu Ratu&lt;br /&gt;Balqis Surat Saba (34): 15-19 menguraikan kisah mereka,  yakni&lt;br /&gt;satu  masyarakat  yang  terjalin  persatuan  dan  kesatuannya,&lt;br /&gt;melimpah  ruah  rezekinya  dan  subur  tanah  airnya.   Negeri&lt;br /&gt;merekalah   yang  dilukiskan  oleh  Al-Quran  dengan  baldatun&lt;br /&gt;thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Mereka pulalah  yang  diperintah&lt;br /&gt;dalam   ayat-ayat  tersebut  untuk  bersyukur,  tetapi  mereka&lt;br /&gt;berpaling    dan    enggan    sehingga     akhirnya     mereka&lt;br /&gt;berserak-serakkan,    tanahnya    berubah   menjadi   gersang,&lt;br /&gt;komunikasi dan transportasi antar  kota-kotanya  yang  tadinya&lt;br /&gt;lancar  menjadi terputus, yang tinggal hanya kenangan dan buah&lt;br /&gt;bibir orang saja.  Demikian  uraian  Al-Quran.  Dalam  konteks&lt;br /&gt;keadaan mereka, Allah berfirman,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka&lt;br /&gt;     disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami&lt;br /&gt;     tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada&lt;br /&gt;     orang-orang yang kufur(QS Saba [34]: 17).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)&lt;br /&gt;     untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku&lt;br /&gt;     amat pedih (QS Ibrahim [14]: 7).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KEMAMPUAN MANUSIA BERSYUKUR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada hakikatnya manusia tidak  mampu  untuk  mensyukuri  Allah&lt;br /&gt;secara  sempurna,  baik  dalam  bentuk  kalimat-kalimat pujian&lt;br /&gt;apalagi dalam bentuk perbuatan. Karena itu ditemukan dua  ayat&lt;br /&gt;dalam  Al-Quran yang menunjukkan betapa orang-orang yang dekat&lt;br /&gt;kepada-Nya sekalipun, tetap bermohon agar dibimbing,  diilhami&lt;br /&gt;dan diberi kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dia berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk&lt;br /&gt;     mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan&lt;br /&gt;     kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk&lt;br /&gt;     mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai..." (QS&lt;br /&gt;     An-Nam1 [27]: 19).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk&lt;br /&gt;     mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku&lt;br /&gt;     dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat&lt;br /&gt;     amal saleh yang engkau ridhai" (QS Al-Ahqaf [46]: 15).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi  Saw.  juga  berdoa  dan  mengajarkan   doa   itu   untuk&lt;br /&gt;dipanjatkan oleh umatnya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur&lt;br /&gt;     untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Permohonan tersebut sangat diperlukan, paling tidak disebabkan&lt;br /&gt;oleh dua hal:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama,  manusia  tidak  mampu mengetahui bagaimana cara yang&lt;br /&gt;sebaik-baiknya untuk memuji Allah, dan karena itu  pula  Allah&lt;br /&gt;mewahyukan  kepada manusia pilihan-Nya kalimat yang sewajarnya&lt;br /&gt;mereka ucapkan. Tidak kurang dari lima  kali  ditemukan  dalam&lt;br /&gt;Al-Quran perintah Allah yang berbunyi. Wa qul' "Alhamdulillah"&lt;br /&gt;(Katakanlah, "Alhamdulillah").&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa manusia tidak mampu untuk memuji-Nya?  Ini  disebabkan&lt;br /&gt;karena  pujian yang benar menuntut pengetahuan yang benar pula&lt;br /&gt;tentang siapa yang dipuji. Tetapi karena  pengetahuan  manusia&lt;br /&gt;tidak  mungkin  menjangkau  hakikat  Allah  Swt.,  maka  tidak&lt;br /&gt;mungkin pula ia akan mampu memuja dan me~nuji-Nya dengan benar&lt;br /&gt;sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Mahasuci Engkau, Kami tidak mampu melukiskan pujian&lt;br /&gt;     untuk-Mu, karena itu (pujian) kami sebagaimana pujian-Mu&lt;br /&gt;     terhadap diri-Mu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atas dasar ini, maka  seringkali  pujian  yang  dipersembahkan&lt;br /&gt;kepada  Allah,  didahului oleh kata "Subhana" atau yang seakar&lt;br /&gt;dengan  kata  itu.  Perhatikanlah   firman-Nya   dalam   surat&lt;br /&gt;Asy-Syura ayat 5:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Para malaikat bertasbih sambil memuji Tuhan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau dalam surat Ar-Ra'd (13): 13:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Guntur bertasbih sambil memuji-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahkan manusia  pun  di  dalam  shalat  mendahulukan  "tasbih"&lt;br /&gt;(pensucian Tuhan dari segala kekurangan) atas "hamd" (pujian),&lt;br /&gt;karena khawatir jangan sampai pujian yang  diucapkan  itu  tak&lt;br /&gt;sesuai  dengan  keagungan-Nya.  "Subhana Rabbiyal 'Azhim wa bi&lt;br /&gt;hamdihi" ketika  rukuk,  dan  "Subhana  Rabbiyal  'Ala  wa  bi&lt;br /&gt;hamdihi" ketika sujud.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alasan kedua mengapa kita memohon petunjuk-Nya untuk bersyukur&lt;br /&gt;adalah karena setan selalu  menggoda  manusia  yang  targetnya&lt;br /&gt;antara  lain  adalah  mengalihkan mereka dari bersyukur kepada&lt;br /&gt;Allah. Surat Al-A'raf ayat  17  menguraikan  sumpah  setan  di&lt;br /&gt;hadapan  Allah  untuk  menggoda  dan  merayu manusia dari arah&lt;br /&gt;depan, belakang, kiri,  dan  kanan  mereka  sehingga  akhirnya&lt;br /&gt;seperti  ucap  setan  yang diabadikan Al-Quran "Engkau -(Wahai&lt;br /&gt;Allah)- tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedikitnya makhluk  Allah  yang  pandai  bersyukur  ditegaskan&lt;br /&gt;berkali-kali oleh Al-Quran, secara langsung oleh Allah sendiri&lt;br /&gt;seperti firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia,&lt;br /&gt;     tetapi kebanyakan manusia tida1k bersyukur (QS&lt;br /&gt;     Al-Baqarah [2]: 243).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam ayat lain disebutkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada&lt;br /&gt;     Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang&lt;br /&gt;     bersyukur (QS Saba' [34]: 13) .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hakikat yang sama diakui  pula  oleh  hamba-hamba  pilihan-Nya&lt;br /&gt;seperti yang diabadikan Al-Quran dari ucapan Nabi Yusuf a.s.,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Yusuf [12]: 38).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hakikat di atas tercermin juga  dari  penggunaan  kata  syukur&lt;br /&gt;sebagai  sifat  dari  hamba Allah. Hanya dua orang dari mereka&lt;br /&gt;yang disebut oleh Al-Quran  sebagai  hamba  Allah  yang  telah&lt;br /&gt;membudaya dalam dirinya sifat syukur, yaitu Nabi Nuh a.s. yang&lt;br /&gt;dinyatakan-Nya   sebagai   "Innahu   kanna   'abdan   syakura"&lt;br /&gt;(Sesungguhnya  dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur)&lt;br /&gt;(QS  Al-Isra'  [17]:  3),  dan  Nabi   Ibrahim   a.s.   dengan&lt;br /&gt;firman-Nya,    "Syakiran   li   an'umihi"   (yang   mensyukuri&lt;br /&gt;nikmat-nikmat Allah) (QS An-Nahl [16): 12l).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran menggarisbawahi  bahwa  biasanya  kebanyakan  manusia&lt;br /&gt;hanya   berjanji   untuk   bersyukur  saat  mereka  menghadapi&lt;br /&gt;kesulitan. Al-Quran menjelaskan  sikap  sementara  orang  yang&lt;br /&gt;menghadapi gelombang yang dahsyat di laut:.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengihlaskan&lt;br /&gt;     ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata),&lt;br /&gt;     "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari&lt;br /&gt;     bencana ini, maka pastilah kami akan termasuk&lt;br /&gt;     orang-orang yang bersyukur" (QS Yunus 110]: 22).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian juga dalam surat Al-An'am (6): 63.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Katakanlah, "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari&lt;br /&gt;     bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa&lt;br /&gt;     kepada-Nya dengan berendah dri dengan suara yang lembut&lt;br /&gt;     (dengan mengatakan): Sesungguhnya, jika Dia&lt;br /&gt;     menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami&lt;br /&gt;     menjadi bagian orang-orang yang bersyukur" (QS Al-An'am&lt;br /&gt;     [6]: 63).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;APA YANG HARUS DISYUKURI?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada dasarnya  segala  nikmat  yang  diperoleh  manusia  harus&lt;br /&gt;disyukurinya.  Nikmat  diartikan  oleh sementara ulama sebagai&lt;br /&gt;"segala sesuatu yang berlebih dari modal Anda". Adakah manusia&lt;br /&gt;memiliki  sesuatu sebagai modal? Jawabannya, "Tidak". Bukankah&lt;br /&gt;hidupnya sendiri adalah anugerah dari Allah?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa,&lt;br /&gt;     sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat&lt;br /&gt;     disebut? (QS Al-Insan [76]: 1).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nikmat  Allah  demikian  berlimpah  ruah,  sehingga   Al-Quran&lt;br /&gt;menyatakan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya&lt;br /&gt;     kamu tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim [14]:&lt;br /&gt;     34).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Biqa'i   dalam   tafsirnya   terhadap   surat    Al-Fatihah&lt;br /&gt;mengemukakan  bahwa  "al-hamdulillah"  dalam  surat Al-Fatihah&lt;br /&gt;menggambarkan segala anugerah Tuhan yang dapat dinikmati  oleh&lt;br /&gt;makhluk,  khususnya  manusia. Itulah sebabnya --tulisnya lebih&lt;br /&gt;jauh--   empat   surat   lain   yang   juga   dimulai   dengan&lt;br /&gt;al-hamdulillah  masing-masing  menggambarkan  kelompok  nikmat&lt;br /&gt;Tuhan, sekaligus merupakan  perincian  dari  kandungan  nikmat&lt;br /&gt;yang   dicakup   oleh   kalimat   al-hamdulillah  dalam  surat&lt;br /&gt;Al-Fatihah itu. Karena Al-Fatihah adalah  induk  Al-Quran  dan&lt;br /&gt;kandungan ayat-ayatnya dirinci oleh ayat-ayat lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat surat yang dimaksud adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Al-An'am (surat ke-6) yang dimulai dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah Yang te1ah menciptakan langit dan&lt;br /&gt;     bumi, dan mengadakan gelap dan terang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat  ini  mengisyaratkan  nikmat  wujud  di  dunia ini dengan&lt;br /&gt;segala potensi yang dianugerahkan Allah baik di  darat,  laut,&lt;br /&gt;maupun udara, serta gelap dan terang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Al-Kahf (surat ke-18), yang dimulai dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang te1ah menurunkan kepada&lt;br /&gt;     hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran), dan tidak membuat&lt;br /&gt;     kebengkokan (kekurangan) di dalamnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di  sini  diisyaratkan  nikmat-nikmat  pemeliharaan Tuhan yang&lt;br /&gt;dianugerahkannya secara aktual  di  dunia  ini.  Disebut  pula&lt;br /&gt;nikmat-Nya   yang   terbesar   yaitu   kehadiran  Al-Quran  di&lt;br /&gt;tengah-tengah umat  manusia,  untuk  "mewakili"  nikmat-nikmat&lt;br /&gt;pemeliharaan lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Saba' (surat ke-34), yang dimulai dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di&lt;br /&gt;     langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya pula&lt;br /&gt;     segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana&lt;br /&gt;     lagi Maha Mengetabui.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat  ini  mengisyaratkan nikmat Tuhan di akhirat kelak, yakni&lt;br /&gt;kehidupan baru setelah mengalami kematian di  dunia,  di  mana&lt;br /&gt;dengan   kehadirannya   di   sana   manusia  dapat  memperoleh&lt;br /&gt;kenikmatan abadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Fathir (surat ke-35), yang dimulai dengan,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang&lt;br /&gt;     menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus&lt;br /&gt;     berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat), yang&lt;br /&gt;     mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan&lt;br /&gt;     empat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat ini adalah isyarat tentang nikmat-nikmat abadi yang  akan&lt;br /&gt;dianugerahkan  Allah  kelak  setelah  mengalami  hidup baru di&lt;br /&gt;akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap rincian yang terdapat  dalam  keempat  kelompok  nikmat&lt;br /&gt;yang  dicakup  oleh  keempat  surat  di  atas, menuntut syukur&lt;br /&gt;hamba-Nya baik  dalam  bentuk  ucapan  al-hamdulillah,  maupun&lt;br /&gt;pengakuan  secara  tulus  dari  lubuk  hati, serta mengamalkan&lt;br /&gt;perbuatan yang diridhai-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------                              (bersambung 3/3)&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:via &lt;a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Syukur2.html"&gt;media.isnet.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-1795460737831572692?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/1795460737831572692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=1795460737831572692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1795460737831572692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1795460737831572692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/02/wawasan-al-quran_12.html' title='Wawasan Al-Quran'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6606315900218194558</id><published>2010-02-02T00:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T00:24:48.372-08:00</updated><title type='text'>Wawasan Al-Qur'an</title><content type='html'>oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SYUKUR                                                   (1/3)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab.  Kata&lt;br /&gt;ini  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1)&lt;br /&gt;rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah  (menyatakan&lt;br /&gt;lega, senang, dan sebagainya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengertian   kebahasaan   ini  tidak  sepenuhnya  sama  dengan&lt;br /&gt;pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut&lt;br /&gt;penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam   Al-Quran   kata  "syukur"  dengan  berbagai  bentuknya&lt;br /&gt;ditemukan sebanyak enam puluh empat  kali.  Ahmad  Ibnu  Faris&lt;br /&gt;dalam  bukunya  Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar&lt;br /&gt;dari kata tersebut yaitu,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  a. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh.&lt;br /&gt;     Hakikatnya adalah merasa ridha atau puas dengan sedikit&lt;br /&gt;     sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini&lt;br /&gt;     (syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan&lt;br /&gt;     sedikit rumput. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan&lt;br /&gt;     Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan&lt;br /&gt;     barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh&lt;br /&gt;     subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  b. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur&lt;br /&gt;     dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  c. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  d. Pernikahan, atau alat kelamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Agaknya kedua makna  terakhir  ini  dapat  dikembalikan  dasar&lt;br /&gt;pengertiannya  kepada  kedua  makna  terdahulu.  Makna  ketiga&lt;br /&gt;sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan&lt;br /&gt;yang  sedikit  sekalipun,  sedang  makna  keempat dengan makna&lt;br /&gt;kedua,  karena  dengan   pernikahan   (alat   kelamin)   dapat&lt;br /&gt;melahirkan banyak anak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makna-makna   dasar  tersebut  dapat  juga  diartikan  sebagai&lt;br /&gt;penyebab dan dampaknya, sehingga kata "syukur"  mengisyaratkan&lt;br /&gt;"Siapa  yang  merasa  puas  dengan  yang sedikit, maka ia akan&lt;br /&gt;memperoleh banyak, lebat, dan subur."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar&lt;br /&gt;bahasa  Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran,&lt;br /&gt;bahwa kata "syukur"  mengandung  arti  "gambaran  dalam  benak&lt;br /&gt;tentang  nikmat  dan  menampakkannya  ke  permukaan." Kata ini&lt;br /&gt;--tulis Ar-Raghib-- menurut sementara ulama berasal dari  kata&lt;br /&gt;"syakara"  yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan&lt;br /&gt;dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah  satu&lt;br /&gt;artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makna  yang  dikemukakan  pakar di atas dapat diperkuat dengan&lt;br /&gt;beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur  dengan&lt;br /&gt;kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)&lt;br /&gt;     untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku&lt;br /&gt;     amat pedih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian juga dengan  redaksi  pengakuan  Nabi  Sulaiman  yang&lt;br /&gt;diabadikan Al-Quran:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku&lt;br /&gt;     apakah aku bersyukur atau kufur (QS An-Naml [27]: 40).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hakikat  syukur  adalah  "menampakkan  nikmat,"  dan   hakikat&lt;br /&gt;kekufuran  adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara&lt;br /&gt;lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang&lt;br /&gt;dikehendaki  oleh  pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan&lt;br /&gt;pemberinya dengan lidah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau&lt;br /&gt;     menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: ll).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw. pun bersabda,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam&lt;br /&gt;     penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah, "Bersyukurlah&lt;br /&gt;kepada-Ku  dan  janganlah  kamu  mengingkari  (nikmat)-Ku" (QS&lt;br /&gt;Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa  ayat  ini  mengandung&lt;br /&gt;perintah  untuk  mengingat  Tuhan  tanpa  melupakannya,  patuh&lt;br /&gt;kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan.  Syukur  orang&lt;br /&gt;demikian  lahir  dari  keikhlasan  kepada-Nya, dan karena itu,&lt;br /&gt;ketika setan menyatakan bahwa, "Demi  kemuliaan-Mu,  Aku  akan&lt;br /&gt;menyesatkan  mereka  manusia)  semuanya"  (QS  Shad [38]: 82),&lt;br /&gt;dilanjutkan dengan pernyataan  pengecualian,  yaitu,  "kecuali&lt;br /&gt;hamba-hamba-Mu  yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]:&lt;br /&gt;83). Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis menyatakan,  "Dan  Engkau&lt;br /&gt;tidak   akan   menemukan   kebanyakan  dari  mereka  {manusia)&lt;br /&gt;bersyukur." Kalimat "tidak  akan  menemukan"  di  sini  serupa&lt;br /&gt;maknanya  dengan  pengecualian  di  atas, sehingga itu berarti&lt;br /&gt;bahwa  orang-orang  yang  bersyukur  adalah  orang-orang  yang&lt;br /&gt;mukhlish (tulus hatinya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  a. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas&lt;br /&gt;     anugerah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  b. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan&lt;br /&gt;     memuji pemberinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  c. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah&lt;br /&gt;     yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Uraian Al-Quran tentang syukur mencakup sekian  banyak  aspek.&lt;br /&gt;Berikut akan dikemukakan sebagian di antaranya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SIAPA YANG HARUS DISYUKURI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada  prinsipnya  segala  bentuk  kesyukuran  harus  ditujukan&lt;br /&gt;kepada  Allah  Swt.  Al-Quran  memerintahkan  umat Islam untuk&lt;br /&gt;bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula&lt;br /&gt;     kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu&lt;br /&gt;     mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada&lt;br /&gt;     Luqman hikmah, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan&lt;br /&gt;     barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka&lt;br /&gt;     sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya&lt;br /&gt;     sendiri."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun demikian, walaupun  kesyukuran  harus  ditujukan  kepada&lt;br /&gt;Allah, dan ucapan syukur yang diajarkan adalah "alhamdulillah"&lt;br /&gt;dalam arti "segala puji (hanya) tertuju kepada  Allah,"  namun&lt;br /&gt;ini  bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka&lt;br /&gt;yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Al-Quran secara&lt;br /&gt;tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua&lt;br /&gt;orang tua (yang menjadi perantara  kehadiran  kita  di  pentas&lt;br /&gt;dunia  ini.)  Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu&lt;br /&gt;dengan firman-Nya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu&lt;br /&gt;     bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walaupun  Al-Quran  hanya  menyebut  kedua  orangtua  --selain&lt;br /&gt;Allah--  yang  harus  disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa&lt;br /&gt;selain mereka tidak boleh disyukuri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak&lt;br /&gt;     mensyukuri Allah (Begitu bunyi suatu rtwayat yang&lt;br /&gt;     disandarkan kepada Rasul Saw).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MANFAAT SYUKUR BUKAN UNTUK TUHAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur  kembali&lt;br /&gt;kepada  orang  yang  bersyukur,  sedang Allah Swt. sama sekali&lt;br /&gt;tidak memperoleh bahkan tidak  membutuhkan  sedikit  pun  dari&lt;br /&gt;syukur makhluk-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia&lt;br /&gt;     bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan&lt;br /&gt;     barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka&lt;br /&gt;     sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan&lt;br /&gt;     sesuatu) lagi Mahamulia (QS An-Naml [27]: 40)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena  itu  pula,  manusia  yang   meneladani   Tuhan   dalam&lt;br /&gt;sifat-sifat-Nya,  dan  mencapai peringkat terpuji, adalah yang&lt;br /&gt;memberi tanpa menanti syukur (balasan dari yang  diberi)  atau&lt;br /&gt;ucapan terima kasih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran  melukiskan  bagaimana satu keluarga (menurut riwayat&lt;br /&gt;adalah  Ali  bin  Abi  Thalib  dan  istrinya  Fathimah   putri&lt;br /&gt;Rasulullah  Saw.)  memberikan  makanan  yang mereka rencanakan&lt;br /&gt;menjadi makanan berbuka puasa mereka, kepada tiga  orang  yang&lt;br /&gt;membutuhkan dan ketika itu mereka menyatakan bahwa,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah&lt;br /&gt;     mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki&lt;br /&gt;     balasan darimu, dan tidak pula pujian (ucapan terima&lt;br /&gt;     kasih) (QS Al-Insan [76]: 9).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walaupun manfaat  syukur  tidak  sedikit  pun  tertuju  kepada&lt;br /&gt;Allah,  namun  karena  kemurahan-Nya,  Dia menyatakan diri-Nya&lt;br /&gt;sebagai Syakirun 'Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158), dan  Syakiran&lt;br /&gt;Alima  (QS  An-Nisa'  [4]:  147),  yang keduanya berarti, Maha&lt;br /&gt;Bersyukur  lagi  Maha  Mengetahui,  dalam  arti   Allah   akan&lt;br /&gt;menganugerahkan  tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk&lt;br /&gt;yang bersyukur. Syukur Allah ini antara lain  dijelaskan  oleh&lt;br /&gt;firman-Nya dalam surat Ibrahim (14): 7 yang dikutip di atas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAGAIMANA CARA BERSYUKUR?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di atas telah dijelaskan bahwa  ada  tiga  sisi  dari  syukur,&lt;br /&gt;yaitu  dengan  hati, lidah, dan anggota tubuh lainnya. Berikut&lt;br /&gt;akan dirinci penjelasan tentang masing-masing sisi tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a. Syukur dengan hati&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa&lt;br /&gt;nikmat  yang  diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan&lt;br /&gt;kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati  mengantar  manusia  untuk&lt;br /&gt;menerima  anugerah  dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan&lt;br /&gt;keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini  juga&lt;br /&gt;mengharuskan  yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan,&lt;br /&gt;dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahuya pujian&lt;br /&gt;kepada-Nya.   Qarun   yang  mengingkari  keberhasilannya  atas&lt;br /&gt;bantuan  Ilahi,  dan   menegaskan   bahwa   itu   diperolehnya&lt;br /&gt;semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai&lt;br /&gt;kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya  (Baca  kisahnya  dalam&lt;br /&gt;surat Al-Qashash (28): 76-82).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka&lt;br /&gt;pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu,&lt;br /&gt;tetapi  karena  terbayang  olehnya bahwa yang dialaminya pasti&lt;br /&gt;lebih kecil dari kemungkinan lain  yang  dapat  terjadi.  Dari&lt;br /&gt;sini syukur --seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia yang dikutip di atas-- diartikan  oleh  orang&lt;br /&gt;yang  bersyukur  dengan  "untung"  (merasa  lega,  karena yang&lt;br /&gt;dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari kesadaran tentang makna-makna  di  atas,  seseorang  akan&lt;br /&gt;tersungkur  sujud  untuk  menyatakan perasaan syukurnya kepada&lt;br /&gt;Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sujud syukur adalah perwujudan dari  kesyukuran  dengan  hati,&lt;br /&gt;yang  dilakukan  saat  hati dan pikiran menyadari betapa besar&lt;br /&gt;nikmat yang dianugerahkan Allah.  Bahkan  sujud  syukur  dapat&lt;br /&gt;dilakukan   saat   melihat   penderitaan   orang  lain  dengan&lt;br /&gt;membandingkan keadaannya  dengan  keadaan  orang  yang  sujud.&lt;br /&gt;(Tentu  saja  sujud  tersebut  tidak  dilakukan  dihadapan  si&lt;br /&gt;penderita itu).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua  anggota  sujud&lt;br /&gt;di  lantai  yakni  dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan&lt;br /&gt;kedua ujung jari kaki)--seperti melakukan sujud dalam  shalat.&lt;br /&gt;Hanya  saja  sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua&lt;br /&gt;kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu  bukan  bagian&lt;br /&gt;dan  shalat,  maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah&lt;br /&gt;walaupun dilakukan tanpa berwudu, karena sujud dapat dilakukan&lt;br /&gt;sewaktu-waktu  dan  secara  spontanitas.  Namun  tentunya akan&lt;br /&gt;sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Syukur dengan lidah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber&lt;br /&gt;nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;----------------                              (bersambung 2/3)&lt;br /&gt;WAWASAN AL-QURAN&lt;br /&gt;Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat&lt;br /&gt;Dr. M. Quraish Shihab, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit Mizan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Syukur1.html"&gt; Media Isnet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6606315900218194558?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6606315900218194558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6606315900218194558' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6606315900218194558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6606315900218194558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/02/wawasan-al-quran.html' title='Wawasan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-1171505187109546131</id><published>2010-01-16T03:08:00.000-08:00</published><updated>2010-01-16T03:19:30.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nabi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doa'/><title type='text'>Doa. Untuk Apa ?</title><content type='html'>Sejak alam barzah, manusia sudah didesain oleh Sang Pencipta sebagai makhluk yang mengakui adanya Alloh SWT Yang Maha Kuasa. (Q/7:172). Oleh karena itu naluri manusia cenderung mencari perlindungan kepada Yang Maha Kuat, terutama ketika sedang merasa terancam. Bukan hanya orang beragama, orang atheis pun ketika melepas prajuritnya ke medan perang, mereka mengucapkan “Semoga kalian menang”. Kalimat semoga adalah ungkapan religius, ungkapan doa, yakni mengharap campur tangan kekuatan gaib yang diyakini lebih besar dibanding kekuatan manusia&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif way of life seorang muslim, kehadiran manusia di muka bumi diberi status sebagai khalifah Alloh, sebagai wakil Allah yang diberi amanat untuk menegakkan kebenaran dalam kehidupan manusia untuk mencapai ridla Allah sebagai tujuan hidupnya. Untuk mencapai tujuan itu manusia diberi alat hidup, yaitu dirinya, fisik maupun psikis, dan harta atau alam yang memang disediakan Alloh SWT sebagai fasilitas. Dengan potensi itu manusia menjadi “makhluk” yang paling besar peluangnya untuk menjadi yang “terhebat” di muka bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi di sisi lain, manusia juga diberi status oleh Allah sebagai `abdun, sebagai hamba, yang memiliki serba keterbatasan, dan Allah tidaklah menciptakan manusia kecuali agar mereka mengakui dirinya sebagai `abdun, yang harus meng abdi, atau beribadah, menyembah kepada Sang Pencipta (Q/51:56). Inilah status kembar manusia di hadapan Alloh SWT. Di satu sisi manusia adalah besar, memiliki tanggung jawab dan kewenangan yang besar, karena menjadi wakil dari Alloh SWT yang Maha Besar. Di sisi lain manusia adalah kecil, karena ia tak lebih hanyalah seorang hamba yang lemah, terbatas dan hidupnya sangat bergantung kepada berbagai faktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia akan menjadi kuat apabila ia menempel kepada kekuasaan Alloh SWT Yang Maha Kuat. Ia selalu berkata bahwa tiada daya dan kekuatan yang efektif tanpa seizin Allah yang Maha Agung, La haula wala quwwata illa billah al `Aliyy al `Azim. Sebaliknya manusia akan diperdaya dan dipermainkan oleh perbuatan sendiri yang menipu, jika ia jauh dari ridla dan rahmat Allah. Allah akan mengangkat martabat manusia yang rendah hati, dan akan menjatuhkan ke dalam kehinaan terhadap manusia yang menyombongkan diri. Di sinilah medan seni antara usaha dan doa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, Al Qur’an banyak sekali memerintahkan manusia agar bekerja dan berusaha, tetapi di sisi lain Al Qur’an juga memerintahkan agar orang bertawakkal (berpasrah diri kepada Allah) atas hasil dari pekerjaan dan usahanya. Disamping menyuruh bekerja, Al Qur’an juga menyuruh untuk berdoa kepada Allah, disertai jaminan bahwa Allah akan mengabulkan doa manusia (Q/40:60), karena Allah memang mendengarkan doa-doa hambanya (Q/14:39). Kata Nabi, doa adalah sumsumnya ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realita kehidupan, sebagaimana yang sedang melanda bangsa Indonesia dewasa ini, bisa terjadi, banyaknya tentara tidak menjamin ketahanan nasional, banyaknya polisi tidak menjamin keamanan, banyaknya sumberdaya alam tidak menjamin kemakmuran, banyaknya orang pandai tidak menjamin keberhasilan. Dalam perspektif tasauf bahkan dikatakan, penentu keberhasilan pembangunan suatu bangsa bukan ditentukan oleh unsur-unsur bangsa tersebut diatas, tetapi oleh doa seorang hamba yang dekat dengan Alloh SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sebuah hadis, bahwa di muka bumi ini ada beberapa orang yang performennya “kumuh”, tidak memiliki status sosial, tetapi jika ia sudah menengadahkan tangannya kepada Alloh SWT, maka doanya itulah yang signifikan menyelesaikan masalah bangsa, bukan oleh elit-elit bangsa (in aqsama `alallah la abarrahu). Siapakah orang itu? Kata hadis tersebut, dia adalah orang baik yang takwa, tetapi ia menyembunyikan identitas sebenarnya. Jika dia berada di dekat kita, tak seorangpun yang mengenalnya, tetapi jika ia tidak ada, maka ia selalu dicari-cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena politik Indonesia mengenal ada doa politik, ada istighotsah kubra dan doa-doa massal lainnya, yang tujuannya mencari solusi spiritual atas problem bangsa yang rumit. Mengapa doa-doa tersebut sepertinya tak didengar Alloh SWT? Inilah yang harus menjadi renungan kita bersama-sama, jangan-jangan doa yang kita panjatkan tidak ikhlas, atau melanggar koridor sunnatullah, atau tidak memenuhi adabnya? Wallohu a‘lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2008/08/doa-untuk-apa.html"&gt;Mubarok Institute&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-1171505187109546131?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/1171505187109546131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=1171505187109546131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1171505187109546131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1171505187109546131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/01/doa-untuk-apa.html' title='Doa. Untuk Apa ?'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6872730146115027947</id><published>2010-01-02T23:44:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T23:54:21.169-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hijrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><title type='text'>Hijrah dan Membangun Peradaban Islam</title><content type='html'>Oleh: Ir. H. Budi Suherdiman Januardi, MM.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal kejayaan umat Islam sebagai titik balik sejarah dimulai sejak generasi pertama dibawah kepemimpinan Rasulullah Muhammad Saw terutama setelah melakukan hijrah dari Makkah ke Madienah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran utama dari perjalanan Hijrah Rasulullah Saw dan para sahabatnya yaitu adanya proses peletakan cikal bakal sebuah entitas peradaban. Hal ini dapat kita lihat dengan dilakukannya tiga langkah strategis sebagai pondasi utama yang kemudian menjadi asas dalam pembentukan prototype masyarakat Islam. Tiga langkah strategis tersebut yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :Membangun Masjid (Pertama membangun Masjid Quba’, selanjutnya membangun Masjid Nabawi Al-Syarif) di Madienah sebagai bangunan pertama dalam risalah kenabian. Rasulullah Saw mengoptimalkan fungsi masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah mahdah saja (sholat, membaca Al Quran, berzikir, i’tikaf), tetapi juga sebagai tempat berbagai aktivitas keumatan/ghairu mahdah yaitu difungsikan sebagai ma’had: pusat dakwah, pusat pendidikan dan pengajaran; sebagai mahkamah: tempat mengadili para pihak yang bersengketa dan tempat penyelesaian masalah; tempat prajurit muslim berkumpul sebelum memulai perjuangan, tempat mengatur strategi peperangan; pusat penerangan dan informasi kepada masyarakat; pusat kegiatan sosial, ekonomi dan politik; tempat bermusyawarah. Hal ini memperlihatkan bahwa masjid dalam Islam mempunyai misi yang dapat diwujudkan dalam berbagai aspek guna membentuk kehidupan yang Islami.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Membangun persaudaraan (ukhuwwah) antara Muhajirin dan Anshar sehingga terjadilah takaful ijtima’i (jaminan sosial, solidaritas, sepenanggungan, saling tolong-menolong). Persaudaraan yang dibangun Rasululah Saw adalah persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan kesukuan yang berjalan sebelum itu. Melalui semangat persaudaraan, Rasulullah Saw berhasil membangun kota Madienah dalam sebuah entitas yang penuh kedamaian, keamanan, adil dan sejahtera, padahal sebelumnya telah terjadi konflik sangat sengit yang berlangsung sangat lama (sekira 120 tahun) antara dua suku (qabilah) besar di Madienah yaitu qabilah Aus dan Khazraj. Adanya kepercayaan sosial dari masyarakat Madienah kepada Muhammad Saw saat itu, telah berhasil mengantarkan pada upaya membangun loyalitas publik; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Menyusun suatu perjanjian (dustur) dengan ditandatanganinya Piagam Madienah sebagai regulasi tata kehidupan yang plural baik antara kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar) di satu pihak maupun antara kaum muslimin dengan umat-umat lainnya (termasuk Yahudi) di pihak lain yang menjelaskan berbagai hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dalam konteks ketatanegaraan sekarang ini, Piagam Madienah tersebut merupakan sebuah dokumen politik berupa konstitusi. Pengakuan atas keberagaman berbagai golongan dan komponen masyarakat sangat terlihat dalam konstitusi tersebut. Penyebutan secara eksplisit golongan Yahudi serta berbagai kabilah lainnya yang memiliki kewajiban mempertahankan keamanan Madienah dari serangan luar, telah membawa pada perwujudan stabilitas politik dan keamanan Madienah. Kita dapat menyimak bahwa secara substansial, Piagam Madienah telah merangkum berbagai prinsip dan nilai moral yang tinggi berupa keadilan, kepemimpinan, musyawarah; persamaan; persaudaraan; persatuan; kemerdekaan dan toleransi beragama; perdamaian; tolong-menolong dan membela terhadap para pihak yang teraniaya. Konstitusi tersebut merupakan proklamasi bagi kelahiran sebuah Negara dan Pemerintahan, dimana disebutkan bahwa hak otoritas kepemimpinan diberikan kepada Rasulullah Muhammad Saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Rasulullah Saw berkedudukan sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Tidak semua Nabi dan Rasul yang diutus Alloh Swt langsung memerintah dan menjadi Kepala Negara, tetapi Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin pergerakan dan pemimpin politik berdasarkan Nubuwah dan Risalah. Ajaran yang diterimanya dari Alloh Swt ditujukan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Pemerintahan yang berdiri di Madienah jika dibandingkan dengan yang dianut oleh Persia, Romawi, Ethiopia (Habsyah) maupun yang lainnya pada masa itu merupakan kepemerintahan termodern baik dalam Undang-undang, sistem sosial dan kemasyarakatan serta dalam bentuk maupun susunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawah kepemimpinan dan suri tauladan agung Rasulullah Muhammad Saw, walaupun beliau bukan orang asli Madienah, akan tetapi karena secara pribadi beliau memiliki kredibilitas serta komitmen yang kuat untuk melakukan suatu perubahan dan pembaharuan, sehingga beliau berhasil melakukan sebuah transformasi struktural maupun kultural dalam membangun Madienah ke arah yang lebih mengedepankan nilai-nilai akhlak; menegakkan supremasi hukum serta lebih terbuka melalui kesantunan berpolitik. Upaya sinergitas dalam membangun juga berhasil beliau lakukan, sehingga terjalinlah kebersamaan dalam mewujudkan persatuan antar stakeholder. Kita dapat melihat dalam sejarah, bahwa komitmen kuat dari Rasulullah Muhammad Saw selanjutnya mendapatkan dukungan yang kuat pula dari publik. Pondasi ketiga yang dibangun ini memperlihatkan kepada kita bahwa Rasulullah Saw sangatlah peduli pada semangat membangun kebersamaan dari berbagai komponen masyarakat yang majemuk (plural) dalam membangun kota Madienah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian besarnya perhatian Islam terhadap peradaban, dapat kita simak pula dari korelasi yang kuat antara terminologi peradaban dengan akhlaq, dimana akhlak merupakan misi utama diutusnya Rasulullah Muhammad Saw ke muka bumi. Hal ini sebagaimana yang disabdakannya melalui beberapa hadits diantaranya Riwayat Bukhari, Ahmad dan Baihaqi dari Abu Hurairah bahwa : “Innama bu’itstu li utami-ma makarimal akhlaq, ("Sesungguhnya aku (Muhammad Saw) diutus Alloh Swt untuk menyempurnakan akhlaq”). Dengan demikian, menyempurnakan akhlak berarti pula membangun sebuah peradaban Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Islam yang dibangun Rasulullah Saw adalah suatu peradaban yang memberikan rahmat, kasih sayang, kedamaian kepada semua alam, bukan hanya manusia saja akan tetapi seluruh makhluk ciptaan Alloh Swt selain manusia juga merasakan kasih-sayangnya. Hal ini sangat berkesesuaian dengan salah satu pengertian Islam yaitu Silmun (kedamaian). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat dan kasih sayang yang dibangun oleh Islam, sebagaimana ditegaskan Al Quran Surat Al Anbiya ayat 107: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KORELASI MAKNA : DIEN, MADIENAH DAN TAMADDUN&lt;br /&gt;Kita akan menemukan tiga terminologi yang sangat mengagumkan, ketika suatu peradaban dikonstelasikan dalam bingkai sistem Islam, dimana ketiga terminologi tersebut memiliki korelasi yang sangat kuat antara satu dengan lainnya. Ketiga terminologi tersebut adalah Dien, Madienah dan Tamaddun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ethimologis, dien menurut Munawar Kholil merupakan mashdar dari kata kerja Dana-Yadiinu, yang berarti Cara; Adat kebiasaan; Budaya; Peraturan; Undang-undang; Ketaatan atau kepatuhan; Meng-esakan Alloh; Pembalasan; Perhitungan; Pengadilan; Hari kiamat; Hari menegakkan keadilan; Nasihat, Kecintaan; Ketaatan; Agama. Sedangkan menurut Al-Attas, dien bermakna keberhutangan; susunan kekuasaan; struktur hukum dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah yang adil. Artinya, dalam istilah dien itu tersembunyi suatu sistem kehidupan. Oleh sebab itu ketika dien Alloh yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madienah. Dari akar kata dien dan Madienah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban yang dibangun Rasulullah Saw di Madienah dapat kita simak dari sikap visioner beliau yang memiliki pandangan jauh ke depan terhadap pembentukan peradaban Islam yakni dilakukannya perubahan nomenclature Yatsrib menjadi Madienah oleh Muhammad Saw dengan konsep pembangunan dan nilai yang jelas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita simak, bahwa secara ethimologis Madienah merupakan derivat dari kata dalam Bahasa Arab yang berarti: (a) Kota yang dalam bahasa Yunani disebut polis dan politica yang kemudian menjadi dasar kata policy atau politic dalam Bahasa Inggeris; (b) Madienah juga merupakan derivat dari kata tamaddun dan madaniyah yang berarti civility dan civilization atau peradaban. Kata sifat dari Madienah adalah Madani, maka sivilized sociaty atau civil society dalam bahasa Arab bisa disebut Mujtama’ Madani (masyarakat berperadaban). Dengan demikian, Madienah merupakan state yang didirikan untuk membangun peradaban baru yaitu peradaban tauhid. Sejarah telah mencatat, bahwa Madienah berdiri di atas pondasi sikap keterbukaan dan toleransi yang tinggi, dimana dua hal ini merupakan esensi penting dalam membentuk suatu peradaban yang kemudian telah dibuktikan oleh sejarah perjuangan umat Islam. Dengan demikian, tamaddun merupakan kata benda yang berasal dari akar kata madana yang secara literal berarti peradaban (civilization).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kontek hijrah, peradaban juga memiliki korelasi yang kuat dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Menurut Ali Shariati, perkataan hijrah bersumber dari perkataan Hajar demikian pula halnya dengan Muhajir yaitu orang yang melakukan hijrah, dimana hijrah memiliki pengertian peralihan dari hidup biadab menjadi beradab dan dari kekafiran menjadi Islam. Didalam bahasa ibunya sendiri, nama Hajar berarti “kota”, yang melambangkan peradaban. Pada konteks ini, kita dapat melihat sebuah korelasi sejarah yang sangat kuat antara peradaban yang pernah dibangun Nabi Ibrahim As (suami Hajar, dan Bapaknya para Nabi) serta keturunannya, baik di Makkah (Bani Isma’il) maupun di Palestina (Bani Ishak) dengan peradaban yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw di Madienah yang kemudian memancar ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga kota suci tersebut memiliki kaitan akar sejarah yang sangat kuat atas nilai-nilai Rabbani yang telah diusung oleh para Nabi dan Rasul mulia, dimana setiap hijrah yang pernah dilakukannya merupakan sebuah gerakan dari kejahatan menuju kebaikan dari keterbelakangan menuju sebuah peradaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyimak makna dari ketiga terminologi di atas, maka kita dapat melihat sebuah rangkaian yang utuh antara input, proses, output, impact sampai benefit dimana Islam yang dipilih Alloh Swt sebagai dien merupakan input yang luar biasa agungnya bagi tatanan kehidupan hamba-Nya. Input itu kemudian mengejawantah ketika sistem Islam membumi di Madienah dibawah kepemimpinan Rasulullah Saw yang pada tahapan selanjutnya telah berhasil membuahkan (output) sebuah peradaban (tamaddun) Islam yang agung dimana dampaknya (impact) mampu menyinari negeri-negeri pada hampir semua belahan dunia, dimana para pihak yang bukan hanya kalangan muslim saja akan tetapi non muslim sekalipun dapat mengambil nilai manfaatnya (benefit) dari tegaknya sistem Islam di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah membuktikan bahwa dengan datangnya gelombang peradaban Islam benar-benar telah menjadi faktor penyebab kejatuhan berbagai peradaban yang ada pada saat itu diantaranya Romawi. Hal tersebut merupakan bukti kuat bahwa Islam sebagai dien yang menghasilkan tamaddun dapat diterima oleh bangsa-bangsa selain bangsa Arab. Diantara faktor penyebab utamanya adalah bahwa Islam membawa sistem kehidupan yang teratur dan bermartabat, yang ajarannya universal serta mengajarkan persamaan kedudukan (egalitarian) antar manusia, yang mana hal ini telah mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. &lt;br /&gt;Wallohu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dudung.net/artikel-islami/hijrah-dan-membangun-peradaban-islam.html"&gt;dudung.net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6872730146115027947?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6872730146115027947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6872730146115027947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6872730146115027947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6872730146115027947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2010/01/hijrah-dan-membangun-peradaban-islam.html' title='Hijrah dan Membangun Peradaban Islam'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6473262444057854772</id><published>2009-12-17T20:41:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T20:46:03.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hijrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><title type='text'>Rahasia Hijrah</title><content type='html'>dakwatuna.com - Hijrah adalah keniscayaan. Allah swt. membangun sistem di alam ini berdasarkan gerak. Pelanit bergerak, berjalan pada porosnya. Allah berfirman: ”Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 38). Imam Syafii’i menggambarkan dalam sya’irnya yang sangat indah bahwa air yang tergenang akan busuk dan air yang mengalir akan bening dan jernih. Seandainya matahari berhenti di ufuk timur terus menerus, niscaya manusia akan bosan dan stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, hijrah sebuah keniscayaan. Karena dalam diam tersimpan segala macam keburukan. Mobil yang didiamkan berhari-hari akan karat dan hancur. Jasad yang didudukkan terus menerus akan mengidap banyak penyakit. Itulah rahasia mengapa harus olah raga. Syaikh Muhammad Al Ghazali berkata: ”Bahwa orang-orang yang nganggur adalah manusia yang mati. Ibarat pohonan yang tanpa buah para penganggur itu adalah manusia-manusia yang wujudnya menghabiskan keberkahan.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terbukanya kota Mekah adalah keberkahan hijrah. Seandainya Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya tetap berdiam di kota Mekah, tidak pernah terbayang akan lahir sebuah kekuatan besar yang kemudian menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Sungguh berkat hijrah ke kota Madinah kekuatan baru umat Islam terbangun, yang darinya kepemimpinan Islam merambah jauh, tidak hanya melampaui kota Mekah, pun tidak hanya melampaui Jazirah Arabia, melainkan lebih dari itu melampaui Persia dan Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa dimensi hijrah yang harus kita wujudkan dalam hidup kita sehari-hari di era modern ini, agar kita medapatkan keberkahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dimensi personal, bahwa setiap mukmin harus selalu lebih baik kwalitas keimannya dari hari kemarin. Karenanya dalam Al-Qur’an Allah swt. selalu menggunakan kata ahsanu amala (paling baiknya amal). Maksudnya bahwa tidak pantas seorang mukmin masuk di lubang yang sama dua kali. Itulah sebabnya mengapa sepertiga Al-Qur’an menggambarkan peristiwa sejarah. Itu untuk menekankan betapa pentingnya belajar dari sejarah dalam membangun ketaqwaan. Dari sini kita paham mengapa Allah swt. dalam surah Al Hasyr:18 menyandingkan perintah bertaqwa dengan perintah belajar dari sejarah: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dimensi sosial, bahwa seorang mukmin tidak pantas berbuat dzalim, mengambil penghasilan secara haram dan hidup bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Seorang mukmin harus segera hijrah dari situasi sosial semacam ini. Seorang mukmin harus segera membangun budaya takaful –saling menanggung-. Itulah rahasia disyari’atkannya zakat. Bahwa di dalam harta yang kita punya ada hak orang lain yang harus dipenuhi. Allah berfirman : ”Walladziina fii amwaalihim haqqun ma’luum (dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.”) (QS. Al Maarij: 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini telah terbukti dalam sejarah bahwa membangun budaya takaful akan menyelesaikan banyak penyakit sosial yang akhir-akhir ini sangat mencekam. Terlalu tingginya angka kemiskinan dan penganggguran di tengah negeri yang kaya secara sumber alam, sungguh suatu pemandangan yang naif. Namun ini tentu ada sebabnya, di antaranya yang paling pokok adalah karena kedzaliman dan ketidak jujuran. Dari sini jelas bahwa hijrah yang harus dibuktikan saat ini adalah komitmen untuk tidak lagi mengulangi budaya korupsi. Sebab dari budaya inilah berbagai penyakit sosial lainnya tak terhindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dimensi dakwah, bahwa seorang mukmin tidak boleh berhenti pada titik sekedar mengaku sebagai seorang mukmin secara ritual saja, melainkan harus dibuktikan dengan mengajak orang lain kepada kebaikan. Ingat bahwa syetan siang dan malam selalu bekerja keras mengajak orang lain ke neraka. Syetan berkomitmen untuk tidak masuk neraka sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini saatnya seorang mukmin harus bersaing dengan syetan. Ia  harus hijrah dari sikap pasif  kepada sikap produktif. Produktif dalam arti bekerja keras mengajak orang lain ke jalan Allah. Sebab tidak pantas seorang mukmin bersikap pasif. Pasifnya seorang mukmin bukan saja akan membawa banyak bakteri pelemah iman, melainkan juga membawa bencana bagi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya mengapa seorang pemikir muslim abad ini dari India Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi menulis sebuah buku yang sangat terkenal dan menomental: maadzaa khasiral aalam bin khithaathil muslimiin ( betapa dahsyatnya kerugian yang dialami dunia ketika umat Islam tidak berdaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini benar, bahwa dunia ini memang membutuhkan umat Islam yang berdaya. Umat Islam yang produktif. Bukan umat Islam yang pasif. Dan kini kita menyaksikan dengan mata kepada betapa kerusakan merejalela melanda kemanusiaan akibat dari lemahnya umat Islam. Bandingkan dengan dulu ketika Umar Bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz memimpin dunia. Inilah hijrah yang harus segara kita buktikan. Wallhu a’lam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/rahasia-hijrah/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6473262444057854772?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6473262444057854772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6473262444057854772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6473262444057854772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6473262444057854772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/12/rahasia-hijrah.html' title='Rahasia Hijrah'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-1122665571740528513</id><published>2009-12-17T19:32:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T19:35:43.121-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;embed src="http://img.kapanlagi.com/c/s/08629.swf" quality="high" bgcolor="#FFFFFF" width="500" height="357" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/shockwave/download/index.cgi?P1  _Prod_Version=ShockwaveFlash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;a href="http://kartu.kapanlagi.com/"&gt;Lihat Kartu Ucapan Lainnya&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;  (&lt;span class="card_bold"&gt;KapanLagi.com&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://img.kapanlagi.com/c/s/08629.swf" quality="high" bgcolor="#FFFFFF" width="500" height="357" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/shockwave/download/index.cgi?P1  _Prod_Version=ShockwaveFlash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;a href="http://kartu.kapanlagi.com/"&gt;Lihat Kartu Ucapan Lainnya&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;  (&lt;span class="card_bold"&gt;KapanLagi.com&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-1122665571740528513?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/1122665571740528513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=1122665571740528513' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1122665571740528513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1122665571740528513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/12/lihat-kartu-ucapan-lainnya-kapanlagi.html' title=''/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6025607470099132906</id><published>2009-12-14T20:48:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T21:16:20.434-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><title type='text'>Membangun Kepribadian Islami</title><content type='html'>dakwatuna.com – Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS. Al Isra: 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgensi Kepribadian Islami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pribadi yang Islami merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam agama Islam. Hal ini karena Islam itu tidak hanya ajaran normatif yang hanya diyakini dan dipahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tapi Islam memadukan dua hal antara keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan , antara keimanan dan amal saleh. Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam Islam harus tercermin dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan sikap pribadi-pribadi muslim.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang, setiap jiwa yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tapi bukan berarti kesucian dari lahir itu meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya, justru karena telah diawali dengan fitrah itulah, jiwa tersebut harus dijaga dan dirawat kesuciannya dan selanjutnya dibangun agar menjadi pribadi yang islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Lingkung Kepribadian Islami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Ruhiyah (Ma’nawiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek ruhiyah adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam firman Allah SWT di Surat Asy-Syams : 7-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat beruntung orang yang mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” (QS. Asy Syams: 7-10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam surat Al Hadid ayat 16:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belumkah datang waktunya untuk orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab di dalamnya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik ” QS. Al-Hadid:16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa menjaga ruhiyah, kerugian yang besar bagi orang yang mengotorinya dan peringatan keras agar kita meninggalkan amalan yang bisa mengeraskan hati. Bahkan tarbiyah ruhiyah adalah dasar dari seluruh bentuk tarbiyah, menjadi pendorong untuk beramal saleh dan dia juga memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai problematika kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek-aspek yang sangat terkait dengan ma’nawiyah seseorang adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Aspek Aqidah. Ruhiyah yang baik akan melahirkan aqidah yang lurus dan kokoh, dan sebaliknya ruhiyah yang lemah bisa menyebabkan lemahnya aqidah. Padahal aqidah adalah suatu keyakinan yang akan mewarnai sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh sebab itu kalau ingin aqidahnya terbangun dengan baik maka ruhiyahnya harus dikokohkan. Jadi ruhiyah menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim karena dia akan mempengaruhi bangunan aqidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Aspek akhlaq. Akhlaq adalah bukti tingkah laku dari nilai yang diyakini seseorang. Akhlaq merupakan bagian penting dari keimanan. Akhlaq juga salah satu tolok ukur kesempurnaan iman seseorang. Terawatnya ruhiyah akan membuahkan bagusnya akhlaq seseorang. Allah swt dalam beberapa ayat senantiasa menggandengkan antara iman dengan berbuat baik. Rasulullah saw pun ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya ternyata jawab Rasulullah saw adalah yang baik akhlaqnya (”ahsanuhum khuluqan”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أي المؤمنين افضل إيمانا ؟ قال احسنهم خلقا. رواه ابو داود والترمذى والنسائ والحاكم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mukmin mana yang paling baik imannya? Jawab Rasulullah ” yang paling baik akhlaqnya” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan diutusnya Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- pun untuk menyempurnakan akhlaq manusia sehingga menjadi akhlaq yang islami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;َ إًَِنما بعثت لأتمم مكا رم الأخلاق&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolok ukur dan patokan baik dan tidaknya akhlaq adalah al-Qur’an. Itulah sebabnya akhlaq keseharian Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- merupakan cerminan dari Al-Qur’an yang beliau yakini. Hal ini terbukti dari jawaban Aisyah ra ketika ditanya tentang bagaimana akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- , jawab beliau “Akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- adalah al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان خلقه القرآن&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Aspek tingkah laku. Tingkah laku adalah cerminan dari akhlaq yang melekat pada diri seseorang….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Fikriyah (’Aqliyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian Islami juga ditentukan oleh sejauh mana kokoh dan tidaknya aspek fikriyah. Kejernihan fikrah, kekuatan akal seseorang akan memunculkan amalan, kreativitas dan akan lebih dirasa daya manfaat seseorang untuk orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Wawasan keislaman. Sebagai seorang muslim menjadi keniscayaan bagi dia untuk memperluas wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pola pikir islami. Pola pikir islami juga harus dibangun dalam diri seorang muslim. Semua alur berpikir seorang muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber yaitu kebenaran dari Allah swt. Islam sangat menghargai kerja pikir ummatnya. Di dalam al-Qur’an pun sering kita jumpai ayat ayat yang menganjurkan untuk berpikir: “afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;افلا تعقلون ,أفلا تذكرون, افلا تتفكرون, لعلكم تعقلون,لعلكم تذكرون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim harus senantiasa menggunakan daya pikirnya. Allah mewujudkan fenomena alam untuk dipikirkan, beraneka macamnya tingkah laku manusia sampai adanya aneka pemikiran dan pemahaman manusia hendaknya menjadi pemikiran seorang muslim. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tujuan berpikir tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ- bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Disiplin (tepat) dan tetap (tsabat) dalam berislam. Sungguh kehidupan ini tidak terlepas dari ujian, rintangan dan tantangan serta hambatan. Ujian tersebut tidak akan berakhir sebelum nafasnya berakhir. Oleh sebab itulah untuk menghadapinya perlu tsabat dalam berpegang pada syariat Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di surat Ali Imran: 102 Allah SWT menjelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu sebenar-benar taqwa. Dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya tsabat dijalan Allah, sampai Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- mengajarkan do’a kepada ummatnya, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك (رواه الترمذى)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami untuk tetap berada pada agamaMu “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Amaliyah (Harokiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sisi amaliyahnya. Amaliyah harakiah yang merubah kehidupan seorang mukmin menjadi lebih baik. Hal ini penting sebab amaliyah adalah satu di antara tiga tuntutan iman dan Islam seseorang. Tiga tuntutan tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq bil-qalb ( meyakini dengan hati), dan al-amal bil jawarih (beramal dengan seluruh anggota badan). Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam dituntut oleh Allah –subhânahu wa ta`âlâ- untuk menunaikan sejumlah amal, baik yang bersifat individual maupun yang kolektif bahkan kewajiban yang sistemik. Kewajiban individual akan lebih khusyu’ dan lebih baik pelaksanaannya jika ditunjang dengan sistem yang kondusif. Shalat, puasa , zakat dan haji misalnya akan lebih baik dan lebih khusyu’ kalau dilaksanakan di tengah suasana yang aman tenteram dan kondusif. Apalagi kewajiban yang bersifat sistemik seperti dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad dsb, mutlak memerlukan ketersediaan perangkat sistem yang memungkinkan terlaksananya amal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya amaliyah harakiah dalam kehidupan seorang mukmin laksana air. Semakin banyak air bergerak dan mengalir semakin jernih dan semakin sehat air tersebut. Demikian juga seorang muslim semakin banyak amal baiknya, akan semakin banyak daya untuk membersihkan dirinya, sebab amalan yang baik bisa menjadi penghapus dosa. Simaklah QS. Huud: 114&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan yang buruk (dosa), itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud: 114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikitnya tiga alasan kenapa seorang harus beramal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kewajiban diri pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hamba Allah tentunya harus menyadari bahwa dirinya diciptakan bukan untuk hal yang sia-sia. Baik jin dan manusia Allah ciptakan untuk tujuan yang amat mulia yaitu untuk beribadah, menghamba kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ-. Amalan adalah bentuk refleksi dari rasa penghambaan diri kepada Dzat yang mencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah” (QS. Adz Dzaariyaat: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu pertanggungjawaban di depan mahkamah Allah nanti bersifat individu. Setiap individu akan merasakan balasan amalan diri pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (QS. an-Najm: 39-41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kewajiban terhadap keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah lapisan kedua dalam pembentukan ummat. Lapisan ini akan memiliki pengaruh yang kuat baik dan rusaknya sebuah ummat. Oleh sebab itulah seseorang dituntut untuk beramal karena terkait dengan kewajiban dia membentuk keluarga yang Islami, sebab tidak akan terbentuk masyarakat yang baik tanpa melalui pembentukan keluarga yang baik dan islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim :6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim seharusnya mampu membentuk keluarga yang berkhidmat untuk Islam, seluruh anggota keluarga terlibat dalam amal islami di seluruh bidang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kewajiban terhadap dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beramal haraki bagi seorang muslim bukan hanya atas tuntutan kewajiban diri dan keluarganya saja, akan tetapi juga karena tuntutan dakwah. Islam tidak hanya menuntut seseorang saleh secara individu tapi juga saleh secara sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga di dalam surat Fushshilat ayat 33:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a’lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://Memang, setiap jiwa yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tapi bukan berarti kesucian dari lahir itu meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya, justru karena telah diawali dengan fitrah itulah, jiwa tersebut harus dijaga dan dirawat kesuciannya dan selanjutnya dibangun agar menjadi pribadi yang islami."&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6025607470099132906?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6025607470099132906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6025607470099132906' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6025607470099132906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6025607470099132906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/12/membangun-kepribadian-islami.html' title='Membangun Kepribadian Islami'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-1072739152053587765</id><published>2009-11-07T20:25:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T20:25:14.436-08:00</updated><title type='text'>Republika Online - Keutamaan Akhlak</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/25260/Keutamaan_Akhlak"&gt;Republika Online - Keutamaan Akhlak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-1072739152053587765?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.republika.co.id/berita/25260/Keutamaan_Akhlak' title='Republika Online - Keutamaan Akhlak'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/1072739152053587765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=1072739152053587765' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1072739152053587765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/1072739152053587765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/11/republika-online-keutamaan-akhlak.html' title='Republika Online - Keutamaan Akhlak'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-4518801934182584899</id><published>2009-11-07T19:36:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T21:32:18.119-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maksiat'/><title type='text'>Berfikirlah sebelum berbuat maksiat</title><content type='html'>Seorang laki-laki datang kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah, Dia berkata: “Ya Abu Ishaq, aku sering berbuat maksiat. Katakan sesuatu kepadaku sebagai nasihat yang bisa membantuku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim berkata: “Jika kamu menerima 5 perkara dan kamu mampu melakukannya, niscaya kemaksiatan tidak akan merugikanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab, “Katakan wahai Abu Ishaq”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim berkata, “Pertama, jika kamu hendak bermaksiat kepada Allah ta'ala maka jangan kamu makan rizki-Nya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu berkata, “Dari mana aku makan sementara semua yang ada di bumi adalah rizki-Nya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, apakah pantas engkau memakan rizki-Nya, sementara itu engkau bermaksiat kepada-Nya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menjawab, “Tidak pantas. Katakan yang kedua” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim menjawab, “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya, maka jangan tinggal di bumi-Nya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menjawab, “Yang ini lebih berat. Dimana saya akan tinggal?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, pantaskah engkau bermaksiat kepada-Nya, sementara engkau makan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menjawab, “Tidak pantas. Katakan yang ketiga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim  berkata, “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya, kamu makan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat dimana Dia tidak melihatmu. Disitulah kamu bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menjawab, “Wahai Ibrahim, apa ini? Mana mungkin, sementara Dia mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, apakah pantas kamu makan rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya, lalu kamu bermaksiat kepada-Nya, padahal Dia melihatmu, mengetahui  apa yang kamu tampakkan dan kamu rahasiakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menjawab, “Tidak. Katakan yang keempat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim menjawab, “Jika Malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, maka bilang kepadanya, “Nanti dulu, aku mau bertaubat dengan benar-benar dan beramal kerana Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu berkata, “Dia tidak mungkin akan menerima”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, jika engkau tidak mampu menolak malaikat maut supaya engkau bisa bertaubat dan engkau mengetahui bahwa jika dia mendatangimu dia tidak memberimu kesempatan, lantas bagaimana engkau berharap selamat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu berkata, “Katakan yang kelima?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim berkata, “Jika malaikat Zabaniyah mendatangimu pada hari Kiamat untuk menyeretmu ke Neraka, maka jangan engkau menurutinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu berkata, “Mereka tidak akan membiarkanku dan tidak akan menerimaku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bertanya, “Bagaimana engkau bisa berharap selamat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu berkata, “Ya Ibrahim, cukup..cukup.., aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu benar-benar memenuhi janji taubatnya. Dia rajin beribadah dan menjauhi maksiat sampai dia meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimbil dari “Mausu'ah Qishashis Salaf”, edisi bahasa Indonesia “Ensklopedi Kisah Generasi Salaf” karya Ahmad Salim Baduwailan, penerbit Elba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://perpustakaan-islam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=269:berfikirlah-sebelum-berbuat-maksiat&amp;catid=40:tazkiyatun-nufus"&gt; perpustakaan-islam.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-4518801934182584899?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/4518801934182584899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=4518801934182584899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/4518801934182584899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/4518801934182584899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/11/berfikirlah-sebelum-berbuat-maksiat.html' title='Berfikirlah sebelum berbuat maksiat'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-724515858198396412</id><published>2009-10-29T21:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-29T21:29:15.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='simpati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='empati'/><title type='text'>Mengasah Empati Berbagi  Simpati</title><content type='html'>Oleh : Dr.Setiawan Budi Utomo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Sering kali seseorang menilai dengan parameter subjektif dan melihat orang lain dengan kacamata kuda sehingga tidak jarang salah memahami dan menyikapi peristiwa secara tidak arif. Hal itu karena minimnya kesadaran empati dalam memahami kelemahan, kesalahan, kekurangan, kejahilan dan kenaifan orang lain yang sebenarnya boleh jadi merupakan ujian kepekaan dan kejelian dalam mendulang hikmah dan pelajaran di balik berbagai peristiwa yang dilakoni orang lain tadi, alih-alih menjulurkan simpati. Empati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Simpati dalam KBBI diartikan sebagai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. rasa kasih; rasa setuju (kepada); rasa suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dsb) orang lain: rakyat yang menderita akibat bencana alam itu mendapat simpati dari berbagai kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika para sahabat yang sedang berada di masjid Nabawi terusik kesyahduan dzikir mereka dan spontanitas bereaksi emosional tatkala seorang laki-laki Arab badui tiba-tiba berulah kencing di dalam masjid yang saat itu lantainya masih berupa tanah. Demi melihat situasi panas tersebut Rasulullah saw dengan penuh empati dan kelembutan menyikapi dan meluruskan peristiwa tesa dan antitesa sikap reaksi berang sahabat dan aksi bodoh Arab badui tersebut. Beliau memerintahkan para sahabat untuk bersabar dan membiarkan Arab badui menyelesaikan hajatnya serta meminta mereka menyiram bekas kencingnya agar merembes ke tanah dan hilang najisnya. Setelah situasi reda dan dapat diatasi, Rasulullah segera memanggil mereka semua. Beliau memberikan bimbingan kepada para sahabat tentang sikap empatik yang akan membawa hikmah yaitu dengan memaklumi ketidaktahuan Arab badui tersebut, menyadari reaksi kesabaran akan dapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat akhirnya mengerti bahwa sikap empati yang membuahkan solusi masalah dengan menyiram dan membersihkan kencing sebagai pelajaran bagi si badui bahwa perbuatannya tidak benar yang telah mengotori tempat yang seharusnya dijaga kesuciannya. Selain itu, mereka menyadari bahwa bersabar menanti selesainya kencing si badui akan menghindari tiga mudharat yakni gusarnya si badui yang merasa terusik hajatnya, menyakiti saluran kencing si badui yang terganggu kelancarannya, dan meluasnya area najis akibat kepanikan si badui dalam menuntaskan hajatnya. Kepada si badui Nabi saw memberikan pemahaman secara halus bahwa perbuatannya tidak benar karena telah kencing di masjid dan itu tidak pada tempatnya sebab masjid dibangun sebagai tempat suci untuk dzikrullah dan shalat. Jelang mendapat penjelasan empatik Nabi, si badui sangat terpesona padanya dan sebaliknya masih kecewa dengan sikap berang sahabat seraya berdoa “Ya Allah masukkanlah aku dan Muhammad ke dalam surga dan janganlah Engkau masukkan ke dalamnya seorang pun selain kami.” Lagi-lagi demi mendengar doa yang tidak arif itupun nabi menyikapinya dengan penuh empati demi melihat kenaifannya tanpa membodoh-bodohkannya seraya meluruskan doanya: “Wahai kamu, ketahuilah bahwa surga itu sangat luas dan jika kita berdua saja yang masuk niscaya akan sangat kesepian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang lain, kita saksikan sejarah Nabi yang telah membuktikan samudera jiwa empati tatkala seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa menghadapnya. Nafasnya masih tersengal, turun-naik, sementara jantungnya berdetak cepat. Rasulullah menyambutnya dengan penuh santun. “Celaka bagi kami, wahai Rasulullah,” begitu ia mengawali pembicaraannya. “Aku telah melakukan hubungan suami-istri di siang Ramadhan.” Nampaknya lelaki ini sadar bahwa perbuatannya telah melanggar syariah, yang karenanya ia harus menerima sanksi Rasulullah kemudian memberi petunjuk agar lelaki itu memerdekakan seorang budak. Lelaki tersebut menggelengkan kepala tanda tidak sanggup melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Rasulullah memberikan alternatif kedua, yaitu puasa selama dua bulan berturut-turut. Lagi-lagi lelaki tersebut menggeleng. Ia merasa tidak mampu untuk melakukannya. Dalam hatinya ia berkata, ‘Jangankan dua bulan, sedang yang satu bulan saja sudah dilanggar.’ Rasulullah menawarkan solusi ketiga, yaitu memberi makan 60 orang fakir miskin. Untuk yang ketiga kalinya ia mengatakan tidak sanggup. Ia katakan bahwa untuk kebutuhan makan sehari-hari saja sudah sering mendapati kesulitan. Apalagi harus memberi makan kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh kasih sayang Rasulullah kemudian memanggil istrinya agar mengambil bahan makanan yang masih tersisa di rumahnya hingga cukup untuk menebus kewajiban lelaki tersebut. Sambil memberikannya, Rasulullah berpesan agar bahan makanan itu dibagikannya kepada fakir miskin di kampungnya. Dengan sedikit menahan malu, lelaki tersebut berkata polos, “Di kampung kami, orang yang paling miskin adalah saya sendiri.”Kepolosan lelaki itu ternyata membawa berkah tersendiri. Rasulullah menyampaikan agar bahan makanan itu diterima dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya. Ia pulang dengan perasaan suka cita. Selain mendapatkan bahan makanan, puasanya juga sudah tertebus. Dua keuntungan sekaligus diperoleh, keuntungan materi sekaligus keuntungan ukhrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah seperti ini rasanya sulit dimengerti untuk ukuran sekarang. Bagaimana seorang pemimpin dapat berlaku begitu santun. Sulit ditemukan sosok pemimpin yang luwes, lapang dada, santun, dan sabar memenuhi segala tuntutan ummatnya sebagaimana Rasulullah. Andaikata menemui lelaki seperti dalam kisah di atas, barangkali kita akan menghardiknya dengan kata-kata kasar, “Sudah tahu tidak mampu menebus dendanya, kenapa kamu sampai melanggar?” Atau kita katakan, “Pokoknya itulah ketentuan syariat, titik. Dengan cara apapun harus kamu upayakan. Pokoknya nggak mau tahu salahmu sendiri melanggar. Rasain sendiri akibatnya habis macam-macam saja.” Jangankan ikut membantu meringankan bebannya dengan memberi bahan makanan, memberi santunan dengan kata-kata yang halus dan menghibur saja mungkin sulit kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah terletak rahasia sukses kepemimpinan Rasulullah. Beliau bisa bersikap tegas, tapi lebih sering bersikap lemah-lembut kepada ummatnya. Justru sikap yang terakhir itu lebih dikedepannya dalam menghadapi setiap persoalan. Beliau bisa marah, tapi sikap pemaafnya jauh lebih luas dari segalanya. Apalagi jika berhadapan dengan sesama ummat Islam. Allah sendiri menegaskan: “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.” (QS. al-Fath: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya Rasulullah sangat dicintai ummatnya. Saking cintanya, dalam sebuah bai’at, seorang lelaki pernah mengatakan, “Andaikata kita menyeberangi lautan dengan kapal, kemudian di tengah lautan kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk mencebur ke laut, pasti kita lakukan.” Kepada ummatnya, Rasulullah selalu mengedepankan sifat kasih sayang. Beliau berusaha mempermudah ummatnya dalam melaksanakan syariat agama. Bukan sebaliknya, memberi beban yang akhirnya tak mampu dipikul oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Isra’ dan Mi’raj Rasulullah menyampaikan usulan kepada Allah agar ummatnya diberi beban yang tidak terlalu berat dalam menunaikan ibadah shalat. Akhirnya ditetapkan shalat lima kali dalam sehari, sebagai suatu kewajiban yang sangat ringan. Jika masih ada yang merasa keberatan, barangkali nafsunya yang terlalu dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat beliau hendak mewajibkan bersiwak (gosok gigi) bagi kaum muslimin setiap hendak mendirikan shalat. Akan tetapi karena takut kewajiban itu memberatkan, maka akhirnya tidak beliau undangkan, meskipun bersiwak itu manfaatnya sangat besar dalam upaya menjaga kesehatan. Bagi yang bersiwak disiapkan pahala besar, sementara yang tidak melakukannya juga tidak diancam apa-apa. Akhirnya bersiwak hanya menjadi anjuran. Sikap demikian itu sejalan dengan ketentuan Allah, yang dinyatakan dalam al-Qur’an: “Allah menginginkan kemudahan bagimu, dan tidak menginginkan kesulitan bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah mengutus dua orang sahabat, yaitu Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman untuk berdakwah, beliau berpesan, “Gembirakanlah dan jangan kau takut-takuti. Mudahkanlah dan janganlah engkau mempersulit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas seorang da’i, muballigh, ustadz atau guru agama adalah memberi jalan kemudahan bagi ummat Islam agar dapat menjalankan perintah Islam dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, seorang juru dakwah wajib mempunyai bekal ilmu yang cukup, di samping sikap yang arif. Ilmu yang luas menjadikan seseorang lebih bisa bersikap luwes dan lapang dada. Sementara ilmu yang hanya pas-pasan biasanya mendorong seseorang bersikap keras dalam menghadapi suatu persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luasnya ilmu dan wawasan akan nampak dalam sikapnya yang toleran. Dalam menghadapi persoalan ia tidak hanya menyodorkan satu alternatif, tapi tersedia berbagai pilihan. Orang lain diberi kebebasan untuk memilih sesuai kadar iman dan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sendiri ketika menyerukan hamba-Nya untuk bertaqwa, Dia menggunakan dua kalimat perintah. Pertama, Allah berfirman, “Bertaqwalah kamu sekuat kemampuanmu.” Kedua, Allah berseru, “Bertaqwalah kalian dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kalian mati sehingga kalian benar-benar Islam.” Yang pertama ditujukan kepada mereka yang kadar imannya masih dalam proses penyempurnaan, sementara firman kedua ditujukan kepada mereka yang sudah siap menerima segala perintah dan larangan-Nya tanpa reserve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw juga menerapkan hal sama. Dalam menghadapi satu pertanyaan yang diajukan oleh dua orang berbeda, jawaban Nabi juga selalu berbeda, disesuaikan dengan kadar akal dan imannya. Nabi tidak memaksakan seseorang menerima hal yang sama, padahal kemampuan mereka untuk menerimanya sangat jauh berbeda. Di sini Rasulullah sangat memperhatikan “proses”, bukan hasil semata-mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan persoalan di atas, dianjurkan kepada juru dakwah, guru agama, atau muballigh agar lebih bijak dalam menyampaikan persoalan-persoalan agama. Jika ada dua pilihan, kenapa harus kita pilihkan satu saja? Bukankah mereka juga berhak memilih sesuai dengan kondisi dan keadaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam hal ini, jika ada dua perkara yang sama-sama diperbolehkan oleh syariat, hendaknya kita memilih yang termudah. Kita tidak boleh bersikap terlalu keras, karena yang demikian itu justru menyimpang dari sunnah. Sikap tasyaddud, ekstrim, dan berlebih-lebihan sebagai cerminan kerasnya hati dan keringnya rasa empati sama sekali tidak disukai oleh Rasulullah. Selama tidak mengandung dosa, Rasulullah lebih memilih yang termudah dari dua perkara yang sama-sama boleh, ibahah. Sikap itulah yang hendaknya kita pilih, bukan sebaliknya. Dalam sebuah pesannya, beliau bersabda: “Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan jangan bersikap kasar. Sesungguhnya, tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak pula ia lepas dari sesuatu kecuali mengotorinya.” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap para elit, tokoh, ulama, da’i, muballigh, pemimpin dan guru yang lebih menyukai sesuatu yang berat dan minim jiwa empati dalam menjalankan dan menegakkan risalah kebenaran pada dasarnya tidak sesuai dengan sunnah, keluar dari teladan Rasulullah saw. Sikap demikian sesungguhnya lebih terkait dengan kejiwaan. Itulah sebabnya, seorang muslim dianjurkan untuk terus-menerus melakukan pembersihan hati, tazkiyah, agar memiliki jiwa yang bersih, dada yang lapang, dan hati yang dipenuhi rasa kasih dan sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada benih-benih keinginan untuk mempersulit atau memperberat suatu perkara, hendaknya para da’i segera meminta perlindungan dari Allah, memperbaharui iman, dan mensucikan hati dari sifat dendam dan iri hati. Jauhkanlah diri dari tipu daya setan. Sesungguhnya kita memerlukan ruh dari langit sehingga dapat menempuh jalan dien ini dengan mudah. Hal itu dapat kita peroleh jika kita memenuhi rongga dada kita dengan sifat kasih sayang, terutama pada diri sendiri. Caranya, jangan memaksakan diri, tidak mengangkat beban di luar kemampuan kita yang sebenarnya. Jika terhadap diri sendiri, kita sudah bersikap kasih dan sayang, maka kepada orang lain juga kita kembangkan sikap yang sama. Kasih sayang itu akan mengarahkan kita kepada sikap yang menghormati kemampuan dan keterbatasan orang lain. Jika dengan semua orang kita harus bersikap empati termasuk dalam merealisasikan dan menyebarkan pemikiran dan pemahaman kita, maka dengan orang-orang terdekat yang kita kasihi seharusnya lebih sensitif dan peka dalam empati dan tidak asal memaksakan kehendak dan ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stephen R. Covey (1999) mengingatkan kita untuk memahami implementasi makna empati secara benar. Kebanyakan dari kita tidak berusaha untuk memahami dahulu, tetapi sebaliknya ingin dipahami dahulu posisi dan pemikiran kita. Atau jika kita ingin berusaha memahami, kita sering sibuk mempersiapkan tanggapan kita dan reaktif saat kita menyaksikan kejadian, menghadapi sikap atau mendengarkan pernyataan orang lain. Jadi, kita lebih sering mengevaluasi, menyarankan, menyelidiki, atau menerjemahkan dari sudut pandang kita sendiri sebelum memahami konsideran sikap dan peristiwa serta kesejatian masalah. Dan tidak satu pun dari ini adalah tanggapan empatik yang memahami. Semuanya berasal dari kesejatian diri kita, dunia kita dan nilai-nilai kita secara searah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka mengasah empati itulah diperlukan riyadhah melatih diri dalam memberi petunjuk kepada siapa saja yang mendapati kesulitan, memaafkan atas semua kekhilafan, berlapang dada atas segala kealpaan, menuntun orang ke jalan yang terang tanpa harus mencari-cari kesalahan dan membuka aibnya. Bukankah Allah selalu berpesan: “Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:125), dan telah menegaskan: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat:33). []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/mengasah-empati-berbagi-simpati/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-724515858198396412?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/724515858198396412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=724515858198396412' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/724515858198396412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/724515858198396412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/10/mengasah-empati-berbagi-simpati.html' title='Mengasah Empati Berbagi  Simpati'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-3381367898346040661</id><published>2009-10-16T20:09:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T20:22:31.315-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bermakna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hidup menjadi bermakna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hidup'/><title type='text'>Hidup Menjadi Bermakna</title><content type='html'>Hidup menjadi bermakna sangat erat hubungannya dengan pandangan hidup yang dianut. Jika seseorang memiliki pandangan hidup (way of life) yang benar, maka peluang untuk membuat makna dalam hidupnya sangat terbuka. Sebaliknya pandangan hidup yang keliru akan membuat keliru juga dalam mengambil keputusan yang akan berakhir bukan saja hidupnya menjadi kurang atau bahkan tidak bermakna, tetapi ada kemungkinan justeru merusak, merusak dirinya dan merusak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk psikologis yang menganut suatu makna. Dalam psikologi komunikasi ada ungkapan world don’t mean, people mean; kata-kata itu tak memiliki makna, manusialah yang memberi makna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang mampu memberi makna terhadap obyek. Obyek yang sama mungkin diberi makna berbeda-beda oleh orang yang berbeda. Senyum biasanya dimaknai sebagai keramahan, orang yang sedang sakit hati kepada seseorang, maka senyuman orang itu bisa dimaknai sebagai penghinaan atau ngeledek. Senyuman ibu tiri sering dimaknai buruk oleh anak tiri, berbeda dengan persepsi anak kandungnya. Senyuman yang sama berdampak menyejukkan bagi seseorang, dan mungkin berdampak menyakitkan bagi seseorang yang lain. Apa makna sesuatu bergantung kepada persepsi tentang fungsi dari sesuatu itu. Mata dipandang bermakna jika berfungsi untuk melihat, telinga dipandang bermakna jika berfungsi untuk mendengar, mobil dipandang bermakna jika berfungsi sebagai kendaraan, suami dipandang bermakna oleh isterinya jika ‘berfungsi’ sebagai suami, presiden dipandang bermakna oleh rakyat jika berfungsi sebagai pemimpin. Begitulah seterusnya segala sesuatu, tingkat bermaknanya bergantung kepada tingkat fungsionilnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia hidup di muka bumi memiliki berbagai fungsi, bagi dirinya, bagi keluarganya, bagi masyarakatnya, bagi bangsanya, bagi dunia dan bagi alam sekitarnya. Ada orang yang merasa dirinya bermakna tetapi tidak dipandang bermakna oleh orang lain, sebaliknya ada orang yang merasa dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, tetapi orang lain sangat menghormatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang tinggal berada dalam suatu lingkungan dalam waktu yang lama, tetapi kehadirannya tidak berpengaruh apa-apa bagi lingkungan masyarakatrnya maka ia tidak dipandang bermakna, hadirnya tidak membuat genap, dan absennya tidak membuat ganjil. Sebaliknya ada orang yang hanya melintas sebentar dalam kehidupan masyarakat, tetapi karena kehadirannya membawa perobahan besar kepada tatanan masyarakat maka sepeninggal orang tersebut namanya masih selalu disebut, gagasannya masih selalu didiskusikan, pendapatnya masih selalu dirujuk orang. Waktu yang sebentar tetapi fungsional dalam membawa perubahan, maka kehadiran sebentar itu dipandang sangat bermakna, sehingga mungkin nama orang itu diabadikan dalam nama jalan atau gedung, atau bahkan banyak bayi lahir yang kemudian diberi nama dengan nama orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup menjadi bermakna sangat erat hubungannya dengan pandangan hidup yang dianut. Jika seseorang memiliki pandangan hidup (way of life) yang benar, maka peluang untuk membuat makna dalam hidupnya sangat terbuka. Sebaliknya pandangan hidup yang keliru akan membuat keliru juga dalam mengambil keputusan yang akan berakhir bukan saja hidupnya menjadi kurang atau bahkan tidak bermakna, tetapi ada kemungkinan justeru merusak, merusak dirinya dan merusak orang lain. Pandangan hidup dipandu oleh konsep budaya dan oleh keyakinan agama. Budaya yang tinggi akan melahirkan makna penting dan besar, budaya yang rendah akan melahirkan makna yang rendah pula. Keyakinan agama yang lurus akan melahirkan kehidupan yang benar-benar bermakna, sementara akidah agama yang keliru atau sesat akan menyesatkan penganutnya pula dan berujung pada kehadiran yang tak bermakna atau bahkan merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2009/08/hidup-menjadi-bermakna.html"&gt;Mubarok Institute&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-3381367898346040661?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/3381367898346040661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=3381367898346040661' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3381367898346040661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3381367898346040661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/10/hidup-menjadi-bermakna.html' title='Hidup Menjadi Bermakna'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-3539870252338224707</id><published>2009-10-10T20:56:00.000-07:00</published><updated>2009-10-10T21:05:56.851-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sederhana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><title type='text'>Hidup Sederhana</title><content type='html'>Oleh : Muhammad Nuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu manusia kadang seperti air. Tak pernah henti untuk selalu mengalir. Selama masih ada celah, di situlah air mengalir. Bedanya dengan air yang mengalir ke tempat lebih rendah, nafsu terus mengalir ke arah sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia bisa dibilang makhluk yang jarang cepat puas. Selalu saja ujung dari sebuah pencarian lagi-lagi bertemu pada satu titik: kurang. Keadaan itu persis seperti orang yang selalu mendongak ke atas. Dan lengah menatap ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenapa orang tanpa sadar kehilangan daya peka. Kepekaannya dengan lingkungan sekitar menjadi tumpul. Bahkan mungkin, di tengah hiruk pikuknya mengejar yang atas, tanpa terasa kalau yang di bawah terinjak-injak. Jadi, pisau kepekaan bukan sekadar tumpul, bahkan berkarat sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang menjadi tidak mampu menyelami apa yang terjadi di sekelilingnya. Sulit merasakan kalau di saat kita terlelap dalam keadaan kenyang, sejumlah tetangga terus terjaga karena menahan perut yang lapar. Sulit menangkap keinginan anak-anak tetangga untuk tetap bersekolah, ketika sebagian kita tengah sibuk mencari sekolah top buat anak-anak, berapa pun mahalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpekaan itu akhirnya menggiring diri untuk tampil tak peduli. Kesederhanaan menjadi barang langka. Ada semangat tampil serba wah. Ada bahasa yang sedang diungkapkan, “Saya memang beda dengan kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi proses melengkapi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan mungkin hal-hal lain seperti alat komunikasi; ada pergeseran yang nyaris tanpa terasa. Sebuah pergerseran dari nilai fungsi kepada nilai gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok itu tidak lagi menimbang sekadar fungsi, tapi lebih kepada gengsi. Ada sesuatu yang sedang dikejar dari proses pemenuhan itu: trend dan gengsi. Biasanya, nilai gengsi jauh lebih mahal dari nilai fungsi. Bahkan, bisa berkali-kali lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada semacam ketergantungan dengan penampilan mode yang tentu saja datang dari negeri pedagang budaya. Mereka begitu pintar mengemas barang dagangan dalam bentuk yang sangat menarik. Halus, tanpa kesan menggurui. Kemasan bisa melalui film, berita mode dan sebagainya. Tanpa sadar, orang sedang terhipnotis dalam cengkeraman para pedagang budaya. Repotnya, ketika pedagang budaya sebagian besar menuhankan hidup materialistis. Semua tanpa sadar menuhankan gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah perilaku konsumsi seperti itu hinggap dalam diri umat Islam? Masalahnya memang bukan sekadar muslim atau bukan. Tapi sejauhmana umat Islam memahami nilai budaya Islam. Dan membumikannya dalam kenyataan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tidak paham dengan Islam biasanya memang tidak peduli dengan urusan orang lain. Walaupun itu satu keyakinan. Tidak ada ajaran yang menyentuh hati mereka untuk mau memperhatikan nasib saudaranya. Hidup bagi mereka adalah diri mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Islam, sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Bahkan nilainya bisa sama dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tumpulnya kepekaan dan kungkungan trend budaya orang lain, ada sebab lain yang membuat orang jauh dari sederhana. Itulah imperiority, atau merasa rendah di hadapan orang lain. Rasa rendah diri itu memompa segala daya yang dimiliki untuk tampil melebihi orang yang dianggap lebih. Paling tidak, ada kepuasan diri jika tampilan bisa dianggap lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit seperti itu biasa hinggap di negeri-negeri jajahan. Mereka biasa hidup susah. Sementara para penjajah hidup mewah. Ketika kesempatan hidup mewah terbuka lebar, sifat rendah diri berubah menjadi jiwa eksploitasi. Apa pun yang bisa diraih, diambil sebanyak-banyaknya demi kepuasan tampil lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itulah yang diwaspadai Khalifah Umar bin Khaththab ketika mencermati para gubernurnya. Ia khawatir, di saat kesempatan terbuka lebar, para gubernur hilang kesadaran. Umar pernah menghukum Amru bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena terhadap seorang rakyatnya yang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gubernur yang bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin pernah dilucuti pakaiannya oleh Umar. Sang khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala. Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang gubernur membangun rumah mewah buat dirinya. “Aku tidak pernah menyuruhmu membangun rumah mewah!” ucap Umar begitu tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan lain pernah diperlihatkan sahabat Rasul yang bernama Mush’ab bin Umair. Pemuda kaya ini tiba-tiba berubah drastis ketika memeluk Islam. Ia yang dulu selalu tampil trendi, serba mewah, menjadi pemuda sederhana yang hampir seratus persen berbeda dengan sebelumnya. Bahkan Mush’ab rela meninggalkan segala kekayaannya demi menunaikan dakwah di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik dari seorang mantan duta besar Jerman untuk Al-Jazair. Beliau bernama Wilfred Hoffman. Setiapkali mengunjungi pesta kalangan diplomat atau pejabat negara, isterinya selalu menjadi pusat perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, di acara-acara bergengsi seperti itu, isterinya tidak pernah mengenakan busana dan perhiasan mewah. Sebuah kenyataan di luar kelaziman buat kalangan petinggi negara seperti Jerman. Bagaimana mungkin seorang duta besar negara kaya bisa tampil ala kadarnya. Padahal, para pejabat dari negara miskin saja bisa tampil gemerlap. Ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Hoffman dan isterinya memang sengaja seperti itu. Ia lebih memilih hidup sederhana, ketimbang tampil mewah. Justru, dengan tampilan seperti itulah, Hoffman dan isterinya lebih dianggap daripada dubes dan pejabat lain yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meraih segala kemampuan materi memang sulit. Tapi lebih sulit lagi mengendalikannya menjadi tampilan sederhana. Karena nafsu memang tidak pernah berhenti mengalir ke segala arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2007/hidup-sederhana/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-3539870252338224707?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/3539870252338224707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=3539870252338224707' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3539870252338224707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3539870252338224707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/10/hidup-sederhana.html' title='Hidup Sederhana'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-2993551140258796983</id><published>2009-09-20T03:45:00.001-07:00</published><updated>2009-09-20T03:45:40.502-07:00</updated><title type='text'>Alhabib Islamic Greeting Card</title><content type='html'>&lt;img style="visibility:hidden;width:0px;height:0px;" border=0 width=0 height=0 src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTIzOTQyNTM1NjgyOCZwdD*xMjM5NDI1NzAwODEyJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMEdyZWV*aW5nJTIwQ2FyZCUzYSUyMGNhcmRfZml*ci5odG*mbj1ibG9nZ2VyJmc9MSZvPWVkNzE3ZTNiYzgxMTQ*NzhiN2U4MDU3NTE5ZmE5ODg5Jm9mPTA=.gif" /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.al-habib.info/"&gt;&lt;img src="http://lh5.ggpht.com/_EG4WK-4Uz7g/SNJ5zVd9OPI/AAAAAAAAASg/tnGZzvN9bSA/s800/fitr_bungamasjid_id.jpg" style="border:0px;" border="0" alt="Islamic Greeting Card by Alhabib. Visit www.al-habib.info for more greeting cards like this!"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://www.al-habib.info/islamic-greeting-card/"&gt;&lt;b&gt;Alhabib Greeting Card&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-2993551140258796983?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/2993551140258796983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=2993551140258796983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2993551140258796983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/2993551140258796983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/09/alhabib-islamic-greeting-card.html' title='Alhabib Islamic Greeting Card'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_EG4WK-4Uz7g/SNJ5zVd9OPI/AAAAAAAAASg/tnGZzvN9bSA/s72-c/fitr_bungamasjid_id.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-6128314919024504590</id><published>2009-09-18T22:18:00.000-07:00</published><updated>2009-09-18T22:30:32.020-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zakat'/><title type='text'>Peran Zakat Untuk Kemakmuran Rakyat</title><content type='html'>Oleh:Dr.Attabiq Luthfi,MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dakwatuna.com – “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan miskin, pengurus (amil) zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk (usaha) di jalan Allah, dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“. (At-Taubah: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas yang berbicara tentang kelompok yang ditetapkan oleh Allah sebagai yang berhak mendapat dana zakat (mustahiq), demikian juga surat At-Taubah: 103 yang berbicara tentang kewajiban zakat yang dikaitkan dengan hikmah dan manfaat zakat bagi muzakki keduanya menggunakan terminologi ’shadaqah’ yang berasal dari akar kata ’shadaqa’ yang berarti benar dan jujur. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ketulusan, kebenaran dan kejujuran keimanan seseorang terletak pada kesiapannya menunaikan kewajiban zakat. Zakat berdasarkan ayat diatas dapat dikatakan sebagai ‘jaminan sosial’ bagi kelompok yang sangat membutuhkan huluran bantuan materi. Maknanya, zakat merupakan ibadah yang mempunyai peran strategis dalam konteks ekonomi keumatan yang akan memberikan dampak kesejahteraan dan kemakmuran bagi orang banyak&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Asy-Syaukani dalam kitab tafsirnya ‘Fathul Qadir’, ayat di atas telah merinci pihak yang harus mendapat bantuan keuangan yang berasal dari zakat berdasarkan skala prioritas dari kelompok yang sangat membutuhkan yaitu faqir dan seterusnya kelompok yang dikategorikan miskin dalam memenuhi kebutuhan asasi mereka. Apabila kebutuhan primer mereka telah terpenuhi, maka untuk selanjutnya zakat berperan untuk mengangkat dan meningkatkan taraf hidup mereka pada standar kehidupan yang layak seperti yang dialami oleh kelompok muzakki. Tentu mustahiq tidak harus berpuas hati menjadi ‘tangan yang dibawah’ terus menerus sehingga termotivasi untuk menjadi kelompok muzakki di masa mendatang. Disinilah peran zakat dalam konteks memberdayakan kelompok mustahiq agar tercipta kemakmuran dan kesejahteraan yang merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pembacaan Fairuz Abadi terhadap seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, terdapat 35 ayat yang berbicara tentang zakat. Tiga puluh diantaranya menggunakan bentuk ma’rifat, serta 27 ayat diantaranya disandingkan dengan perintah shalat seperti firmanNya: “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’”. (Al-Baqarah: 43). Pembicaraan tentang zakat juga tidak hanya terdapat pada ayat-ayat Madaniyah, tetapi juga pada ayat-ayat Makkiyyah yang notabene terfokus pada pembentukan keimanan dan keyakinan. Ini menunjukkan bahwa zakat merupakan salah satu elemen penting dalam pembentukan keimanan. Bahkan dalam surat Ar-Rum : 39 Allah mengkaitkan zakat dengan sistim Ekonomi Ribawi yang jelas kontra kemakmuran dan kesejahteraan orang banyak (baca: rakyat; umat). Allah swt berfirman: “Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan dari zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan tentang zakat tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang konsep harta menurut Al-Qur’an, terutama tentang konsep kepemilikan yang akan meringankan si pemilik harta untuk mengeluarkan sebagian hartanya sesuai dengan ketentuan pemilik hakiki yaitu Allah swt. Dalam banyak ayat Al-Qur’an ditegaskan bahwa kepemilikian harta yang hakiki disandarkan kepada Allah swt, “Dan berikanlah kepada mereka dari harta Allah yang dikarunikan kepadamu…” (An-Nur: 33) Kemudian Allah mengizinkan manusia untuk menguasai harta tersebut dengan cara-cara yang telah ditetapkan. Artinya, jika manusia mendapatkan atau menguasai harta tersebut dengan mengabaikan aturan Allah, maka ia pada hakikatnya tidak berhak untuk memilikinya. inilah konsep kepemilikan dalam Islam yang membedakan dengan konsep kepemilikan dalam aturan lain. Sehingga harus disadari betul bahwa pada harta yang dimiliki seseorang ada kewajiban yang ditetapkan oleh Allah dan hak orang lain yang keduanya bersifat melekat pada harta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tentang konsep kepemilikan harta, pembicaraan tentang zakat juga harus dikaitkan dengan konsep pengembangan harta dengan cara yang baik sehingga akan menjadi keberkahan bagi pemiliknya dan orang lain. Justru persoalan keberkahan merupakan persoalan inti dan esensi bagi seorang muslim dalam mensikapi hartanya. Diantara ciri harta yang berkah itu adalah harta itu akan bertambah banyak, paling tidak dari segi dampak manfaat yang ditimbulkannya. dengan berzakat harta menjadi berkah dalam arti memberi kenyamanan dan keamanan bagi pemiliknya karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang hartanya. Bahkan hartanyalah yang akan menjaga pemiliknya. Dengan menjalankan kewajiban zakat juga sang pemilik harta akan berkah karena lebih dekat dengan Allah karena selalu bersyukur atas karuniaNya. Harta yang senantiasa dikeluarkan zakatnyaakan menghindarkan pemiliknya dari sikap rakus terhadap harta, bahkan selalu berusaha untuk memberikan manfaat bagi pemilik dan orang lain. Rasulullah saw menjamin dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah, dan tidaklah Allah menambah bagi hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang yang berlaku tawadhu’ karena Allah melainkan Dia akan meninggikannya“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari segi filosofi zakat berdasarkan ayat inti dalam tulisan ini, zakat tidak sekadar menunaikan kewajiban materiil semata bagi seorang muslim yang memiliki harta, tetapi bagaimana zakat dapat dijadikan sebagai sistem nilai yang seterusnya terinternalisasi dalam diri pembayar zakat untuk menjadi seseorang yang peduli kepada yang lemah dan berpihak pada kaum papa dalam seluruh perilaku dan aktifitas ekonominya. secara empiris, kesejahteraan sebuah negara karena zakat terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. meskipun beliau hanya memerintah selama 22 bulan karena meninggal dunia, negara menjadi sangat makmur, yaitu dengan pemerintahan yang bersih dan jujur dan zakat yang ditangai dengan baik. hingga kala itu negara yangn cukup luas hampir sepertiga dunia tidak ada yang berhak menerima zakat karena semua penduduk muslim sudah menjadi muzakki. itulah pertama kali ada istilah zakat ditransfer ke negeri lain karena tidak ada lagi yang patut disantuni. zakat dapat menumbuhkan etos kerja. dengan membayar zxakat seseorang akan bekerja dengan baik. dengan demikian gerakan sadar zakat pada dasanya adalah gerakan menciptakan etos kerja yang baik yang memberi kesejahteraan dan kemakmuran yang merata bagi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bahwa keberhasilan khalifah Umar bin Abdul Aziz pada saat itu tidak hanya dengan menggunakan zakat dalam arti harfiah materiil semata, tetapi merupakan kebijakan yang memberikan perhatian yang tinggi pada pengelolaan zakat. Zakat pada kepemimpinan beliau dijadikan tolok ukur akan kesejahteraaan masyarakat, baik jumlah orang yang berzakat, besar zakat yang dibayarkan, maupun jumlah penerima zakat. Berbeda dengan tolok ukur lain yang cenderung bias. Tolak ukur zakat sebagai pengatur kesejahteraan benar-benar bisa dijadikan pedoman standar, baik dalam konteks ekonomi mikro maupun makro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah zakat berperan sebagai Ibadah Maaliyah Ijtima’iyyah (ibadah harta yang berdimensi sosial) yang memiliki posisi penting, strategis dan menentukan, baik dari sisi pelaksanaan ajaran Islam maupun dari sisi pembanguna kesejahteraan umat. Kesediaan seseorang untuk berzakat merupakan indikator utama ketundukannya terhadap Allah dan ciri utama seorang mukmin yang akan mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah. kesediaan berzakat pula dipandang sebagai ciri orang yang selalu berkeinginan mennyucikan dan mmembersihkan serta mengembangkan harta yang dimilikinya, Sebaliknya keengganan dan ketidak pedulian seseroang terhadap zakat mendapatkan peringatan dan ancaman yang berat dari Al-Qiur’an di akhirat kelak. Harta benda yang disimpan dan tidak dibelanjakan sesuai dengan dengan ketentuan Allah akan berubah menjadi alat untuk mengazabnya. Dalam beberapa hadits, Rasulullah mengancam orang yang enggan membayar zakat hartanya akan hancur, dan jika keengganan ini demikian bersifat massal, maka Allah akan menurunkan azab berupa dihambatnya hujan yang menurunkan keberkahan seperti tersebut dalam hadits Thobroni dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah juga pernah menghukum Tsa’labah atas keengganannya berzakat dengan isolasi yang berkepanjangan, tidak ada seorang sahabatpun yang berhubungan dengannya meskipun hanya bertegur sapa. Khalifah Abu Bakar bahkan mengultimatum perang terhadap kelompok yang hanya shalat namun tidak mau berzakat sepeninggal kewafatan Rasulullah. Atas dasar kepentingan inilah, sampai sahabat Abdullah bin Mas’ud menegaskan bahwa orang yang tidak berzakat, maka tidak ada shalat baginya. Dalam konteks kemakmuran rakyat (umat), peran zakat dapat dilihat dari beberapa hal berikut ini: pertama, zakat akan menumbuhkan akhlak yang mulia berupa kepeduliaan terhadap nasib kehidupan orang lain, menghilangkan rasa kikir dan egoisme (An-Nisa’: 37). Kedua, Zakat berfungsi secara sosial untuk mensejahterakan kelompok mustahiq, terutama golongan fakir miskin ke arah kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, dapat menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan menderita. Ketiga, zakat akan mendorong umat untk menjadi menjadi muzakki sehingga akan meningkatkan etos kerja dan etika bisnis yang benar. Keempat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Dengan zakat yang dikelola dengan baik dimungkinkan terciptanya pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan. Maka zakatlah ibadah satu-satunya yang secara eksplisit disebutkan adanya pengelola resmi yang dikenal dengan istilah Amil seperti yang diisyaratkan dalam surat At-Taubah: 103 yang bermaksud: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan ini, Monzer Kahl dalam bukunya ‘Ekonomi Islam; telaah analitik terhadap fungsi sistim Ekonomi Islam’ menyatakan bahwa zakat dan sistim pewarisan dalam Islam cenderung berperan sebagai sistem distribusi harta yang egaliter sehingga harta akan selalu berputar dan beredar kepada seluruh lapisan rakyat, karena memang akumulasi harta di tangan seseorang atau suatu kelompok saja sangat ditentang oleh Al-Qur’an. Allah menegaskan dalam firmanNya: “….Agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja diantara kamu..”. (Al-Hasyr: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, zakat yang secara bahasa berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah merupakan ibadah yang berdimensi vertikal dan horizontal secara bersamaan. Seorang yang membayar zakat karena keimanannya niscaya akan memperoleh kebaikan yang banyak dan akan memberikan kemakmuran kepada seluruh umat. Semoga kita termasuk diantara hambaNya yang senantiasa dido’akan oleh MalaikatNya pada setiap pagi dan petang: “Ya Allah berilah orang berinfak gantinya”, bukan termasuk hambaNya yang didoakan kehancuran: “Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak kehancuran”. (H.R. Bukhari dan Muslim) []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2009/peran-zakat-untuk-kemakmuran-rakyat/"&gt;www.dakwatuna.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-6128314919024504590?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/6128314919024504590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=6128314919024504590' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6128314919024504590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/6128314919024504590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/09/peran-zakat-untuk-kemakmuran-rakyat.html' title='Peran Zakat Untuk Kemakmuran Rakyat'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-3480621794194841781</id><published>2009-08-31T01:09:00.000-07:00</published><updated>2009-08-31T01:29:04.619-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa Menahan Diri Demi Menggapai Ridho Illahi (2)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Hikmah dan Keutamaan Puasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hikmah Ibadah Puasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya cukuplah bagi seorang hamba mengetahui bahwa Alloh memerintahkan untuk berpuasa itu menjadikan keutamaan yang besar yang akan diraihnya dengan menjalankan perintah itu. Karena dia menyadari bahwa Alloh yang maha penyayang pasti tidak menginginkan untuk mencelakakan hamba. Sehingga apa yang diperintahkan-Nya pasti mengandung kebaikan meskipun dia belum mengetahuinya. Meskipun demikian, tidak ada salahnya kita mengetahui hikmah-hikmah di balik ibadah selama kita tidak menjadikannya sebagai syarat untuk beramal. Semoga dengan mengetahui hikmahnya keyakinan dan keimanan kita bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdulloh Ali Bassaam hafizhahulloh menyebutkan beberapa hikmah yang tersimpan di balik pensyari’atan puasa, diantaranya yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Puasa termasuk ibadah dan ketundukan kepada Alloh, sehingga puasa itu menjadikan orang yang berpuasa hanya mengahadapkan dirinya kepada Alloh, tunduk dan khusyuk di hadapan-Nya tatkala dia harus menolak kekuasaan syahwat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   2. Bersatunya ummat dalam menjalankan satu ibadah dalam satu waktu dan menempa kesabaran mereka semua baik orang-orang yang kuat maupun lemah, terpandang maupun tidak, kaya maupun miskin guna bersama-sama menanggung kewajiban ini yang akan membuahkan keterikatan hati dan ruh mereka serta bersatunya kalimat mereka. Puasa juga menjadi sebab terjalinnya kasih sayang antara ummat ini satu sama lain. Sehingga orang yang kaya turut merasakan lapar dan dahaga yang dialami saudaranya yang tidak berada.&lt;br /&gt;   3. Puasa melatih kesabaran, mengokohkan tekad dan kemauan, menempa jiwa dalam menghadapi kesulitan yang ditemui, menundukkannya dan membuatnya menjadi terasa ringan (lihat Taisirul ‘Allaam juz I hal. 351-352).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Diwajibkannya Puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “Hikmah diwajibkannya puasa terhadap ummat ini telah diterangkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan pula kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al Baqoroh: 183). Kata la’alla (agar) di sini berfungsi untuk menunjukkan alasan, artinya supaya kalian bertaqwa kepada Alloh, sehingga engkau pun meninggalkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan engkau menegakkan apa yang diwajibkan oleh Alloh. Dalam kitab shohih Nabi pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, berbuat dengannya dan juga tindakan bodoh maka Alloh tidak membutuhkan perbuatannya meninggalkan makan dan minumnya.” (Hadits riwayat Al Bukhori). Maksudnya Alloh tidaklah menghendaki kita sekedar meninggalkan makanan dan minuman, sesungguhnya Alloh menghendaki dari kita agar meninggalkan perkataan dusta, berbuat dengannya atau bertindak bodoh. Oleh karena itulah bagi orang yang berpuasa apabila ada orang yang mencacinya ketika dia dalam keadaan puasa maka disunnahkan baginya untuk mengatakan: Sesungguhnya aku sedang puasa, dan tidak membalas kejelekan itu; karena seandainya dibalasnya niscaya orang yang mencacinya akan balik melawan, kemudian diapun kembali melawan lagi untuk yang kedua kalinya sehingga yang dicacipun membantah yang mencaci demikian seterusnya sehingga menimbulkan seluruh waktu puasanya berubah menjadi dipenuhi dengan cacian dan perseteruan. Akan tetapi jika dia justeru berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang puasa’ itu artinya dia memberitahu kepada orang yang mencela atau memusuhinya bahwa sesungguhnya bukan berarti dia tidak mampu membalasnya, tetapi yang menahannya dari membalas adalah karena dia sedang puasa dan ketika itu orang yang mencaci akan menahan diri dan malu serta tidak jadi meneruskan cacian dan perseteruan.” (Tsamaniyatu Wa Arba’uuna Su’aalan Fish Shiyaam hal. 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Diampuni dosanya yang telah lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon karena iman dan ihtisab niscaya dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih). Al Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa yang dimaksud karena iman (di dalam hadits ini -pent) adalah meyakini kebenaran kewajiban puasanya, sedangkan yang dimaksud dengan ihtisab adalah demi mencari pahala dari Alloh Ta’ala (lihat Fathul Baari cet. Daarul Hadits Juz IV hal. 136). Dengan syarat dosa-dosa besar dijauhi, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat lima waktu yang satu dengan lainnya, ibadah Jum’ah menuju Jum’ah yang lain, Ramadhan menuju Ramadhan sesudahnya, menjadi penghapus dosa-dosa selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Balasan istimewa bagi puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (Muttafaq ‘alaih). Al Imam An Nawawi menerangkan firman Alloh Ta’ala, “dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”: Ini menjelaskan betapa besar keutamaannya dan amat banyak pahalanya (lihat Syarah Shohih Muslim jilid IV cet. Daar Ibnu Haitsam hal. 482).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Puasa adalah perisai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Puasa adalah perisai, apabila kamu sedang puasa janganlah berkata jorok, janganlah berteriak-teriak dan janganlah berbuat bodoh. Apabila ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah ‘Sesungguhnya aku sedang puasa’ sebanyak dua kali.” (Muttafaq ‘alaih). Syaikh Al ‘Utsaimin menerangkan makna puasa adalah perisai yaitu: sebagai tameng dan penghalang yang menjaga orang yang berpuasa dari melakukan perbuatan yang sia-sia dan berkata jorok… dan puasa juga melindunginya dari siksa neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Jabir rodhiyallohu ‘anhu dengan sanad hasan bahwa Nabi bersabda, “Puasa adalah perisai yang digunakan hamba untuk melindungi dirinya dari neraka.” (lihat Majaalis Syahri Romadhon cet Daarul ‘Aqidah hal. 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada kasturi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang sedang puasa itu lebih harum di sisi Alloh pada hari kiamat daripada bau minyak kasturi.” (Muttafaq ‘alaih). Syaikh Al ‘Utsaimin menerangkan, “Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Alloh melebihi harumnya minyak kasturi karena ia timbul dari pengaruh puasa, sehingga baunya harum di sisi Alloh Subahanahu dan dicintai-Nya, ini adalah dalil yang menunjukkan agungnya kedudukan puasa di sisi Alloh sampai-sampai sesuatu yang tidak disenangi dan dirasa kotor di sisi manusia menjadi sesuatu yang dicintai di sisi Alloh serta berbau harum karena ia muncul dari ketaatannya dengan menjalankan puasa.” (lihat Majaalis Syahri Romadhon cet Daarul ‘Aqidah hal. 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pintu khusus di surga bagi orang yang berpuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sahl bin Sa’ad rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar Royyaan, pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa masuk melalui pintu itu, tidak seorangpun yang masuk selain mereka. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup dan tidak ada lagi orang yang masuk melewatinya.” (Muttafaq ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan yang dia bergembira dengannya: ketika berbuka dia bergembira dengan bukanya dan ketika berjumpa Robbnya dia bergembira dengan puasanya.” (Muttafaq ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/puasa-menahan-diri-demi-menggapai-ridho-illahi-2.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8176420429117690676-3480621794194841781?l=silaturrahmiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/feeds/3480621794194841781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8176420429117690676&amp;postID=3480621794194841781' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3480621794194841781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8176420429117690676/posts/default/3480621794194841781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silaturrahmiku.blogspot.com/2009/08/puasa-menahan-diri-demi-menggapai-ridho.html' title='Puasa Menahan Diri Demi Menggapai Ridho Illahi (2)'/><author><name>Din Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04859595844147906848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8176420429117690676.post-1218583517392486693</id><published>2009-08-25T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T00:14:30.217-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nabi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa Menahan Diri Demi Menggapai Ridha Illahi (1)</title><content type='html'>بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kamu sedang puasa jangan berkata jorok, jangan berteriak-teriak dan jangan berbuat bodoh. Apabila ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah ‘Sesungguhnya aku sedang puasa’ sebanyak dua kali. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa itu lebih harum di sisi Alloh pada hari kiamat daripada bau minyak kasturi. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan yang dia bergembira dengannya: ketika berbuka dia bergembira dengan bukanya dan ketika berjumpa Robbnya dia bergembira dengan puasanya.” (Muttafaq ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, semoga Alloh merahmatimu, syariat Islam yang mulia ini telah memberikan kelapangan dan kemudahan bagi ummat manusia. Tidaklah Alloh membebankan suatu kewajiban kepada seseorang melainkan dengan memperhatikan kemampuannya. Alloh Ta’ala berfirman, “Tidaklah Alloh membebankan kepada seseorang kecuali menurut kemampuannya.” (QS. Al Baqoroh: 286)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula ibadah puasa yang disyari’atkan kepada kita. Apabila seseorang justru dikhawatirkan tertimpa bahaya dengan melakukan puasa maka dia diperbolehkan bahkan lebih utama untuk tidak berpuasa ketika itu, seperti orang yang sedang sakit dan bepergian jauh. Alloh Ta’ala berfirman, “Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka) maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqoroh: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrohman bin Naashir As Sa’di rohimahulloh mengatakan dalam kitab tafsirnya, “Alloh Ta’ala menghendaki memberikan kemudahan kepada kalian untuk menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada keridhoan-Nya dengan semudah mungkin, dan mempermudah jalan-jalan itu dengan sepenuh kemudahan. Karena itulah semua perkara yang diperintahkan Alloh kepada hamba-Nya pada asalnya merupakan sesuatu yang sangat mudah.” (Taisir karimirrohman, hal. 86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Mempelajari Tata Cara Puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa merupakan salah satu rukun Islam. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam dibangun di atas lima perkara, persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa Romadhon.” (Muttafaq ‘alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam telah bersepakat tentang wajibnya puasa Romadhon dan merupakan salah satu rukun Islam yang dapat diketahui dengan pasti merupakan bagian dari agama. Barangsiapa yang mengingkari tentang wajibnya puasa Romadhon maka dia kafir, keluar dari Islam (lihat Al Wajiz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya setiap muslim hendaknya mempelajari ilmu yang terkait dengan pelaksanaan ibadah yang agung ini. Karena ilmu itu lebih didahulukan daripada ucapan dan perbuatan, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Al Bukhori di dalam kitab Shohihnya. Beliau berdalil dengan firman Alloh Ta’ala yang artinya, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada yang berhak disembah dengan benar kecuali Alloh dan mintalah ampunan terhadap dosamu.” (QS. Muhammad: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahulloh menjelaskan, “Al Bukhori rohimahulloh berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan kewajiban memulai dengan ilmu sebelum berucap dan berbuat, ini merupakan dalil atsari (berdasarkan penukilan -pent) yang menunjukkan seorang insan mengetahui terlebih dahulu baru kemudian mengamalkan, di sana juga terdapat dalil ‘aqli nadhari (berdasarkan pemikiran dan perenungan -pent) yang menunjukkan ilmu itu didahulukan sebelum ucapan dan amalan. Yaitu dikarenakan ucapan dan amalan tidak akan menjadi benar dan diterima hingga bersesuaian dengan aturan syari’at, dan seorang insan tidak mungkin mengetahui apakah amalannya itu sesuai dengan syari’at kecuali dengan ilmu…” (Syarah Tsalatsatul Ushul, hal. 27-28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Adalah Ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah memiliki pengertian yang amat luas dan jelas yaitu, “Segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang nampak maupun yang tersembunyi.” (lihat perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang dinukil di Fathul Majid). Dan puasa termasuk di antaranya, puasa adalah amalan yang dicintai Alloh, buktinya Alloh mewajibkan puasa kepada hamba-hamba-Nya. Alloh berfirman yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqoroh: 183). Dan tidak mungkin Alloh mewajibkan sesuatu kecuali sesuatu itu pasti dicintai dan diridhoi-Nya, meskipun sebagian manusia ada yang merasa tidak suka dengannya. Cobalah perhatikan ketika Alloh mewajibkan kaum muslimin untuk berperang. Alloh berfirman yang artinya, “Telah diwajibkan kepada kalian berperang padahal itu kalian benci, bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal sebenarnya itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagi kalian. Alloh lah yang lebih tahu dan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh: 216). Dan dalam menentukan apakah sesuatu amalan itu termasuk ibadah atau bukan bukanlah akal yang menentukan, akan tetapi firman Alloh dan sabda Rosul-Nya. Sebagaimana kaidah yang sudah amat masyhur di kalangan ulama’ bahwa hukum asal ibadah (ritual) itu terlarang/haram sampai tegak dalil yang mensyari’atkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah Hanya untuk Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita telah mengetahui bahwa puasa adalah ibadah maka ketahuilah saudaraku bahwasanya ibadah itu hanya boleh ditujukan kepada Alloh, karena barangsiapa yang memalingkan ibadah kepada selain Alloh dia telah terjerumus dalam kesyirikan dan kekafiran. Sebagaimana sholat akan menjadi batal dan rusak apabila pelakunya terkena hadats, maka demikian pula ibadah akan menjadi batal dan rusak apabila tercampuri kesyirikan. Sebagaimana sholat tidak sah tanpa thoharoh maka demikian pula ibadah tidak akan sah tanpa tauhid. (lihat Al Qowa’idul Arba’ karya Asy Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Alloh maka janganlah kamu menyeru disamping Alloh sesuatupun.” (QS. Al Jin: 18). Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahulloh menerangkan, “Alloh Ta’ala melarang seorang insan menyeru/beribadah disamping Alloh sesuatupun, dan Alloh tidaklah melarang dari sesuatu kecuali karena Dia Yang Maha suci lagi Maha tinggi tidak meridhoinya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Jika kamu kufur sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan kamu, dan Alloh tidak ridho kekafiran bagi hamba-Nya dan jika kamu bersyukur niscaya Dia ridho kepadamu.” (QS. Az Zumar: 7) … dan apabila ternyata Alloh tidak meridhoi kekufuran dan kesyirikan maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk tidak ridho dengan keduanya, karena seorang mukmin itu keridhoan dan kemarahannya mengikuti keridhoan dan kemurkaan Alloh, sehingga dia akan marah terhadap sesuatu yang dimurkai Alloh dan akan ridho terhadap sesuatu yang diridhoi Alloh ‘Azza wa Jalla, maka demikian pula apabila Alloh tidak meridhoi kekufuran dan kesyirikan maka tidak semestinya seorang mukmin justru ridho terhadap keduanya.” (Syarah Tsalatsatul Ushul hal. 33-34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka cobalah kita renungkan keadaan kaum muslimin sekarang ini yang sebagian di antara mereka (semoga kita tidak termasuk di dalamnya) bergelimang kesyirikan s
