oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A
AKHLAK (2/3)
Ketika Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah Saw., beliau
menjawab,
Budi pekerti Nabi Saw. adalah Al-Quran
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).
Semua sifat Allah tertuang dalam Al-Quran. Jumlahnya bahkan
melebihi 99 sifat yang populer disebutkan dalam hadis.
Sifat-sifat Allah itu merupakan satu kesatuan. Bukankah Dia
Esa di dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya? Karenanya tidak
wajar jika sifat-sifat itu dinilai saling bertentangan.
Artinya, semua sifat memiliki tempatnya masing-masing. ada
tempat untuk keperkasaan dan keangkuhan Allah, juga tempat
kasih sayang dan kelemah-lembutan-Nya. Ketika seorang Muslim
meneladani sifat Al-Kibriya' (Keangkuhan Allah), ia harus
ingat bahwa sifat itu tidak akan disandang oleh Tuhan kecuali
dalam konteks ancaman terhadap para pembangkang, terhadap
orang yang merasa dirinya superior. Ketika Rasul Saw melihat
seseorang yang berjalan dengan angkuh di medan perang, beliau
bersabda,
"Itu adalah cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali
dalam kondisi semacam ini."
Seseorang yang berusaha meneladani sifat Al-Kibriya' tidak
akan meneladaninya kecuali terhadap manusia-manusia yang
angkuh. Dalam konteks ini ditemukan riwayat yang menyatakan,
"Bersikap angkuh terhadap orang yang angkuh adalah
sedekah".
Ketika seorang Muslim berusaha meneladani kekuatan dan
kebesaran Ilahi, harus diingat bahwa sebagai makhluk ia
terdiri dan jasad dan ruh, sehingga keduanya harus sama-sama
kuat. Kekuatan dan kebesaran itu mesti diarahkan untuk
membantu yang kecil dan lemah, bukan digunakan untuk menopang
yang salah maupun yang sewenang-wenang. Karena ketika Al-Quran
mengulang-ulang kebesaran Allah, Al-Quran juga menegaskan
bahwa:
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang,
angkuh lagi membanggakan diri (QS Luqman [31]: 18).
Jika seorang Muslim meneladani Allah Yang Mahakaya, ia harus
menyadari bahwa istilah yang digunakan Al-Quran untuk
menunjukkan sifat itu adalah Al-Ghani. Ini yang maknanya
adalah tidak membutuhkan --dan bukan kaya materi-- sehingga
esensi sifat itu (kekayaan) adalah kemampuan berdiri sendiri
atau tidak menghajatkan pihak lain, sehingga tidak perlu
membuang air muka untuk meminta-minta.
Orang-orang yang tidak tahu, menduga mereka kaya,
karena mereka memelihara diri dari meminta-minta (QS
Al-Baqarah [2]: 273)
Tetapi dalam kedudukan manusia sebagai makhluk, ia sadar bahwa
dirinya amat membutuhkan Allah:
Wahai seluruh manusia, kamu sekalian adalah
orang-orang faqir (butuh) kepada Allah (QS Fathir
[35]: 15).
Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allah yang lain, yang
harus diteladaninya, seperti Maha Mengetahui, Maha Pemaaf,
Maha Bijaksana, Maha Agung, Maha Pengasih, dan lain-lain.
Adalah merupakan keistimewaan bagi seseorang atau masyarakat
jika menjadikan sifat-sifat Allah sebagai tolok ukur, dan
tidak menjadikan kelezatan atau manfaat sesaat sebagai tolok
ukur kebaikan. Karena kelezatan dan manfaat dapat berbeda-beda
antara seseorang dengan yang 1ain, bahkan seseorang yang
berada dalam kondisi dan situasi tertentu juga bisa berbeda,
dengan kondisi lainnya. Boleh jadi suatu masyarakat yang
terjangkiti penyakit akan menilai keburukan sebagai kebaikan.
SASARAN AKHLAK
Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika,
jika etika dibatasi pada sopan santun antar sesama manusia,
serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.
Akhlak lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan
terdahulu serta mencakup pula beberapa hal yang tidak
merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap
batin maupun pikiran. Akhlak diniah (agama) mencakup berbagai
aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada
sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan
benda-benda tak bernyawa).
Berikut upaya pemaparan sekilas beberapa sasaran akhlak
Islamiyah.
a. Akhlak terhadap Allah
Titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan
kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki
sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, yang jangankan
manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya.
Mahasuci engkau --Wahai Allah-- kami tidak mampu
memuji-Mu; Pujian atas-Mu, adalah yang Engkau pujikan
kepada diri-Mu.
Demikian ucapan para malaikat.
Itulah sebabnya mengapa Al-Quran mengajarkan kepada manusia
untuk memuji-Nya, Wa qul al-hamdulillah (Katakanlah
"al-hamdulillah"). Dalam Al-Quran surat An-Nam1 (27): 93,
secara tegas dinyatakan-Nya bahwa,
Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah, Dia akan
memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya,
maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai
dari apa yang kamu kerjakan."
Mahasuci Allah dan segala sifat yang mereka sifatkan
kepada-Nya, kecuali (dari) hamba-hamba Allah yang
terpilih (QS Ash-Shaffat [37]: 159-160).
Teramati bahwa semua makhluk --kecuali nabi-nabi tertentu--
selalu menyertakan pujian mereka kepada Allah dengan
menyucikan-Nya dari segala kekurangan.
Dan para malaikat menyucikan sambil memuji Tuhan
mereka (QS Asy-Syura [42]: 5).
Guntur menyucikan (Tuhan) sambil memuji-Nya (QS
Ar-Ra'd [13]: 13).
Dan tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih
(menyucikan Allah) sambil memuji-Nya (QS Al-Isra'
[17]: 44).
Semua itu menunjukkan bahwa makhluk tidak dapat mengetahui
dengan baik dan benar betapa kesempurnaan dan keterpujian
Allah Swt. Itu sebabnya mereka --sebelum memuji-Nya--
bertasbih terlebih dahulu dalam arti menyucikan-Nya. Jangan
sampai pujian yang mereka ucapkan tidak sesuai dengan
kebesaran-Nya. Bertitik tolak dari uraian mengenai
kesempurnaan Allah, tidak heran kalau Al-Quran memerintahkan
manusia untuk berserah diri kepada-Nya, karena segala yang
bersumber dari-Nya adalah baik, benar, indah, dan sempurna.
Tidak sedikit ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk
menjadikan Allah sebagai "wakil". Misalnya firman-Nya dalam QS
Al-Muzzammil (73): 9:
(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan
melainkan Dia, maka jadikanlah Allah sebagai wakil
(pelindung).
Kata "wakil" bisa diterjemahkan sebagai "pelindung". Kata
tersebut pada hakikatnya terambil dari kata "wakala-yakilu"
yang berarti mewakilkan.
Apabila seseorang mewakilkan kepada orang lain (untuk suatu
persoalan), maka ia telah menjadikan orang yang mewakili
sebagai dirinya sendiri dalam menangani persoalan tersebut,
sehingga sang wakil melaksanakan apa yang dikehendaki oleh
orang yang menyerahkan perwakilan kepadanya.
Menjadikan Allah sebagai wakil sesuai dengan makna yang
disebutkan di atas berarti menyerahkan segala persoalan
kepada-Nya. Dialah yang berkehendak dan bertindak sesuai
dengan kehendak manusia yang menyerahkan perwakilan itu
kepada-Nya.
Makna seperti itu dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak
dijelaskan lebih jauh. Pertama sekali harus diingat bahwa
keyakinan tentang Keesaan Allah antara lain berarti bahwa
perbuatan-Nya esa, sehingga tidak dapat disamakan dengan
perbuatan manusia, walaupun penamaannya sama. Sebagai contoh,
Allah Maha Pengasih (Rahim) dan Maha Pemurah (Karim). Kedua
sifat ini dapat pula dinisbahkan kepada manusia, namun hakikat
dan kapasitas rahmat dan kemurahan Tuhan tidak dapat disamakan
dengan apa yang dimiliki manusia, karena mempersamakan hal itu
akan berakibat gugurnya makna keesaan.
Allah Swt., yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adalah
Yang Mahakuasa, Maha Mengetahui, Mahabijaksana dan semua maha
yang mengandung pujian. Manusia sebaliknya, memiliki
keterbatasan pada segala hal. Jika demikian "perwakilan"-Nya
pun berbeda dengan perwakilan manusia.
Benar bahwa wakil diharapkan dan dituntut untuk memenuhi
kehendak yang mewakilkan. Namun, karena dalam perwakilan
manusia sering terjadi kedudukan maupun pengetahuan orang yang
mewakilkan lebih tinggi daripada sang wakil, dapat saja orang
yang mewakilkan tidak menyetujui atau membatalkan tindakan
sang waki1 atau menarik kembali perwakilannya, bila ia merasa
--berdasarkan pengetahuan dan keinginannya-- tindakan sang
wakil merugikan. Jika seseorang menjadikan Allah sebagai
wakil, hal serupa tidak akan terjadi, karena sejak semula ia
telah menyadari keterbatasan dirinya, dan menyadari pula
Kemahamutlakan Allah Swt. Oleh karena itu, ia akan menerimanya
dengan sepenuh hati, baik mengetahui maupun tidak hikmah suatu
perbuatan Tuhan.
Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui
(QS Al-Baqarah: 216).
Dan tidak wajar bagi lelaki Mukmin, tidak pula bagi
wanita Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka (QS
Al-Ahzab [33]: 36).
Demikian salah satu perbedaan antara perwakilan manusia kepada
Tuhan dengan perwakilan manusia kepada selain-Nya.
Perbedaan kedua adalah dalam keterlibatan orang yang
mewakilkan.
Jika Anda mewakilkan orang lain untuk melaksanakan sesuatu,
Anda telah menugaskannya untuk melaksanakan ha1 tertentu. Anda
tidak perlu melibatkan diri, karena hal itu telah dikerjakan
oleh sang wakil.
Ketika menjadikan Allah Swt. sebagai wakil, manusia dituntut
untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya.
Perintah bertawakal kepada Allah --atau perintah
menjadikan-Nya sebagai wakil-- terulang dalam bentuk tunggal
(tawakkal) sebanyak sembilan kali, dan dalam bentuk jamak
(tawakkalu) sebanyak dua kali. Semuanya didahului oleh
perintah melakukan sesuatu, lantas disusul dengan perintah
bertawakal. perhatikan misalnya Al-Quran surat Al-Anfal ayat
61:
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, condonglah
kepadanya, dan bertawakallah kepada Allah.
Yang lebih jelas lagi adalah dalam Al-Quran surat Al-Maidah
Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota); apabila
kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang, dan hanya
kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu
benar-benar orang yang beriman.
Jika Anda telah merasa yakin terhadap kesempurnaan Allah, dan
segala yang dilakukan-Nya adalah baik serta terpuji, Anda pun
harus percaya bahwa:
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah,
dan apa saja bencana yang menimpamu, itu dan
(kesalahan) dirimu sendiri (QS An-Nisa' [4]: 79).
Al-Quran memberi contoh bagaimana seharusnya seorang Muslim
mengekspresikan keyakinan itu dalam ucapan-ucapannya.
Perhatikan pengajaran Allah dalam Al-Quran surat Al-Fatihah:
Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat,
bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan (jalan)
mereka yang sesat (QS Al-Fatihah [1]: 7).
Di sini, petunjuk jalan menuju kebaikan dinyatakan bersumber
dari Allah yang memberi nikmat. Perhatikan redaksi ayat di
atas "yang telah Engkau anugerahi nikmat". Tetapi, ketika
berbicara tentang jalan orang-orang sesat dan yang akan
mendapat murka, tidak dinyatakan "jalan orang-orang yang
Engkau murkai," tetapi "yang dimurkai," karena murka dapat
mengandung makna negatif, sehingga tidak wajar disandar kepada
Allah.
Perhatikan juga ucapan Nabi Ibrahim a.s.:
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku (QS
Asy-Syu'ara' [26]: 80).
Karena penyakit merupakan sesuatu yang buruk, tidak dinyatakan
bahwa ia berasal dari Tuhan, tetapi, apabila aku sakit
kesembuhan yang merupakan sesuatu yang terpuji, dinyatakan
bahwa "Dia (Allah) yang menyembuhkan".
Sekali lagi, bacalah firman Allah dalam surat Al-Kahf yang
mengisahkan perjalanan Nabi Musa a.s. bersama seorang hamba
pilihan Allah (Khidir a.s.).
Ketika sang hamba Allah itu membocorkan perahu, dia berucap
"Aku ingin merusaknya" (ayat 79), ini disebabkan karena
pembocoran perahu tampak sebagai sesuatu yang buruk. Tetapi
ketika ia membangun kembali tembok yang hampir rubuh, kalimat
yang digunakan adalah "Maka Tuhanmu menghendaki" (ayat 82),
karena di sana amat jelas sisi positif pembangunan itu. Ketika
Khidhir membunuh seorang bocah dengan maksud agar Tuhan
menggantikan dengan bocah yang lebih baik, redaksi yang
digunakannya adalah "Maka kami berkehendak" (ayat 81).
Kehendaknya adalah pembunuhan, dan kehendak Tuhan adalah
penggantian anak dengan yang lebih baik.
---------------- (bersambung 3/3)
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
Sumber : http:// media.isnet.org
Minggu, 14 Juni 2009
Rabu, 10 Juni 2009
Wawasan Al-Qur'an
oleh Dr.M.Quraish Shihab,M.A
AKHLAK (1/3)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan
sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun
terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat,
perangai kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu
tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk
tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam
Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai
konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul,
Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi
pekerti yang agung (QS Al-Qalam [68]: 4).
Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi Saw.,
dan salah satunya yang paling populer adalah,
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia
Bertitik tolak dari pengertian bahasa di atas, yakni akhlak
sebagai kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak
atau kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa firman Allah
berikut ini dapat menjadi salah satu argumen keaneka-ragaman
tersebut.
Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat
beragam (QS Al-Lail [92]: 4).
Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut,
antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan
buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu
ditujukan.
BAIK DAN BURUK
Para filosof dan teolog sering membahas tentang arti baik dan
buruk, serta tentang pencipta kelakuan tersebut, yakni apakah
kelakuan itu merupakan hasil pilihan atau perbuatan manusia
sendiri, ataukah berada di luar kemampuannya?
Tulisan ini tidak akan mengarungi samudera pemikiran yang
dalam lagi sering menenggelamkan itu, namun kita dapat berkata
bahwa secara nyata terlihat dan sekaligus kita akui bahwa
terdapat manusia yang berkelakuan baik, dan juga sebaliknya.
Ini berarti bahwa manusia memiliki kedua potensi tersebut.
Terdapat sekian banyak ayat Al-Quran yang dipahami menguraikan
hal hakikat ini, antara lain:
Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada)-nya
(manusia) dua jalan mendaki (baik dan buruk) (QS
Al-Balad [90]: 10).
...dan (demi) jiwa serta penyempurnaaaan ciptaannya,
maka Allah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan
ketakwaan (QS Asy-Syams [91]: 7-8).
Walaupun kedua potensi ini terdapat dalam diri manusia, namun
ditemukan isyarat-isyarat dalam Al-Quran bahwa kebajikan lebih
dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan, dan bahwa
manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.
Al-Quran surat Thaha (20): 121 menguraikan bahwa Iblis
menggoda Adam sehingga,
... durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia.
Redaksi ini menunjukkan bahwa sebelum digoda oleh Iblis, Adam
tidak durhaka, dalam arti, tidak melakukan sesuatu yang buruk,
dan bahwa akibat godaan itu, ia menjadi tersesat. Walaupun
kemudian Adam bertobat kepada Tuhan, sehingga ia kembali lagi
pada kesuciannya.
Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan
konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman.
Perbedaan --jika terjadi-- terletak pada bentuk, penerapan,
atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep
moral, yang disebut ma'ruf dalam bahasa Al-Quran. Tidak ada
peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau
keangkuhan. Pun tidak ada manusia yang menilai bahwa
penghormatan kepada kedua orang-tua adalah buruk. Tetapi,
bagaimana seharusnya bentuk penghormatan itu? Boleh jadi cara
penghormatan kepada keduanya berbeda-beda antara satu
masyarakat pada generasi tertentu dengan masyarakat pada
generasi yang lain. Perbedaan-perbedaan itu selama dinilai
baik oleh masyarakat dan masih dalam kerangka prinsip umum,
maka ia tetap dinilai baik (ma'ruf).
Kembali kepada persoalan kecenderungan manusia terhadap
kebaikan, atau pandangan tentang kesucian manusia sejak lahir,
hadis-hadis Nabi Saw. pun antara lain menginformasikannya:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah),
hanya saja kedua orang-tuanya (lingkungannya) yang
menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR
Bukhari).
Seorang sahabat Nabi Saw. bernama Wabishah bin Ma'bad
berkunjung kepada Nabi Saw., lalu beliau menyapanya dengan
bersabda:
"Engkau datang menanyakan kebaikan?" "Benar, wahai
Rasul," jawab Wabishah. "Tanyailah hatimu! "Kebajikan
adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa, dan yang
tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang
mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun
setelah orang memberimu fatwa." (HR Ahmad dan
Ad-Darimi).
Dengan demikian menjadi amat wajar jika ditemukan ayat-ayat
Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa manusia pada hakikatnya
--setidaknya pada awal masa perkembangan-- tidak akan sulit
melakukan kebajikan, berbeda halnya dengan melakukan
keburukan.
Salah satu frase dalam surat Al-Baqarah ayat 286 menyatakan,
Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan baik yang
dilakukannya dan sanksi bagi perbuatan (buruk) yang
dilakukannya
Oleh beberapa ulama, frase ini kerap dijadikan sebagai bukti
apa yang disebut di atas. Dalam terjemahan di atas terlihat
bahwa kalimat "yang dilakukan" terulang dua kali: yang pertama
adalah terjemahan dari kata kasabat dan kedua terjemahan dan
kata iktasabat.
Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menyatakan kata
iktasabat, dan semua kata yang berpatron demikian, memberi
arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya,
berbeda dengan kasabat yang berarti dilakukan dengan mudah
tanpa pemaksaan. Dalam ayat di atas, perbuatan-perbuatan
manusia yang buruk dinyatakan dengan iktasabat, sedangkan
perbuatan yang baik dengan kasabat. Ini menandakan bahwa
fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan,
sehingga dapat melakukan kebaikan dengan mudah. Berbeda halnya
dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah
dan keterpaksaan (ini tentu pada saat fitrah manusia masih
berada dalam kesuciannya).
Potensi yang dimiliki manusia untuk melakukan kebaikan dan
keburukan, serta kecenderungannya yang mendasar kepada
kebaikan, seharusnya mengantarkan manusia memperkenankan
perintah Allah (agama-Nya) yang dinyatakan-Nya sesuai dengan
fithrah (asal kejadian manusia). Dalam Al-Quran surat Ar-Rum
(30): 30 dinyatakan,
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Al1ah). Itulah fithrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fithrah itu.
Di sisi lain, karena kebajikan merupakan pilihan dasar
manusia, kelak di hari kemudian pada saat pertanggungjawaban,
sang manusia dihadapkan kepada dirinya sendiri:
Bacalah kitab amalmu (catatan perbuatanmu); cukuplah
engkau sendiri yang melakukan perhitungan atas dirimu
(QS Al-Isra' [17]: 14).
PERTANGGUNGJAWABAN
Atas dasar uraian di atas, Al-Quran membebaskan manusia untuk
memilih kedua jalan yang tadi disebutkan, tetapi ia sendiri
yang harus mempertanggung-jawabkan pilihannya. Manusia tidak
boleh membebani orang lain untuk memikul dosanya, tidak juga
dosa orang lain dipikulkan ke atas pundaknya. Tetapi dalam
Al-Quran surat Al-An'am ayat 164 dinyatakan bahwa tanggung
jawab tersebut baru dituntut apabila memenuhi syaratsyarat
tertentu, seperti pengetahuan, kemampuan, serta kesadaran.
Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa
orang lain, dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami
mengutus seorang rasul... (QS Al-Isra' [17]: 15).
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan
kemampuannya... (QS Al-Baqarah [2]: 286)
Dari gabungan kedua ayat ini, kita dapat memetik paling tidak
dua kaidah yang berkaitan dengan tanggung jawab, yaitu:
1. Manusia tidak diminta untuk mempertanggungjawabkan
apa yang tidak diketahui atau tidak mampu
dilakukannya.
2. Manusia tidak dituntut mempertanggungiawabkan apa
yang tidak dilakukannya, sekalipun hal tersebut
diketahuinya.
Di sisi lain, ditemukan ayat-ayat yang menegaskan bahwa
pertanggungjawaban tersebut berkaitan dengan perbuatan yang
disengaja, bukan gerak refleks yang tidak melibatkan kehendak.
Al-Quran secara tegas menyatakan:
Allah tidak akan meminta pertanggungjawabanmu atas
sumpah-sumpah yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia
akan meminta pertanggungjawabanmu terhadap apa yang
disengaja oleh hatimu... (QS Al-Baqarah [2]: 225).
...tetapi jika seseorang terpaksa, sedangkan ia tidak
menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka
tidak ada dosa baginya... (QS Al-Baqarah [2]: 173).
Dapat juga disimpulkan, bahwa karena manusia diberi kemampuan
untuk memilih, maka pertanggungjawaban berkaitan dengan niat
dan kehendaknya. Atas dasar ini pula, maka niat dan kehendak
seseorang mempunyai peran yang sangat besar dalam nilai amal
sekaligus dalam pertanggungjawabannya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah ia
beriman, dia mendapatkan kemurkaan Allah, kecuali
orang-orang yang dipaksa kafir sedang hatinya tetap
tenang dalam keimanan... (QS An-Nahl [16]: 106) .
Al-Quran surat Al-Isra ayat 23-24 memerintahkan kepada seorang
anak agar menghormati kedua orang-tuanya, khususnya kalau usia
mereka sudah tua (karena ketika telah uzur boleh jadi mereka
melakukan hal-hal yang menjengkelkan). Anak dilarang berkata
uf (cis), dan harus memilih kata-kata yang baik, sambil
merendahkan diri kepada keduanya. Ayat ini disusul dengan
firman-Nya:
Tuhanmu lebih mengetahui yang ada dalam hatimu. Jika
seandainya kamu orang baik-baik (Allah akan
memaaafkan sikap dan ke1akuan yang telah kamu lakukan
dengan terpaksa, tidak sadar, atau yang berada di
luar kontrol kemampuanmu), karena Allah Maha
Pengampun bagi orang-orang yang bertobat (QS Al-Isra'
[17]: 25).
TOLOK UKUR KELAKUAN BAIK
Tolok ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada
ketentuan Allah. Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan
ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa yang dinilai baik oleh
Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya,
tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik,
karena kebohongan esensinya buruk.
Di sisi lain, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia
memiliki segala sifat yang terpuji. Al-Quran suci surat Thaha
(20): 8 menegaskan:
(Dialah) Allah tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai
Sifat-sifat yang terpuji (Al-Asma' Al-Husna) (QS
Thaha [20]: 8).
Rasulullah Saw. juga memerintahkan umatnya agar berusaha
sekuat kemampuan dan kapasitasnya sebagai makhluk untuk
meneladani Allah dalam semua sifat-sifat-Nya,
Berakhlaklah dengan akhlak Allah.
---------------- (bersambung 2/3)
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
Sumber : http://media.isnet.org
AKHLAK (1/3)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan
sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun
terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat,
perangai kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu
tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk
tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam
Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai
konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul,
Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi
pekerti yang agung (QS Al-Qalam [68]: 4).
Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi Saw.,
dan salah satunya yang paling populer adalah,
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia
Bertitik tolak dari pengertian bahasa di atas, yakni akhlak
sebagai kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak
atau kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa firman Allah
berikut ini dapat menjadi salah satu argumen keaneka-ragaman
tersebut.
Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat
beragam (QS Al-Lail [92]: 4).
Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut,
antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan
buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu
ditujukan.
BAIK DAN BURUK
Para filosof dan teolog sering membahas tentang arti baik dan
buruk, serta tentang pencipta kelakuan tersebut, yakni apakah
kelakuan itu merupakan hasil pilihan atau perbuatan manusia
sendiri, ataukah berada di luar kemampuannya?
Tulisan ini tidak akan mengarungi samudera pemikiran yang
dalam lagi sering menenggelamkan itu, namun kita dapat berkata
bahwa secara nyata terlihat dan sekaligus kita akui bahwa
terdapat manusia yang berkelakuan baik, dan juga sebaliknya.
Ini berarti bahwa manusia memiliki kedua potensi tersebut.
Terdapat sekian banyak ayat Al-Quran yang dipahami menguraikan
hal hakikat ini, antara lain:
Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada)-nya
(manusia) dua jalan mendaki (baik dan buruk) (QS
Al-Balad [90]: 10).
...dan (demi) jiwa serta penyempurnaaaan ciptaannya,
maka Allah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan
ketakwaan (QS Asy-Syams [91]: 7-8).
Walaupun kedua potensi ini terdapat dalam diri manusia, namun
ditemukan isyarat-isyarat dalam Al-Quran bahwa kebajikan lebih
dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan, dan bahwa
manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.
Al-Quran surat Thaha (20): 121 menguraikan bahwa Iblis
menggoda Adam sehingga,
... durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia.
Redaksi ini menunjukkan bahwa sebelum digoda oleh Iblis, Adam
tidak durhaka, dalam arti, tidak melakukan sesuatu yang buruk,
dan bahwa akibat godaan itu, ia menjadi tersesat. Walaupun
kemudian Adam bertobat kepada Tuhan, sehingga ia kembali lagi
pada kesuciannya.
Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan
konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman.
Perbedaan --jika terjadi-- terletak pada bentuk, penerapan,
atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep
moral, yang disebut ma'ruf dalam bahasa Al-Quran. Tidak ada
peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau
keangkuhan. Pun tidak ada manusia yang menilai bahwa
penghormatan kepada kedua orang-tua adalah buruk. Tetapi,
bagaimana seharusnya bentuk penghormatan itu? Boleh jadi cara
penghormatan kepada keduanya berbeda-beda antara satu
masyarakat pada generasi tertentu dengan masyarakat pada
generasi yang lain. Perbedaan-perbedaan itu selama dinilai
baik oleh masyarakat dan masih dalam kerangka prinsip umum,
maka ia tetap dinilai baik (ma'ruf).
Kembali kepada persoalan kecenderungan manusia terhadap
kebaikan, atau pandangan tentang kesucian manusia sejak lahir,
hadis-hadis Nabi Saw. pun antara lain menginformasikannya:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah),
hanya saja kedua orang-tuanya (lingkungannya) yang
menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR
Bukhari).
Seorang sahabat Nabi Saw. bernama Wabishah bin Ma'bad
berkunjung kepada Nabi Saw., lalu beliau menyapanya dengan
bersabda:
"Engkau datang menanyakan kebaikan?" "Benar, wahai
Rasul," jawab Wabishah. "Tanyailah hatimu! "Kebajikan
adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa, dan yang
tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang
mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun
setelah orang memberimu fatwa." (HR Ahmad dan
Ad-Darimi).
Dengan demikian menjadi amat wajar jika ditemukan ayat-ayat
Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa manusia pada hakikatnya
--setidaknya pada awal masa perkembangan-- tidak akan sulit
melakukan kebajikan, berbeda halnya dengan melakukan
keburukan.
Salah satu frase dalam surat Al-Baqarah ayat 286 menyatakan,
Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan baik yang
dilakukannya dan sanksi bagi perbuatan (buruk) yang
dilakukannya
Oleh beberapa ulama, frase ini kerap dijadikan sebagai bukti
apa yang disebut di atas. Dalam terjemahan di atas terlihat
bahwa kalimat "yang dilakukan" terulang dua kali: yang pertama
adalah terjemahan dari kata kasabat dan kedua terjemahan dan
kata iktasabat.
Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menyatakan kata
iktasabat, dan semua kata yang berpatron demikian, memberi
arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya,
berbeda dengan kasabat yang berarti dilakukan dengan mudah
tanpa pemaksaan. Dalam ayat di atas, perbuatan-perbuatan
manusia yang buruk dinyatakan dengan iktasabat, sedangkan
perbuatan yang baik dengan kasabat. Ini menandakan bahwa
fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan,
sehingga dapat melakukan kebaikan dengan mudah. Berbeda halnya
dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah
dan keterpaksaan (ini tentu pada saat fitrah manusia masih
berada dalam kesuciannya).
Potensi yang dimiliki manusia untuk melakukan kebaikan dan
keburukan, serta kecenderungannya yang mendasar kepada
kebaikan, seharusnya mengantarkan manusia memperkenankan
perintah Allah (agama-Nya) yang dinyatakan-Nya sesuai dengan
fithrah (asal kejadian manusia). Dalam Al-Quran surat Ar-Rum
(30): 30 dinyatakan,
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Al1ah). Itulah fithrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fithrah itu.
Di sisi lain, karena kebajikan merupakan pilihan dasar
manusia, kelak di hari kemudian pada saat pertanggungjawaban,
sang manusia dihadapkan kepada dirinya sendiri:
Bacalah kitab amalmu (catatan perbuatanmu); cukuplah
engkau sendiri yang melakukan perhitungan atas dirimu
(QS Al-Isra' [17]: 14).
PERTANGGUNGJAWABAN
Atas dasar uraian di atas, Al-Quran membebaskan manusia untuk
memilih kedua jalan yang tadi disebutkan, tetapi ia sendiri
yang harus mempertanggung-jawabkan pilihannya. Manusia tidak
boleh membebani orang lain untuk memikul dosanya, tidak juga
dosa orang lain dipikulkan ke atas pundaknya. Tetapi dalam
Al-Quran surat Al-An'am ayat 164 dinyatakan bahwa tanggung
jawab tersebut baru dituntut apabila memenuhi syaratsyarat
tertentu, seperti pengetahuan, kemampuan, serta kesadaran.
Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa
orang lain, dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami
mengutus seorang rasul... (QS Al-Isra' [17]: 15).
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan
kemampuannya... (QS Al-Baqarah [2]: 286)
Dari gabungan kedua ayat ini, kita dapat memetik paling tidak
dua kaidah yang berkaitan dengan tanggung jawab, yaitu:
1. Manusia tidak diminta untuk mempertanggungjawabkan
apa yang tidak diketahui atau tidak mampu
dilakukannya.
2. Manusia tidak dituntut mempertanggungiawabkan apa
yang tidak dilakukannya, sekalipun hal tersebut
diketahuinya.
Di sisi lain, ditemukan ayat-ayat yang menegaskan bahwa
pertanggungjawaban tersebut berkaitan dengan perbuatan yang
disengaja, bukan gerak refleks yang tidak melibatkan kehendak.
Al-Quran secara tegas menyatakan:
Allah tidak akan meminta pertanggungjawabanmu atas
sumpah-sumpah yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia
akan meminta pertanggungjawabanmu terhadap apa yang
disengaja oleh hatimu... (QS Al-Baqarah [2]: 225).
...tetapi jika seseorang terpaksa, sedangkan ia tidak
menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka
tidak ada dosa baginya... (QS Al-Baqarah [2]: 173).
Dapat juga disimpulkan, bahwa karena manusia diberi kemampuan
untuk memilih, maka pertanggungjawaban berkaitan dengan niat
dan kehendaknya. Atas dasar ini pula, maka niat dan kehendak
seseorang mempunyai peran yang sangat besar dalam nilai amal
sekaligus dalam pertanggungjawabannya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah ia
beriman, dia mendapatkan kemurkaan Allah, kecuali
orang-orang yang dipaksa kafir sedang hatinya tetap
tenang dalam keimanan... (QS An-Nahl [16]: 106) .
Al-Quran surat Al-Isra ayat 23-24 memerintahkan kepada seorang
anak agar menghormati kedua orang-tuanya, khususnya kalau usia
mereka sudah tua (karena ketika telah uzur boleh jadi mereka
melakukan hal-hal yang menjengkelkan). Anak dilarang berkata
uf (cis), dan harus memilih kata-kata yang baik, sambil
merendahkan diri kepada keduanya. Ayat ini disusul dengan
firman-Nya:
Tuhanmu lebih mengetahui yang ada dalam hatimu. Jika
seandainya kamu orang baik-baik (Allah akan
memaaafkan sikap dan ke1akuan yang telah kamu lakukan
dengan terpaksa, tidak sadar, atau yang berada di
luar kontrol kemampuanmu), karena Allah Maha
Pengampun bagi orang-orang yang bertobat (QS Al-Isra'
[17]: 25).
TOLOK UKUR KELAKUAN BAIK
Tolok ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada
ketentuan Allah. Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan
ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa yang dinilai baik oleh
Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya,
tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik,
karena kebohongan esensinya buruk.
Di sisi lain, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia
memiliki segala sifat yang terpuji. Al-Quran suci surat Thaha
(20): 8 menegaskan:
(Dialah) Allah tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai
Sifat-sifat yang terpuji (Al-Asma' Al-Husna) (QS
Thaha [20]: 8).
Rasulullah Saw. juga memerintahkan umatnya agar berusaha
sekuat kemampuan dan kapasitasnya sebagai makhluk untuk
meneladani Allah dalam semua sifat-sifat-Nya,
Berakhlaklah dengan akhlak Allah.
---------------- (bersambung 2/3)
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
Sumber : http://media.isnet.org
Sabtu, 30 Mei 2009
Mencari Kesegaran Hati
Oleh: Muhammad Nuh
dakwatuna.com - “Agama ini kokoh dan kuat. Masukilah dengan lunak, dan jangan sampai timbul kejenuhan dalam beribadah kepada Rabbmu.” (Al-Baihaqi)
Maha Suci Allah yang mempergilirkan siang dan malam. Kehidupan pun menjadi dinamis, seimbang, dan berkesinambungan. Ada hamba-hamba Allah yang menghidupkan siang dan malamnya untuk senantiasa dekat dengan Yang Maha Rahman dan Rahim. Tapi, tidak sedikit yang akhirnya menjauh, dan terus menjauh.
Seperti halnya tanaman, ruhani butuh siraman
Sekuat apa pun sebatang pohon, tidak akan pernah bisa lepas dari ketergantungan dengan air. Siraman air menjadi energi baru buat pohon. Dari energi itulah pohon mengokohkan pijakan akar, meninggikan batang, memperbanyak cabang, menumbuhkan daun baru, dan memproduksi buah.
Seperti itu pula siraman ruhani buat hati manusia. Tanpa kesegaran ruhani, manusia cuma sebatang pohon kering yang berjalan. Tak ada keteduhan, apalagi buah yang bisa dimanfaatkan. Hati menjadi begitu kering. Persis seperti ranting-ranting kering yang mudah terbakar.
Allah swt. memberikan teguran khusus buat mereka yang beriman. Dalam surah Al-Hadid ayat 16, Yang Maha Rahman dan Rahim berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka. Lalu, hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Hati buat orang-orang yang beriman adalah ladang yang harus dirawat dan disiram dengan zikir. Dari zikirlah, ladang hati menjadi hijau segar dan tumbuh subur. Akan banyak buah yang bisa dihasilkan. Sebaliknya, jika hati jauh dari zikir; ia akan tumbuh liar. Jangankan buah, ladang hati seperti itu akan menjadi sarang ular, kelabang dan sebagainya.
Hamba-hamba Allah yang beriman akan senantiasa menjaga kesegaran hatinya dengan lantunan zikrullah. Seperti itulah firman Allah swt. dalam surah Ar-Ra’d ayat 28. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.“
Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati.” (Bukhari dan Muslim)
Siapapun kita, ada masa lengahnya
Manusia bukan makhluk tanpa khilaf dan dosa. Selalu saja ada lupa. Ketika ruhani dan jasad berjalan tidak seimbang, di situlah berbagai kealpaan terjadi. Saat itulah, pengawasan terhadap nafsu menjadi lemah.
Imam Ghazali mengumpamakan nafsu seperti anak kecil. Apa saja ingin diraih dan dikuasai. Ia akan terus menuntut. Jika dituruti, nafsu tidak akan pernah berhenti.
Pada titik tertentu, nafsu bisa menjadi dominan. Bahkan sangat dominan. Nafsu pun akhirnya memegang kendali hidup seseorang. Nalar dan hatinya menjadi lumpuh. Saat itu, seorang manusia sedang menuhankan nafsunya.
Allah swt. berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.” (Al-Jatsiyah: 23)
Seburuk apapun seorang muslim, ada pintu kebaikannya
Seperti halnya manusia lain, seorang muslim pun punya nafsu. Bedanya, nafsu orang yang beriman lebih terkendali dan terawat. Namun, kelengahan bisa memberikan peluang buat nafsu untuk bisa tampil dominan. Dan seorang hamba Allah pun melakukan dosa.
Dosa buat seorang mukmin seperti kotoran busuk. Dan shalat serta istighfar adalah di antara pencuci. Kian banyak upaya pencucian, kotoran pun bisa lenyap: warna dan baunya.
Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 133 hingga135. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa….Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah. Lalu, memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.“
Khilaf buat hamba Allah seperti mata air yang tersumbat. Dan zikrullah adalah pengangkat sumbat. Ketika zikrullah terlantun dan tersiram dalam hati, air jernih pun mengalir, menyegarkan wadah hati yang pernah kering.
Sekecil Apapun kebaikan dan keburukan, ada ganjarannya
Satu hal yang bisa menyegarkan kesadaran ruhani adalah pemahaman bahwa apa pun yang dilakukan manusia akan punya balasan. Di dunia dan akhirat. Dan di akhirat ada balasan yang jauh lebih dahsyat.
Firman Allah swt., “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zilzaal: 7-8)
Pemahaman inilah yang senantiasa membimbing hamba Allah untuk senantiasa beramal. Keimanannya terpancar melalui perbuatan nyata. Lantunan zikirnya hidup dalam segala keadaan.
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 191)
Sumber :www.dakwatuna.com
dakwatuna.com - “Agama ini kokoh dan kuat. Masukilah dengan lunak, dan jangan sampai timbul kejenuhan dalam beribadah kepada Rabbmu.” (Al-Baihaqi)
Maha Suci Allah yang mempergilirkan siang dan malam. Kehidupan pun menjadi dinamis, seimbang, dan berkesinambungan. Ada hamba-hamba Allah yang menghidupkan siang dan malamnya untuk senantiasa dekat dengan Yang Maha Rahman dan Rahim. Tapi, tidak sedikit yang akhirnya menjauh, dan terus menjauh.
Seperti halnya tanaman, ruhani butuh siraman
Sekuat apa pun sebatang pohon, tidak akan pernah bisa lepas dari ketergantungan dengan air. Siraman air menjadi energi baru buat pohon. Dari energi itulah pohon mengokohkan pijakan akar, meninggikan batang, memperbanyak cabang, menumbuhkan daun baru, dan memproduksi buah.
Seperti itu pula siraman ruhani buat hati manusia. Tanpa kesegaran ruhani, manusia cuma sebatang pohon kering yang berjalan. Tak ada keteduhan, apalagi buah yang bisa dimanfaatkan. Hati menjadi begitu kering. Persis seperti ranting-ranting kering yang mudah terbakar.
Allah swt. memberikan teguran khusus buat mereka yang beriman. Dalam surah Al-Hadid ayat 16, Yang Maha Rahman dan Rahim berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka. Lalu, hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Hati buat orang-orang yang beriman adalah ladang yang harus dirawat dan disiram dengan zikir. Dari zikirlah, ladang hati menjadi hijau segar dan tumbuh subur. Akan banyak buah yang bisa dihasilkan. Sebaliknya, jika hati jauh dari zikir; ia akan tumbuh liar. Jangankan buah, ladang hati seperti itu akan menjadi sarang ular, kelabang dan sebagainya.
Hamba-hamba Allah yang beriman akan senantiasa menjaga kesegaran hatinya dengan lantunan zikrullah. Seperti itulah firman Allah swt. dalam surah Ar-Ra’d ayat 28. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.“
Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati.” (Bukhari dan Muslim)
Siapapun kita, ada masa lengahnya
Manusia bukan makhluk tanpa khilaf dan dosa. Selalu saja ada lupa. Ketika ruhani dan jasad berjalan tidak seimbang, di situlah berbagai kealpaan terjadi. Saat itulah, pengawasan terhadap nafsu menjadi lemah.
Imam Ghazali mengumpamakan nafsu seperti anak kecil. Apa saja ingin diraih dan dikuasai. Ia akan terus menuntut. Jika dituruti, nafsu tidak akan pernah berhenti.
Pada titik tertentu, nafsu bisa menjadi dominan. Bahkan sangat dominan. Nafsu pun akhirnya memegang kendali hidup seseorang. Nalar dan hatinya menjadi lumpuh. Saat itu, seorang manusia sedang menuhankan nafsunya.
Allah swt. berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.” (Al-Jatsiyah: 23)
Seburuk apapun seorang muslim, ada pintu kebaikannya
Seperti halnya manusia lain, seorang muslim pun punya nafsu. Bedanya, nafsu orang yang beriman lebih terkendali dan terawat. Namun, kelengahan bisa memberikan peluang buat nafsu untuk bisa tampil dominan. Dan seorang hamba Allah pun melakukan dosa.
Dosa buat seorang mukmin seperti kotoran busuk. Dan shalat serta istighfar adalah di antara pencuci. Kian banyak upaya pencucian, kotoran pun bisa lenyap: warna dan baunya.
Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 133 hingga135. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa….Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah. Lalu, memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.“
Khilaf buat hamba Allah seperti mata air yang tersumbat. Dan zikrullah adalah pengangkat sumbat. Ketika zikrullah terlantun dan tersiram dalam hati, air jernih pun mengalir, menyegarkan wadah hati yang pernah kering.
Sekecil Apapun kebaikan dan keburukan, ada ganjarannya
Satu hal yang bisa menyegarkan kesadaran ruhani adalah pemahaman bahwa apa pun yang dilakukan manusia akan punya balasan. Di dunia dan akhirat. Dan di akhirat ada balasan yang jauh lebih dahsyat.
Firman Allah swt., “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zilzaal: 7-8)
Pemahaman inilah yang senantiasa membimbing hamba Allah untuk senantiasa beramal. Keimanannya terpancar melalui perbuatan nyata. Lantunan zikirnya hidup dalam segala keadaan.
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 191)
Sumber :www.dakwatuna.com
Minggu, 24 Mei 2009
KEHIDUPAN HATI
Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya tidak akan ada kehidupan bagi hati, kesenangan, dan ketenangan kecuali dengan mengenal Rabbnya dan sesembahan yang menciptakan dirinya melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan hal itu disertai dengan kecintaan kepada-Nya yang jauh berada di atas kecintaan dirinya terhadap segala sesuatu selain-Nya. Hal itulah yang akan memicu kesungguhannya dalam mendekatkan diri kepada-Nya jauh lebih keras daripada upayanya untuk mencari kedekatan diri kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dan merupakan sebuah perkara yang mustahil bagi akal manusia untuk bisa mengenali dan memahami itu semua secara langsung dan terperinci. Maka sifat kasih sayang Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang menuntut perlunya diutus para rasul dalam rangka memperkenalkan diri-Nya, mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya,
dan memperingatkan orang-orang yang meyelisihi mereka…” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 69).
Dengan demikian kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh dengan memenuhi ajakan para rasul. Sehingga kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan diraih dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul ketika ia menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah lah yang menghalangi seorang manusia dengan hatinya. Dan sesungguhnya kepda-Nya lah nanti mereka akan dikembalikan.” (QS. Al Anfaal [8] : 28).
Berdasarkan ayat ini Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa kehidupan yang hakiki itu hanya akan bisa diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Maka barangsiapa yang tidak mau memenuhi panggilan ini tentunya tidak ada kehidupan bagi dirinya. Meskipun dia masih memiliki sisi kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Maka kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, meskipun jasad-jasad mereka telah mati. Adapun selain mereka pada hakikatnya adalah mayat-mayat meskipun tubuh fisik mereka masih bernyawa. Oleh sebab itu maka orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling baik dalam memenuhi panggilan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab di dalam semua ajaran yang diserukan oleh rasul terkandung unsur kehidupan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan salah satu bagian darinya maka ia juga akan kehilangan unsur kehidupan yang hakiki itu, walaupun di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sesuai dengan kadar istijabah (pemenuhan panggilan) yang ada pada dirinya terhadap ajakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Fawa’id, hal. 85-86).
Oleh karena itulah wahai saudaraku, janganlah kita tertipu oleh ‘kemajuan’ yang dialami oleh orang-orang kafir dan ahlul bid’ah dalam bidang teknologi, ekonomi, maupun perkara-perkara keduniaan lainnya. Sebab pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang sudah atau hampir mati. Semakin banyak ajaran Islam yang mereka tentang dan campakkan maka semakin lenyaplah harapan hidup yang mereka punyai. Tinggallah kehidupan mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hidup hanya demi memuaskan naluri kebinatangannya, wal ‘iyadzu billah.s
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah sama antara orang yang sudah mati (orang kafir) yang kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan pancaran cahaya untuknya sehingga dia bisa berjalan di tengah-tengah manusia dengan orang sepertinya yang tetap berada di tengah kegelapan serta tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al An’aam [6] : 122). Ibnu Abbas dan para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang yang sebelumnya kafir kemudian mendapatkan hidayah dari Allah sehingga beriman (lihat Al Fawa’id, hal. 87). Allah menyebut orang kafir sebagai orang yang sudah mati. Mengapa demikian? Sebab di dalam hatinya sudah tidak ada keimanan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itulah Allah menamakan wahyu-Nya yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai ruh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengerti apa itu Al Kitab dan apa itu iman, namun kemudian Kami menjadikannya sebagai cahaya yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syura [42] : 52).
Di dalam ayat yang mulia ini Allah menggambarkan wahyu-Nya sebagai ruh dan cahaya. Maka orang yang tidak mau menerima wahyu yang dibawa oleh rasul pada hakikatnya telah membinasakan dirinya sendiri dan membiarkannya terjebak di dalam kegelapan. Sungguh tepat ungkapan Syaikhul Islam Abul Abbas Al Harrani yang mengatakan, “Risalah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dipenuhi bagi setiap hamba. Mereka pasti memerlukannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh melebihi kebutuhan mereka terhadap segala sesuatu. Sebab risalah adalah ruh, cahaya dan hakikat kehdupan alam semesta…” (Majmu’ Fatawa, 19/99).
[muhibbukum fillah abu mushlih]
Sumber : http://abuOmushlih.wordpress.com
dan memperingatkan orang-orang yang meyelisihi mereka…” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 69).
Dengan demikian kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh dengan memenuhi ajakan para rasul. Sehingga kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan diraih dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul ketika ia menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah lah yang menghalangi seorang manusia dengan hatinya. Dan sesungguhnya kepda-Nya lah nanti mereka akan dikembalikan.” (QS. Al Anfaal [8] : 28).
Berdasarkan ayat ini Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa kehidupan yang hakiki itu hanya akan bisa diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Maka barangsiapa yang tidak mau memenuhi panggilan ini tentunya tidak ada kehidupan bagi dirinya. Meskipun dia masih memiliki sisi kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Maka kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, meskipun jasad-jasad mereka telah mati. Adapun selain mereka pada hakikatnya adalah mayat-mayat meskipun tubuh fisik mereka masih bernyawa. Oleh sebab itu maka orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling baik dalam memenuhi panggilan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab di dalam semua ajaran yang diserukan oleh rasul terkandung unsur kehidupan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan salah satu bagian darinya maka ia juga akan kehilangan unsur kehidupan yang hakiki itu, walaupun di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sesuai dengan kadar istijabah (pemenuhan panggilan) yang ada pada dirinya terhadap ajakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Fawa’id, hal. 85-86).
Oleh karena itulah wahai saudaraku, janganlah kita tertipu oleh ‘kemajuan’ yang dialami oleh orang-orang kafir dan ahlul bid’ah dalam bidang teknologi, ekonomi, maupun perkara-perkara keduniaan lainnya. Sebab pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang sudah atau hampir mati. Semakin banyak ajaran Islam yang mereka tentang dan campakkan maka semakin lenyaplah harapan hidup yang mereka punyai. Tinggallah kehidupan mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hidup hanya demi memuaskan naluri kebinatangannya, wal ‘iyadzu billah.s
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah sama antara orang yang sudah mati (orang kafir) yang kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan pancaran cahaya untuknya sehingga dia bisa berjalan di tengah-tengah manusia dengan orang sepertinya yang tetap berada di tengah kegelapan serta tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al An’aam [6] : 122). Ibnu Abbas dan para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang yang sebelumnya kafir kemudian mendapatkan hidayah dari Allah sehingga beriman (lihat Al Fawa’id, hal. 87). Allah menyebut orang kafir sebagai orang yang sudah mati. Mengapa demikian? Sebab di dalam hatinya sudah tidak ada keimanan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itulah Allah menamakan wahyu-Nya yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai ruh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengerti apa itu Al Kitab dan apa itu iman, namun kemudian Kami menjadikannya sebagai cahaya yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syura [42] : 52).
Di dalam ayat yang mulia ini Allah menggambarkan wahyu-Nya sebagai ruh dan cahaya. Maka orang yang tidak mau menerima wahyu yang dibawa oleh rasul pada hakikatnya telah membinasakan dirinya sendiri dan membiarkannya terjebak di dalam kegelapan. Sungguh tepat ungkapan Syaikhul Islam Abul Abbas Al Harrani yang mengatakan, “Risalah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dipenuhi bagi setiap hamba. Mereka pasti memerlukannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh melebihi kebutuhan mereka terhadap segala sesuatu. Sebab risalah adalah ruh, cahaya dan hakikat kehdupan alam semesta…” (Majmu’ Fatawa, 19/99).
[muhibbukum fillah abu mushlih]
Sumber : http://abuOmushlih.wordpress.com
Minggu, 17 Mei 2009
Sehatnya Qalbu, Lurusnya Amal
Oleh Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar
Kebagusan amalan anggota badan seorang hamba tergantung pada kebagusan qalbunya. Apabila qalbunya salim (sehat), tidak ada di dalamnya melainkan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kecintaan kepada apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala, takut kepada-Nya, takut terjatuh pada apa yang dibenci oleh-Nya, akan baguslah seluruh amalan anggota badannya. Akan tumbuh pula pada dirinya perasaan untuk menghindarkan diri dari segala perkara yang haram dan syubhat.
Namun apabila qalbunya rusak, dikuasai oleh hawa nafsunya, mencari apa yang diinginkan hawa nafsunya meski dalam perkara yang Allah Subhanahu wa Ta'ala benci, akan rusaklah seluruh amalan anggota badannya. Selain itu, akan menyeret pula kepada segala bentuk kemaksiatan dan syubhat, sesuai dengan kadar penguasaan hawa nafsu terhadap qalbunya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
أَلاَ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik, seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52, dan Muslim no. 4070)
Apabila seorang hamba memiliki qalbu yang salim akan muncul darinya amalan-amalan yang shalih dan kesungguhan dalam beramal guna mencapai kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوْرًا
“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra`: 19)
Dengan demikian, untuk mendorong dan menumbuhkan amalan-amalan shalih, setiap hamba wajib menjaga qalbunya agar tetap salim (sehat) dan terhindar dari penyakit-penyakit yang merusaknya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid, bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir, dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 138)
Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mempersiapkan tempatnya di surga. Berbeda dengan orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang akan membawanya kepada neraka Al-Jahim.
فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى. يَوْمَ يَتَذَكَّرُ اْلإِنْسَانُ مَا سَعَى. وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَرَى. فَأَمَّا مَنْ طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 34-41)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber :
www.asysyariah.com via www.ahlussunnah-jakata.com
Kebagusan amalan anggota badan seorang hamba tergantung pada kebagusan qalbunya. Apabila qalbunya salim (sehat), tidak ada di dalamnya melainkan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kecintaan kepada apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala, takut kepada-Nya, takut terjatuh pada apa yang dibenci oleh-Nya, akan baguslah seluruh amalan anggota badannya. Akan tumbuh pula pada dirinya perasaan untuk menghindarkan diri dari segala perkara yang haram dan syubhat.
Namun apabila qalbunya rusak, dikuasai oleh hawa nafsunya, mencari apa yang diinginkan hawa nafsunya meski dalam perkara yang Allah Subhanahu wa Ta'ala benci, akan rusaklah seluruh amalan anggota badannya. Selain itu, akan menyeret pula kepada segala bentuk kemaksiatan dan syubhat, sesuai dengan kadar penguasaan hawa nafsu terhadap qalbunya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
أَلاَ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik, seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52, dan Muslim no. 4070)
Apabila seorang hamba memiliki qalbu yang salim akan muncul darinya amalan-amalan yang shalih dan kesungguhan dalam beramal guna mencapai kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوْرًا
“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra`: 19)
Dengan demikian, untuk mendorong dan menumbuhkan amalan-amalan shalih, setiap hamba wajib menjaga qalbunya agar tetap salim (sehat) dan terhindar dari penyakit-penyakit yang merusaknya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid, bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir, dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 138)
Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mempersiapkan tempatnya di surga. Berbeda dengan orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang akan membawanya kepada neraka Al-Jahim.
فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى. يَوْمَ يَتَذَكَّرُ اْلإِنْسَانُ مَا سَعَى. وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَرَى. فَأَمَّا مَنْ طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 34-41)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber :
www.asysyariah.com via www.ahlussunnah-jakata.com
Langganan:
Postingan (Atom)